Kemegahan kerajaan jawa di era 1400an : candi Cetho


Pada liburan akhir pekan yang agak panjang kali ini, saya berkesempatan mengunjungi salah satu warisan budaya-warisan kerajaan Hindu Majapahit jaman dulu- warisan kemegahan Indonesia sisa-sisa yang terbangun ratusan tahun yang lalu : Candi Cetho. Candi ini berlokasi di Dusun Ceto, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Jawa tengah pada ketinggian 1.400m di atas permukaan laut. Berlokasi sekitar 7 jam dari kota tempat tinggal saya yaitu Surabaya, saya beserta rombongan berangkat pukul 11 siang sehingga pukul 18 sore kami baru tiba di penginapan yang berjarak sekitar 25 menit dari Candi cetho. Kabut sudah menyapa kami ketika kami sampai dilokasi tersebut. Memang kawasan tersebut selalu dihinggapi kabut dan bahkan sering terjadi hujan orografis yang mengharuskan saya beserta rombongan menyiapkan beberapa payung, jas hujan dan senter supaya tidak menjadikan hujan sebagai perusak rencana kami menuju candi tersebut dimalam hari. Setelah bersiap mengisi perut dan mempercantik diri (baca: mandi..heheh..), kamipun bergegas untuk naik ke lokasi candi dengan ditemani dan disopiri oleh salah seorang warga sana yang sudah paham betul lekak-lekok jalan disana. Jalan menuju candi tersebut menurut saya sangat ekstrim, bagaimana tidak, belokan bersudut tajam selalu kami temui dan membuat saya sedikit ketir-ketir dengan kondisi jalan tersebut apalagi yang tampak dalam pandangan saya adalah jurang disatu sisi dan tebing disisi lain. Kondisi malam yang gelap membuat saya tidak bisa mengambil gambar kebun teh dan pemandangan kebun cengkih dan pohon-pohon lainnya di jalan akses menuju candi tersebut. Tetapi, tak apalah toh keesokan pagi nya saya akan ke candi ini lagi..^^. Sesampainya disana, saya langsung menuju lokasi candi. Jalanan akses menuju anak tangga pertama candi cukup menanjak, sehingga sandal jepit menurut saya cukup pas dikenakan supaya sukses menuju puncak teratas candi tersebut..:).

Oke.. berikut ulasan tentang sejarah candi yang saya peroleh dari berbagai sumber-sumber yang berkompeten.

Candi Cetho (ejaan Bahasa Jawa: cethå) merupakan sebuah candi bercorak Hindu peninggalan masa akhir pemerintahan  (abad ke-15). Laporan ilmiah pertama mengenainya dibuat oleh Van de Vlies pada 1842. A.J. Bernet Kempers juga melakukan penelitian mengenainya. Ekskavasi (penggalian) untuk kepentingan rekonstruksi dilakukan pertama kali pada tahun 1928 oleh Dinas Purbakala Hindia Belanda. Sampai saat ini, komplek candi digunakan oleh penduduk setempat yang beragama Hindu sebagai tempat pemujaan dan populer sebagai tempat pertapaan bagi kalangan penganut agama asli Jawa/Kejawen.

Susunan Bangunan

Ketika ditemukan keadaan candi ini merupakan reruntuhan batu pada empat belas dataran bertingkat, memanjang dari barat (paling rendah) ke timur, meskipun pada saat ini tinggal 13 teras, dan pemugaran dilakukan pada sembilan teras saja. Strukturnya yang berteras-teras membuat munculnya dugaan akan kebangkitan kembali kultur asli (“punden berundak) pada masa itu, yang disintesis dengan agama Hindu. Dugaan ini diperkuat dengan bentuk tubuh pada relief seperti wayang kulit  yang mirip dengan penggambaran di Candi Sukuh.

Pemugaran yang dilakukan oleh Humardani, asisten pribadi alm Presiden Soeharto, pada akhir 1970-an mengubah banyak struktur asli candi, meskipun konsep punden berundak tetap dipertahankan. Pemugaran ini banyak dikritik oleh pakar arkeologi, mengingat bahwa pemugaran situs purbakala tidak dapat dilakukan tanpa studi yang mendalam. Bangunan baru hasil pemugaran adalah gapura megah di muka, bangunan-bangunan dari kayu tempat pertapaan, patung-patung Sabdapalon, Nayagenggong, Brawijaya V, serta phallus, dan bangunan kubus pada bagian puncak punden.

Selanjutnya, Bupati Karanganyar, Rina Iriani, dengan alasan untuk menyemarakkan gairah keberagamaan di sekitar candi, menempatkan arca Dewi Saraswati, sumbangan dari Kabupaten Gianyar, pada bagian timur kompleks candi. Pada keadaannya yang sekarang, Candi Cetho terdiri dari sembilan tingkatan berundak. Sebelum gapura besar berbentuk candi bentar, pengunjung mendapati dua pasang arca penjaga. Aras pertama setelah gapura masuk merupakan halaman candi. Aras kedua masih berupa halaman dan di sini terdapat petilasan Ki Ageng Krincingwesi, leluhur masyarakat Dusun Cetho. Pada aras ketiga terdapat sebuah tataan batu mendatar di permukaan tanah yang menggambarkan kura-kura raksasa, surya Majapahit (diduga sebagai lambang Majapahit), dan simbol phallus (penis, alat kelamin laki-laki) sepanjang 2 meter dilengkapi dengan hiasan tindik (piercing) bertipe ampallang. Kura-kura adalah lambang penciptaan alam semesta sedangkan penis merupakan simbol penciptaan manusia. Terdapat penggambaran hewan-hewan lain, seperti mimi, katak, dan ketam. Simbol-simbol hewan yang ada, dapat dibaca sebagai suryasengkala berangka tahun 1373 Saka, atau 1451 era modern.

Pada aras selanjutnya dapat ditemui jajaran batu pada dua dataran bersebelahan yang memuat relief cuplikan kisah Sudhamala, seperti yang terdapat pula di Candi Sukuh. Kisah ini masih populer di kalangan masyarakat Jawa sebagai dasar upacara ruwatan. Dua aras berikutnya memuat bangunan-bangunan pendapa yang mengapit jalan masuk candi. Sampai saat ini pendapa-pendapa tersebut digunakan sebagai tempat pelangsungan upacara-upacara keagamaan. Pada aras ketujuh dapat ditemui dua arca di sisi utara dan selatan. Di sisi utara merupakan arca Sabdapalon dan di selatan Nayagenggong, dua tokoh setengah mitos (banyak yang menganggap sebetulnya keduanya adalah satu orang) yang diyakini sebagai abdi dan penasehat spiritual Sang Prabu Brawijaya V.

Pada aras kedelapan terdapat arca phallus (disebut “kuntobimo”) di sisi utara dan arca Sang Prabu Brawijaya V dalam wujud mahadewa. Pemujaan terhadap arca phallus melambangkan ungkapan syukur dan pengharapan atas kesuburan yang melimpah atas bumi setempat. Aras terakhir (kesembilan) adalah aras tertinggi sebagai tempat pemanjatan doa. Di sini terdapat bangunan batu berbentuk kubus.

Di sebelah atas bangunan Candi Cetho terdapat sebuah bangunan yang pada masa lalu digunakan sebagai tempat membersihkan diri sebelum melaksanakan upacara ritual peribadahan (patirtan). Di dekat bangunan candi, dengan menuruni lereng yang terjal, ditemukan lagi sebuah kompleks bangunan candi yang oleh masyarakat sekitar disebut sebagai Candi Kethek (“Candi Kera”).

Nah, kembali ke cerita saya… Saya memulai kegiatan ritual persembahyangan bukan dimalam hari setiba saya dilokasi tersebut, melainkan pada keesokan harinya. Malam itu terlalu malam untuk melakukan persembahyangan disaat saya buta lokasi dan tanpa ditemani oleh pemangku setempat (pemangku= pemuka Agama). Saya beserta rombonganpun bergegas kerumah salah satu warga yang berada sekian puluh meter dari lokasi candi untuk melakukan meditasi. Malam yang dihiasi hujan kala itu berlalu dengan cukup menyenangkan.

Esok harinya, saya berangkat menuju candi tersebut sekitar pukul 10 siang dan memulai persembahyangan segera setelah kami tiba dilokasi candi tersebut. Perjalanan menuju candi ini sangat menyenangkan. Hamparan kebun teh yang hijau di lereng-lereng dan bukit-bukit indah,menjadikan perjalanan saya sangat menyenangkan. Sesuai dengan ulasan diatas bahwa candi tersebut terdapat beberapa teras-teras pada setiap ketinggiannya, sayapun melewati beberapa tempat di teras tersebut dan melakukan persembayangan disana.  Untuk melewati masing-masing terasnya, anak tangga dengan jumlah variatif pada masing-masing terasnya sudah menyapa saya. Anaka tangga pertama adalah berjumlah 35 tangga. Setelah melewati anak tangga tersebut, saya menjumpai sebuah patung penjaga . Lalu, kemudian saya menaiki 25 anak tangga dan 7 anak tangga lagi serta beberapa anak tangga dari bebatuan hitam untuk menuju teras satu keteras lainnya. Pada bagian tertentu, terdapat suatu ketentuan dimana wanita harus berjalan melewati sisi kiri sedangkan pria berjalan melewati sisi kanan (bagi yang melakukan persembahyangan),sedangkan bagi yang hanya berwisata boleh melalui jalan tengah. Hal tersebut tentunya ada alasannya. Menurut pemangku disana, sebuah wanita tidak memiliki hak lebih dalam pengambilan suatu keputusan jika masih ada pria. Sehingga pria berada disisi kanan sebagai penuntun,dan wanita disisi kiri sebagai yang dituntun. Saya juga melakukan persembahyangan dan ngider buana di sisi teratas candi, saya lupa namanya apa yang pasti terdapat bendera merahputih di bagian tersebut. Setelah persembahyangan di tempat tersebut selesai, saya meneruskan perjalanan ritual ke patung dewi Saraswati yang merupakan lambang Ilmu pengetahuan. di sisi patung tersebut ada sebuah pemandian yang konon kabarnya lokasi tersebut digunakan juga sebagai pemandiannya Ratu pantai selatan. Maka dari itu, air disana diyakini berkasiat membuat awet muda..:). Seingat saya, disuatu Pura di kota Lamongan juga terdapat sumur yang berkasiat sama dengan air dipemandian tersebut, tetapi saya tidak mendapatkan berita terkait tentang kasiat air tersebut.

Singkat cerita, semua ritual sudah saya lakukan dicandi peninggalan akhir masa kejayaan Majapahit tersebut. Saya juga sempat melewati beberapa tempat bersejarah sisa peninggalan kerajaan Majapahit lainnya disekitar situ,namun belum sempat mengunjungi satu persatu. Satu lokasi yang kala itu sangat ingin saya kunjungi adalah makan Mantan presiden Suharto yaitu Asta giri bangun yang terletak hanya beberapa kilometer dari tempat tersebut. It will be my next trip laaah…^^

About tantri

I am nobody who really want to be somebody. Extremely introvert cheerful and easy going girl.. :) Thanks for visiting this blog... ^^

Posted on May 21, 2011, in experince. Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. Wah, kabupatenku🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: