Berbicara tentang Indonesia yang katanya carut-marut


Lapangan gundul tanpa rumput. Sungai kering tanpa air. Ditinggalkan oleh hewan dan burung-burung yang biasanya datang mencari makan dan minum

persis seperti seorang pria yang tidak bekerja dan malas mencari rezeki. Sudah pasti ditinggal pergi istri

Sebagaimana rakyat yang meninggalkan para pemimpin kejam tak berkesadaran dan mencari rezeki di negeri orang dimana mereka dapat hidup aman

(Niti Sastra_ AK)

Berbicara tentang Indonesia, mungkin seperti itulah gambaran Indonesia kini, yang seolah telah ditinggalkan oleh rakyatnya untuk sekedar mencari nafkah keluar negeri karena kehidupan yang tampak tidak layak di negeri sendiri. Setelah telinga dan hati ini rasanya semakin panas mendengar,melihat dan membaca tentang ulah para pemimpin yang semakin menghawatirkan, juga ulah para provokator yang memprofokatori beragam aksi brutal anarkisme, sehingga kini muncullah suatu kesimpulan yang agak kejam tapi terarah kepada kenyataan bahwa Indonesia sekarang telah carut-marut. Indonesia telah menjadi negara kaya raya yang miskin. Indonesia yang memiliki jumlah kekayaan hayati yang melimpah ruah, menjadi negara terpuruk dibidang ekonomi. Indonesia yang memiliki hutan yang sangat luas menjadi negara pengeksport asap akibat pembakaran hutan. Indonesia yang ber-SDM yang besar menjadi negara pengeksport tenaga kerja tak-terdidik yang besar ke negara lain yang berujung pada penyiksaan dan kematian yang tak bertanggung jawab. Indonesia yang sebegitu jayanya dulu, kini hanya menjadi seperti anak muda ringkih yang bingung bertopang pada siapa karena orangtuanya (pemimpinnya) sedang sibuk sendiri mengurus kantong pribadi. Benar begitukah Indonesia?

Tapi… heii tunggu dulu… Mungkin selama ini kita hanya melihat dari sudut pandang negatif saja. Walau memang yang banyak terangkat ke media adalah sisi negatifnya, tapi sisi positif pastilah ada..  hmm mungkin ada. Baiklah. Mari kita flashback ke ratusan tahun lalu, ketika Indonesia masih berjaya. Ketika Indonesia masih dibawah kekuasaan manusia jaman kuno, jaman kerajaan yang penduduknya masih tidak berpakaian lengkap. tetapi sepertinya hati mereka masih lengkap sehingga mampu memajukan kehidupan. Ketika Indonesia masih didominasi kerajaan dengan kejayaan-kejayaannya masing-masing yang tersohor dipelosok negeri. Ketika seorang patih dibawah pimpinan sebuah kerajaan Nusantara-Indonesia- mampu menyatukan wilayah yang sangat luas dengan kejayaan maritimnya yang tidak main-main.tentunya kejayaan tersebut disebabkan oleh sistem manajemen kepimpinannya dan manajemen ekonomi yang baik. Ketika Indonesia mampu membangun candi-candi dengan angka tahun yang sangat tua, dimana ketika itu ilmu pengetahuan keteknikan masih belum berkembang. dan ketika-ketika masih banyak kebanggaan masa lampau yang lain.. Setelah mem-flashback sekelumit kisah masa lampau yang terekam dalam ilmu sejarah dan antropologi, kita memperoleh sedikit gambaran bahwa Indonesia, negara yang katanya kini carut marut itu, dulu pernah berjaya. Dulu pernah stabil dan dulu pernah membanggakan. Bahkan beberapa peneliti mengganggap bahwa Indonesia adalah Atlantis yang hilang. Negeri kaya raya, makmur dan berpenduduk sangat pandai yang terbentang di garis Khatulistiwa bumi yang kisah ini diceritakan oleh filsuf Plato beratus-ratus tahun silam.

Jangan anggap bahwa sisa kejayaan Indonesia hanyalah omong-kosong belaka. Kita punya bukti yang dapat dinikmati hingga kini. Coba berjalanlah ke Jawa Timur, kita bisa melihat sisa kejayaan Majapahit dengan bangunan candi yang berangka tahun 1200-an. Bukan hanya disatu tempat, tetapi banyak sekali lokasi yang menujukkan bukti kejayannya itu. Cobalah berjalan menuju jawa tengah, beberapa candi yang berangka tahun lebih tua juga berdiri disana. Beberapa diantaranya adalah candi Borobudur dan Prambanan yang berangka tahun 800-an Masehi. Coba bayangkan, sebuah bangunan nan megah yang masih berdiri kokoh sampai sekarang tersebut didirikan pada abad dimana semen sebagai bahan perekat utama suatu bangunan belum ditemukan. Semen baru ditemukan pada abad 18 oleh John Smeaton – insinyur asal Inggris yang kemudian dikembangkan oleh beberapa ahli lainnya dari berbagai negara. Sebelumnya alat perekat bangunan hanya menggunakan putih telur, ketan dll yang mungkin digunakan oleh nenek moyang kita dulu selain pola pemasangan batu yang zigzag untuk bangunan pondasi candi supaya melekat satu sama lain. oh iya, sebagai perbandingan, menara Pisa baru berdiri pada tahun 1173, menara Eiffel baru berdiri pada tahun 1933, Golden Gate tahun 1933 dan Wat Phra Kaew sebuah kuil tua Budha di Thailand baru berdiri pada kisaran tahun 1782-1809. (Lebih tua mana bangunannya? Hebatan mana hayoo?) Hmmm.. marilah kita melangkah ke jaman yang lebih tua lagi di tempat lain. Kita berjalan ke Kalimantan. Disana ada kerajaan kutai yang jaya pada abad ke-4 dengan rentetan kepemimpinan yang boleh dikatakan tidaklah singkat dan tidak main-main. Kerajaannya jaya dan berkembang lama yang tentunya disebabkan oleh kepemimpinan yang baik dan tidak semaugue seperti yang terjadi pada “kerajaan” Indonesia jaman modern saat ini… iya khan?!!

Okee.. Kemudian, akan (semoga tidak) muncullah opini yang sedikit menggulingkan tulisan saya diatas..

“lhooo..itukan jaman dulu.. dulu ya dulu,, sekarang ya sekarang.. jaman dulu khan pake ratusan jin untuk mbangun 1000 candi..sekarang khan ndak ada jin yg mbantuin”

saya jawab … “siapa bilang sekarang ndak ada Jin.. banyak tuh “Jin-jin” yg bisa membangun wisma atlet, Ambalat dan gedung DPR yang sudah diseret ke KPK..jin pencuri uang rakyat ” heeheee… tawa saya dengan sarkast

(hussh..agak sedikit menyimpang dari topik ya..)

ya, baiklah baiklah.. kita kembali ke garis merah tulisan. Memang sih, cerita kejayaan Indonesia masa lampau tersebut hanya sebatas masa lampau. Bisa dibilang, nasi sudah menjadi bubur. Kejayaan tersebut sudah lama berlalu. Sudah musnah, termakan perang perebutan kekuasaan, termakan harta tahta dan wanita (HTW). Karena tidak bisa dipungkiri bahwa HTW tersebut adalah sesuatu yang bahenol,sexy dan menggairahkan yang dapat melumpuhkan suatu kepemimpinan. Bila kepemimpinan sudah lumpuh dikuasai oleh ketiganya itu maka hancurlah negara ini. jadi HTW itu harus dimusnahkan.. Harta, Tahta,Wanita harus dimusnahkan!!! (lhoooo.. saya khan wanita, masak saya harus dimusnahkan juga #kabuuurrr…)Hmmm.. maksud saya disini, dimusnahkan dari pemikiran-pemikiran negatif.. dimusnahkan dari keegoisan untuk menguasai HTW. Baiklah. Supaya tidak berpikir negatif dalam menyikapi kondisi Indonesia belakangan ini, marilah kita membuka hal-hal lain yang bersudut pandang positif yang dimiliki oleh negara kita ini. Mari kita berkeliling Indonesia masa sekarang sambil melihat kondisi rakyat sebenarnya dan menikmati indahnya Indonesia. Untuk melihat seberapa kaya Indonesia dan seberapa banyak hal-hal positif yang belum kita ketahui sebelumnya. Karena ongkos yang sangat minim.. mari kita berkeliling dan mengenal Indonesia dari buku dan beberapa literatur.. dengan lebih mengenal pesonanya, tentunya perasaan cinta dan bangga dengan negeri yang  katanya carut-marut ini menjadi tidak terbendung.

Kita memulai perjalanan keliling Indonesia.

Perjalanan pertama adalah menuju Sumatera. Diujung selatan Sumatera kita bisa mampir ke teluk Kiluan untuk melihat pawai lumba-lumba dan tempat penangkaran penyu yang pemandangannya tentulah eksotis. Lalu kita melaju ke Pulau Enggano, salah satu pulau terluar Indonesia, yang memiliki beragam suku dengan adat istiadat setempat yang masih kental. Suku Kaitaro, Kauno, Kaharuba, Kaahua dan Kaarubi adalah beberapa nama suku yang mendiami wilayah ini dari ratusan suku yang tersebar diseluruh Indonesia. Melompatlah kita ke Bengkulu yang memiliki Benteng Marlborough yang berusia 300 tahun dan disana juga merupakan tempat pengasingan Presiden pertama Indonesia : Soekarno. Perjalanan berikutnya adalah, kepulauan Mentawai. Pulau ini dijuluki sebagai The Galapagos of Indonesia yang keindahannya sudah diakui oleh dunia. Kabarnya pulau ini memiliki ombak terbaik didunia yangmana biasanya dijadikan jujugan latihan oleh peselancar kenamaan dunia. Selain itu, kepulauan ini juga memiliki jenis satwa endemik dan ditetapkan oleh UNESCO sebagai taman biosfer. Lalu, kita melewati kota Padang yang terkenal dengan kekhasan masakannya. Disana bisa kita jumpai jam Gadang yang merupakan hadiah dari Belanda dan terdapat pula Istana Hatta. dari sana kita bisa berjalan menuju tenpat kelahiran Tan Malaka yaitu di Kota Tinggi,Payakambuh. Kemudian menuju Nias yang terkenal dengan kebudayaan loncat batu tingginya tepatnya di Pulau Soroke, Nias Selatan. Dari Soroke, kita menuju ke desa Hilinawalo Mazingo yang kekhasan daerahnya adalah berupa rumah panjang. Rumah yang dikenal dengan nama Omahoda yang berukuran 9×24 m ini merupakan peninggalan budaya setempat sejak 300 tahun lalu. Kini sudah generasi ke-7 yang menempati rumah tersebut. Yang membanggakan adalah, rumah tersebut ditetapkan sebagai World Endangeres Herritage dan ditetapkan sebagai World Monument Fund oleh lembaga Internasional di New-York. Kemudian kita menuju Kota Barus yang terdapat banyak artefak dan Prasasti sisa sejarah. Lalu menuju Banda aceh dimana kota Teunom dikenal sebagai basis GAM pada tahun 1975-2004. Kemudian kita melompat ke Sabang dimana disana terdapat tugu kilometer 0 sebagai tanda batas paling utara dan terdepan dari Kesatuan republik Indonesia kini. Penjelajahan di Sumatera yang memiliki hamparan hutan sawit selesai sampai disini.

Bagaimana? masih belum bangga dengan predikat Internasional Sumatera, Indonesia? kalau belum.. Mari kita menjelajah Kalimantan.

Pintu masuk dari Sumatera menuju Kalimantan adalah Selat Malaka yang terkenal dengan keganasan patroli lautnya (saya tidak mau menjelaskan lebih detail keganasan apakah yang saya maksud) menuju Batam. Pulau penyengat, tanjung Pinang merupakan tempat kelahiran seniman tersohor yang dikenal dengan bapak Gurindam 12. next.. Kita melewati Pulau Midai yang merupakan salah satu pulau terluar Indonesia berbatasan dengan Vietnam. Disana terdapat Koperasi pertama Nusantara. Lalu melewati Pulau Natuna, pulau paling utara dari kepulauan Riau yang berbatasan dengan Malaysia (hatii hatii ini..hatii hatiii direbut..). Natuna memiliki 1 jenis sampan khas daerah tersebut yaitu Kole. Pulau ini juga merupakan penghasil gas terbesar dunia. Disana terdapat pula sebuah Masjid megah yang semegah Taj-Mahal (katanya sih). Ironisnya, kondisi disana katanya seperti tak tersentuh oleh pemerintah pusat yang berbasis di Jakarta. Haduuuuuhhh..lagi-lagi pemerintah punya ulah… #stop menyalahkan orang lain…

Hupppp… sampailah kita di pulau paru-paru dunia yaitu Kalimantan tepatnya di Sintete-Singkawang-Pontianak, Kalimantan barat. Kawasan ini memiliki sungai terpanjang yaitu 1143 km. Disana kita bisa menemui pasar terapung,rumah terapung,warung terapung, semuanya terapung (asal jangan tenggelam aja deh…:) ) yang tidak bisa kita temui di tempat manapun. Venesia maupun Brugge yang banyak terdapat kanalnyapun tidak bisa kita temui pasar unik seperti ini. Tapi, yang sangat disayangkan adalah, kondisi Sungai Kapuas yang menghawatirkan. Kotor sampah dan kalau surut bisa jadi lapangan bola. Haduuuhh.. agak luntur deh kebanggaan tentang indahnya Indonesia. lagi-lagi salah pemerintah.. (lhooo???) #jangan saling menyalahkan. Oke.. Kita menuju ke Pontianak lalu mengunjungi suku Dayak di Sintang dan melihat jenis rumah Panjang, rumah adat suku dayak yang ditinggali oleh 27 kepala keluarga suku Dayak. Dirumah ini kita bisa mengikuti tradisi pembacaan Hikayat yang dilakukan oleh tetua suku. Budaya ini terus dilakukan secara turun temurun hingga kini.

Oh ya, kita perlu tahu bahwa Luas hutan tropis di Indonesia adalah yang ke-3 didunia setelah Brazil dan Republik Domokrasi Kongo. Bangga doonk tentunya. Selain itu Indonesia juga punya 11% tumbuhan dunia, 10% mamalia, 16% burung dan 429 spesies burung endemik lokal. Tetapi sayangnya (lagi-lagi muncullah hal negatif..tapi sedikit kok..), hutan yang katanya terluas nomer 3 didunia tersebut semakin menipis akibat hutan gambut yang terbakar. Menurut Forest Watch Indonesia (FWI) dan Global Forest Watch (GFW) Washington DC tahun 2001, kerusakan lingkungan paling serius terjadi saat orde baru. Nahlooo..lagi-lagi ada unsur ulah pemerintah toooohh… #jangan saling menyalahkan.  Kemudian.. Kita menuju Pulau Karimata, Ketapang yang terkenal sebagai Pulau Cumi-cumi dan nyanyian burung Murai. Lalu, kita menuju Martapura yang dikenal sebagai lokasi pendulangan Intan. Kemudian melewati Balikpapan, Samarinda dan Sangatta yang dikenal sebagai tempat budidaya rumput laut. Perlu kita ketahui lagi bahwa  seorang petualang bernama Alfred Russel Wallace pernah membukukan suasana Borneo lengkap dengan seluk beluk kondisi alam dan masyarakat setempatnya. Wallace sebelumnya juga pernah menjelajah hutan Amazon. Wahh.. Hebat yah,hutan Kalimantan memiliki daya tarik tersendiri bagi peneliti luar negeri.

Mari kita melanjutkan perjalanan ke kepulauan Derawan di Tanjung Redeb,Berau. Dikepulauan ini terdapat tempat penangkaran penyu dan cumi-cumi disalah satu pulaunya yaitu pulau Kakaban. Di tempat ini terdapat 4 jenis ubur-ubur endemik sehingga disini banyak dilakukan penelitian tentang biota laut. Peneliti Luar negeri dalam bukunya yang berjudul The Ecology of The Indonesia seas, mengatakan bahwa pulau ini merupakan pulau langka dibumi karena evolusi yang terjadi dipulau ini melibatkan proses fisika,kimia, biologi yang rumit dan panjang yang tidak ada dilokasi manapun. Seorang peneliti dari Institut Antropologi Biologi dan departemen hewan universitas Oxfort, Inggris yaitu Jonathan Kindon menyatakan bahwa biota di Kakaban telah mewakili bentuk kehidupan purba yang ekstrim. Karena keunikan kawasan ini, UNESCO menganugerahkan pulau ini sebagai salah satu warisan dunia. Hebat khan?! Cukup puas khan di Kalimantan. Masih belum bangga terhadap Indonesia??? hmm.. baiklah. Kita loncat ke Sulawesi.

Dari Tarakan (Kaltim) dengan menggunakan perahu kita bisa loncat ke Sulawesi tepatnya di Pare-pare lalu menuju Makasar dan lagi-lagi perjalanan ditempuh lewat air kemudian menuju Bulukumbang tempat bermukimnya seniman pembuat pinisi yaitu sejenis perahu suku Bugis yang tidak ada di negeri manapun. Suku bugis adalah suku yang hebat dalam ilmu pelayaran. Seorang antropolog dari Universitas Ohio yaitu Gene Amarell pernah melakukan penelitian tentang navigasi suku Bugis di pulau Balobaoang, Sulawesi Selatan. Hasil penelitian tersebut kemudian dibukukan dengan judul : Bugis Navigation. Oke.. Kita lanjut menuju Selayar dan Takabonerate yang merupakan kawasan kepulauan diujung bagian selatan Sulawesi yang memiliki kehidupan biota laut terbesar didunia. Selain itu,kawasan ini merupakan titik segitiga terumbu karang Indonesia yang garisnya membentang hingga Papua dan kepulauan Alor Flores. Dikawasan ini memiliki beragam keanekaragaman hayati dan 18% terumbu karang dunis terdapat dikawasan ini. Disini juga terdapat 2500 jenis ikan, 590 jenis karang batu, 2500 jenis Molusca dan 1500 jenis udang. wooww.. kaya sekali yah Indonesia.. Salut deh..

Baiklah. Kita lanjut perjalanan kita menuju Bau-bau di Pulau buton, Sulawesi tenggara. Pulau ini memang terkenal dengan aspalnya, tetapi bukan aspal yang membuat para peneliti luar negeri datang ke tempat ini. Buton memiliki daya tarik berupa terumbu karang dan hutan yang menjadi jujugan pelajar yang tergabung dalam peneliti muda Australia dan Inggris yang biasanya khusus datang kesana untuk meneliti alamnya. Bahkan pada tahun 1850, lagi-lagi Alfred Russel Wallace mampir ke pulau ini untuk melakukan sejumlah Riset dan mencatatnya kedalam sebuah buku yang diterbitkan dengan judul The Malays Archipelago. Kemudian kita berlanjut menuju Wakatobi yang terkenal itu.Nama Wakatobi sebenarnya diambil dari singkatan beberapa nama pulau yang ada disana yaitu : WAnci, KAledupa, TOmia, BInongko dan sebenarnya ada tambahan satu pulau lagi yaitu Runduma. Sehingga sebenarnya nama tempat tersebut adalah wakatobiru. Tetapi karena sudah tenar dengan nama wakatobi, jadi nama itulah yang sering disebut sebut. Wakatobi (ru) memiliki terumbu karang terpanjang dunia setelah Australia. Pulau ini juga merupakan kawasan perairan penghasil ikan tuna dalam jumlah besar. Karena itulah Indonesia mendapat predikat sebagai pengexpore tuna segar dunia yang dikirim ke Amerika, Kanada, Eropa dan Jepang. Karang yang dimiliki kepulauan ini dulunya merupakan yang terbaik di dunia namun sayangnya telah hancur karena pengeboman liar. Peneliti luar negeri mendirikan sebuah organisasi The Nature Conservation (WWF) di kepulauan ini. Banyak peneliti dari Inggris dan Amerika membangun salah satu pulau di kepualauan ini dan menjadikannya sebagai pusat penelitian kelautan internasional (www.opwall.com) dan kurang lebih telah terdapat 50 penelitian yang menghasilkan beberapa Jurnal Internasional. Dari kawasan kepulauan tersebut kita bisa mengunjungi pulau Tomia yang terkenal dengan jenis ikan Barakuda yang ganasnya seperti piranha, pulau Binongko yang dikenal sebagai pulau tukang besi. Kita bisa mengunjungi juga Kepulauan Banggai yang dulu dijuluki sebagai “The Mother of all Living corals Reefs”. Julukan ini disematkan oleh Wallace 1.5 abad yang lalu. Namun sayangnya kondisi sebaliknya terjadi dikawasan ini pada masa sekarang.

Perjalanan kita lanjutkan ke Pulau Bangkarung yang memiliki budaya khasnya yaitu tetabuhan musik Batong yang terdiri dari Gong dan gendang. Selain itu, disana bisa kita jumpai rumah adat kosali dan upacara adat suku Bajo, suku yang mendiami wilayah tersebut, yaitu “pelabut Mianlubat” sebagai upacara penyambutan tamu. Suku Bajo ajalah suku pengelana laut. Kehebatannya bahkan sudah tersebar hingga seantero dunia berkat film dokumenter: “seagypsis” yang mengupas tentang seluk beluk suku tersebut. Bahkan UNESCO menyebut suku Bajo sebagai “Seanomedic” atau manusia perahu. Istilah lain yang disematkan kepada suku Bajo adalah “Orang laut” yang diberikan oleh peneliti dan ahli sejarah maritim Andrian B.Lapian. Seorang antropolog Prancis : Francois Robert Zacot juga sangat tertarik untuk meneliti kehidupan suku Bajo ini. Suku Bajo banyak mendiami beberapa lokasi yaitu perairan selat makasar, pantai timur Kalimantan, teluk Bone, pulau Alor NTT, Kepulauan Banggai, pulau Togean dan kepulauan Bacan Halmahera. Jenis perahu suku Bajo pernah diteliti oleh Carl N.Taylor dan dibedah oleh Adrian B. Lapian dalam bukunya yang berjudul ” Orang laut, bajak laut ” sejarah kawasan laut Sulawesi abad XIX “. Baiklah. Kemudian kita menuju ke Pulau Miangas. Pulau ini berbatasan langsung dengan Filipina. Kemudian menuju Ternate, Maluku yang terkenal sebagai negeri rempah-rempah yang menyebabkan negara ini menjadi jujugan utama penjajah pencari rempah-rempah. Nah.. puas berjalan-jalan di Sulawesi kemudian kita loncat ke Papua untuk menyelesaikan penjelajahan kita dari Sabang-Marauke.🙂

Papua yang merupakan pulau terbesar ke-2 setelah Greenland ini baru ditemukan pada tahun 1526 oleh pelaut dari Portugis : Jorge de Meneses. Kemudian pada 1528 Alvaro de Saavedro dari Spanyol menyusul merapat di pulau ini. Baru kemudian, abad XVIII banyak perahu besar yang merapat dipulau ini untuk melakukan penelitian-penelitian. Banyak sekali terdapat peneliti dari Belanda, Jerman, Inggris pada kisaran tahun 1800 an – 1900 an. Pada tahun 1930 an peneliti dari American museum of Natural History melakukan ekspedisinya di pulau ini. Penelitian tersebut dilakukan hingga Pegunungan jaya wijaya untuk memperoleh informasi tentang kehidupan burung-burung di Papua. Wilayah yang sangat terkenal dengan keindahannya adalah kepulauan Raja Ampat. Kepulauan ini memilki 600 pulau. 4 pulau terbesarnya adalah Waigeo, Batanta, Sulawati dan Missol. Diwilayah ini terdapat sekitar 1320 spesies ikan yang mendiami terumbu karang dan 70% jenis karang keras dunia. Beberapa sumber buku yang menggambarkan keeksotikan Raja Ampat dan Papua lengkap dengan kekayaan alam yang terkandung didalamnya bisa dilihat dari : Burung-burung dikawasan Papua (LIPI) , Birdlife International dan The Raja Ampat : Through the Lens. Bangga donk dengan Indonesia yang keindahannya diakui oleh peneliti luar negeri. itu tandanya bahwa Indonesia adalah sumber ilmu bagi peneliti. Sayangnya kita yang tidak sadar akan itu semua. Mungkin karena data buruk tentang Indonesia lebih banyak tersebar dan mengena di hati kita sehingga melunturkan nasionalisme itu. (Beberapa catatan buruk Indonesia yang berhasil saya peroleh yaitu sebagai negara terkorup ke-69 dari 160 negara menurut “corruption perception index” tahun 2009. Bahkan  “Political and Econimic Risk Consultasy (PERC) Hongkong dan Transferancy International Jerman menunjukan data bahwa Indonesia merupakan negara terkorup dari 16 negara Asia Pasifik. Laporan Global Witness mencatat juga tentang uang keamanan: pertambangan Freeport dan aparat keamanan Indonesia serta seluk beluk keuangan yang mengalir ke kantong aparat militer dan Soeharto (www.globalwitness.org ))

Setelah melihat sedikit tentang catatan buruk Indonesia diantara banyak data prestasi Indonesia yang tidak pernah kita ketahui sebelumnya, saya harap Nasionalisme tidak serta merta luntur. Baiklah. Kita melanjutkan perjalanan.

Akhirkan kita sampai di Marauke yang merupakan batas ujung Timur Indonesia. disana kita bisa mengunjungi Taman nasional Wasur untuk melihat jenis kangguru kecil yang berkeliaran. Terdapat pula rumah semut. Rumah yang tentunya dihuni oleh ribuan bahkan lebih semut yang kuatnya rumah tersebut adalah sekuat beton. Rumah tersebut dikenal dengan nama Masamus yang memiliki ketinggian 2-3 meter. Perjalanan di Papua cukup sampai disini dan kita mengarah ke Nusa tenggara.

Di Nusa Tenggara kita bisa mengunjungi Ende Flores yang kaya akan sisa sejarah terbentuknya bangsa Indonesia. Disana kita bisa menjumpai pohon sukun tempat Soekarno memikirkan konsep dasar Indonesia yaitu Pancasila. Disini pula terbentuklah suatu rangkuman surat-surat Soekarno dari Ende yang terangkum dalam buku “dibawah Bendera Revolusi”. Flores terkenal dengan toleransi umat beragama yang sangat baik. Namun, disana dulu terdapat banyak peristiwa kelam yaitu pembantaian warga yang dianggap sebagai PKI. Diperkirakan 12 ribu orang tanpa pengadilan dibuang ke kamp Pulau Buru dan diperkirakan 2 juta lebih mati. Disana juga merupakan tempat pengasingan Pramudya Ananta Toer seorang penulis kritis. Karena banyaknya peristiwa sejarah yang menguras nurani kemanusiaan, beberapa penelitian dilakukan oleh peneliti Luar negeri. Tentang pembantaian yang pernah terjadi dan tentang hubungan kemasyarakat disana. Robert Cribb pernah memuat tulisan yang berjudul “The Indonesian Killings : Pembantaian PKI di Jawa dan Bali”. Kemudian Benedict Richard O’ Gorman Anderson seorang Profesor Emiritus dalama bidang study International di Cornel University, USA pernah meneliti dan menganalisa persitiwa tersebut. Hasil analisanya kemudian di publikasikan melalui Radio Netherlands. Selain itu R.A.F Webb dan Steven Farrom dalam bukunya di-PKI-kan : Tragedi 1965 dan kaun Nasrani di Indonesia Timur juga pernah membahas tentang polemik yang terjadi di Flores. (Kesemua tulisan saya di paragraf ini memang tidak menunjukkan keindahan Indonesia untuk membangkitkan Nasionalisme. Namun, hanya sebuah sejarah yang harus kita ketahui dan resapi untuk diambil hikmahnya)

Setelah usai di Flores, kita menuju ke Jawa. Pulau ini kini sudah jauh berubah jika dibandingkan dengan tahun 1800-an. Tahun dimana Wallace masih melakukan penjelajahan dan meneliti pulau ini. Wallace pernah mengatakan “saya percaya bahwa Jawa merupakan sebuah pulau tropis terindah di dunia. Jawa juga paling menarik bagi pelancong yang ingin mencari pemandangan baru yang indah serta bagi naturalis yang ingin mempelajari keanekaragaman dan keindahan alam tropis. Selain itu Jawa juga tempat bagi moralis dan politisi yang ingin mengetahui bagaimana manusia bisa diatur dengan cara yang paling baik dengan keadalaan yang baru dan berbeda-beda”. Dan kini, Jawa telah menjelma sebagai sebuah pusat dari negara ini. Pusat pengatur yang entahlah, pengaturan macam apa yang ditawarkan. Walau Jawa telah berkembang pesat dan berubah menjadi hutan beton, namun beberapa kawasan yang perawan dan indah masih bisa kita nikmati. Pesisir pantai di Banyuwangi dan Jember yang sangat indah dan natural, Bromo, Madakaripura yang mempesona yang merupakan lokasi pertapaan Mahapatih Gajah-mada , Candi cetho dan keindahan alamnya, Jogjakarta , Solo dan Surakarta dengan tradisi keraton yang masih kental hingga kini, karimunjawa yang cantik dan mempesona dan masih banyak lagi kawasan yang membanggakan yang tentunya milik Indonesia.

Penjelajahan keliling Indonesia melalui buku dan literatur berakhir sampai disini.

Mungkin kita terlalu terpaku melihat carut-marutnya Indonesia yang banyak diusung sebagai headline berita di media. Tanpa disadari kita telah melupakan potensi alam yang sebenarnya sangat hebat yang merupakan milik Indonesia. Bahkan internasionalpun sudah mengakui itu. Mungkin banyak yang bilang bahwa Eropa dan Amerika jauh lebih indah dan maju. Memang, mereka maju. Tapi lihatkah usia negara tersebut, sudah lebih tua dari Indonesia. Lihat juga luas wilayah negara tersebut, jauh lebih kecil yang tentunya memudahkan pengelolaannya dibanding negara kita yang luas dari sabang hingga marauke. Coba juga ingat, bagaimana kejayaan Nusantara beberapa abad silam dengan sistem pemerintahan kerajaan yang tradisional. Mereka mampu jauh lebih jaya dari kita. Bahkan, internasional mengakui itu dibuktikan dengan banyaknya kapal dagang merapat dari berbagai benua untuk membeli hasil kekayaan Nusantara. Perekonomian yang maju walau dengan sistem yang masih tradisional. Negarapun maju dan tersohor dijamannya. Sayangnya, karena keserakahan semuanya hancur. Karena keserakahan pula, tipu daya dan adu domba menjadi bumerang Nusantara menuju kehancuran. Karena keegoisan kelompok tertentu, rakyat jadi dikorbankan. Kondisi keruntuhan masa lalu tersebut mungkin hampir sama dengan kondisi Indonesia masa kini yang sedang carut marut.

Indonesia sebenarnya kaya raya, namun sayangnya rasa nasionalisme yang belum tertanam sempurna dihati bangsanya membuat kekayaan yang ada tersebut tidak terkontrol dengan baik dan adil sehingga hanya digunakan untuk kepentingan pribadi. Kurangnya Nasionalisme menjadikan bangsa ini menjadi hilang harapan dan hilang panutan. Maka,kenalilah Indonesia dari segala aspek kehidupannya maka Nasionalisme tersebut akan tumbuh subur dihati anak bangsanya.

(Terima kasih kepada Ahmad Yunus dalam bukunya “Meraba Indonesia” bagian dari expedisi Katulistiwa. Serta terima kasih kepada beberapa sumber informasi yang terlalu banyak sehingga tidak dapat saya cantumkan semuanya)

Sekian ^Tan^

About tantri

I am nobody who really want to be somebody. Extremely introvert cheerful and easy going girl.. :) Thanks for visiting this blog... ^^

Posted on February 7, 2012, in experince. Bookmark the permalink. 3 Comments.

  1. “Sayangnya, karena keserakahan semuanya hancur. Karena keserakahan pula, tipu daya dan adu domba menjadi bumerang Nusantara menuju kehancuran.”<—- saya setuju banget mbak. Kesombongan dan keserakahan adalah permulaan kehancuran entah itu seseorang ataupun suatu bangsa.

  1. Pingback: MELIHAT INDONESIA DARI SISI LAIN | Buletin Lentera Surabaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: