Kawasan wisata Ampel


Kampung Ampel adalah sebuah kawasan di bagian timur Kota Surabaya yang dikenal mayoritas penduduknya merupakan etnis Arab. Kawasan ini, dulu, menjadi salah satu pusat penyebaran Islam di Jawa pada masa walisongo. Kawasan ini kemudian menjadi ramai, bahkan jadi kawasan wisata religi termasyhur di Indonesia, karena terdapat dua ikon penting yaitu Masjid Agung dan Makam Sunan Ampel. Kawasan inilah tempo hari menjadi jujugan saya sebagai tempat berakhir pekan,sekaligus merasakan beberapa jam serasa berada di Negara timur tengah.

Jalan menuju kawasan ini tidaklah sulit, menyebrangi jembatan merah dan melintasi jalanan kampung China kemudian saya melajukan mobil saya belok ke kiri menuju lorong sempit yang merupakan penghubung kawasan China Surabaya dan kawasan Arab Surabaya (Ampel). Kawasan inilah dulunya, ketika jaman penjajahan merupakan kawasan perdagangan yang sangat pesat dimana sungai yang dihubungkan oleh jembatan merah digunakan sebagai perantara pedagang timur tengah maupun china untuk merapat dan menurunkan barangnya dipelabuhan sekitarnya. Untuk itulah mengapa, dikawasan tersebut, banyak terbentuk komunitas China dan komunitas Arab. Hingga kini, komunitas tersebut masih terjaga dan masih hidup membaur dan damai dengan akulturasi budaya nenek moyang mereka dan budaya setempat. Bando petunjuk kawasan wisata Ampel menjadi awal kawasan Arab yang dimulailah saya berpetualang di “Arab” nya Surabaya. Atmosfir yang berbeda sungguh terasa ketika saya berjalan kaki memasuki lorong kawasan tersebut. Warga berwajah khas Timur tengah sangat mendominasi dan hilir mudik dikawasan tersebut. Makanan dan musiknya pun sangat kental budaya Arabnya. Musik-musik Arab disenandungkan dengan rancaknya dibeberapa warung yang menjajakan makanan Timur Tengah. Ada beberapa nama makanan yang saya catat, antara lain : Kebab yang berasal dari Turki, Nasi Tomat, Nasi Briani, Nasi kebule, beberapa olahan masakan kambing, Nasi Afganistan, Nasi Yaman dan beberapa makanan lain yang tentunya merupakan Khas timur tengah. Ada juga Roti Maryam, panganan ringan dan tentunya sudah tidak asing lagi ditelinga kita juga ditawarkan di kawasan tersebut. Saya tak sabar untuk mencicipi semua panganan yang belum pernah saya coba. Roti Kebab, panganan yang sebenarnya sangat saya sukai ini, ingin sekali saya cicipi lagi tetapi berhubung teman Turki saya dulu sudah terlalu sering membuatkan saya panganan ini ketika saya mengununginya di Maasmechelen, Belgie jadi saya tidak mencobanya lagi deh. Nasi Tomat dan Nasi Kebule sudah pernah saya cicipi juga. Laluuu.. pilihan menu makan malam saya akhirnya jatuh ke: Nasi Briani walau sebenarnya saya sudah pernah mencicipi makanan ini ketika saya mengunjungi Little India, S’Pore. Tetapi sepertinya, India dan Arab akan memiliki cita rasa Briani yang berbeda. Saya memilih restoran Jumbo (nama restorannya Jumbo…) yang didominasi warna kuning yang lumayan baguslah dari pada depot-depot atau warung-warung lain disekitarnya. Restoran yang pada kali itu menawarkan menu Nasi Briani seafood sebagai menu barunya yang dipatok harga Rp.20.000 memang terbilang cukup ramai dibandingkan dengan yang lain. Mungkin suasananya yang tidak kusam seperti tempat lainnya dan warna yang cerah ceria menambah daya pikat restoran ini. Namun sayangnya, saya harus menambah 20% dari total pembelian jika saya ingin makan dengan cara lesehan diruang ber-AC. Wahh.. mending makan ala biasa saja deh yang tidak perlu kena charge segala. Rasa makanan sih tidak seberapa istimewa, ya begitu-begitu saja dan nasi pesanan saya lebih mirip dengan nasi goreng seafood saja. Tidak terlalu terasa rempah khas Timur tengah, mungkin hal tersebut dimaksudkan untuk menyesuaikan lidah pribumi seperti saya ini..🙂. Setelah usai menyantap makan malam disana bersama 5 orang tripmate saya, kami melanjutkan perjalanan ke Masjid Ampel.

Jalan menuju kawasan Masjid ini merupakan gang sempit yang menurut saya ada sedikit kemiripan dengan gang-gang kecil di negara Belanda. Namun sayangnya, kondisi disini jauh lebih kusam dibandingkan dengan di Belanda. Beberapa bangunan tua sisa peninggalan Belanda tanpak tidak terawat dengan baik, namun saya masih sedikit merasakan layaknya di Belanda. Pintu masuk kawasan Masjid ini berupa semacam gerbang perpaduan gaya klasik Belanda dan timur tengah. Menginjakan kaki di kawasan ini, kesan arabnya semakin kental. Gang kecil yang berisi perkampungan yang dipenuhi toko-toko yang manawarkan beraneka ragam barang-barang khas Arab masih cukup ramai padahal waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Memang, kawasan pertokoan ini buka 24 jam dan peziarah dan Pengunjung Masjid ini masih sangat ramai dimalam hari. Barang-barang yang dijual disana meliputi pernah-pernik dan aksesoris khas TimTeng, pakaian, krudung, songkok dan sebangsanya, Kurma dan manisan-manisan lainnya, Jamu-jamuan, Bibit parfum sampai peralatan rumah tangga seperti teko, panci, gelas merukuran kecil, baki yang didominasi warna emas. Menurut pedagang disana, kebanyakan barang-barang kebutuhan rumah tangga orang Arab memiliki warna yang agak ngejreng yaitu emas dan sebagian besar teko dan gelas minum orang arab berukuran kecil karena biasanya mereka menggunakan peralatan tersebut untuk minum kopi, dan kopi Arab terkenal sangat keras sehingga untuk meminumnya tidak perlu menggunakan gelas porsi besar. Lorong panjang yang berisi jajaran toko  sebagai penyambut pengunjung masjid berjarak kurang lebih 35 meter. Pintu masuk kawasan halaman Masjid adalah semacam gerbang juga dimana untuk memasuki kawasan tersebut, diharuskan mengenakan krudung untuk wanita dan berpakaian sopan dan tertutup untuk semua pengunjung. Sayangnya, karena kami tidak bermaksud untuk Sholat di Masjid tersebut dan juga tidak membawa kerudung alhasil kami hanya boleh clingukan untuk melihat para pengunjung yang sebagian besar berbahasa Madura hilir mudik keluar masuk Masjid.

Berikut ada sedikit ulasan tentang sejarah Masjid Ampel yang saya ambil dari beberapa sumber.

Masjid Ampel sendiri didirikan pada tahun 1421 oleh Raden Mohammad Ali Rahmatullah alias Sunan Ampel dengan dibantu kedua sahabat karibnya, Mbah Sholeh dan Mbah Sonhaji ( Mbah Bolong ), dan para santrinya. Di atas sebidang tanah di Desa Ampel (sekarang Kelurahan Ampel ) Kecamatan Semampir sekitar 2 kilometer ke arah Timur Jembatan Merah. Sayangnya, ihwal tentang kapan selesainya pembangunan Masjid Ampel ini, tidak ada satupun sumber yang menyebutkannya. Masjid dan makam Sunan Ampel dibangun sedemikian rupa agar orang- yang ingin melakukan sholat di masjid dan berziarah dapat merasa nyaman dan tenang. Hal ini tampak jelas dengan dibangunnya lima Gapuro (Pintu Gerbang) yang merupakan simbol dari Rukun Islam. Dari arah selatan tepatnya di jalan Sasak terdapat Gapuro bernama Gapuro Munggah, suasana perkampungan yang katanya mirip dengan pasar Seng di Masjidil Haram Makkah. Menggambarkan bahwa seorang muslim wajib menunaikan rukun islam yang kelima jika mampu. Setelah melewati lorong perkampungan yang menjadi kawasan pertokoan yang menyediakan segala kebutuhan mulai busana muslim, parfum, kurma dan berbagai asesoris, akan terlihat sebuah Gapuro Poso (Puasa) yang terletak di selatan Masjid Sunan Ampel. Setelah melewati Gapuro Poso, baru terlihat bangunan utama, yaitu Masjid. Masjid sudah empat kali dipugar, tetapi keaslian bangunan ini yang ditandai dengan ke-16 tiang utamanya ( panjang 17 meter tanpa sambungan, diameter 60 centimeter ) dan 48 pintu itu tetap dipelihara dan dirawat, agar jangan sampai turut direnovasi. Karena selain merupakan peninggalan sejarah, tiang tersebut juga memiliki makna. Tujuh belas ( panjang tiang ) menunjukan jumlah raka’at shalat dalam sehari yang merupakan tiang agama Islam. Hingga kini tiang penyangga ini masih kokoh, padahal umurnya sudah lebih dari 600 tahun. Menara setinggi lima puluh meter juga menjadi ciri khas masjid ini. Dahulu memang belum ada alat pengeras suara, sehingga semakin tinggi menara semakin baik, agar suara azan bisa terdengar. Kubah berbentuk pendopo Jawa adalah perlambang kejayaan Majapahit, yang saat itu juga berperan menyebarkan agama Islam bersama Sunan Ampel. Keluar dari masjid akan terlihat Gapuro lagi yang bernama Gapuro Ngamal. Disini orang-orang dapat bershodaqoh sesuai dengan kemampuan dan keikhlasan. Shodaqoh tersebut juga digunakan untuk pelestarian dan kebersihan kawasan Masjid dan Makam, menggambarkan rukun Islam tentang wajib zakat.
Tak jauh dari tempat itu akan terlihat Gapuro Madep letaknya persis di sebelah barat Masjid Induk. Disebelah kanan terdapat makam Mbah Shanhaji ( Mbah Bolong ) yang menentukan arah kiblat Masjid Agung Sunan Ampel. Menggambarkan bahwa pelaksanaan sholat menghadap kiblat. setelah itu ada Gapuro Paneksen untuk masuk ke kompleks makam. Ini menggambarkan sebagai syahadat ” Bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad utusan Allah ”
Kompleks makam dikelilingi tembok besar setinggi 2,5 meter. Makam Sunan Ampel bersama istri dan lima kerabatnya dipagari baja tahan karat setinggi 1,5 meter, melingkar seluas 64 meter persegi. Khusus makam Sunan Ampel dikelilingi pasir putih.
Di tempat ini juga terdapat sumur bersejarah yang kini sudah ditutup dengan besi. Banyak yang meyakini air dari sumur ini memiliki kelebihan seperti air zamzam di Mekkah. Banyak masyarakat yang minum dan mengambil untuk kemudian dibawa pulang.
Pada tahun 1972 Kawasan Masjid Agung Sunan Ampel telah ditetapkan menjadi tempat wisata religi oleh Pemkot Surabaya.

^ Sekian ^

About tantri

I am nobody who really want to be somebody. Extremely introvert cheerful and easy going girl.. :) Thanks for visiting this blog... ^^

Posted on June 26, 2011, in experince. Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. dulu pernah kesana..nyasar-nyasar tapi ternyata menarik juga…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: