Berkendara dengan mobil di Belgia dan sekitarnya


Hari ini, ketika saya memarkirkan kendaraan saya di salah satu parkiran swalayan yang letaknya beberapa menit dari rumah saya, saya dibuat teringat sesuatu oleh seorang tukang parkir. Ketika itu tukang parkir memberi aba-aba layaknya tukang parkir ketika saya mulai mengarahkan moncong mobil saya di space kosongnya, dan lucunya, si tukang parkir memberi aba-aba tanpa melihat arah mobil saya dan malahan si beliaunya asik membaca koran. Lucu ndak sih?? he tried to lead me to get the rigth parkir space for my beloved car without see the position of my car.. he read the newspaper.. sama aja boong donk ya, saya memarkirkan mobil dengan aba-aba yang tidak meyakinkan (=tanpa aba-aba).  so what? Hal tersebut mengingatkan saya tentang gaya memarkir mobil by feling ketika saya di Eropa dulu, tanpa tukang parkir yang memberi aba-aba. Yaaa.. di Eropa sama sekali tidak ada profesi sebagai tukang parkir..heheh.. Berbanggalah wahai engkao tukang parkir, di Eropa profesi ini langka loo…😀 .Nahh kejadian kecil ini membangkitkan hasrat saya untuk berbagi pengalaman dalam mengemudi (khususnya mobil) di negara Eropa  (nggak ada hubungannya sama tukang parkir sih sebenernya… :p )..

Saya pernah hampir setahun tinggal di Eropa dan lucky me diperbolehkan untuk mengemudikan mobil. Untuk masing-masing negara di Eropa memiliki prosedural sendiri yang dijadikan syarat umum seseorang diperbolehkan mengemudi kendaraan khususnya bagi warga pendatang seperti saya. Kalau di Belgia, saya boleh menukarkan SIM mengemudi saya dengan SIM internasional hanya dengan membayar 15 euro plus menyerahkan 1 foto terbaru dan berlaku 1 tahun tetapi SIM indonesia saya ditahan oleh Gemeente (semacam balai kota) setempat. SIM tersebut boleh ditukarkan hanya bagi penduduk pendatang yang akan tinggal di negara Belgia lebih dari 3 bulan ( memiliki surat ijin tinggal). Kalau di negara Belanda dan Jerman, peraturannya beda lagi dan lebih ketat yaitu dengan melakukan test test dan sebagainya seperti kalau kita mencari SIM tanpa calo di Indonesia.

Tibalah waktunya saya menyetir mobil di negara yang notabene memiliki peraturan lalu lintas yang berbeda dengan Indonesia. Selain itu posisi setirnyapun berbeda, yaitu di kiri. Saya berkali-kali melakukan kebodohan yaitu saya kebiasaan membuka pintu kanan mobil daaaan.. ladalaaa..saya tidak menemukan setir, karena posisi setir di sebelah kiri toohh.. dan kebodohan saya ini berlangsung hingga hampir 1 bulan. Saya menyetir dengan gugupnya karena saya harus memutar otak saya dan menggunakannya lebih keras karena perbedaan-perbedaan yang ada.. Selain posisi setir yang biasanya dikanan berubah jadi dikiri, lajur jalanpun juga dirubah yang biasanya di kiri ehh di eropa (kecuali Inggris) harus jalan di lajur kanan. Selain itu posisi reting dan wipper pun berubah sebaliknya. Jadi berkali-kali saya menarik tungkai wipper setiap kali saya berniat meng-on kan retting mobil saya. Gara-gara keterbalikan lajur jalan, saya melakukan kebodohan yang agak fatal yaitu saya nyasar berkendara sampai melewati Belanda dan Jerman, yang artinya saya sudah pernah nyetir lintas negaraa… horeeeeeeeee…. (kebanggaan yg sedikit memalukan sodara-sodaraaa… :p ). Begini ceritanya :

Waktu itu, karena saya masih newbie dijagat belgie (waktu itu minggu pertama saya menginjakaan kaki di desa Rekem,Belgium), saya pun berinisiatif untuk jalan-jalan. Karena saya diperbolehkan “menguasai” salah satu mobil dari hostfamily jadi saya memilih menggunakan mobil sekalian untuk latihan berkendara gitu deeh… Tujuan saya kala itu tak lain dan tak bukan adalah Maasmechelen Village yang kabarnya memiliki keindahan yang memukau dan itu memang benar. Saya berputar-putar dan berusaha mengingat jalan di desa cantik yang berbukit itu selama 2 jam. Setelah puas berputar,saya pun berniat kembali ke rumah. Nah, saat melewati salah satu Rootonde ( bundaran), saya sudah bersiap-siap ke arah kiri karena saya masih bermind-set bahwa saya nyetir di Indonesia akibatnya saya linglung dan seketika saya teringat bahwa saya di Eropa sehingga tanpa pikir panjang saya mengalihkan setir saya ke kanan. Lalu karena sisa kelinglungan saya, akhirnya saya terus mengambil jalur kanan karena ketika itu saya berusaha mengganti mind-set nyetir di jalur kiri menjadi jalur kanan. Akibatnya sayapun salah mengambil jalan keluar dari bundaran dan mengarah menuju jalan tol. Alamaaaaakkkk…. saya masuk ke jalan tol menuju Netherlands… Stupid me!! saya berusaha mencari jalan keluar dari jalan tol ataupun putar balik atau sebangsanya.. yang jelas, saya harus keluar dari jalan tol itu jika tidak saya akan sampai ke Netherlands. Kebodohan saya adalah : saya mencari jalan keluar tol disisi kiri jalan. Padahal seharusnya di kanan. Ditengah kebingungan saya dicampur dengan ketakutan-ketakutan yang merajalela, saya terus melajukan kendaraan saya mengikuti jalan itu hingga 20 menitpun berlalu tanpa menemukan jalan keluar. Saya berusaha untuk tenang ditengah kepanikan saya. Saya berusaha untuk menelepon Hostmom dan Hostdad saya, tetapi begonya, saya belum mengaktifkan jaringan internasional HP saya. Telpon saya tidak bisa melakukan panggilan, karena saya sudah keluar Belgia, saya sudah masuk wilayah Netherlands. Ohhhh myyy God… saya sudah nyasar terlalu jauh!! Saya berusaha untuk mengaktifkan jaringan internasional HP saya, daaann kesialan saya lagi adalah : bahasa HP saya msh menggunakan bhs Belanda dan jelaass saja saya tidak bisa menggantinya karena saya tidak familiar dengan HP ini selain itu saya belum bisa bahasa Belanda. Ohhh noooooo…!!! Saya masih melajukan mobil saya mengikuti untaian jalan tol itu.  Beberapa kali pengemudi mobil mengklakson saya karena laju mobil saya yang terkesan pontang panting dan sempoyongan. Saya pun terus melajukan mobil dengan penuh emosi dicampur dengan penuh harap untuk menemukan jalan keluar. dan guess what? Petunjuk jalanan sudah mengarahkan saya menuju Dusseldorf,Germany dan saat itu saya sudah sampai di Germany perbatasan. Ohhhh noooo!!! saya sudah lintas 3 negara : Belgie- Netherlands-Germany. Panik? Tentu saja… !!! daaan, apa yang saya lakukan kemudian??? saya berhenti di sisi jalan, saya turun dari mobil dan menjegat semua mobil yang melintas berharap ada yang berbaik hati menunjukkan saya jalan untuk pulang ke Belgia. Setelah sekitar 15 mobil yg saya tetapi tidak mau berhenti, akhirnya mobil ke-16 dengan pengendara seorang ibu muda menghentikan mobilnya. Sayapun langsung memberondong dia dengan beberapa penjelasan dan pertanyaan yang intinya adalah, saya nyasar dan saya ingin jalan pulang. Wanita itu meminta maaf tidak bisa mengantar saya, karena dia sedang on the way to office, tetapi dia menunjukkan saya jalan keluar. Dan ternyata, semua jalan keluar dari jalan tol di Eropa berada di sebelah kanan bukan kiri seperti expektasi saya dan bertulis “UITGANG” yang artinya pintu keluar. Ada perasaan lega di benak saya, namun masih ada perasaan was-was. Akankah saya sampai di rumah dengan selamat?!! Saya mengikuti petuntuk wanita penyelamat saya itu, dan akhirnya saya tiba di Belgia namun belum di kawasan rumah saya. Saya mencari petunjuk jalan menuju distrik Lanaken tetapi tidak ada petunjuk jalan yang mengarahkan saya kesana. Akibatnya, saya kembali diliputi rasa was-was karena ternyata jalan yang saya lewati adalah jalan menuju Antwerpen dan Brussel, kota besar di Belgia yang letaknya jauh dari Lanaken. oh my God… lagi-lagi saya nyasar… Tanpa pikir panjang sayapun menghentikan mobil saya dan bertanya kesetiap orang yang saya temui untuk menemukan Lanaken. 45 menit berlalu, dan voilaaa saya pun selamat sampai rumah. huuuffff…. Host parent tentu saja marah kepada saya karena kenekatan saya yg newbie ini untuk menjelajah terlalu jauh yang berakibat tersesat terlalu sangat jauh.

Perbedaan berikutnya adalah tempat parkir mobil. Kalau di Indonesia, ketika kita memasuki mall atau pusat perbelanjaan pasti kita akan melewati mbak-mbak atau mas-mas tukang tiket yang mencatat nomer kendaraan kita lalu menyerahkan karcis parkir dan kita membayarnya. Di Eropa tidak, pembayaran dan pengambilan tiket sudah dilakukan dengan otomatis yaitu dengan mesin. Ada juga semacam tiket berlangganannya, jadi kita tinggal menggesekkan tiket yang sudah ada sejumlah uang didalamnya (seperti atm gitu) ke mesin, baru deh plang pintu terbuka untuk mobil kita.

Contoh mesin pembayaran karcis parkir gedung

Untuk parkir di ourdoor peraturannya beda lagi. Ada area parkir dengan tanda tertentu yang gratis (kalau di Belgia tandanya berupa gambar payung) selama maksimal 2 jam. Tetapi kita harus memasang suatu tanda yang menunjukaan bahwa kendaraan tersebut parkit kurang dari 2 jam. Tanda tersebut berupa angka yang menunjukan jam berapa kita parkir disana sehingga dari situ bisa dilihat sudah berapa jam kita memarkir mobil kita. Biasanya akan ada petugas yang berkeliling lokasi parkir gratis tersebut untuk mengecek tanda parkir dimasing-masing mobil. Jika ketahuan bahwa mobil sudah parkir lebih dari 2 jam, maka petugas akan mendata plat nomernya dan tanpa basa-basi beberapa hari kemudian akan datang surat tilang ke alamat si pemilik mobil. kok bisa tahu alamat dari plat nomernya? yang pasti Eropa lebih yahudd untuk masalah pendataan penduduk. Jangankan dari plat nomer, dari nomer HP saja bisa dilacak alamat dan nomer telepon rumahnya kok (tentunya datanya asli dan bisa dipertanggungjawabkan)…:) . Selain parkir gratis, ada juga parkir yang tidak gratis. Pemungutan biaya parkir jelas saja bukan dilakukan oleh tukang parkir seperti di Indonesia, melainkan oleh mesin. Dari mesin itu kita bisa memilih berapa jam kita akan parkir di lokasi itu. Biaya yang dikenakan adalah 2 euro perjam (biasanya tergantung lokasi siih…). Karena lumayan mahalnya biaya parkir, itulah kenapa penduduk lebih memilih menggunakan sepeda atau berjalan kaki untuk jarak dekat yang relatif jauh lebih murah dan sehat.  Dari mesin bayar parkir tersebut, kita dapat memperoleh karcis yang menunjukkan lama waktu dan batas waktu kendaraan boleh parkir di tempat itu. Karcis tersebut harus diletakkan di dashboard mobil yang memungkinkan petugas untuk mengecek dari luar. Jika ketahuan kendaraan tersebut parkir melebihi batas waktu, bisa kena tilang.

Tanda lama waktu parkir.

Mesin tiket (diambil dari superstock.com)

Perbedaan berikutnya adalah ketaatan dalam berkendara. Berbeda dengan di Indonesia dimana pengemudinya suka nrabas lampu merah dan yang nyemprit adalah seorang makhluk yaitu polisi, kalau di Eropa tidak ada polisi yang nyemprit tetapi ada sensor yang mendata kendaraan kita apabila melanggar. Biasanya sensor tersebut dipasang di trafic ligth dan kawasan-kawasan yang terdapat rambu-rambu batas kecepatan. Misal, disuatu jalan terdapat rambu batas kecepatan 60 km/jam, maka semua kendaraan yang melewati sensor di area tersebut dengan kecepatan melebihi batas akan dikirimi surat tilang ke alamat masing-masing. Hostmom saya sering mendapatkan surat tilang karena kebiasaan tergesa-gesa ketika berangkat kerja. Untung mengantisipasi datangnya surat tilang yang bertubi-tubi ke alamat rumah kami, hostdad membeli suatu piranti canggih yang dapat mendeteksi keberadaan sensor dijalan. Jadi, kalau kita berkendara dengan kecepatan melebihi batas ketika akan melewati sensor tersebut maka beberapa meter sebelumnya, piranti canggih itu akan mengingatkan bahwa beberapa meter lagi akan ada sensor kecepatan padahal kecepatan kita kelebihan sekian km/jam, jadi harus mengurangi kecepatan. Jadi, kita tidak akan kenal tilang… :)  Lucu yaa.. suatu teknologi canggih di redam dengan teknologi yang lebih canggih lagi.. heheh.. itulah teknologi, selalu berkembang dan terus berkembang..

Sensor yang dipasang di traffic light jalan.

Sekian cerita saya..:) Saya berterima kasih kepada tukang parkir yang hobby baca koran yang saya temui tadi sore yang  membongkar memori pengalaman saja berkendara di Salah satu negara Eropa.. heheheh…

About tantri

I am nobody who really want to be somebody. Extremely introvert cheerful and easy going girl.. :) Thanks for visiting this blog... ^^

Posted on November 3, 2011, in experince. Bookmark the permalink. 7 Comments.

  1. good story for share

  2. haloo mba tantri boleh minta email / fb untk tny2 lebih lanjut

  3. mba bisa mnt alamt email nya untuk info & tny2

  4. kalau di swiss , sim nya bagaimana ya? apa berlaku jg system tuker sim gt?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: