Museum House of Sampoerna, museum terfavorit Indonesia di Surabaya.


Kali ini, kesempatan membawa saya untuk mengunjungi salah satu museum terfavorit nomer 1 di Indonesia menurut survey yang telah dilakukan oleh National Geographic bulan Mei 2011 silam yaitu: Museum House of Sampoerna. Trip mate saya kali ini adalah : Mila dan Bu Win. Sebenarnya, kunjungan saya kali ini bukanlah yang pertama, tetapi baru pada kunjungan kali ini saya bisa menshare cerita lewat tulisan ini.

Lokasi Museum ini adalah terletak di kawasan Surabaya kota lama yang tentunya berdekatan dengan jembatan merah dan beberapa gedung tua bersejarah lain yaitu tepatnya di Jl. Taman Sampoerna 6, Surabaya 60163, Indonesia. Tidak terlalu sulit menemukan lokasi ini walaupun memang terletak agak kedalam gang tetapi beberapa plang papan penunjuk lokasi menuntun saya untuk menemukan lokasi ini (walaupun sedikit agak nyasar :p ). Memasuki area parkir museum ,saya sudah disuguhkan oleh pemandangan khas bangunan Belanda yang tentunya masih terawat. Bangunan dengan 4 pilar besar,kokoh dan tinggi tepat berada didepan saya. Tulisan berbahasa belanda juga tertulis jelas di bagian atas dari gedung utama tersebut.Area ini tidak saja difungsikan sebagai museum, tetapi juga terdapat beberapa fasilitas lain di gedung lain di area tersebut.

Area ini terdiri dari beberapa bangunan yang memiliki fungsi yang berbeda pula. Gedung yang paling besar merupakan gedung auditorium. Terdapat 2 gedung lain yang ukurannya lebih kecil tapi lumayan luas walau hanya 1 lantai yang berlokasi disebelah barat dan timur area tersebut. Dulunya salah satu bangunan ini difungsikan sebagai rumah tinggal dan bangunan lainnya yang memiliki ukuran lebih besar difungsikan sebagai tempat menyimpan tembakao, proses pembuatan rokok yang manual, hingga proses finishing dan pengepakan barang.  Sebagian gedung yang paling besar difungsikan sebagai lokasi produksi rokok Dji Sam Soe dan sebagian lagi dari gedung besar tersebut kemudian di perbaiki dan sekarang difungsikan sebagai Museum dan Toko. Gedung bagian timur yang dulunya difungsikan sebagai tempat penyimpanan barang sekarang beralih fungsi sebagai Cafe dan Galery seni yang unik. Sedangkan gedung yang terletak dibagian Barat hingga kini masih difungsikan sebagai rumah tinggal. Kesemua gedung sisa masa lalu tersebut dapat kita nikmati sekarang free alias tanpa biaya tiket masuk.

Menurut catatan sejarah, bangunan ini didirikan tahun 1862 pada jaman kolonial Belanda. Saya tidak tahu pasti walau gedung ini didirikan tahun 1862 tetapi kenapa terdapat 2 angka tahun yang menunjukkan tahun 1893 di bagian muka gedung ini. Lalu, pada tahun 1932 Liem Seeng Tee yang merupakan founder Sampoerna membelinya dan kemudian menggunakanya sebagai rumah produksi pertama rokok Sampoerna. Okeee..let’s we strart the smal trip here…🙂

Saya memasuki ruang utama Museum melewati pintu kayu besar dengan senyum ramah mbak-mbak penjaga Museum tersebut. Kalau kita mau, kita boleh meminta bantuan mbak-mbak dan mas-mas petugas disana untuk menjelaskan kepada kita secara Hostorical tentang museum tersebut beserta isinya. Tetapi, tanpa bantuan petugas, kita masih bisa memahami dan mengerti isi dan cikal bakal museum tersebut dari keterangan-keterangan jelas dan lengkap yang tertulis disana baik manual maupun digital. Area pertama merupakan area yang menerangkan tentang cikal-bakal Sampoerna. Bagian sebelah kiri terdapat keterangan tentang jenis-jenis tembakau serta peralatan-peratan yang digunakan selama proses pembuatan rokok jaman dulu. Selain itu beberapa lukisan dan foto apik juga terpampang disana. Bagian sebelah kanan menampilkan beberapa koleksi keluarga founder Sampoerna dari properti ruang tamu, properti ruang kerja, koleksi pakaian serta berbagai foto keluarga dari masa ke masa. Tidak sedikit pengunjung yang mengambil foto di lokasi ini karena interior yang disuguhkan begitu apik modern khas Belanda dengan latar belakang jendela besar.

Memasuki Area kedua, kita disuguhkan oleh tampilan elegan ruangan yang dipenuhi dengan beragam Foto yang berkaitan dengan sejarah perkembangan Sampoerna. Area ketiga juga menyuguhkan hal yang tidak kalah menarik. Terdapat properti Marchingband yang dilengkapi dengan musik marchingband yang khas. Selain itu juga terdapat peralatan-peralatan pembuatan rokok jaman dulu serta peralatan percetakan bungkus rokok. didalam etalase, kita juga dapat melihat beragam jenis rokok eksport sampoerna ke berbagai negara. Area lantai 1 pun berenti sampai disana yang artinya area foto-foto sudah berakhir karena kita akan memasuki lantai 2 dimana kita tidak diijinkan untuk mengambil gambar dan video. Menaiki tangga lantai 2, saya sudah disambut oleh cermin bundar besar yang terkesan agak tua serta beberapa gambar-gambar serta tulisan tertempek di tembok sudut tangga. Kesan apik terpancar dari tatanan gambar tersebut. Lantai 2 merupakan shop yang menjual souvenir-souvenir khas museum itu dan barang-barang khas surabaya dan sekitarnya. Selain itu, disana juga terpampang foto-foto kegiatan yang pernah diadakan oleh Sampoerna. Hal yang paling menarik yang bisa kita lihat dari lantai 2 adalah, proses pengelintingan rokok yang dilakukan oleh  ribuan pekerja di belakang gedung. Dari balkon atas itu, kita bisa melihat betapa cepatnya ribuan pekerja memelinting rokok sehingga kalau kita perhatikan dari atas, akan nampak gerakan-gerakan cepat yang relatif seragam dari ribuan pekerja tersebut. Kata sih, kecepatan mereka memelinting rokok bisa mencapai 325 batang per jam.. woooww… dan dikerjakan oleh 3500 pekerja. Coba deh hitung, berapa puntung rokok yang dihasilkan dalam sehari…  Oh iya, di lantai 2 itu kita juga bisa belajar memelinting rokok dengan 2-4 pekerja yang bekerja di ruangan tersebut. Sudah cukup di gedung ini, dan sekarang kita mengarah ke gedung sebelahnya yang merupakan tempat tinggal sehingga tidak dibuka untuk umum. Di bangunan ini, kita bisa foto-foto senarsis mungkin🙂. Spot yang paling menarik untuk foto-foto adalah spot mobil antik yang bernomer plat 246. Selain itu, spot di beranda rumah juga bagus untuk foto-foto tetapi sayangnya ada batasan tali merah yang membatasi area pengambilan foto… but, it was nice….🙂

Sekarang beralih ke Cafe dan galeri seni yang terletak di gedung laginnya. Sesuai dengan namanya, tentunya cafe adalah yaa cafe..  tetapi cafe ini memiliki arsitektural yang unik serta interior yang menarik. Apalagi kalau malam mingguan, duuuuhh..iringan musik romantis bisa dinikmati disana dengan menu-menu lokal yang bisa dinikmati dengan suasana kolonial di cafe ini. Barang-barang seni yang dipajang disini adalah beberapa lukisan-lukisan serta pameran seni yang jadwalnya bisa dilihat disini. Selain itu, fasilitas lain yang bisa kita nikmati adalah bus keliling surabaya yang mengusung tema Surabaya Heritage Track. Rute perjalanan yang ditawarkan adalah lokasi-lokasi yang memiliki nilai sejarah seperti Tugu Pahlawan, Gedung PTPN XI yang merupakan gedung sisa peninggalan Belanda, Kampung cina (pecinan) dan Kampung Arab (di Ampel), Hok Ang Kiong Temple, Balai Pemuda, Cak Durasim, City hall dan rute terbaru yang ditawarkan adalah mengunjungi pabrik kecap yang merupakan pabrik tertua di Surabaya. Rute perjalanan yang ditawarkan bisa dilihat disini.

Ada lagi info yang perlu diketahui lhoo… Museum ini dinobatkan sebagai salah satu museum terfavorit Indonesia berdasarkan survey yang telah dilakukan oleh National Geographic Traveler yang diadakan pada bulan April- Mei 2011. Riset yang dilakukan oleh majalah National Geographic Traveler pada bulan April hingga Mei 2011, dilakukan dalam dua tahap. Pertama yaitu menjaring kriteria museum yang baik dan menarik untuk dikunjungi melalui diskusi panel bersama pemerhati dan praktisi museum di Indonesia untuk 3 kategori museum: sejarah/arkeologi, museum seni budaya, dan museum iptek/geologi/biologi. Tahap kedua adalah dengan melakukan jajak pendapat online melalui laman http://traveler.nationalgeographic.co.id survei. Walaupun hasil survei tidak dapat mewakili keseluruhan pandangan masyarakat Indonesia, namun pengalaman wisatawan dalam menikmati kunjungan ke museum memberikan pandangan yang berbeda tentang bagaimana seharusnya museum itu. Seperti yang ditunjukkan hasil survei Museum House of Sampoerna (HoS) yang menempati bangunan berusia lebih dari 145 tahun ini. Dari 649 responden, 63% menyatakan museum yang berlokasi di kawasan Surabaya lama ini menarik dalam penataan ruang atau interior, peragaan (58%), kelancaran arus kunjungan (32%), kepiawaian pemandu fasih berbahasa Inggris (30%). HoS yang dikunjungi rata-rata 11.000 pengunjung per bulan memenuhi kriteria koleksi terpelihara baik (61%), kelengkapan fasilitas museum (30%) dan program/acara menarik (30%). (sumber informasi)

oke.. sekian ^^

us in a view of capture…

Captured by acak kadul pose and uploaded by also acak kadul position…🙂

About tantri

I am nobody who really want to be somebody. Extremely introvert cheerful and easy going girl.. :) Thanks for visiting this blog... ^^

Posted on December 30, 2011, in experince. Bookmark the permalink. 1 Comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: