Nongkrong di Kota tua Jakarta…


jalan-jalan di kota tua Jakarta serasa kembali bernostalgia jalan-jalan di sudut kota di negeri Belanda (tapi sayangnya tingkat polusinya itu loooh..gileeee.😦 ). Okey, disela urusan saya di Jakarta beberapa waktu lalu, saya menyempatkan diri untuk mengunjungi kawasan wisata kota tua yang konon kabarnya merupakan sisa kejayaan Belanda di abad ke-16. Nah, untuk memudahkan trip iseng saya ke kota tua ini atau supaya saya ndak nyasar sana sini, sayapun mengajak teman saya yang memang domisili Jakarta jadinya me-reduce kemungkinan kemungkinan nyasar yang biasanya terjadi pada saya. let me introduce my trip mate kali ini : Mala.

Perjalanan dimulai. Kami janjian ketemuan di Halte bus Bendungan hilir lalu bersama-sama menuju halte bus way kota tua yang terletak di Jakarta barat paling ujung. Perjalanan ditempuh agak lama dan berputar-putar diantara macetnya kota Jakarta di siang bolong. Setelah beberapa lama, akhirnya sampailah kami di Halte bus Kota tua. Suasana sudah terasa agak dekil dan jadul yang artinya bahwa sampailah kami di tempat tujuan kami. Yuuupppzz akhirnya kami sampaiiiiiii…. yupppyyy… Sebelum saya beranjak ke cerita jalan-jalan saya disana, saya ingin sedikit bercerita tentang sejarah terbentuknya Kota Tua Jakarta ini. begini ceritanya….

Sejarah

 Terbentuknya kota tua di Jakarta tak lain dan tak bukan adalah merupakan sisa-sisa jaman kolonialisme di negeri Indonesia kita tercinta ini. Jadi, Belanda membangun secara besar-besaran dan menginvasi kota secara besar-besaran hingga terbentuklah sebuah kota yang dulu namanya Batavia. Sebelumnya kawasan tersebut bernama Jayakarta/Jacatra yang merupakan wilayah kekuasaan Sultan Banten. Ketika kawasan tersebut dikuasai Belanda, wilayah dibagi menjadi 3 tipe/model pembangunan yaitu : Dutch Golden Age (abad 17-18), Tipe periode  transisi ( abad 18-19) dan tipe Modern (abad 20). Pembangunan dilakukan oleh Belanda dengan merekonstruksi rumah tinggal, villa, Gereja, gedung pemerintahan dan perkantoran yang ketika itu terpusat di tengah kota Jakarta dan Jakarta Barat.

Pada Abad 17 sampai akhir abad 18 (periode berkembangnya Dutch East India) dimulainya perkembangan arsitektur bergaya Belanda di Jakarta tempo dulu dimana pada saat itu diawali dengan pembangunan tembok-tembok atau semacam benteng yang bertujuan untuk melindungi kawasan kota dari serangan musuh. Kota ini ketika itu bernama Jayakarta (sebelumnya bernama Sunda kelapa) dan dihancurkan oleh Belanda pada tahun 1619 untuk dibangun kawasan kota baru yang bergaya Belanda. Ketika itu seorang warga negara Belanda yang bernama Simon Stevin dipercaya untuk mendesain konsep tata kota yang ideal. Stevin membuat suatu tatanan kota yang monoton berbentuk segi empat yang dibatasi oleh tembok tinggi dan dilalui oleh sungai Ciliwung (yang kemudian bernama kali besar atau Grote river) yang menjadi muara dari kanal-kanal kecil di kota baru yang kemudian diberi nama Batavia. Tata kota inilah yang kemudian berkembang dan menjadi pusat kota yang sangat besar dan maju.

Peta Transformasi Jayakarta menjadi Batavia

Tahun 1808, Deandels memindahkan pusat kota ke daerah selatan karena kondisi dikawasan tersebut yang berbahaya terhadap wabah malaria. Disebabkan oleh kondisi keuangan kota, beberapa bangunan terpaksa dihancurkan pada abad ke 19 dan kemudian dibangunlah struktur-struktur yang baru di kawasan selatan tersebut yaitu : Palace of Governor-General Daendels (sekarang adalah departemen keuangan RI) dan Batavia Theater (sekarang Gedung Kesenian Jakarta).  Kemudian, kawasan kosong (akibat dihancurkan) di kawasan kota tua tersebut kemudian dibangun struktur yang baru pada abad ke-20. Bangunan pada abad 17-18 yang masih bertahan dan menjadi warisan budaya Jakarta masa kini adalah : Toko Merah, Gereja Sion dan Museum sejarah Jakarta. Gedung-gedung lain kemudian dibangun pada abad ke-18 yang didominasi jenis bangunan bergaya Belanda dan China.

Peta Batavia tahun 1840. Kawasan kota sudah mulai berkembang ke arah Selatan.

Periode kolonialisme (abad ke-18 hingga 1870). Pada masa ini, jenis bangunan yang berkembang adalah diadaptasi dengan tipe bangunan di kawasan beriklim tropis. Jenis arsitektural seperti ini kemudian dikenal dengan model Hindia yang memiliki tipe bangunan beratap tinggi dan ruangan yang menghadap langsung ke kebun atau udara terbuka. Model Hindia ini merupakan akulturasi antara style Indonesia, China dan Belanda. Kemudian jenis bangunan di kawasan tersebut berkembang menjadi neoclassicism kemudian berkembang menjadi Neogothic dan Dutch Rationalism.

Peta Batavia tahun 1897

Nah, perjalanan di kawasan kota tuapun kami mulai. Kami memasuki musem Bank Mandiri yang berisi barang-barang yang dianggap bersejarah dalam perkembangan bank khususnya bank mandiri di Indonesia. Museum ini berdiri tanggal 2 Oktober 1998. Museum yang menempati area seluas 10.039 m2 ini pada awalnya adalah gedung Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM) atau Factorji Batavia yang merupakan perusahaan dagang milik Belanda yang kemudian berkembang menjadi perusahaan di bidang perbankan. Karena diarsitekturi oleh arsitek Belanda, tentu saja tipe bangunan ini merupakan bangunan khas Eropa yang menjulang tinggi dan megah. Beberapa petunjuk bangunan menggunakan dua bahasa yaitu bahasa Indonesia dan Belanda. Kami memasuki lorong demi lorong bangunan megah itu dan melihat beberapa koleksi yang sebagian besar masih menggunakan bahasa Belanda diantaranya alat pembayaran (uang dan sejenisnya) masa lampau, beberapa alat transaksi perdagangan dan masih banyak lagi. Stained glass merupakan ciri utama Museum Bank Mandiri, terletak di bagian depan, di tengah-tengah tangga menuju lantai dua. Selain itu juga terdapat Logo Nederlandische Handel Maatschapij NV di tengah stained Glass di bagian depan Bank Mandiri.  Setelah berpuas mengelilingi museum ini, kami bergegas menuju bangunan di kota tua lainnya.

Stained glass

Kami berjalan melewati museum Bank Indonesia tetapi sayangnya, karena terlalu sore dan kami tidak punya banyak waktu lagi akhirnya kami tidak masuk ke Gedung yang merupakan peninggalan De Javasche Bankyang beraliran neo-klasikal, dipadu dengan pengaruh lokal, dan dibangun pertama kali pada tahun 1828 tersebut. Kami memasuki kawasan tengah kota tua dimana tidak ada kendaraan bermotor yang boleh melintasi area tersebut. Kawasan ini dibuat mirip dengan alun-alun kota di Belanda dimana ditengahnya merupakan suatu pelataran luas  kosong yang dikelilingi oleh bangunan-bangunan megah dan cafe-cafe di pinggirnya. pada sore hari, kawasan alun-alun tersebut berubah menjadi sangat ramai dengan penjual-penjual makanan dan pernak pernik serta beberapa permainan-permainan tradisional. Selain itu juga terdapat penyewaan sepeda kuno alias sepeda jadul jaman Belanda lengkap dengan topi ala noni-noni Belanda. Karena lokasi tersebut bernuansa sejarah, beberapa pasangan calon pengantin juga menggunakan spot-spot cantik yang menggambarkan kekunoannya sebagai lokasi pengambilan gambar foto pre-wedding.  Selain spot gedung tua, disana juga terdapat mobil kuno yang dikhususkan untuk berfoto-foto ria. Selain itu, beberapa bule (mungkin sejarahwan atau pecinta sejarah) juga banyak yang berfoto ataupun hanya sekedar jalan-jalan dikawasan tersebut. Kami menghabiskan sore dilokasi tersebut dengan nongkrong di warung ketoprak dan es campur sambil melihat beberapa pengamen Jakarta bersliweran. Lalu kami beranjak nongkrong di panggung sambil memandang kesibukan beberapa pedagang yang mulai menggelar dagangannya,  serta memandang gedung-gedung tua yang masih berdiri kokoh mengelilingi area tersebut. Saya melihat beberapa papan petunjuk arah ke pelabuhan sunda kelapa, & Jembatan kota Intan yang sebelumnya sudah kami kunjungi juga. Bangunan-bangunan peninggalan sejarah yang masih tersisa dikawasan tersebut adalah :

  • Luar Batang Mosque
  • The Port of Sunda Kelapa
  • Pasar Ikan (Fish Market)
  • Museum Maritim
  • Menara Syahbandar (Port Tower)
  • Kota Intan Drawbridge
  • Kali Besar (Grootegracht)
  • Gereja Sion
  • Museum Wayang
  • Fatahilah SquareMuseum Keramik
  • Museum sejarah Jakarta
  • Cafe Batavia
  • Toko Merah (Red Store)
  • Chartered Bank
  • Bank Indonesia Museum
  • Bank Mandiri Museum
  • Stasium Jakarta kota (Beos Station)
  • Glodok and Pinangsia Area (Jakarta Chinatown)
  • Petak Sembilan
  • Jin De Yuan Temple (Vihara Dharma Bhakti)
  • Chandranaya Building

Setelah hari mulai beranjak gelap dan kawasan kota tua menjadi sangat ramai pedagang dan pembeli, kamipun beranjak keluar kota tua menyusuri gang demi gang yang menyuguhkan indahnya kekunoan suatu kawasan yang masih berusaha untuk dilestarikan tersebut. Bus way yang kami tunggu sudah menanti dan mengantarkan kami ke tujuan kami masing-masing. Dan akhirnya, wisata kilat kota tua kami berakhir sampai disini.

Thanks to my best tour guide ever : Mala…🙂

About tantri

I am nobody who really want to be somebody. Extremely introvert cheerful and easy going girl.. :) Thanks for visiting this blog... ^^

Posted on January 11, 2012, in experince, pengetahuan. Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. Wewww pake lompat-lompat segala ya mbak? asyiiiik. Kalo di sby kota tua-nya di kawasan Jemabatn Merah dan sekitarnya. Ga cobain ngonthel alias gowes pake sepeda tua mbak?
    Btw stained glass-nya baguuuuuuuus banget. ah..kapan2 main ke sono ah sambil makan kerak telor yang asli betawi..semoga

    • itu mah pose berlebay2 ria mbak..😀 yaah, dapet sepeda tua dari mane neng?! udah pernah sih jelajah kota tua naik sepeda,tp pake mtb..hahah.. agak ndak nyambung temanya yah.. :p iyakk, bener deh nongkrong di kota tua jkt berasa kurang tanpa makan kerak telor…😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: