Berkunjung ke ujung utara Indonesia, Berau – Kalimantan Timur


Melangkahkan kaki untuk pertama kalinya di salah satu propinsi Kalimantan timur yang berbatasan langsung dengan Sabah, Malaysia membuat saya excited. Walau trip saya kali ini bukan murni bertujuan untuk wisata, namun banyak hal dan kegiatan disana yang dapat dikategorikan sebagai small trip alias wisata kecil. :). Serta banyak pelajaran-pelajaran menarik yang dapat saya ambil dari sisi ke-Indonesiaan yang bisa saya share di sini.

Pesawat yang mengantarkan saya menuju Berau, Kalimantan timur yang akan transit view minutes di Balikpapan akhirnya datang. Perjalanan yang memakan waktu sekitar 1 jam 20 menit menuju bandara Sepinggan-Balikpapan berawal dengan lancar. Setelah transit 20 menit yang cukup melelahkan (kenapa saya bilang melelahkan? hanya transit 20 menit saja tetapi tetap saja kami diminta untuk turun dari pesawat dan berputar lumayan jauh dari gate kedatangan menuju gate keberangkatan lagi untuk check in dll dengan alasan logis bahwa pesawat akan dibersihkan), kemudian saya melanjutkan penerbangan menuju bandara Kalimarau, Berau, Kalimantan timur yang memakan waktu lebih kurang 1 jam 15 menit.  Saya paling suka terbang melintasi Borneo, karena view yang ditampilkan sangatlah cantik. Dari jendela pesawat saya bisa melihat lekok sungai diKalimantan yang memang terkenal dengan pulau kesungaiannya, serta melihat jejeran hijau hutan kalimantan serta beberapa bopeng-bopeng kalimantan yang dikeruk dengan sengaja untuk tambang batu bara. 1 jam lebih perjalanan tidak membuat saya bosan karena pemandangan cantik yang disuguhkan.

Bandara Kalimarau lama (kiri) ; Bandara Kalimarau baru (kanan) yang akan beroperasi tahun 2012

Akhirnya saya tiba di Bandara Kalimarau, Berau. Cuaca berawan dengan suhu yang relatif lebih rendah dari pada Balikpapan menambah cantik suasana. Pesawat mendarat didepan gedung baru Bandara. Perlu diketahui, bandara berau merupakan bandara kelas kecil yang sedang mengalami perluasan. Baru sekitar tahun 2008 bandara ini bisa didarati oleh pesawat besar semacam seperti yang dimiliki oleh Maskapai penerbangan Batavia air, Trigana dan Sriwijaya air tetapi masih belum bisa dilewati pesawat-pesawat panjang seperti Lion air.  Sebelumnya bandara ini baru bisa dilintasi oleh pesawat-pesawat kecil (dan pesawat perintis) seperti milik maskapai KAL star dan susi air. Kini, bandara ini mengalami invasi besar-besaran ditandai dengan dibangunnya bandara baru dengan lintasan yang lebih panjang sehingga nantinya dapat dilewati oleh jenis pesawat panjang seperti Lion air dengan kapasitas penumpang yang lebih banyak sehingga perluasan dan pembesaran ruang tunggu penumpang juga dilakukan.

Pemandangan di Bandara Kalimarau (atas). Jenis pesawat Kal star (bawah kiri) dan susi air (bawah kanan)

Hal cukup menarik bagi saya setibanya saya di bandara ini adalah,bertemu dengan Panglima. Jangan buru-buru menyimpulkan bahwa saya telah bertemu dengan panglima kesatuan perang angkatan darat, laut atau udara yang sering muncul di TV untuk mengawal bapak presiden. Panglima yang saya temui waktu itu adalah Panglima Kumbang yang merupakan panglima “perang” suku Dayak. Panglima yang bernama asli Udin Bahlok sangat dikenal karisma dan wibawanya serta sangat disegani oleh masyarakat Kalimantan ini  diundang oleh tokoh pemerintahan Balikpapan dalam sebuah acara kemasyarakatan. Awalnya, saya tidak tahu menahu tentang Panglima ini. Saya sempat mengira bahwa Beliau adalah salah satu suku diPapua yang kebetulan mampir ke Berau sehingga menjadi model dadakan (banyak yang minta foto dengan beliau). Perawakan yang kecil tapi kekar dengan rambut terurai panjang dan ikat kepala merah serta tato yang menghiasi sekujur tubuhnya hingga mengesankan bahwa warna kulitnya gelap seperti orang papua membuat saya pada saat itu tidak tertarik untuk berfoto dengan beliau padahal hampir semua orang disana heboh untuk berfoto dengan beliau. Baru setelah beberapa orang menceritakan kepada saya siapa Pria “aneh” itu dan sepak terjang beliau, saya menyesal tidak mengabadikan momen pertemuan itu seperti yang orang-orang lakukan. Menurut penuturan beberapa orang, Panglima kumbang inilah yang berhasil meredam amarah penduduk Tarakan dalam tragedi Tarakan baru-baru ini. Selain itu, “perang” suku yang pernah terjadi di Sampit dulu juga diredam oleh Panglima ini. Bukan hanya perang-perang besar antar suku semacam itu saja yang melibatkan beliau, tetapi juga kegiatan pemilu ataupun pembangunan suatu kawasan di Kalimantan juga membutuhkan beliau untuk meredam emosi warga pedalaman Kalimantan. Beliau sendiri sebenarnya berasal dari suku Dayak di pedalaman Sampit, Kalimantan tengah dan akan rela turun gunung dari singgasananya apabila ada perang suku yang terjadi kalimantan untuk melakukan upaya perdamaian. Konon kabarnya, panglima yang katanya memiliki 8 istri yang cantik bak bidadari ini, memiliki kemampuan untuk menerbangkan parang serta kesaktian-kesaktian lainnya yang berbau mistis non-logis tetapi kenyataannya ada. Wah… saya jadi tertarik untuk tau lebih lanjut tentang kalimantan beserta budaya-budaya setempat…. :)

Aktifitas pagi di pelabuhan kecil sungai segah yang biasa dilalui kapal tongkal pengangkut batu bara

Setelah hingar bingar berfoto ria dengan Panglima Kumbang usai, saya beserta rombongan bergegas untuk menuju Hotel Bumi segah yang terletak didepan sungai segah yang setiap hari dilewati oleh kapal tongkang bermuatan gunungan batu bara hasil tambang yang menurut sumber yang saya terima harganya untuk per-tongkang adalah sekitar 7 Miliyard.  Woww, nilai yang cukup fantastis. Jalan dari bandara menuju hotel cukup berputar dan membutuhkan waktu sekitar 20-30 menit karena melewati jalanan pedesaan yang belum beraspalt, bertopografi naik turun serta agak becek. Untuk itulah mengapa sebagian besar mobil disana berjenis mobil besar 4 wheel karena memang medan tersebut cukup riskan untuk dilalui mobil biasa. Jalanan menuju hotel awalnya tidak berputar, tetapi melewati jalanan aspalt disisi sungai segah yang rutenya jauh lebih singkat. Namun, karena kelongsoran yang terjadi di sisi sungai segah yang menghabiskan separo badan jalan aspalht membuat jalan tersebut ditutup untuk lalu lintas karena sangat berbahaya untuk dilewati. Untuk mengantisipasi kelongsoran yang mungkin akan berlanjut, pemerintah daerah Berau sudah melakukan review desain untuk melakukan pencegahan kelongsoran sekaligus melakukan pelebaran jalan disepanjang sungai segah tersebut. Saya mendapatkan sedikit cerita unik dari warga disepanjang daerah kelongsoran tersebut. Ternyata, mereka tidak hanya melakukan antisipasi yang bersifat teknis dan teoritis tetapi juga melalui ritual mistis. Konon kabarnya, beberapa kali mereka melakukan pelarungan kambing dan sapi yang digunakan sebagai tumbal sekaligus memohon ijin kepada “penunggu” setempat untuk proyek pelebaran jalan tersebut agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Memang sih agak sedikit diluar akal sehat, padahal kalau dilihat dari lokasinya, kelongsoran tersebut terjadi tepat di lekokan sungai besar sehingga menyebabkan kemiringan talud yang relatif terjal dan kemungkinan terjadinya scouring (gerusan) yang cukup besar. Tetapi, ritual dan kepercayaan setempat harus dan wajib diikuti demi keselamatan bersama.

Bubur sayur+ketela+kerang (kiri). Sup ikan putih (kanan)

Berau merupakan salah satu kabupaten di Propinsi Kalimantan Timur dengan Tanjung Redeb sebagai ibukotanya. Jangan dibayangkan jalanan di tanjung redeb yang notabene adalah sebuah ibukota sangat ramai oleh lalu lalang kendaraaan. Jalanannya lengang berkelok-kelok dan naik turun ini hanya dilalui oleh segelintir kendaraan yang mana sebagian besar kendaraan yang lewat itu adalah kendaraan proyek batu bara Berau coal maupun pegawai-pegawai dinas pemerintahan. Tidak banyak terdapat swalayan layaknya di ibukota yang menjual kebutuhan sehari-hari serta tidak banyak restoran-restoran elit layaknya dikota-kota besar. Yang ada hanya beberapa restoran maupun depot yang sebagian besar menyajikan seafood sebagai menu andalannya. Berau memang terkenal dengan hasil lautnya, ada udang berkepala besar (udang air payau dan air sungai bertubuh besar yang saya lupa namanya), ada berbagai jenis ikan seperti ikan putih, baronang dkk serta jenis cumi-cumi. Selain itu, ada satu atau dua depot yang menyajikan panganan telur penyu yang dibanderol harga 10000/butir. Sebenarnya telur penyu ini sudah tidak boleh diperjual belikan secara besar-besaran, hanya beberapa restoran yang memiliki ijin jual saja yang boleh menjual hanya dengan jumlah yang terbatas.  Selain seafood, menu andalah lain adalah daging rusa yang juga diperjual belikan terbatas mengingat rusa merupakan salah satu hewan yang dilindungi. Rasa dari daging rusa ini sebenarnya tidak jauh beda dengan daging sapi, tetapi lebih empuk  sehingga mudah digigit. Ada juga jenis sambal yang mirip seperti petis tetapi warna merah (lagi-lagi saya lupa namanya) yang rasanya mantap dan ciamik soro wess (wenakk..) serta jenis sayuran yang berkuah santan. Ada juga suguhan semacam bubur yang merupakan olahan sayur dan ketela yang di tumbuk serta dicampur santan dan daging kerang. Saya sempat menanyakan nama jenis bubur itu kepada pelayan restoran, tetapi (begonya) si pelayan tidak tahu menahu nama bubur itu.

Sayangnya, saya tidak punya cukup waktu untuk mengunjungi Kepulauan Derawan yang terkenal memiliki pemandangan laut yang sangat eksotik. Kata bapak penguasa salah satu pulau dan wahana laut di kepulauan derawan, waktu yang tepat untuk berkunjung ke lokasi tersebut adalah antara Maret- Mei dimana pada saat itu air laut lebih tenang sehingga lebih nyaman untuk mancing plus menyewa perahu lengkap dengan alat panggang ikannya. Saya harap dilain waktu saya dapat mengunjungi pulau Derawan yang indah itu sekaligus menikmati keindahan alam Indonesia di pulau-pulau kecil perbatasan, tentunya murni untuk tujuan berlibur bukan bekerja sambil berlibur… :)

Sekian cerita saya^^

Saya berpose diujung run way Kalimarau..heheheh

About tantri

I am nobody who really want to be somebody. Extremely introvert cheerful and easy going girl.. :) Thanks for visiting this blog... ^^

Posted on November 29, 2011, in experince. Bookmark the permalink. 13 Comments.

  1. kunjungan yang pertama kali ya mbak Tantri.. sayang ngga sempat ke Pulau Derawan. Memang benar lumayan bagus pemandangan dan suasana di pulau derawan dan pulau2 lainnya (Kakaban, sanglaki, maratua)..
    Atau barangkali sekarang sdh pernah ke Pulau Derawan?

    • Iya pak,tulisan saya itu waktu pertama kali ke Berau. 2 minggu lalu saya sempat ke sana lagi, tetapi lagi2 blm sempat ke Derawan. Pdahal sy sudah hampir 5x ke Berau. Mungkin liburan tahun ini sy sempatkan benar2 liburan ke Derawan pak.. :)

  2. Mbak Tantri, thanks banget ya buat info tentang Berau. Saya sedang mempersiapkan info karena ada kemungkinan saya pindah kerja ke sana :).

    • Wah jadi banyak info ttg kota Berau mb Tantri,klo keBerau lagi,infoin dong mb,saya mau ikut kesana..tidak hanya berwisata tp jg menemui seseorg yg bekerja disana

  3. wah mba tantri tw bnyk yach ttg kotaku,aq aj yg tinggal dtanjung redeb g tw amat.btw mba org ap y?

  4. Waaahh….asik ya perjalanan ke kabupaten berau,sayang sekali anda tidak menikmati danau labuan cermin,pulau maratua,dsb….

  5. kalo ke berau lagi jgn lupa singgah dimaratua….labuhan cermin….dan derawan.

  6. Thank you mba tantri atas infonya… soalnya jumat ini saya maw ke berau.. jadi sedikit tau tentang berau..

  7. For newest news you have to pay a visit world wide web and on the web I found this web page as a finest website for newest updates.

  8. jadi kangen utk kesana lagi, berau tmpt yg paling indah sepanjang hidupku.

  1. Pingback: BERAU TEMPAT LAHIRKU | Dilah Lieben Blogs

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: