Kota seribu sungai, Banjarmasin.


Tujuan yang agak penting ini membuat saya menginjakkan kaki (lagi-lagi) secara gratis di salah satu kota di Kalimantan. Saya tidak habis pikir, mengapa selalu Kalimantan menjadi jujugan jalan-jalan gratis saya. Setelah beberapa kota sudah pernah saya singgahi di pulau ini, akhirnya kini saya menginjakan kaki di kota yang belum pernah saya singgahi sebelumnya yaitu : Banjarmasin. Dan yang lebih penting lagi semua biaya adalah : gratis. hehehe.. senangnyaaa… Walaupun kunjungan singkat saya kesana bukan untuk jalan-jalan tetapi naluri jalan-jalan saya pasti akan membawa saya untuk membrowsing lokasi wisata kemudian menjajalnya dan menikmati keindahannya. Mumpung gratis, iya toh?! :). Karena jadwal yang lumayan full untuk kegiatan non jalan-jalan,sehingga saya harus putar otak untuk mencari waktu luang untuk jalan-jalan. Bayangkan, saya disana hanya sehari semalam. Sesampainya disana saya harus menuju lokasi pertemuan hingga sore menjelang malam. Lalu besok pagi pukul 9, saya harus bergegas ke lokasi dihari sebelumnya hingga menjelang sore lalu kemudian meluncur ke bandara untuk bertolak kembali ke Surabaya. Jadi, free time yang bisa di alokasikan untuk jalan-jalan hanya selepas jam 7 malam hingga sebelum jam 9 pagi. Setelah beberapa saat membrowsing di lobby hotel dan tidak memperoleh lokasi jalan-jalan yang dekat hotel, akhirnya sayapun langsung menuju pangkalan ojek untuk minta saran lokasi jalan-jalan malam di Banjarmasin. Tidak rugi saya memilih tukang ojek sebagai advicer jalan-jalan saya, karena beliau cukup expert. Ojek mengantarkan saya keliling kota  dan melihat pemandangan Kota Banjarmasin.

Kota Banjarmasin adalah salah satu kota sekaligus merupakan ibu kota dari propinsi Kalimantan Selatan, Indonesia. Kota yang cukup padat ini termasuk salah satu kota besar di Indonesia, walau luasnya yang terkecil di Kalimantan, yakni luasnya lebih kecil daripada Jakarta Barat. Kota yang dijuluki kota seribu sungai ini merupakan sebuah kota delta atau kota kepulauan sebab terdiri dari sedikitnya 25 buah pulau kecil (delta) yang merupakan bagian-bagian kota yang dipisahkan oleh sungai-sungai. Dalam bahasa Jawa, Banjarmasin berarti taman asin sedangkan sejarah Jawa Barat mencatat nama Banjarmasin berasal dari keluarga keraton Kerajaan Mahasin di Singapura yang mengungsi ke daerah Banjar karena serangan Sriwijaya kemudian berdirilah Kerajaan Banjar Mahasin, namun nama asli kota Banjarmasin adalah Banjar-Masih, pada tahun 1664 orang Belanda masih menulisnya Banjarmasch atau Banzjarmasch.Kota yang secara historis menjadi ibukotapropinsi Kalimantan sampai tahun 1957 ini memiliki Indeks persepsi kenyamanan 52.61 (th. 2009) meningkat menjadi 53.16 (th. 2011) walau masih di bawah rata-rata. Tahun 1942 Jepang menduduki kota ini, sebelumnya kolonial Belanda, menjadikan Banjarmasin sebagai ibukota Dutch-Borneo dan di bawah kekuasaan Inggris (Alexander Hare) dikenal sebagai British-Borneo.

Banjarmasin juga dikenal sebagai ladang tanah Gambut. Sebagian besar wilayahnya terdiri dari jenis tanah ini serta jenis tanah lunak sehingga agak sulit untuk melakukan pembangunan-pembangunan disebabkan oleh kedalaman tanah lunak hingga mencapai 36 meter lebih. Oleh sebab itu, kebiasaan warga disana untuk melakukan pembangunan pondasi dengan menggunakan kayu Galam bukan dengan tiang seperti yang dilakukan pada umumnya di kota besar di Jawa. Karena produksi kayu di hutan kalimantan cukup besar, maka banyak sekali bangunan-bangunan disana yang memanfaatkan kayu sebagai bagian dari pembangunan.

Salah satu pemandangan yang cukup membuat takjub di kota ini adalah pemandangan ratusan orang yang antri BBM. Pemandangan ini juga sempat saya lihat beberapa saat setelah saya mendarat di kota ini. Beberapa truk, kendaraan pribadi roda 4 maupun roda 2 antri di setiap pom bensin&solar hanya untuk mengisi bahan bakar. Ternyata dampak rencana kenaikan BBM beberapa saat lalu cukup berdampak negatif bagi warga di Banjarmasin. dengan isu kenaikan BBM tersebut, para pedagang bahan bakar berlomba lomba untuk menimbun BBM dan akibat dari diundurnya kenaikan BBM, pedagang yang menimbun tersebut merasa dirugikan sehingga walaupun BBM tidak jadi naik, mereka tetap menetapkan harga sebesar 7000 rupiah. Selain dampak tersebut, antri bahan bakar juga terjadi di setiap sudut kota tersebut. Yah begitulah yang terjadi.

Kendaraan ojek melaju dengan kecepatan yang sedang mengitari kota Banjarmasin. Kota ini tidak jauh beda dengan kota Malang maupun kota-kota besar nomer 2 lainnya. Lalu lalang kendaraan dimalam hari serta pengamen jalanan yang sebagian besar anak kecil cukup menghiasi wajah kota ini. Yang agak berbeda dengan kondisi kota-kota lainnya adalah, banyak jembatan yang berada diatas sungai yang banyak sekali mengitari kota ini. Sesuai dengan julukannya, yaitu kota seribu sungai, kota ini memang terdapat banyak sekali sungai dan tentu saja jembatan sebagai penghubung sungai-sungai kecil tersebut.Untuk itulah banjarmasin juga dikenal dengan pasar terapungnya. Sesuai dengan namanya, pasar ini terapung diatas sungai Barito dan menggunakan tuktuk (kapal tradisional daerah ini) untuk menjajakan barang dagangannya. Yah,lokasi ini akan menjadi tujuan jalan-jalan saya esok hari. Untuk malam itu, saya berkunjung ke pusat oleh-oleh khas kalimantan selatan yang berada entah dimana.hehe.. yang pasti pada saat itu saya dibawa ke tempat yang asik. Di tempat oleh-oleh ini saya menemukan banyak cenderamata unik khas Kalimantan pada umumnya dan Banjarmasin pada khususnya. di toko ini saya menemukan banyak sekali batu-batuan khas Martapura yang diuntai menjadi kalung,gelang ataupun bross yang colorfull dan super unik serta indah. Kalau di kota-kota di Jawa, mungkin sudah di banderol harga hingga ratusan ribu tapi disini saya bisa memperolehnya dengan harga yang miring.  oh ya, yang unik juga, disini saya melihat berbagai macam obat tradisional buatan suku dayak antara lain : sarang semut, ramuan kepala belut, serbuk oles kayu kuning dan obat-obatan tradisional lainnya. Selain itu, saya juga menemukan beberapa tas rajutan (entah apa namanya) khas kalimantan, mandau serta tikar anyaman yang katanya khas kota itu. Selain itu, disini saya juga menemukan Kain Sasirangan, kain batik khas Kalimantan selatan.

Sasirangan adalah kain adat suku Banjar di Kalimantan Selatan, yang dibuat dengan teknik tusuk jelujur kemudian diikat tali rafia dan selanjutnya dicelup. Upaya untuk melindungi budaya Banjar ini, telah diakui oleh pemerintah melalui Dirjen HAKI Departemen Hukum dan HAM RI beberapa motif sasirangan sebagai beriku: Iris Pudak,Kambang Raja,Bayam Raja,Kulit Kurikit,Ombak Sinapur Karang,Bintang Bahambur,Sari Gading,Kulit Kayu,Naga Balimbur,Jajumputan,Turun Dayang,Kambang Tampuk Manggis,Daun Jaruju,Kangkung Kaombakan,Sisik Tanggiling,Kambang Tanjung. Menurut mas Acim, kawan baru saya seorang lelaki asal Banjar yang sangat ramah yang menemani saya ngobrol di toko itu, mengatakan bahwa konon kain ini merupakan kain istimewa dimana biasanya raja menggunakan kain ini untuk melamar wanita impiannya. Kain ini dulu hanya boleh dibuat oleh wanita-wanita desa yang masih perawan. Tetapi sekarang, kain ini digunakan sebagai semacam batiknya Kalimantan. Dimana pada hari-hari tertentu, para pegawai di kota ini menggunakan sasirangan sebagai seragam kantor seperti halnya batik di Jawa.

Penjelajahan kota dimalam hari saya diakhiri dengan mencicipi beberapa panganan khas kota Banjarmasin yaitu : ikan bilis yang dibentuk menjadi abon dan ikan seluang seperti ikan wader. Hmmm semuanya lezaaat… :)

Esok hari…

Jam sudah menunjukkan pukul 4 pagi hari waktu Banjarmasin. Alarm HP saya sudah membangunkan sejak tadi dan pertanda bahwa saya harus bersiap diri untuk berangkat menuju pasar terapung sesuai dengan perjanjian saya dengan receptionis hotel. Saya minta petugas untuk morning call pukul setengah 5 pagi. Tetapi entah mengapa mas reseptionis tidak membangunkan saya. Lupa mungkin.. ya sudahah, tak mengapa toh saya sudah bisa bangun dengan sendirinya. Mungkin karena terlalu semangat jalan-jalan, saya bisa terbangun dengan sendirinya.hehehe… Ternyata setelah saya konfirmasi dengan pihak reseptionis, mereka mengatakan bahwa sudah menghubungi kamar saya tetapi tidak ada jawaban. yahh.. ternyata telp di kamar saya rusak. Ya sudah deh, toh saya sudah siap berangkat sekarang.

Mobil hotel melaju dengan pelan dijalanan kota Banjarmasin dipagi yang masih gelap itu. Saya diantar menuju semacam pelabuhan tuktuk kecil yang berada tidak jauh dari hotel. Suasana disana masih sangat sepi pagi itu dan saya langsung bergegas menemui pak Samuri seorang yang sudah ditelp oleh pihak hotel untuk mengantarkan saya menuju lokasi pasar terapung. Tanpa adanya tawar-menawar harga sewa perahu saya pun langsung diantar naik menuju perahu beliau. Saya merasa Pak Samuri orang yang baik dan tidak mungkin meminta tarif yang terlalu mahal kepada saya, dan tarifpun akan saya pertimbangkan nanti tergantung jarak tempuh dan sebanyak apa informasi yang dapat saya peroleh dari pak Samuri. Tetapi sebagai patokan, kata reseptionis hotel tarif standart untuk menyewa perahu tersebut adalah 100-150 ribu. Yahh.. lumayan mahal kalau melakukan trip sendiri tetapi termasuk sangat murah apabila dibandingkan dengan pengalaman yang bisa saya dapat disini.

Kelotok melaju dengan ganasnya melewati sungai Barito yang sangat lebar. Disisi-sisi sungai terlihat banyak sekali pemukiman penduduk khas banjar dengan pondasi kayu galamnya yang menancap disisi sungai. Menurut penuturan bapak Samuri, penduduk Banjar memang memiliki ciri khas yaitu mendiami lokasi di bantaran sungai. Hal itu disebabkan oleh kebiasaan suku Banjar yang tidak mau ambil pusing untuk membeli air PDAM dan membuat kamar mandi. Sehingga kegiatan yang berbau-bau keairan langsung bisa mereka lakukan di pinggir sungai. Terdengar tidak higienis memang, tetapi buktinya mereka dapat hidup dengan tentramnya disana. Saya melintasi banyak sekali kapal besar pengangkut barang-barang kebutuhan warga Banjarmasin yang diangkut dengan perahu yang kebanyakan berasal dari pulau lain. Selain itu saya juga papasan dengan kapal tongkang pengangkut batu bara. Agak ngeri memang, sebuah kelotok yang ukurannya mini ini beberapa kali melewati kapal-kapal besar pengangkut barang-barang besar pula. Saya takut tertabrak. hehe.. tapi sudahlah, percayakan saja kepada bapak Samuri yang sudah berpengalaman.

Kapal melaju terus diiringi dengan mulai munculnya mentari dari ufuk timur. Sudah mulai terang sehingga saya mulai dapat melihat jelas pemandangan disisi sungai itu. Dari kejauhan saya melihat deretan kayu-kayu besar yang direndam disisi sungai, dan dibeberapa tempat juga banyak sekali kayu ditumpuk disisi sungai. Karena banyaknya hutan di Pulau ini, komoditas terbesar yang mampu dihasilkan pulau ini adalah kayu. Sehingga kayu-kayu yang saya lihat disisi sungai itu adalah kayu hasil hutan Kalimantan yang sedang diproses menjadi jenis kayu yang berkualitas. Dengan direndam hingga hitungan bulanan lalu kemudian di tumpuk atau diangin-anginkan katanya dapat memperkuat kayu sehingga kualitasnya akan baik.

Kelotok melaju dengan agak gontai dipertengahan perjalanan kami. Sayapun agak was-was,beberapa kalikelotok yang saya tumpangi mogok akibat dari bahan bakar yang dicampur air. Akibatnya mau tak mau pak Samuri harus menyedot air yang ada di tangki bahan bakarnya dengan mulutnya lalu membuangnya. Sangat berbahaya memang, tetapi mungkin itulah salah satu cara tradisional yang sering mereka lakukan. Saya tidak bisa membantu dalam hal ini tetapi mungkin ini bisa menjadi salah satu bahan pertimbangan saya dalam menentukan tarif sewa perahu. :) Beberapa kali kelotok mati ditengah sungai, awalnya saya agak sedikit was-was dan kawatir karena perjalanan saya kali ini juga terpicu oleh waktu dimana jam 9 saya sudah harus siap di lokasi lain. Yahhh, dari pada terlalu kawatir lebih baik saya menghapus kekawatiran saya dengan berfoto dan mengamati pemandangan sekitar. Saya melihat beberapa tuktuk penjual sudah mulai jalan menuju lokasi pasar terapung. Sebagian besar pedagang itu adalah perempuan dan sebagian besar mereka mendayung sendiri perahunya. Sebagian lagi ditarik oleh perahu motor beramai-ramai dengan pedagang lainnya. Pemandangan yang indah… Mereka mengisi penuh jukung nya dengan buah-buahan,sayur-sayuran dan beberapa kebutuhan dapur lainnya. Saya sempat melambai ke ibu-ibu pedagang tersebut, tetapi lambaian saya tidak disambutnya. Apesnya, malah beberapa pria muda yang sedang bergerombol nongkrong disis sungai yang malah membalas lambaian saya dengan sedikit menggoda. ahh.. dasar anak muda..

Walau perjalanan saya sedikit tersendat, akhirnya sampailah saya dilokasi pasar terapung. Memasuki lokasi tersebut saya merasakan keindahannya. Dimana terdapat banyak sekali perahu yang bergerombol,menawarkan barang dagangannya sambil sesekali mengobrol dengan bahasa Banjar yang tentu saja saya tidak mengerti. Suasana tidak seberapa ramai dan alasannya adalah : bukan hari minggu. Karena biasanya keramaian di pasar ini terjadi pada hari minggu atau hari libur. Lokasi ini selain digunakan sebagai tempat transaksi juga digunakan sebagai objek wisata. Kali ini, labih banyak terdapat turis dibandingkan pedagang. Beberapa pedagang tua menawarkan buah-buahannya kepada saya. Ada jeruk dan pisang. Namun tidak satupun buah saya beli, saya hanya sekali dua kali mengajar si ibu tua itu ngobrol hingga akhirnya saya membeli kue kacang hijau yang kata beliau khas Banjar.

Saya melihat banyak sekali wisatawan disana, beberapa diantaranya adalah wisatawan mancanegara yang mengalungkan kamera besar dilehernya. Mereka dan beberapa wisatawan dalam negeri sengaja naik dan duduk diatap kapal  sambil menikmati pemandangan pagi dipasar terapung. Tidak demikian dengan saya, saya memilih ngobrol sedikit dengan beberapa orang asli disana lalu kemudian singgah ke warung soto Banjar terapung. Saya sarapan soto Banjar di warung terapung tersebut sambil berfoto serta menikmati pemandangan pagi itu. Tidak ada yang istimewa dari rasa soto tersebut, namun rasanya enak juga makan ditengah sungai dengan suasana yang tradisional seperti ini. Setelah selesai menikmati suasana dan merasa cukup mengobrol, akhirnya sayapun harus kembali. Memang terlalu singkat rasanya hingga saya tidak sempat mengunjungi pulau kembang, sebuah pulau yang dihuni ratusan monyet yang letaknya dekat dengan pasar terapung. Yahh.. mungkin lain kali bisa berkunjung kesana.

Kelotok melaju dengan mulusnya tanpa ada hambatan apapun melewati 6 muara sungai yang juga tadi pagi saya lewati. Akhirnya sampailah saya didaratan setelah kurang lebih 3 jam saya berada diatas sungai.

Menikmati suatu kawasan dengan waktu yang singkat lebih baik dari pada tidak menikmati apa-apa disuatu lokasi. Saya menikmati kunjungan super singkat saya kali ini. Semoga lainkali saya dapat mengunjungi tempat lain yang tentunya dengan gratis… :p

Sekian ^Tan^

About these ads

About tantri

I am nobody who really want to be somebody. Extremely introvert cheerful and easy going girl.. :) Thanks for visiting this blog... ^^

Posted on May 17, 2012, in experince. Bookmark the permalink. 11 Comments.

  1. nama perahunya bukan tuk tuk mba, tapi kelotok :-) sedangkan perahu tanpa mesin yang dikayuh namanya jukung. salam kenal..:)

  2. Mantapsss ..enak ya bu bisa jalan2 gratis :p…

  3. ada satu lagi pasar terapung yg lbh ramai dan alami namanya lokbaintan

  4. pengen nyari oleh oleh .. karna besok saya sudah mesti pulang ke bandung … bisa diingat” ga daerah mana toko cinderamata yg mbak singgahi … penasaran juga … makasih sebelumnya

  5. Toko ‘Andalas’ di daerah ps. Lama jl. S parman. Ada makanan khas n cindera mata. Ada 2 toko, tp toko yg baru n besar lebih komplit.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: