Bersepeda tengah tambak, Mangrove wonorejo


Sebenarnya saya sudah pernah menulis tentang lokasi ecowisata manrove Wonorejo di tulisan saya beberapa bulan lalu. Tetapi kali ini sudut pandang yang akan saya tulis jauh berbeda dengan tulisan saya yang lalu. Kalau dulu, yang saya bahas adalah lokasi ecowisata Mangrove ditepi laut yang dapat ditempuh dengan menyewa perahu, tetapi kini saya akan membahas tentang wahana atau lokasi atau apalah namanya yang bisa difungsikan sebagai zona bersepeda. Lebih keren dan serem boleh saja disebut sebagai track bersepeda.

Nah, inspirasi bersepeda dilokasi ini saya dapat dari seorang blogger yang kebetulan membaca ulasan saya tentang ecowisata serta memberikan link kepada saya tentang pengalamannya bersepeda di kawasan tersebut. Dari situlah saya tertarik untuk mencoba lokasi ini. Bersama salah seorang kawan lama saya, seorang artisex eehh arsitek yang sudah malang melintang lama di dunia persilatan..uppss.. dunia perarsitekturan maksud saya, yang tenar dengan nama Nyom-Nyom. Yesss, trip mate bersepeda saya kali ini adalah Nyom-Nyom.  Kami menjajal lokasi track bersepeda yang berada ditengah tambak dan sawah sebelah ecowisata mangrove Wonorejo ini.

Karena Nyom2 bukan bekecot ataupun kura-kura, dan bukan tipe orang yang suka membawa rumahnya kemana-mana, alhasil jarak tempuh perjalanannya menuju track ini dari rumahnya adalah sangat jauh. #kok kalimat saya ndak nyambung yaa#. Bayangkan saja, rumahnya beliau adalah di Wiyung sedangkan rumah saya berada di kawasan ITS, jadilah kami harus mencari meeting point yang berada ditengah-tengah area rumah kami. Alhasil, karena memperhatikan gender dan memperhitungkan kekuatan serta kemampuan, alhasil meeting point kami adalah di kawasan Jalan Biliton. Jaraknya masih cukup dekat dari rumah saya, tetapi masih cukup jauh dari rumah Nyom-Nyom. Travel time saya menuju lokasi meeting point adalah tidak sampai 30 menit dan speedometer sepeda saya menunjukkan jarak 6.18 kilometer. Sedangkan jarak tempuh Nyom-nyom hampir 45 menit. Jadi saya bengong menunggu kawan saya ini selama 20 menit. Waktu yang cukup digunakan untuk mandi atau sekedar berguling-guling di kasur. Tapi, karena tak ada kamar mandi ataupun kasur alhasil saya hanya berbengong ria sambil menghitung jumlah kendaraan lewat.. benar-benar menunggu adalah sesuatu yang jauh lebih melelahkan dari pada tidak menunggu… :p

Nah, setelah yang ditunggu datang, kamipun langsung tancap gas menuju lokasi. Jalan akses menuju pintu masuk lokasi memang tidak jauh berubah dari beberapa bulan lalu ketika saya berfoto-foto ria disana. Tetapi yang berbeda adalah jalan akses dari pintu masuk ecowisata menuju dermaga ecowisata. Jalanan sudah diperlebar dengan diurug, beberapa tanaman perdu disisi sungai juga sepertinya sudah dihilangkan. Mungkin karena musim kemarau, jadi pemandangan gersanglah yang terlihat disana. Terdapat jenazah bangkai kambing tanpa kepala tergeletak di sisi sungai seberang dari tempat kami bersepeda. Mungkin kambing hasil pemerkosaan masal yang dibuang disungai. Kasian sekali nasibmu naaak nakk… #mulai nglantur#. Tidak banyak berubah dari pemandangan yang saya lihat sebelumnya, jalanan masih berupa tanah bergeronjal tapi sudah agak padat. Kami mengikuti alur jalan menuju dermaga ecowisata. Setibanya kami disana, kami disambut oleh warung yang menjajakan makanan. Nongkrong sejenak diwarung ditemani sepotong pisang goreng sambil ngobrol ngalor-ngidul. Disebelah saya ada rombongan pesepeda juga yang sepertinya sudah expert. Dari topik pembicaraannya tentang bersepeda jawa-Bali-Lombok menunjukkan betapa expertnya mereka. Jadi kami memilih tak ambil bagian dalam pembicaraan rombongan sebelah karena kami cukup ber-bus ria atau ber-travel ria kalau melakukan perjalanan jawa-Bali-Lombok.

Setelah perut cukup terisi, akhirnya kami menuju track. Kalau dari pintu masuk dermaga beloklah kekanan kearea jogging track. Nah, kalau jogging track lokasinya masuk ke dalam rerimbunan tanaman yang terletak disebelah kiri, kalau track bersepeda lokasinya terus menuju area persawahan. Kami mengikuti jalanan yang semakin berbatu melewati kolam pemancingan lalu terus melintasi area tambak dan sawah. Dari tempat kami bersepeda, bisa dilihat kawasan jogging track yang lebih banyak pengunjung dibandingkan diarea bersepeda ini. Jalanan yang awalnya lebar namun bergeronjal semakin ke area sawah jalanan semakin menyempit. Kalau tidak hati-hati dan tidak konsentrasi dalam mengendarai si sepeda, bisa-bisa njungkellah kita ke area persawahan. Kami juga melewati beberapa jembatan kecil dan sempit yang dibawahnya merupakan saluran tambak warga.Kalau tidak konsentrasi dalam melewati jembatan sempit ini, bisa-bisa saya terperosok ke saluran tambak disisi kiri dan kanannya. Jadi harus berhati-hati. Karena terdapat banyak jembatan dengan ukuran yang variatif, beberapa kali saya berhenti dan memilih untuk menuntun sepeda ketika melewati jembatan ini dari pada saya terperosok toh…😀

Tidak banyak pesepeda yang kami jumpai disana, ada sih  walau hanya beberapa. Mungkin kami terlalu siang. Entah track ini apakah memang diperuntukan untuk pesepeda atau hanya sebuah pematang tambak yang digunakan bersepeda oleh para pesepeda. Apapun itu, tapi saya menikmati perjalanan itu. Tidak seindah track bersepeda di Campuan,ubud memang. Tetapi masih cukup alami dan cukup menantang untuk digunakan sebagai track bersepeda. dan mungkin, kalau hobby fotografi, lokasi ini cukup bagus dan tenang untuk digunakan sebagai lokasi hunting foto. Sayang kami tidak membawa kamera DSLR. dan sayang juga sedang musim kemarau sehingga pepohonan dan rerumputan yang sebenarnya rindang dan hijau, warnanya memudar kering layu. Tapi tak apalah, toh kami sudah bisa bersepeda berputar-putar diarea tambak dan persawahan surabaya untuk sekedar mencari keringat. Kami bersepeda mengitari area tambak yang luas tersebut dan melewati beberapa gubung warga. Area tambak yang tak berujung membuat kami memutuskan untuk kembali. Hari sudah terlalu siang untuk berputar diarea sepi ditengah tambak tersebut.

Kamipun kembali ke dermaga ecowisata. Karena Nyom-nyom belum pernah merasakan jogging track disana, akhirnya kami berjalan menyusuri kawasan mangrove melalui deretan kayu panjang untuk jogging track. Situasi tak banyak berubah dari pada saat terakhir saya kesana. Namun sayangnya, masih banyak sampah yang bertebaran. Entah dari pengunjung yang membuang sampah disana atau sampah kiriman air pasang. Yang pasti,disana ada sampah bertebaran yang perlu dibasmi..😀

Kami berfoto disana sambil mendengarkan lagu-lagu jadul favorit nyom-nyom (haduuuhh Nyoom lagunyaa ndak nguatiii.. :p ). Setelah matahari makin meninggi,kamipun pamit undur diri dan kembali ke rumah kami masing-masing. Beberapa bulan tidak bersepeda, lalu menempuh perjalanan 32 km dengan sepeda kala itu membuat tenaga saya cukup terkuras. Pantat rasanya tinggal separo karena bersepeda di jalanan yang tidak datar. Kaki rasanya juga tinggal beberapa potong. Namun, sehatlah yang saya rasakan. Plan for the next trip for the next weekend..

Semangat bersepeda.. Semangat berolah raga kawan.. !

About tantri

I am nobody who really want to be somebody. Extremely introvert cheerful and easy going girl.. :) Thanks for visiting this blog... ^^

Posted on September 18, 2012, in experince. Bookmark the permalink. 5 Comments.

  1. Wah..bikin pingin ke situ lagi…..Terima kasih..Tulisannya sangat menyenangkan untuk dibaca..Dan foto-fotonya buagus-buagus… Selamat berkarya.

  2. wah namaku disebut berkali-kali..aku jadi terharu..T_T..terharu dan sedih pantatku jatuh entah dimana..hahaha..oke plan kan ke trip yang belum pernah dikunjungi lagi tan..aku tak jadi fotografernya..ehehehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: