HIDUP SEHAT GAYA ORANG DESA : muda (seperti) menderita, tua sehat sejahtera


Hari saya menulis cerita ini adalah hari kedua saya berada di kampung halaman saya yaitu : desa celuk, gianyar, Bali. Ketika orang-orang pada berhuru-hara mudik keluar Bali, dengan santainya saya melenggang ke Bali tanpa mengalami “penderitaan” orang mudik yaitu capek dijalan karena maceet berkepanjangan. Walaupun saya juga mengalami penderitaan mudik yang lain yaitu Harga tiket yang melonjak berlipat ganda, tapiii ya sudahlaaaahhh.. pokoknya pulang kampong..titik!!!heheheh

Sebenarnya inti dari cerita saya bukan itu.. hmm.. intinya adalah, seperti biasa iseng… :p

Pagi ini seperti biasa kalau di Bali saya selalu menyempatkan diri ke dapur. Bukan untuk memasak siiiihh.. bukan juga untuk makan seperti kebiasaan saya di rumah Surabaya. Tetapi untuk melihat nenek saya menyiapkan makan pagi untuk kakek saya. Biasanya, saya melihat dadong (sebutan nenek dalam bahasa bali) menyiapkan makanan-makanan enak yang diramu dengan beraneka bumbu dan tentunya kaya akan kolesterol-kolesterol jahat yang akan menggerogoti tubuh dikemudian hari (menurut saya siiihh). Makanan itu biasanya dimakan bersamaan dengan timbunan nasi yang ditumpuk menggunung diatas piring makan pekak (sebutan kakek dalam bahasa bali). Itu sudah merupakan hobi mendasar dari pekak, bahwa makan adalah tujuan utama dipagi harinya sebangunnya dari tidur. Selain itu makan adalah sesuatu yang utama yang harus dilakukan apabila sedang mengalami kebosanan. Intinya adalah pekak saya doyan makan dan sangat mencintai nasi putih dan makanan sedap berlemak lainnya yang menurutnya adalah bertujuan untuk memperkuat dan mendukung kegiatannya yang ngakunya siihh sebagai seorang tua yang masih aktif dan energik. #ngakunya aja siiihh. Tetapi, hari ini berbeda. Dadong tidak menyiapkan makanan-makanan yang digoreng lagi. Juga tidak menyediakan makanan-makanan yang berbumbu lagi. Juga tidak menyiapkan nasi yang menggunung lagi untuk pekak. Malah yang disiapkan kali ini adalah : sayuran hijau yang terdiri dari segala jenis sayuran yang ada dipasar yang direbus biasa tanpa bumbu apapun, tahu rebus yang hanya direndam air panas serta kentang rebus.

Setelah melihat tumpukan kentang rebus dipiring pekak saya, langsung saya mengarahkan pandangan mata saya ke rambut si pekak. Well, rambutnya tidak berubah jadi pirang yang artinya si pekak tidak berubah jadi bule tiba-tiba.. #karena makan kentang rebus. Hehehe.. tapi, hanya menu makannya saja yang berubah. Dan pekak sayapun kali ini menyebut dirinya sebagai orang tua yang sedang menderita karena cuma boleh makan makanan seperti kambing saja. Karena si pekak terjangkit ehh terserang.. hmm..terkena penyakit gula,kolesterol tinggi dan darah tinggi. Penyakit yang merupakan langganan para orang tua. Langganan penyakit yang menjadikan para orang tua yang terserang merasa menyesal dengan pola makan masa mudanya. Seperti pekak saya ini, dimasa mudanya sering menyebut dirinya sebagai lelaki ganteng pecinta wanita (perlu diketahui sodara-sodara, pekak saya dimasa mudanya adalah idola perempuan-perempuan di desanya looo.. ) dan pencinta makanan wenaaak #padahal berlemak dan super tidak sehat. Tetapi dimasa tuanya, merasa menderita karena makanan…

Beda cerita lagi, kakek buyut saya yang sampai sekarang masih energik yang konon kabarnya berusia sekitar 100 tahun memiliki gaya hidup yang berbeda dengan si pekak. Kumpi (sebutan buyut dalam bahasa Bali), adalah orang yang masih mendedikasi dirinya sebagai orang desa murni. Maksudnya adalah, segala segi kehidupannya, segala hal yang dia lakukan dan dia gunakan sebagai sumber kehidupan adalah hal-hal yang dapat kita temui didesa. Hingga usia senjanya ini, dia masih mampu bekerja disawahnya. Makan nasi dari beras yang ditanam disawahnya sendiri, makan sayuran dari hasil kebunnya sendiri. Makan ikan dari hasil pancingan dari sungai disebelah rumahnya. Segala hal yang kumpi makan adalah hasil-hasil murni dari miliknya dan tentunya tidak terkontaminasi bahan-bahan kimia dan tidak tercampur oleh bumbu-bumbuan masakan berlemak seperti yang sering dimakan kakek saya. Walau sebenarnya anak dan cucunya sangat mampu menghidupinya, tetapi kumpi lebih memilih untuk masih hidup dengan gaya hidupnya yang sederhana itu. Masih makan sayur-sayuran dari hasil kebunnya sendiri, jarang menyantap daging-dagingan dan makanan berlemak serta masih bergerak aktif dan bekerja untuk menjauhi kebosanan dalam hidupnya. Itulah mengapa hingga kini diusia yang mencapai 100 kumpi masih seenergik yang kemarin saya lihat.

Dari sana sayapun mulai berpikir, mungkin akan seperti pekak saya itulah hidup saya nantinya dikemudian hari apabila saya masih suka memakan makanan tidak sehat. Hura-hura dalam hal makanan dimasa muda bisa jadi akan membawa penderitaan dimasa tua. Apabila saya memilih untuk bergaya hidup sehat seperti kumpi saya atau paling tidak, saya meminimalisir makan makanan berlemak dan berbumbu mungkin masa tua saya tidak akan menghabiskan uang pensiun saya hanya untuk berobat kedokter..

Baiklah.. Mari kita mulai gaya hidup sehat, dari sekarang…

About tantri

I am nobody who really want to be somebody. Extremely introvert cheerful and easy going girl.. :) Thanks for visiting this blog... ^^

Posted on August 25, 2012, in experince. Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. catering di denpasar bali

    Keren nih tulisannya, keep posting ya…
    Sudah Coba Empat Tempat Makan Unik Di Bali
    Klik http://goo.gl/ZGcfU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: