Ketidak jujuran kecil: Mencontek dikala ujian…


Kejadian-kejadian yang dulu pernah saya alami,sekarang justru terbalik berada tepat didepan saya.. Ujian mahasiswa.. hahahah.. dulu ketika saya mahasiswa, saya sering mengalami hal-hal seperti yang saya lihat sekarang. Bedanya, dulu saya duduk dikursi mahasiswa dan berjibaku dengan beberapa lembar soal-lampiran dan lembar jawaban tetapi sekarang justru saya berada didepan mahasiswa sambil asik menulis blog sambil mengamati grak-gerik mahasiswa yang kelabakan dengan soal ujiannya. Kalau mereka agak berisik dan berusaha untuk Tanya ke kawan sebelahnya, tinggal saya omelin saja..upppss.. maksudnya saya peringatkan dan mereka sudah takut sejenak tetapi mungkin akan mengulanginya nanti.. haahaa.. itulah mahasiswa..

Baiklah.. berdasarkan beberapa pengamatan saya didepan ditambah dengan pengalaman saya ketika masih menjadi mahasiswa, gerak-gerik mencontoh yang dilakukan mereka sangat mudah untuk terlihat. Contohnya saja, mahasiswa yang tepat berada didepan saya ini, dengan santainya dia menutupi wajahnya dengan kertas,mungkin pura-pura membaca, tetapi pandangannya dialihkan ke lembar jawaban teman sebelahnya. Lalu setelah saya Tanya “Ngapain mas? Kalau ada yang tidak jelas,silahkan Tanya langsung ke saya?” Lalu si mahasiswa itu hanya geleng-geleng kepala.. Entah maksudnya apa. Yang pasti kegiatan mencontoh teman sebelah sudah usai sejenak. Ehhh,diulangi lagi di beberapa menit setelahnya.. Dasaar mahasiswa… Walau memang masih ada beberapa mahasiswa yang anteng menunduk dan berkonsentrasi dengan pekerjaannya masing-masing.

Usaha demi usaha,apapun itu, terus dilakukan oleh para mahasiswa demi mendapatkan sebuah jawaban penuh untuk menghiasi lembar jawabannya. Entah mereka nggremeng-nggremeng berdiskusi dengan teman belakangnya,teman sebelahnya atau cara lain apa yang mereka usahakan demi jawaban itu. Bukan ujian mendadak dan bukan ujian yang terlalu sulit karena beberapa latihan soal yang hamper sama sering dilakukan pada mereka di minggu-minggu sebelumnya, tetapi rasa percaya diri mereka dalam menjawab soal rasanya masih kurang. Atau mungkin kemampuan penyerapan materi mereka yang masih belum sempurna.. ataaauu memang,mereka sama sekali tidak bersiap-siap untuk quis hari ini karena merasa akan lebih mudah untuk langsung bertanya kepada teman sebelahnya atau memasrahkan segalanya kepada Tuhan.

Yah begitulah hasil dari korban system yang sebenarnya perlu diperbaiki. Dimana akhir dari suatu jenjang pendidikan hanya semata-mata dinilai berdasarkan hasil akhir berupa point/nilai mata pelajaran/kuliah bukan berdasarkan prosentase kemampuan dan ilmu yang dapat terserap. Sehingga pada akhirnya siswa merasa dituntut untuk memperoleh nilai yang tinggi entah apapun usaha yang dilakukan, entah ngerti apa tidak dengan pelajaran tersebut. Pokoknya harus nilai tinggi.. pokoknya harus lulus cepat.

Mungkin saya, tidak bermaksud untuk menyombongkan diri, bukan salah satu dari korban system itu. Mungkin hal tersebut dimulai dari pengalaman saya ketika saya mengikuti ujian akhir sekolah dasar yang ketika itu mulai diterapkannya standard nilai minimal kelulusan. Akhirnya,mau tidak mau, untuk memperoleh suatu predikat yang baik, sekolah dasar saya (mungkin hampir semua sekolah dasar) menghimbau kepada murid yang dianggap pandai, saya adalah salah satu diantaranya, untuk memberikan jawaban kepada murid yang dianggap tidak pandai. Mulai saat itulah saya mengenal dan diajarkan tentang ketidak jujuran. Ketidak jujuran itulah yang membawa saya ke sekolah menengah pertama ter-favorit dikota. Kebanggaan tersendiri memang,tetapi akibatnya ditahun pertama,ketidak jujuran itu terus saja terjadi pada saya. Saya jarang belajar ketika ujian karena merasa mampu menjawan dengan melihat jawaban teman. Akhirnya kemampuan saya Nol besar ketika itu. Bisa dibilang, saya tidak dapat apa-apa ditahun pertama saya sekolah. Ditahun kedua, saya mulai merubah pikiran saya, bahwa untuk mendapatkan suatu hasil yang baik dan sesuai harapan,perlu kerja keras. Untuk mendapatkan nilai yang memuaskan,butuh kerja keras,belajar dengan rajin dan juga kejujuran. Nah,sejak itulah saya berusaha untuk mengupayakan otak saya sendiri. Saya tidak mau contohan, memberi contoan atau mencontoh. Tetapi jika kawan saya mau berusaha untuk belajar,maka saya akan bersedia mengajari mereka. Begitulah seterusnya. Hingga pada ujian akhir, saya masih mengusahakan kejujuran itu manakala himbauan akan ketidak jujuran juga dilakukan pihak sekolah atas dasar nama baik sekolah untuk mendapatkan standard kelulusan yang tinggi. Alhasil, teman-teman yang saya rasa masih dibawah kemampuan saya berhasil memperoleh nilai sangat fantastic dan mendapatkan sekolah menengah atas terfavorit sedangkan saya mendapatkan sekolah favorit walau bukan terfavorit tetapi dengan usaha sendiri. Oke, bedanya adalah saya sering ditunjuk untuk mewakili siswa sekolah saya dalam mengikuti olimpiade science maupun kegiatan ilmiah remaja. Sedangkan teman-teman yang memperoleh hasil baik sehingga diterima disekolah ter-favorit tidak memiliki keistimewaan apa-apa disana.

Prinsip kejujuran dan berusaha maksimal dalam menjalani segala hal masih terus saya terapkan hingga saya sampai ke jenjang mahasiswa. Ujian SMA pun saya tidak pernah mencontoh, hingga SPMB pun saya terbiasa dengan tetap tenang dan percaya diri dalam menjawab soal. Sebaliknya kawan-kawan yang terbiasa bertindak tidak jujur pasti kelabakan dalam mengerjakan soal-soal ujian Negara yang dijaga ketat tersebut. Sayapun diterima di pilihan pertama saya dalam ujian Negara. Hasil apa untuk masa kini saya, saya terbiasa dengan melakukan hal-hal yang memang sesuai dengan kemampuan saya dan saya terbiasa dengan bekerja keras untuk memperoleh hasil yang maksimal sesuai dengan keinginan serta menerapkan kejujuran dalam bertindak.

Mungkin, yang terjadi pada mahasiswa didepan saya kali ini adalah hasil dari kebiasaan-kebiasaan lama yang diterapkan mulai sekolah dasar. Dimana hasil akhir berupa nilai/point lah yang dijadikan sebagai standard apresiasi,sedangkan seberapa besar kemampuan dan seberapa berat upayanya tidak memperoleh apresisasi yang lebih. Sehingga mereka terbiasa melakukan tindakan-tindakan yang melenceng untuk mendapatkan apresiasi berupa nilai. Bertindak tidak jujur dengan “mencuri” jawaban kawan tanpa mau berusaha adalah salah satu tindakan yang sering dilakukan. Tidak ada kemauan berusaha keras untuk bisa serta kemudahan untuk “mencuri” jawaban temanlah yang membawa mereka memiliki kebiasaan buruk tersebut. Kebiasaan buruk yang mulai terpatri dari masa kanak-kanak akan sulit hilang apabila tidak didasari oleh kesadaran yang tinggi untuk menghilangkannya.

Mungkin inilah salah satu kebiasaan kecil yang membangkitkan sifat ketidak jujuran manusia Indonesia yang juga menjangkiti kebiasaan aparatur Negara sehingga muncul istilah KorupsiKolusiNepotisme.

Maka, mari berantas ketidak jujuran sejak dini. Dimulai dari diri sendiri, bersikaplah jujur kawan, juga adil.. !!!

^Tan^

Posted on December 17, 2012, in experince. Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. Selain nilai akademis, masukan dari saya sudah saatnya sistem pendidikan mengajarkan bagaimana mengembangkan kepercayaan diri, kemampuan non akademis yang lebih banyak menentukan didunia kerja. Bagaimana melatih berbicara didepan umum, berdiplomasi, kemampuan bernegosiasi dan bekerjasama yang menurut saya juga penting.

    Blog walking. Salam dari konco lawas

    • Saatnya juga sistem pendidikan Indonesia mengajarkan student nya untuk mengkritisi hal-hal kecil yang ada disekitarnya seperti sistem High education di negara barat. Dengan adanya pikiran kritis, student jadi bertanya dan berusaha mencari jawaban dengan meneliti dan menemukan sesuatu yang baru dan benar dengan caranya sendiri. Kalau sifat kritis digabung dengan komunikasi yang baik dan mempresent sesuatu dng baik, bisa saja sebagian besar penduduk Indonesia yang konon kabarnya ke-3 terbanyak didunia dapat menciptakan hal-hal yang baru demi kemajuan Indonesia dan dunia…🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: