Taman Sukasada (ujung): Sebuah masterpiece masa lampau yang masih berdiri megah hingga kini.


Niat liburan ke Bali tiba-tiba makin berapi-api setelah saya melihat sebuah artikel lokasi wisata yang berbau arkeologi budaya yang diulas di dalam beberapa lembar rubrik jalan-jalan majalah langgganan saya. Yaa.. majalah Chic kembali menginspirasikan saya untuk mengulas sesuatu dari sudut pandang saya sendiri. Setelah beberapa bulan yang lalu majalah ini sempat mengulas tentang Belgia,negara yang kebetulan pernah saya tinggali dalam waktu yang lama. Kemudian menginspirasikan saya untuk membuat sebuah tulisan ringan dan (semoga) informatif tentang Belgie di blog pribadi saya ini. dan kini, hal yang ingin saya ulas dengan sudut pandang saya sendiri adalah Taman Sukasada, Ujung yang berlokasi di Karangasem Bali. Tetapi sayangnya, ketika keinginan saya untuk menulis tentang lokasi ini tumbuh, saya belum pernah sekalipun berkunjung ke tempat ini. Makadariitu, berbekal dari keinginan untuk menulis dan menceritakan tentang keindahan peninggalan arkeologis ini dari sudut pandang saya sendiri, sayapun merencanakan untuk mengunjungi lokasi ini dikala liburan saya ke Bali.

dan, liburan saya keBali kali inipun tidak sia-sia, saya berhasil mengunjungi kawasan indah ini walau lokasinya tidak dekat dan malahan tergolong sangat jauh dari tempat tinggal saya. Tapi tak apalah jauhh, toh akhirnya saya bisa melihat dari mata kepala saya keindahan tempat ini sehingga bisa menceritakannya sendiri dalam blog saya dan sekali lagi, cerita yang saya tulis ini adalah cerita dari sudut pandang saya sendiri.

Taman Sukasada sekarang lebih terkenal dengan nama Taman Ujung Karangasem terletak di Dusun Ujung, Desa Tumbu, Kecamatan Karangasem, Kabupaten Karangasem. Taman ini berjarak sekitar 5 km arah tenggara dari Kota Amlapura. Taman yang dibangun oleh Raja Karangasem: I Gusti Bagus Jelantik yang bergelar Anak Agung Agung Anglurah Ketut Karangasem dengan konsep sempurna ini merupakan kebanggaan warga Karangasem karena awalnya memiliki luas hampir 400 hektar, tetapi sekarang hanya sekitar 10 hektar karena tanah tersebut sebagian besar sudah dibagikan kepada masyarakat pada masa landreform. Kepemilikan Taman Ujung ini sekarang sudah diwariskan kepada ahli waris keluarga Puri Karangasem sehingga statusnya menjadi taman milik pribadi tetapi pengunjung umum diperkenankan mengunjungi taman yang tampak megah ini. Taman Ujung yang merupakan salah satu masterpiece Bali dibangun pada tahun 1909 oleh prakarsa Raja Karangasem Anak Agung Anglurah Ketut Karangasem dengan melibatkan arsitek Belanda yang bernama van Den Hentz dan seorang arsitektur Cina bernama Loto Ang. Pembangunan Taman Ujung juga banyak melibatkan arsitektur (undagi) tradisional serta mendapat petunjuk dari Mr. Wardodjojo seorang teknisi dari Dinas Pekerjaan Umum. Taman Ujung sebenarnya merupakan pengembangan Kolam Dirah yang telah dibangun lebih awal pada tahun 1901. Pembangunan Taman Ujung selesai pada tahun 1921, namun pekerjaan pembangunan masih terus dilanjutkan. Tepatnya pada tahun 1937, Taman Sukasada (Taman Ujung) Karangasem diresmikan dengan sebuah ‘mahligya’ yang ditandai dengan sebuah prasasti batu marmer yang ditulis dengan huruf latin dan Bali dengan menggunakan dua bahasa yaitu bahasa Indonesia dan Bali. Prasasti tersebut ditempelkan pada salah satu dinding di Bale Warak.

Membutuhkan sedikit perjuangan untuk mencapai tempat ini dari tempat tinggal saya. Tidak terlalu berjuang dengan membawa bambu runcing sih memang..heheh.. tetapi perjalanan yang sangat lama dengan menaiki sepeda motor matic yang menurut saya agak sedikit menyiksa. Perjalanan nonstop yang memakan waktu hampir 2 jam melewati jalanan berkelok-kelok dan agak tandus dan berdebu ini cukup menguras tenaga. Beberapa truk mengangkut pasir, truk pertamina pengangkut bahan bakar dan beberapa kendaraan berat lainnya kami lewati dalam perjalanan kali ini. Jalanan berkelok dan melewati pantai dan hutan namun diselingi pemandangan yang kadang tandus kadang indah membuat perjalanan agak sedikit berwarna. Karena saya hanya bertindak sebagai penumpang (hehehe..) saya masih dapat tolah-toleh untuk menikmati pemandangan yang saya lewati. Seingat saya, saya melewati sepanjang pantai yang masih masuk kawasan Gianyar, kemudian saya melewati candi dasa lalu melewati jalanan berkelok-kelok diantara hutan-hutan. Kemudian saya melewati papan petunjuk menuju Padang Bai dan papan petunjuk menuju Pura Lempuyang. Setelah melewati jalanan yang agak berliku dan berkelok serta super panas,akhirnya sampailah kami di Taman Sukasada Ujung.

Tidak begitu banyak petunjuk kawasan, namun kondisi lokasi yang agak berbeda dengan bangunan lain disekitarnya yang meyakinkan bahwa kami telah sampai di tempat yang kami tuju. Jalan agak memutar. Terdapat beberapa gerbang namun tertutup dan tidak ada penjaga. Hal tersebut menyebabkan kami agak sedikit memutar hingga akhirnya menemukan pintu wasuk kawasan wisata ini. Lokasi parkiran tidak seberapa luas namun sangat cukup untuk menampung banyak mobil dan sepeda motor. Ketika saya sampai disana, tidak begitu banyak pengunjung ditandai dengan tidak terlalu banyaknya kendaraan yang parkir. Mungkin karena bukan akhir pekan. Mungkin juga karena masih terlalu siang dan terik untuk melakukan kunjungan dikawasan tersebut. Kami segera menuju tempat pembelian tiket. Hanya dengan membayar Rp.5000/orang saya sudah dapat masuk dilokasi wisata tersebut. Namun, saya harus membayar tiket masuk seharga Rp.50000 untuk kamera DLSR saya. yahhh… tidak diperlukan tiket masuk untuk sebuah kamera pocket ataupun kamera HP tetapi diperlukan 10 kalilipat dari harga pengunjung untuk membawa masuk kamera ukuran jumbo. fyuhh.. karena sudah jauh-jauh datang kesana dan berniat foto-foto, akhirnya saya merelakan 50000 saya untuk membawa kamera saya masuk.. rela dehh..demi foto-fotoo..hehhe..

Melewati pintu masuk,tempat kami membeli tiket, kami sudah disuguhi oleh pemandangan yang indah. Melewati jembatan kecil namun megah dan cantik hingga menyusuri jalan setapak yang terdapat jejeran tanaman bunga kamboja disekelilingnya. Cantik, namun sayangnya udara terik. Pemandangannya sangat manis, lebih manis lagi apabila kunjungan dilakukan disaat matahari baru terbit ataupun hampir tenggelam. Kami sempat santai sejenak disisi kolam sambil menikmati semilir angin dan menikmati cantiknya suasana. Beberapa bangunan diatas kolam yang dihubungkan oleh jembatan berarsitektural paduan kolonial,Bali dan China tepat berada di depan saya. Cantik dan Indah untuk diabadikan dalam bingkai foto. Namun masih sangat terik untuk sekedar berjalan menuju bentangan jembatan diatas kolam tersebut. Setelah merasa agak tidak terik lagi, kamipun beranjak ke Balaigili (Kambang) yaitu sebuah bangunan ditengah kolam yang dihubungkan oleh jembatan yang saya ceritakan tadi. Berfoto ditempat ini adalah pilihan yang tepat sekali. Selain arsitektural yang sangat memukau dan klasik menurut saya, area ini juga tidak seberapa padat sehingga serasa lokasi menjadi milik kami untuk berfoto..hehehe.. Kami menghabiskan waktu agak lama untuk sekedar mencari spot cantik untuk berfoto. Kegiatan foto-foto kami disini terpaksa diakhiri lantaran terik matahari yang semakin menyengat.

Kami beranjak ke lokasi berikutnya. Terdapat ruang keluarga Puri atau keluarga kerajaan yang sudah tidak digunakan lagi sehingga boleh dikunjungi. Terdapat kamar tidur, ruang keluarga, ruang suci dan ruang tamu. Bagi wanita sedang “berhalangan” dilarang memasuki ruang suci tersebut tetapi boleh memasuki ruangan lain. Terdapat beberapa foto keluarga serta foto tahapan pembangunan taman ini di beberapa ruangan. Ruangan ini masih tertata rapi dan apik. Jendela lebar dan model bangunan tinggi megah ala bangunan Eropa dilengkapi dengan pintu berukuran tinggi membuat segar suasana. Angin semilir berhembus dari balik jendela. Beberapa wisatawan asing tampak berlalu lalang disana. Tampak sebagian besar dari mereka sedang mengamati foto yang tergantung didinding. Beberapa diantaranya juga sedang serius mendengarkan penjelasan dari sang guide. Tampak mereka begitu mengagumi bangunan itu serta mengagumi sejarah pembangunannya. Dari bahasa yang digunakan, wisatawan asing tersebut sebagian besar dari Rusia. Sedangkan beberapa wisatawan berbahasa Inggris yang mencatat penjelasan Guidenya di komputer tabletnya berasal dari Australia dan Afrika selatan. Mereka semua ramah dan nampaknya sangat suka hal-hal yang berbau arkeolog. Saya sempat menyapa mereka dan ngobrol sejenak dan ternyata mereka adalah sekumpulan wisatawan dari beraneka negara yang melakukan wisata bersama di Bali. Terdengar menyenangkan..🙂.

Setelah berputar dibeberapa lokasi di area bawah, kemudian kami beranjak ke area atas. Agak melelahkan memang kalau berjalan menaiki banyak anak tangga disuasana yang panas serta terik seperti itu. Namun sesampainya kami diatas, lelah yang kami rasakan langsung terbayar oleh indahnya pemandangan. Dari atas kami dapat melihat pemandangan seluruh taman Sukasada. Pemandangan bangunan Arkeolog klasik perpaduan antara arsitektural Kolonial-Indonesia-China yang membentang diatas kolam yang luas terhampar diantara indahnya taman-tamn hijau dan pepohonan berbunga cantik yang tertata apik ditaman tersebut. Selain itu,pemandangan laut juga tampak dari atas. Perpaduan pemandangan itulah yang mempercantik suasana,apalagi hembusan angin sepoi-sepoi menambah nikmatnya suasana. Kami nongkrong sejenak lalu berfoto di bangunan tua sisa kemegahan masa lampau yang masih berdiri kokoh disana. Saya tidak tau nama bangunan itu apa, kata teman saya sih namanya Balai Kapal, tetapi saya tidak tau pasti apa nama bangunan itu. Bangunannya sebenarnya kuno, hampir rusak. Tapi itulah sisi kemegahannya. Megah yang klasik, tua yang kokoh seperti halnya bangunan di kuil-kuil Yunani. Kamipun berfoto disana. Menikmati sisa petualangan kami mengitari Taman Sukasada yang hampir berakhir. Kami menuruni 107 anak tangga yang berada tepat menghubungkan bangunan tua itu dengan area terbawah dari Taman. Kamipun berfoto disetiap sudut dan area hingga akhirnya seluruh tempat dikawasan ini sudah kami itari yang artinya kunjungan kami kekawasan di ujung kanan pulau Bali ini berakhir.

Petualangan singkat kami di Taman Ujung Sukasada diakhiri dengan nongkrong diwarung bakso ayam di parkiran taman ini. Kegiatan berkeliling di Taman yang luas ini cukup menguras tenaga serta mengosongkan lambung. Setelah sejenak beristirahat dibawah pohon sembari mengisi perut akhirnya kamipun pamit undur diri untuk kembali ke Gianyar. Dan kamipun kembali ke rumah…🙂

Sekian ^Tan^

About tantri

I am nobody who really want to be somebody. Extremely introvert cheerful and easy going girl.. :) Thanks for visiting this blog... ^^

Posted on September 2, 2012, in experince. Bookmark the permalink. 11 Comments.

  1. ecieehhh fotonya..foto prewed nih?hahahaha…kalo jadi ke ubud aku nitip mampir ke blanco museum donk..blm pernah aku..T_T

  2. Ayee… hayuukkk temans.. kita berpetualang…. sukses membuat saya mupeng tingkat Dewa

  3. aahaa..aku juga baru tahu kalau blog mu berwarna merah muda..ihiiii..suit2
    baiklaahh berhubung saya juga mau ke karangasem minggu depaann, jadii bisa ini dijadikan referensi yaa..
    tapi btw..ke karangasem buat nyari batu yaa disana

    • iya.. gonta ganti warna emang.. haha… sekarang temanya mermud sakura… minggu depan opo yo? :p yadaah..ente musti kesini, bule2 ajah doyan banget prewed di tempat ini.. memang keren, tapiiiii puanasnyaaa… ongkebbb….

  4. ini memang taman yang sangat indah dan eksotik…

  5. yang ku cari itu sejarah taman ujungnya bukan pengalaman pribadi kamu saat disana…!!!!

    • iya memang sejarah yang ada dlm tulisan saya hanya 1 paragraf saja, selain itu pengalaman saya disana saja..🙂 so, you should click another blog or article..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: