seri cinta Indonesia (part 1) : Indonesia mengajar


Sebuah kisah inspiratif…

(Saya tidak bermaksud mempromosikan buku ini melalui blog saya, toh juga tidak ada untungnya bagi saya jika itu saya lakukan. Tapi, yang saya tulis disini adalah sekedar men-share bahwa isi dari buku ini adalah : bermakna, inspiratif dan yang paling penting adalah bukan fiktif belaka dan merupakan kisah nyata kehidupan sosial masyarakat di pelosok negeri kita tercinta yang jauh dari jangkauan warga kota seperti saya)

Seperti biasa, buku selalu mengispirasikan saya untuk menggapai hal lebih dari yang telah saya peroleh selama ini. Dulu, buku Negeri Van Oranje yang berceritakan tentang kisah pelajar muda Indonesia yang menempuh pendidikan di Belanda membuat saya semakin menggebu ingin sekolah di sana. Buku serial Naked traveler dan traveling national geografic juga mendominasi pemikiran saya untuk bertualang menjelajah hal-hal baru di dunia. Serta buku-buku biografi lainnya dan kisah-kisah unik penulis lainnya membuat saya terinspirasi untuk menjadi lebih maju dan tentunya lebih mendunia. Kali ini buku pilihan yang mengup-grade inspirasi saya adalah buku dengan judul : Indonesia mengajar (kisah para pengajar muda di pelosok negeri). Menginspirasikan saya untuk lebih mensyukuri apa yang sudah saya miliki dan lebih melihat kondisi di “bawah” untuk dapat berbuat lebih untuk memajukan bangsa ini khususnya di bidang pendidikan.

Sekilas tentang….

Buku yang berkisah tentang pengalaman pengajar muda yang terpilih yang dikirim ke pelosok tanah air untuk menjadi pengajar di sekolah-sekolah yang dianggap kurang maju dalam hal pendidikan ini ditulis dan dirangkum per-bab dengan gaya bahasa yang sangat menyenangkan. Berkisah tentang ulasan peristiwa-peristiwa, kegiatan-kegiatan para pengajar muda selama mereka mengikuti program ini selama 1 tahun baik yang menyenangkan, membanggakan, menyedihkan, menakutkan maupun memalukan. Mereka ditempatkan di rumah-rumah penduduk yang (mungkin) dianggap lebih mampu dan layak jika dibandingkan dengan penduduk lainnya serta ada beberapa yang ditempatkan di rumah pondokan bersama dengan pengajar muda lain atau semacam hosf family. Mereka disana bukan berlibur, digaris bawahi..that’s not a kind of vacation. Tetapi yang mereka lakukan adalah mengabdikan diri kepada pendidikan serta merubah pemikiran dan paham-paham lokal setempat yang masih sangat mundur tentang pendidikan menjadi jauh lebih maju. Merubah pemikiran siswa-siswa penerus generasi muda di daerah terpencil yang menimba ilmu karena keterpaksaan serta dibawah bayang-bayang ketakutan akan kerasnya pendidikan lokal setempat menjadi lebih bersemangat untuk belajar tanpa ada bayang-bayang ketakutan. Mereka juga melakukan perubahan metode pembelajaran semula yang awalnya keras dan tidak segan untuk melakukan ancaman bahkan kontak fisik yang dilakukan oleh guru terhadap murid menjadi metode pembelajaran yang kekeluargaan dan penuh kasih sayang. Merubah semua hal yang buruk tentang pendidikan lokal menjadi jauh lebih baik dan terarah walau dengan minimnya fasilitas. Karena memang tujuan dari program ini adalah mengisi kekurangan guru-guru berkualitas di pelosok-pelosok tanah air dan mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan yang lebih maju.

Sejak 2010, yayasan gerakan Indonesia Mengajar yang bermula dari ide penggiat pendidikan Anies Baswedan, Ph.D ini telah memberangkatkan 170 Pengajar muda terpilih dari 11017 sarjana indonesia . Kesemua pengajar muda tersebut dikirim ke 117 desa di 14 kabupaten di pelosok negeri sebagai guru SD di sekolah-sekolah yang dianggap belum cukup maju dibidang pendidikannya serta belum terdapat guru-guru berkualitas yang mampu menerapkan ilmu pengetahuan yang lebih maju.

Berbicara tentang fasilitas.

Bayangkan saja, dalam 1 hari mereka hanya mendapatkan pasokan listrik 4.5 jam yang harus mereka gunakan untuk ngercharge baterei labtop, HP dan melakukan kegiatan kelistrikan lainnya. Bahkan ada beberapa kawasan yang sama sekali tidak ada listrik dan sinyal HP. Harus menyeberangi sungai selama 15 menit demi mendapatkan sinyal HP atau sekadar membuka internet itupun masih dengan sinyal yang sangat minim. Harus mencabut ubi di kebun, memetik daun ketela serta menjala ikan jika ingin makan. Harus berjalan dijalanan berlumpur serta becek untuk berangkat mengajar kesekolah yang berjarak tidak dekat. Merekapun tidak tidur dengan alas kasur empuk yang nyaman tetapi layaknya orang desa, mereka tidur beralaskan kasur tipis dan bahkan ada juga yang hanya beralaskan karpet. Mereka juga melakukan kegiatan-kegiatan kemasyarakatan seperti yang dilakukan oleh masyarakat setempat seperti mencari ikan, mencabuti rumput, bertani dan kegiatan-kegiatan lain padahal diluar jam mengajar mereka juga harus mengisi kelas tambahan dengan tujuan membangkitkan kecintaaan murid-murid yang haus akan pendidikan. Itulah kehidupan Pengajar muda, harus mampu menjadi pencerah pendidikan dengan fasilitas yang sangat minim.

And… how i feel and what i got….

Selama membaca buku ini, saya lebih banyak tercengang, terheran-heran dengan kondisi pendidikan di beberapa pelosok Tanah air. Bukannya selama ini saya menutup mata dan tidak mau tau tentang kondisi pendidikan di negeri ini ,tetapi memang selama ini saya merasa kurang wadah dan sumber berita yang benar-benar memberikan gambaran kepada saya tentang kondisi sebenarnya yang ada di lapangan. Bagaimana tidak, saya pernah mengunjungi beberapa kawasan di Kalimantan, tetapi yang saya kunjungi adalah kota besar sehingga sangat jauh dari jangkauan saya untuk melihat kondisi pelosok kalimantan yang ternyata masih merana. Padahal, dalam beberapa kisah di buku ini lebih tepatnya di Kabupaten Paser, Kalimantan timur yang merupakan salah satu lokasi penempatan pengajar muda, terdapat banyak sekolah tingkat SD yang kondisinya sangat memprihatinkan. Masyarakatnya yang menganggap pendidikan hanya sebatas bisa membaca dan menulis, selebihnya adalah sesuatu yang jauh dimata sehingga sulit untukdigapai. Belum lagi kawasan-kawasan lain seperti Pulau Rupat-kabupaten Bengkalis-Riau, Kabupaten tulang bawang barat- Lampung, Kabupaten Majena-Sulawesi Barat, Kabupaten Halmahera selatan- Maluku utara yang seperti belum tersentuh program wajib belajar 9 tahun pemerintah.

Buku ini paling tidak menyadarkan saya bahwa ternyata Indonesia yang merupakan negara kaya raya dengan hasil bumi yang bergelimang, hasil laut yang berlimpah, pemilik 75% keindahan alam bawah laut dunia, pemilik banyak tambang emas, batu bara, aspal, nikel, salah satu pengexport kopi terbesar di dunia, satu-satunya negara yang memiliki kopi terenak didunia yaitu kopi luwak dan masih banyak pujian-pujian bagus lainnya, ternyata memiliki masalah pemerataan di bidang pendidikan yang sangat kurang.

Tugas kita sebagai generasi muda untuk membantu menyelesaikan masalah tersebut.

Indonesia mengajar

About tantri

I am nobody who really want to be somebody. Extremely introvert cheerful and easy going girl.. :) Thanks for visiting this blog... ^^

Posted on December 9, 2011, in experince. Bookmark the permalink. 2 Comments.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: