Pernikahan adat Bali: Menghadiri pernikahan kawan lama


terlalu lama tidak menulis cerita membuat jari-jari saya dan otak saya sedikit kaku ketika harus memulai sebuah tulisan lagi. Bukannya disebabkan oleh belum adanya pengalaman menarik yang bisa dituangkan menjadi sebuah tulisan yang menyebabkan saya vacum sejenak untuk bercerita. Alasan lainlah yang membuat saya enggan menulis akhir-akhir ini. Lelah dan tidak ada waktu luang. hahahaa.. berasa sok sibuk buangeet sih yaaa… ^^. dan sekarang, saya duduk di laboratorium saya dengan beberapa pekerjaan yang tidak dikejar-kejar, dan beberapa pekerjaan yang saya tidak tahu harus memulai dari mana,sehingga sepertinya saya punya beberapa waktu untuk menulis.. yeiyyy, saya sedang mood menulis..

Tadi, pagi buta- saya baru menginjakkan kaki saya di Surabaya setelah menghabiskan weekend saya di Bali. Kedatangan saya ke Bali kala itu adalah untuk menghadiri pernikahan teman dekat saya. Pernikahan yang betul-betul telah ditunggu-tunggu dan belakangan menjadi topik hangat pembicaraan kami bertiga (saya dan 2 sahabat masa kuliah saya) di BBM group kami. Diantara kami bertiga-group rumpi yang doyan jalan-jalan nge-mall bersama dikala weekend saat masa-masa kuliah, baru sahabat saya inilah yang berhasil melenggangkan kehidupannya ke jenjang pernikahan. Keputusan yang betul-betul hebat menurut saya. Karena saya masih menganggap bahwa pernikahan diusia muda alias usia yang belum puas berhip-hip hura-hura,adalah sesuatu yang menakutkan. hahahah.. pikiran yang mungkin terlalu berlebihan. Mungkin karena saya terlalu suka bebas dan terlalu suka bekerja, jadi pikiran saya mengarah ke hal-hal negatif tentang pernikahan. Tetapi.. well.. setelah menghadiri dan membaca sekilas prosesi adat pernikahan adat Bali serta mendengar keluh kesah serta keluh bahagia sahabat saya itu sebagai seorang calon penganten hingga menjadi pengantin baru membuat saya agak sedikit mulai tertarik dengan kehidupan jenjang berikutnya alias kehidupan pernikahan. heehee.. ternyata saya agak sedikit plin-plan yah.. Apalagi setelah melihat beberapa foto-foto pre-wedding yang unik-unik dan mengenangkan, membuat saya semakin ingin difoto seperti itu… #lohh, pingin dipoto atau pingin nikah sih sebenernya..#

baiklaah… dari pada saya cerita ngalor-ngidul yang ujung-ujungnya tidak bisa ditarik suatu kesimpulan, jadi saya ulas sedikit prosesi Pernikahan adat Bali. Prosesi pernikahan adat Bali ditanggung sepenuhnya oleh mempelai Pria. Mungkin agak sedikit berbeda dengan budaya Jawa yang mana mempelai perempuan beserta keluargalah yang bersibuk-sibuk ria mempersiapkan upacara pernikahan. Tapi di Bali, tidak seperti itu. Mempelai perempuan hanya nunggu dijemput oleh pihak mempelai pria, dan segala upacara adat dan segala urusan adalah tanggung jawab si mempelai pria dan keluarga. Nah, urut-urutan prosesi adat yang lengkapnya adalah seperti ini :

Upacara Ngekeb

Acara ini bertujuan untuk mempersiapkan calon pengantin wanita dari kehidupan remaja menjadi seorang istri dan ibu rumah tangga memohon doa restu kepada Tuhan Yang Maha Esa agar bersedia menurunkan kebahagiaan kepada pasangan ini serta nantinya mereka diberikan anugerah berupa keturunan yang baik. Setelah itu pada sore harinya, seluruh tubuh calon pengantin wanita diberi luluran yang terbuat dari daun merak, kunyit, bunga kenanga, dan beras yang telah dihaluskan. Dipekarangan rumah juga disediakan wadah berisi air bunga untuk keperluan mandi calon pengantin. Selain itu air merang pun tersedia untuk keramas. Sesudah acara mandi dan keramas selesai, pernikahan adat bali akan dilanjutkan dengan upacara di dalam kamar pengantin. Sebelumnya dalam kamar itu telah disediakan sesajen. Setelah masuk dalam kamar biasanya calon pengantin wanita tidak diperbolehkan lagi keluar dari kamar sampai calon suaminya datang menjemput. Pada saat acara penjemputan dilakukan, pengantin wanita seluruh tubuhnya mulai dari ujung kaki sampai kepalanya akan ditutupi dengan selembar kain kuning tipis. Hal ini sebagai perlambang bahwa pengantin wanita telah bersedia mengubur masa lalunya sebagai remaja dan kini telah siap menjalani kehidupan baru bersama pasangan hidupnya.

Mungkah Lawang ( Buka Pintu )
Seorang utusan Mungkah Lawang bertugas mengetuk pintu kamar tempat pengantin wanita berada sebanyak tiga kali sambil diiringi oleh seorang Malat yang menyanyikan tembang Bali. Isi tembang tersebut adalah pesan yang mengatakan jika pengantin pria telah datang menjemput pengantin wanita dan memohon agar segera dibukakan pintu.
Upacara Mesegehagung
Sesampainya kedua pengantin di pekarangan rumah pengantin pria, keduanya turun dari tandu untuk bersiap melakukan upacara Mesegehagung yang tak lain bermakna sebagai ungkapan selamat datang kepada pengantin wanita. kemudian keduanya ditandu lagi menuju kamar pengantin. Ibu dari pengantin pria akan memasuki kamar tersebut dan mengatakan kepada pengantin wanita bahwa kain kuning yang menutupi tubuhnya akan segera dibuka untuk ditukarkan dengan uang kepeng satakan yang ditusuk dengan tali benang Bali dan biasanya berjumlah dua ratus kepeng
Madengen–dengen
Upacara ini bertujuan untuk membersihkan diri atau mensucikan kedua pengantin dari energi negatif dalam diri keduanya. Upacara dipimpin oleh seorang pemangku adat atau Balian
Mewidhi Widana
Dengan memakai baju kebesaran pengantin, mereka melaksanakan upacara Mewidhi Widana yang dipimpin oleh seorang Sulingguh atau Ida Peranda. Acara ini merupakan penyempurnaan pernikahan adat bali untuk meningkatkan pembersihan diri pengantin yang telah dilakukan pada acara – acara sebelumnya. Selanjutnya, keduanya menuju merajan yaitu tempat pemujaan untuk berdoa mohon izin dan restu Yang Kuasa. Acara ini dipimpin oleh seorang pemangku merajan
Mejauman Ngabe Tipat Bantal

Beberapa hari setelah pengantin resmi menjadi pasangan suami istri, maka pada hari yang telah disepakati kedua belah keluarga akan ikut mengantarkan kedua pengantin pulang ke rumah orang tua pengantin wanita untuk melakukan upacara Mejamuan. Acara ini dilakukan untuk memohon pamit kepada kedua orang tua serta sanak keluarga pengantin wanita, terutama kepada para leluhur, bahwa mulai saat itu pengantin wanita telah sah menjadi bagian dalam keluarga besar suaminya. Untuk upacara pamitan ini keluarga pengantin pria akan membawa sejumlah barang bawaan yang berisi berbagai panganan kue khas Bali seperti kue bantal, apem, alem, cerorot, kuskus, nagasari, kekupa, beras, gula, kopi, the, sirih pinang, bermacam buah–buahan serta lauk pauk khas bali.

Prosesi pernikahan adat Bali diatas merupakan prosesi pernikahan adat yang lengkap dan urut. Namun, karena beberapa alasan dan mungkin beberapa kendala teknis, seperti halnya prosesi adat pernikahan di Jawa, urutan prosesi diatas boleh saja ditiadakan sedikit atau di balik urutannya. Saya juga tidak tahu pasti bagian mana saja yang boleh dan tidak boleh dihilangkan dan di bolak-balik, tetapi yang pasti sebagian besar penganten menggunakan sistem prosesi adat seperti diatas.

Sama halnya dengan prosesi diatas, kawan saya ini juga menggunakan sistem diatas. namun mungkin ada beberapa perubahan diurutan upacara disebabkan oleh pernikahan lintas daerah yang mereka lakukan. Si mempelai wanita yang tak lain adalah kawan saya, berasal dari Tababan sedangkan si mempelai Pria berasal dari area yang jauh yaitu Bangli dengan adat yang agak berbeda dengan adat si mempelai wanita. Sehingga ada beberapa prosesi yang dilakukan dengan mempersingkat upacara namun tanpa menghapus kesakralan prosesi.

Prosesi pernikahan kawan saya ini dilangsungkan di Bangli yang letaknya sekitar 1.5 jam dari rumah saya. Karena acara dilangsungkan di pedesaan yang mungkin tidak terdaftar di GPS, seperti halnya rumah saya juga tidak terdata di GPS, beberapa kawan yang hendak menghadiri acara ini sempat tersesat cukup lama.Mereka nyasar, tapi saya tidak.. hehehee…

Acara pernikahan biasanya dijadikan ajang reuni oleh banyak kalangan, sama halnya dengan saya kali ini. Ajang pernikahan ini dijadikan ajang kumpul-kumpul dengan kawan-kawan kuliah yang cukup lama ,hampir 4 tahun, tidak berjumpa. Banyak candaan dan kegilaan yang muncul kembali ketika kami bertemu. Selain sebagai ajang reuni, pernikahan kawan juga saya jadikan sebagai ajang menebar senyum sambil mengelus dada ketika ada kawan lain atau kenalan yang bertanya “Kapan menyusul?”. Pertanyaan yang cukup apatis, arogan namun cukup mengena bagi saya dan juga mengingatkan saya bahwa terlalu banyak kawan yang sudah mengambil keputusan untuk melangkah lebih maju, yaitu ke jenjang pernikahan. Lontaran pertanyaan itu sudah terlalu sering menghinggapi telinga saya dan sayapun selalu menjawab dengan senyum lebar dan dengan tampang tidak berdosa ” Menyusul kemana yah?” walau sebenarnya saya sudah sangat menyadari bahwa usia saya sudah dekat.. dekat dengan usia pernikahan, menyusul kawan-kawan saya yang sudah lebih dulu melangkah ke jenjang itu. :p

Acara pernikahan diakhiri dengan senyum ceria kami semua. Senyum keceriaan dari kami yang bereuni di acara pernikahan serta senyum kebahagiaan mempelai sekeluarga yang baru melangkah ke jenjang kehidupan berumah tangga. Pernikahan bukan hasil akhir dari sebuah hubungan kasih sepasang manusia yang berbeda jenis, tetapi pernikahan merupaan awal dari sebuah kehidupan yang menyatukan 2 manusia yang berbeda serta dua keluarga yang berbeda latar untuk mengarungi susah senang bersama untuk memperoleh kebahagiaan sampai akhir kehidupan.

Selamat menempuh hidup Baru Tiwi dan Arman. Semoga langgeng dan bahagia sampai akhir hayat..🙂

Sekian

^Tan^

About tantri

I am nobody who really want to be somebody. Extremely introvert cheerful and easy going girl.. :) Thanks for visiting this blog... ^^

Posted on October 24, 2012, in experince. Bookmark the permalink. 4 Comments.

  1. Picture mana Twin??

    • :p sebenarnya aku nda brani up-load foto orang lain twin.. perlu perijinan.. apalagi foto privacy pernikahan.. iya ndak sih? :p ntar aku up-load foto rame2nya dehh.. ^^

  2. yeeaahh… siapa sangka, setahun kemudian, si penulis Blog lah yang akan menyusul . Happy Wedding Twiny… #biggest hug

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: