Bus Trans Sarbagita


Akhirnya, saya mencobanya juga…

Saya menginjakan kaki ke Bali, bersamaan dengan 4 harinya peluncuran bus trans Sarbagita (denpaSar-Badung-Gianyar-Tabanan) bulan Agustus 2011 (maaf,saya lupa tanggalnya). Untuk itulah, saya sudah merencanakan jauh-jauh hari untuk mencicipi bus yang katanya sih, diperuntukkan sebagai penanggulang kemacetan di 4 Pemerintahan tingkat II di Bali Selatan tersebut. Bus yang direncanakan akan meluncurkan 17 trayek dengan total biaya pembangunan sebesar 1.3 Miliyard kali itu baru hanya berjalan 2 rute saja yaitu Batubulan- Nusa dua dan sebaliknya. Perlu diketahui, beberapa trayek yang direncanakan untuk moda transportasi ini adalah ada pada Gambar dibawah ini.

Saya memulai penjajalan bus trans Sarbagita ini melalui Terminal Batubulan dengan kendaraan pribadi tentunya, karena  sayangnya tidak ada moda transportasi penghubung dari kawasan-kawasan yang tidak terjangkau sarbagita menuju halte sarbagita itu sendiri. Semula dengan agak bodohnya, saya membayangkan bahwa halte busnya akan sama dengan halte bus way di Jakarta, tetapi ternyata tidak. Haltenya untuk Sarbagita ini jauh lebih kecil dan saya sangat memaklumi itu karena baru peluncuran dan saya harap nantinya akan ada pengembangan untuk mengantisipasi pembeludakan penumpang dikemudian hari. Lalu, penumpangnya__mungkin karena masih sangat baru__penumpangnya masih sangat minim dan sebagian dari para penumpang tersebut memiliki status yang sama seperti saya yaitu : menjajal. Tarif yang dikenakan bus ini seharga Rp.3500 (untuk pelajar harganya Rp.2500 ) dari batu bulan menuju Nusa dua yang berwaktu tempuh sekitar 1.5 jam. Bus yang saya tumpangi tersebut juga melewati Bali Galeria (nama mall dan pusat perbelanjaan), dan beberapa kawasan belanja  lainnya di kota. Namun sayang, waktu tempuh perjalanan yang semestinya lebih cepat malah terkesan lebih lambat karena tidak adanya jalur khusus bus sehingga bus tetap mengikuti ritme macetnya kota. Bayangkan saja, kalau dihitung-hitung juga dari nilai ekonomisnya, jika menuju Nusa dua dari batu bulan dengan menggunakan sepeda motor waktu tempuh yang diperlukan hanya sekitar 45 menit dan isi bensin Rp.10000 pun sudah cukup untuk bolak-balik 2 orang. Nah,kalau menggunakan bus, waktu tempuh 1.5jam, dengan harga tiket 3500 per orang hanya oneway saja, sehingga membutuhkan 7000 per-orang pulang pergi. Jadi kalau ber2, ya 14000 belum lagi harus nyetop bus di halte-halte yang jauh dari tempat tinggal. Mungkin ini salah satu yang harus dipikirkan pemerintah, bagaimana cara mengalihkan minat pengguna kendaraan pribadi untuk beralih ke menggunakan transportasi massal untuk mengurahi kemacetan dan polusi ditengah kota. Juga, bagaimana menghubungkan antara kawasan yang tidak terjangkau bus menuju halte bus terdekat atau mungkin, pemerintah harus menyediakan lahan parkir di sekitar halte bagi penumpang yang mungkin memarkir kendaraan pribadinya di halte tersebut karena jarak dari rumah menuju halte yang cukup jauh.

Kondisi ekterior bus yang berwarna biru dan mengusung tema bali clean&green ini masih sangat bagus (wajar masih baru…:) ). Kondisi interiornya pun juga masih sangat gresss, tidak ada AC yang ngadat malah terlampau terlalu dingin dan belum ada sampah yang kocarkacir dilantai. Selain itu, karena minimnya penumpang, tidak ada aroma-aroma keringat ataupun merasa kepanasan karena penuh sesak didalam bus ini. Malah, selama 1.5 jam perjalanan menuju nusa dua, tidak ada satupun penumpang yang kebagian untuk berdiri karena kursinya masih cukup menampung. Penumpang yang satu bus dengan saya sebagian besar adalah pendatang domestik yang ingin mencoba bus tersebut dan sebagian besar dari mereka memiliki tujuan di Mall Bali Galeria. Selain itu, terdapat juga beberapa wartawan maupun fotografer yang juga menjajal bus ini. Perjalanan selama 1.5jam menuju nusa dua terasa cukup membosankan.

Halte Sarbagita

Interior Sarbagita

Saya mendapatkan banyak cibiran-cibiran negatif dan pemikiran-pemikiran pesimis untuk kelangsungan sarbagita itu sendiri. Tetapi, banyak juga yang mendukung tujuan pengurangan kemacetan dan polusi di bali dengan mengoperasikan moda transportasi massal seperti ini. Nah tentunya, suatu tujuan baik perlu berjalan melalui sebuah proses dan waktu. Baik buruknya hasil yang tercapai sangat tergantung dari proses yang dijalankan itu sendiri, kritik pedas yang dilontarkan sebaiknya digunakan sebagai pembangun semangat untuk menjadi lebih baik. Saya berharap, bus yang bertujuan untuk menanggulangi kemacetan dan polusi dibali dapat berumur panjang dan berfungsi dengan baik sesuai dengan yang diharapkan.

Sekian (Tan)

About tantri

I am nobody who really want to be somebody. Extremely introvert cheerful and easy going girl.. :) Thanks for visiting this blog... ^^

Posted on September 18, 2011, in experince. Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. saya baru aja naik bus sarbagita pagi ini, dan ngerasa seneeng banget, karena belum pernah naik yang beginian (maklum, di Surabaya belum ada, dan saya belum pernah ngerasain naik Trans Jakarta). Udah gitu, bus nya bersih, dan nyaman banget. Sukses selalu untuk usaha pemerintah Bali mengurangi kemacetan🙂

    • wah ternyata Sarbagita msh jalan yah di Bali..:) awalnya sy agak pesimis sih dengan adanya bus trans ini.Karena jalanan di Bali sdh di penuhi Bus2 Pariwisata shg klo pke sarbagita sama saja kena macet dan ikut memacetkan jalanan Bali juga.😀 Yaah semoga tetep jalan deh program ini. dan smg tujuan mengurangi kemacetan Bali dng bus ini bisa tercapai… ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: