Sepenggal kisah unik di perbatasan


Saya kembali mengingat secuil kisah saya bersama teman saya ketika sama-sama mengutarakan ide gila kami yaitu berjalan kaki hingga ke negeri seberang. Bukan hanya tokoh didongeng saja yang bisa mewujutkan impian dengan mengarungi negeri seberang dengan berjalan kaki, saat itu sayapun berusaha merealisasikan ide gila seperti didongeng itu.

Perbatasan kota Lanaken Belgia dengan Highway penghubung Belanda,Belgia dan Jerman

yaaa.. ketika itu musim panas, musim dimana matahari mulai menyapa belahan bumi yang saya tinggali kala itu lebih dari 12 jam sehari. Saya bersama seorang teman saya, seorang mahasiswa physic science asal Bavaria,Germany mencoba mewujudkan ide gila kami yaitu berjalan dari negeri Belgia menuju negara Belanda. Memang kelihatannya sangat jauh dan terlalu brutal, tetepi nyatanya tidak. Kami sama-sama tinggal diperbatasan dua negara tersebut dimana membutuhkan tidak lebih dari 15 menit dengan menggunakan kendaraan pribadi menuju Belanda dari lokasi kediaman kami di Belgia dan tidak lebih dari 30 menit dengan menggunakan public transportasi bus. Tetapi kali ini kami mencoba untuk bereksperimen dengan kaki kami demi menghitung durasi perjalanan melewati perbatasan tersebut. Saya memulai perjalanan lebih awal, karena rumah Melanie teman saya itu, lebih dekat dengan negara Belanda dari pada tempat tinggal saya. Perjalanan dengan kaki menuju rumah Melanie mencapai 1 jam 15 menit. Dengan perbekalan yang cukup memadai dan dengan disemangati oleh hostparent Melanie yang seorang apoteker terkenal dikawasan tersebut kamipun berjalan menuju Maastrich, kota di ujung Belanda yang berbatasan langsung dengan Belgia.

Jalan sepeda Di Lanaken Belgia

Perbatasan Lanaken

Perjalanan kami cukup menyenangkan dan menggembirakan. Kami melewati perbatasan desa,perbatasan kota hingga perbatasan negara. Kami hanya berserah diri kepada petunjuk jalan yang memang sangat jelas menuntun perjalanan kaki kami menuju kota tujuan kami.

Ladang yang siap ditanami beberapa jenis sayuran dan buah stroberi di perbatasan kedua negara ini

Kami menyempatkan diri untuk berfoto dan menikmati persawahan dan peternakan sapi perbatasan serta melewati kawasan Industrie di Belgia yang ditempatkan tepat di perbatasan dengan belanda. Kami sempat berhenti untuk melakukan piknik kecil ladang stoberi sambil menikmati coklat kesukaan Melanie yang dibelinya dari carefour, Lanaken. Perjalanan kami tempuh selama 2 jam hingga ke garis perbatasan dengan Belanda. Betapa girangnya kami ketika kami dapat mengabadikan lambang perbatasan yang sekaligus memberi petunjuk kami bahwa kami telah sampai di negara tujuan kami dengan berjalan kaki.🙂 Perjalanan menuju pusat kota Maastrich terasa lebih melelahkan dari pada perjalanan kami diperbatasan, mungkin karena energi kami sudah terkuras dari awal perjalanan serta perbedaan pemandangan yang disuguhkan dikota Maastrich yang terkesan tidak senatural diperbatasan sehingga kamipun merasa sangat amat lelah.

Papan Petunjuk arah menuju Maastrich

Petujuk jalan yang mengarahkan kami yang berjalan tanpa peta menuju Negara Belanda

Tetapi kelelahan kami terobati ketika kami mengunjungi beberapa gerai seni yang memang pada saat itu Maastrich sedang melakukan pergelaran seni di puluha titik di kota tersebut. Setiap sudut kota dan setiap jalanan yang kami lalui pasti terdapat suatu lokasi yang memamerkan karya seni yang unik. Ada telepon tua yang berukuran super besar, ada sepatu beralas kayu lebal, ada sekumpulan buku-buku tua dan banyak lagi pameran seni yang disuguhkan.

Beberapa pemandangan yang dapat dinikmati selama perjalanan melewati perbatasan dua negara.

Setelah kami puas berputar-putar memasuki kawasan seni dikota itu kamipun mengabiskan sedikit waktu kami yang tersisa untuk berjalan pusat kota atau centrum serta menikmati matahari dipinggir sungai Maas yang membelah kota itu. Pemandangan yang sangat indah membuat kami sangat menikmati kota tersebut.

sedikit barang unik yang sempat saya foto di pergelaran seni kota Maastrich

Setelah puas menikmati sore dikota tersebut, kamipun bergegas menuju asrama Mahasiswa universitas Maastrich untuk menumpang tinggal semalaman mengingat kami masih memiliki beberapa planing mengelilingi maastrich esok harinya serta memasak makan malam di asrama tersebut. Pemilik kamar yang kami tinggali adalah seorang mahasiswa semester akhir Jurusan komputer di Universitas Maastrich yang berasal dari Jerman. Karena pria Jerman itu sedang merayakan pesta ulang tahun bersama teman-temannya di bar kota,kamipun bebas menggunakan kamar dan dapurnya serta beberapa fasilitas yang ada disana untuk kami gunakan secara cuma-cuma. Oh iya… sekarang Yosha, nama pria itu, sedang melanjutkan kuliah masternya di Sweden yang memang merupakan negara impiannya untuk melanjutkan kuliah serta bekerja.

Berikut akan saya pamerkan beberapa foto yang menggambarkan kota cantik Maastrich

About tantri

I am nobody who really want to be somebody. Extremely introvert cheerful and easy going girl.. :) Thanks for visiting this blog... ^^

Posted on April 21, 2011, in experince. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: