Alam pedesaan : Tukad Uwos


Setelah berlelah lelah dengan beberapa kegiatan sosial kemasyarakatan (ceileeee..) di Bali akhirnya saya menyempatkan diri untuk hengkang sejenak dari aktivitas tersebut dan melalukan small trip. Kali ini, saya tidak memilih untuk mengunjungi wisata yang biasa dikunjungi oleh kalayak ramai di Bali tapi saya hanya mengunjungi aliran sungai di sisi tebing di belakang rumah saya. Kenapa saya mengunjungi tempat itu? yaa karena saya suka… hehe.. alasan yang logis tapi terlalu sepele dan tidak terlalu edukatif memang. Sehingga kemudian akan muncul lagi pertanyaan lain. Kenapa saya suka tempat itu?? nah, pertanyaan inilah yang jawabannya bisa menjadi informatif dan cukup edukatif serta cukup menarik jika diulas dalam sebuah cerita yang mengusung tema indahnya alam pedesaan di salah satu wilayah Indonesia tercinta ini… nah, tujuan small trip saya kali ini dikenal oleh warga setempat dengan nama TUKAD UWOS yang  namanya itu murni diambil dari bahasa Bali. Saya tidak yakin dengan penulisan nama tersebut, sehingga saya menulisnya berdasarkan ucapan warga sekitar saja. Tukad artinya Sungai dan Uwos adalah nama sungai tersebut. Sehingga kalau ditranslitkan, Tukad uwos artinya Sungai Uwos…🙂. Kali ini small trip-mate saya adalah : Tantra (ahaaiiiy ini bapak sayaa..heheh..) dan Tinon sepupu saya.

Perjalanan menuju sungai ini membutuhkan tidak sampai 1000 langkah dari rumah saya. boro-boro 1000 langkah, 150 langkahpun sepertinya terlalu banyak karena lokasi  ini berada di belakang rumah. Saya menyusuri jalan aspal sekitar beberapa langkah menuju gang kecil sebelah Pura Dalem yang menghubungkan dengan tebing-tebing tersebut. Jalanan setapak tanah berbatu dengan beberapa anak tangga tepat berada di depan saya yang artinya saya sudah memasuki kawasan semak-semak dibalik tebing tersebut. Ilalang-ilalang tinggi serta pohon-pohon hijau nan asri menjulang dengan alaminya sehingga membangkitkan suasana yang sangat eksotis menurut saya. Alam hijau yang indah diiringi dengan kicauan burung dan suara beberapa serangga kecil ditambah lagi dengan suara aliran sungai menambah indah suasana. Beberapa anak tangga yang terlihat cukup tua namun kuat saya pijaki satu persatu dengan sangat hati-hati. Kelembapan dan kesejukan sekitar membuat tangga-tangga batu tersebut sedikit lapuk karena lumut dan tanaman tundra lainnya yang tumbuh memenuhi tangga demi tangga tersebut. Agak licin, untuk itu saya harus berhati-hati. Setelah dalam hati meminta ijin untuk mengambil foto, akhirnya sayapun berjalan menikmati alam sembari mengabadikan keindahannya dengan kamera saya. Awalnya saya agak sedikit takut untuk menyusuri lokasi tersebut karena tidak dapat dipungkiri bahwa Bali sarad dengan hal-hal yang berbau mistis yang memang tidak logis tetapi banyak bukti yang menguatkan keberadaan mistis tersebut, tetapi setelah menginjakan kaki disana ketakutan saya sirna sudah. Menurut kepercayaan warga setempat, dikawasan tersebut memang banyak terdapat “penunggu-pengunggu” dari alam lain yang apabila diusik oleh manusia tentunya dia akan balas mengusik.  Bahkan ada yang mengatakan pernah melihat monyet putih bergelayut diantara pepohonan-pepohonan tinggi disana. Entah apakah itu monyet nyata atau semacam penampakan-penampakan alam lain. Untuk itulah, setiap langkah saya disana pasti saya selingi dengan meminta ijin dan berjanji tidak akan mengganggu ataupun berbuat jahat terhadap mereka. Sehingga saya dapat melenggang santai menyusuri tangga dan jalan setapak itu yang entah didesain dan dibangun kapan dan oleh siapa pada masa lampau.

Setelah melintasi jalanan setapak dan anak tangga, tibalah saya di Tukad Uwos. Untungnya air tidak mengalir dengan deras hari itu,yang tandanya di hulu sungai tersebut tidak terjadi hujan deras. Tetapi, akibat hujan deras kemarin, sungai yang biasanya berair sangat bening tersebut ketika itu terlihat sedikit coklat. Tetapi tidak masalah, sungai itu tetap bersih dan layak untuk berendam atau sekedar main air seperti yang saya lakukan kala itu. Beberapa warga setempat saya lihat sedang mancing diatas batu besar di tengah sungai. Sungai ini memang memiliki banyak sekali ikan-ikan kecil dan sekawanan udang yang biasanya bersembunyi di balik batuan besar disisi sungai. Ikan-ikan kecil yang mendiami sungai ini biasanya juga bermanfaat untuk menerapi kaki. Tau khan terapi ikan? Nah, di sungai ini kita bisa melakukannya dan tentunya gratis tanpa biaya sepeserpun tidak seperti terapi-terapi ikan yang biasanya ditawarkan di hotel-hotel atau mall. Saya tidak mau melewatkan untuk mencobanya apalagi yang gratisan begini. Saya berdiri di bagian sungai agak ketengah, tidak sampai hitungan menit beberapa ikan sudah menggigit-gigit kaki saya dan beberapa detik kemudian ikan yang lain juga mengikuti. Gigitan ikan kecil tersebut lembut sehingga bagi saya yang tidak biasa, akan terasa sangat geli hingga saya sampai tertawa ngakak.. :p . Saya sempat beberapa saat menikmati gigitan ikan-ikan kecil tersebut hingga akhirnya saya memilih untuk duduk di batu besar tepi sungai sampai mengambil gambar keindahan ditempat itu.Saya melihat di sisi kanan dari tempat saya duduk, sekawanan burung sedang bertengger di dahan pohon hijau sambil asik bernyanyi. Sedangkan disisi kiri, saya melihat sekawanan anak-anak mungkin seusia SMP sedang berenang sambil bermain air. Beberapa diantaranya sedang memancing di sisi lainnya sambil berpijak diatas batuan besar sungai tersebut. Suara alam yang indah tersebut akhirnya menghapuskan ketakutan saya tentang mistis yang berkembang di tempat itu dan malah berubah menjadi ketakjuban atas ciptaan Tuhan. Saya yakin, mistis yang berkembang tersebut memang benar adanya tetapi bertujuan untuk menjaga keindahan dan keseimbangan alam tersebut dari perusakan liar yang biasanya dilakukan oleh tangan jahil manusia. Untuk itulah para “penunggu” itu ada dan tercipta dari tangan Tuhan untuk menunggu dan melindungi kawasan yang tidak bisa dijaga dan dilindungi oleh Manusia. Tuhan memang maha adil, menempatkan makluk-makluk ciptaannya yang berbeda-beda itu di tempat-tempat yang memang berkompeten untuk mereka…

Semakin sore, beberapa pria saya lihat menuruni anak tangga sambil membawa ember maupun dirigen air ukuran besar. Beberapa diantaranya memang sering berendam dan mandi ditempat itu dan beberapa lagi mengambil air di pancoran mata air disisi sungai. Satu jam sudah saya menikmati alam pedesaan yang indah di kawasan tersebut. Karena semakin sore sungai akan dikuasai oleh beberapa pria yang hendak mandi dan berendam, akhirnya sayapun undur diri. Walau belum puas memandangi indahnya suasana pedesaan yang dialiri sungai yang cantik itu,namun 1 jam yang terasa singkat tersebut sudah cukup bagi saya untuk menorehkan sebuah kenangan dan membaginya untuk meningkatkan kecintaan terhadap alam pedesaan Indonesia yang sangat cantik dan molek itu. Suatu saat ketika saya berkesempatan pulang kampung lagi, saya pasti akan kembali ke tempat itu….

Sekian (Tan)

About tantri

I am nobody who really want to be somebody. Extremely introvert cheerful and easy going girl.. :) Thanks for visiting this blog... ^^

Posted on January 25, 2012, in experince. Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. Boleh tau letak persisnya tukad wos ini dimana..?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: