Belajar ilmu kehidupan dari golongan kecil


saya sedang nganggur.. mati gaya mau ngapain. Ngapalin tarian buat bulan depan tapi tetep saja ndak paham-paham apalagi hapal.. masih nol besar. Materi presentasi untuk di Berau besok sudah beres (walopun belum sepenuhnya dikoreksi ataupun di revised sama big bos). Mau baca-baca novel atau apa kek untuk menstimulasi otak, tapi apa daya otak sedang malas dan butuh refreshing. Jadi what i gonna do?? yess, i will write something yang ndak penting. Idenya muncul begitu saja beberapa detik yang lalu.. temanya adalah tentang hal-hal kecil disekitar saya yang belakangan ini sempat mengusik hati nurani. halaah mulai lebay deh…

alritee…ceritanya begini..

beberapa hari yang lalu saya sempat ditanya oleh seorang ibu-ibu paruh baya yang sedang duduk selonjor didepan lorong pintu kamar mandi kampus saya. Ibu-ibu itu tak lain dan tak bukan adalah seorang pemulung alias kolektor sampah-sampah plastik yang memang “berdinas” dikampus saya. Ibu itu bertanya pada saya :

“Mbak, kalau beras yang dikasikan ke saya sama orang lain apa masih boleh saya sumbangkan untuk zakat ya” (nanyanya waktu itu pakai bahasa Jawa). Nah, ibu pemulung itu juga bertanya tentang hukum-hukum Islam tentang zakat dan lain-lain yang sempat membuat saya garuk-garuk kepala. Selain memang si ibu itu nanyanya pakai bahasa Jawa yang saya ngerti tapi bingung njawabnya kalau pakai Jawa juga, saya juga ndak tahu hukum-hukum Islam khususnya tentang ilmu per-zakatan. Tapi, dari pertanyaan si ibu itu, saya jadi trenyuh juga. Si ibu yang notabene orang yang masuk golongan tidak mampu yang seharusnya diberikan zakat oleh orang-orang yang lebih mampu, malah memikirkan untuk berzakat. Ibu itu juga bercerita kalau dia harus membiayai 2 cucunya yang masih kecil-kecil dan sedang nunggak biaya sekolah sebesar 300ribu. 2 cucunya itu dititipkan ke dia lantaran ibunya ditinggal kawin sama bapaknya si cucu, sehingga si ibu bekerja di kota lain dan tidak ada kabar selanjutnya. hmm.. Selain itu, si ibu itu ternyata buta huruf. Dengan bahagianya ibu itu juga bercerita kalau baru saja dapat rejeki ,diberi uang 15rb oleh orang. Dengan uang sebesar itu, rencananya si ibu mau membeli tempe dan beras bagus untuk makan malam tempe penyet bersama 2 cucunya. “hmmmm..enak tenan mbaakk..suwi ndak mangan wenak kayak ngono” ujarnya. (enak sekali mbak, lama nda makan enak seperti itu). Sisa uangnya digunakan untuk nyicil uang sekolah cucunya.  Ibu itu juga memamerkan kemampuannya melantunkan bait-bait doa dalam Agamanya. Walau hanya 1 doa yang dia hapal,itu sudah cukup membuat dia merasa dekat dengan Tuhannya. Si ibu juga bercerita bahwa walau panas terik dan harus berjalan seharian mencari sampah plastik dia masih kuat puasa ” eman Mbak,lawong setahun sekali..ya harus puasa donk”  katanya lantang…Beberapa obrolan tentang kehidupan si ibu berlanjut sampai 30 menit..

well, dari obrolan dengan ibu itu saya jadi sedikit belajar tentang kehidupan. Bagaimana seorang tua dari golongan orang kecil masih mau memikirkan kehidupan orang lain dengan niat berzakat yang bertujuan membantu orang yang dianggapnya lebih terpuruk daripada dia. Padahal belum tentu orang yang jauh lebih mampu,mau melalukan zakat dan menolong orang lain. Bagaimana juga seorang tua dari golongan kecil itu menyikapi dan menjalankan kehidupan yang susah tetapi tetap dengan tegar dan bersahaja. Padahal banyak sekali orang-orang yang mungkin masih jauh lebih mampu dari ibu itu tetapi sudah merasa putus asa menjalankan hidup.  Bagaimana dia tetap menjalankan hari-harinya yang sulit tanpa menyalahkan Tuhan akan nasibnya, dan tetap berjalan dijalan keyakinannya. Padahal banyak sekali orang-orang yang merasa sedikit susah, tetapi malah menyalahkan Tuhan atas kehidupannya. Selain itu, masih banyak sekali hal-hal yang bisa dipelajari dari orang-orang kecil seperti mereka. Mungkin dengan keiklasannya, ketegarannya dan kebersahajaannya itulah yang membuat dia selalu merasa kuat dan bahagia dalam menjalani hidupnya walau apapun kondisinya.

yah..itulah kehidupan yang Rwa Bhineda, kehidupan yang terdiri dari 2 sisi..baik-buruk.. hitam-putih..mampu-tidak mampu… kaya-miskin.. Rwa Bhineda itu ada sebagai kesetimbangan dunia. Dimana sisi buruk pasti akan ditutupi oleh sisi baik. Sisi kelam/hitam pasti akan dihapus oleh sisi terang/putih. Begitu juga dalam kehidupan seperti contoh diatas… Ketidak mampuan dalam hal materi-pasti akan ditutupi oleh kemampuan dalam menyikapi hidup. Kemampuan dalam hal materi (yang dapat menyebabkan kesombongan hati) juga harus diimbangi dengan menolong sesama.

Nah.. untuk menyeimbangkan dunia ini, marilah kita orang-orang yang tergolong mampu menolong sesama khususnya yang tidak mampu sehingga jurang perbedaan dalam kehidupan dapat sedikit tertutup. Selain itu, marilah kita belajar untuk menghormati sesama, memberikan apresiasi lebih kepada mereka golongan tidak mampu yang berusaha bekerja keras untuk menjalankan hidupnya tanpa mengeluh dan tanpa menyerah.

Selamat berbuat baik..🙂

About tantri

I am nobody who really want to be somebody. Extremely introvert cheerful and easy going girl.. :) Thanks for visiting this blog... ^^

Posted on August 8, 2012, in ada disekitarku. Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. wwwahh bok..i love this writing.
    so inspiring. thnks a lot bok

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: