Vihara Avalokiteswara : wujud ke-Bhinekaan yang tetap satu juga


24 Desember 2012…

Pagi yang cerah dengan hawa yang hampir-hampir hujan, sangat layak untuk bangun siang hari ini. Niat dan tekat bulat untuk bangun siang sudah saya sematkan dengan gigih tadi malam.. yaaa.. hari ini saya akan bangun siang. Liburan kecepit Nasional dalam rangka hari raya Natal membuat gairah bangun pagi saya luluh lantak diterjang badai liburan dan badai kemalasan.. hahahah… #lebay dot com# dan akhirnya, jam menunjukkan lewat pukul 6 pagi,tetapi saya masih berasyik-masyuk dengan bantal,guling dan selimut saya.. huaaaahh..nikmatnya bangun siang tanpa digentayangi oleh detlen-detlen pekerjaan…

tapiii.. upppss… telpon berdering..5 menit kemudian,ibu menerjang (serem amat bahasanya…) pintu kamar saya yang secara langsung dan tidak langsung saya sudah merasa bahwa tekad bangun siang saya dipudarkan oleh ibu. “ayoo ke Madura… 10 menit lagi kita dijemput” kata ibu dengan santainya. Hualaaaaahh… padahal kemarin saya sudah berkoar-koar kalau ndak mau ikut,tapi kok ya diajak juga sih.. #dasaar ibu😦

walhasil, dengan tidak ada semangat dan konsentrasi untuk mandi dan bersiap-siap, sayapun harus bersiap dalam waktu singkat. Walaupun waktunya singkat, tetapi saya masih sempet mandi kok sodara-sodara..😀 dan akhirnya, sang penjemputpun datang dan kita bertolak ke Pamekasan-Madura. Nah, karena tujuan kali ini menurut saya mengasiknya dan sayapun belum pernah berkunjung kesana membuat saya antusias #walau ngantuk#. Kunjungan saya kali ini adalah ke Vihara Avalokitesvara yang berlokasi kurang lebih 17 meter sebelah timur kota Pamekasan yaitu tepatnya di pantai Talang Siring Kampung atau Dusun Candi, Desa Polagan, Kecamatan Galis. Kalau dari kota surabaya sendiri, jarak lokasi ini adalah sekitar 126 km yang dapat ditempuh dalam waktu 2 jam 34 menit.

Surabaya-madura

Yuppzz perjalanan yang ber-unsur ritual-pun dimulai. Sebelum bercerita lebih lanjut untuk mengetahui apa saja yang ada disana, sebaiknya kita lihat sejarah awal mula berdirinya Vihara ini dan keunikan-keunikan yang ada didalamnya. Sebenarnya saya bukan penganut Ajaran Tri Dharma, Konghuchu keturunan China ataupun beragama Budha. Tetapi sangat menyenangkan untuk tau lebih dekat bagaimana keyakinan dan kepercayaan mereka sehingga saya pribadi dapat lebih menghormati ajaran-ajaran mereka.

Vihara Avalokitiswara

Vihara Avalokitesvara Pamekasan Lithang Pamekasan

SEJARAH VIHARA AVALOKITESVARA

(SUMBER)

Pada awal abad ke-16 terdapat sebuah Kerajaan Jamburingin di daerah Proppo sebelah barat Pamekasan, yang menjadi bagian dari Kerajaan Majapahit. Raja-raja Jamburingin yang masih keturunan Majapahit itu mempunyai rencana membangun candi untuk tempat beribadah, tepatnya di kampung Gayam, kurang lebih dua kilometer ke arah timur Kraton Jamburingin, dan mendatangkan perlengkapannya lewat Pantai Talang dari Kerajaan Majapahit. Dahulu Pantai Talang dijadikan tempat berlabuh perahu-perahu dari seluruh penjuru Nusantara karena karena pantainya yang landai dan bagus pemandangannya. Terlebih bagi armada Kerajaan Majapahit untuk mensuplai bahan-bahan keperluan keamanan ataupun spiritual di wilayah Pamekasan. Di antaranya, pengiriman patung-patung dan perlengkapan ibadah.

Namun, setelah tiba di pelabuhan Talang, kiriman patung-patung dari Majapahit ke Kraton Jamburingin sama sekali tidak terangkat setelah tiba di Pelabuhan Talang. Penduduk pada waktu itu hanya bisa mengangkat beberapa ratus meter saja dari pantai. Akhirnya, penguasa Kraton Jamburingin memutuskan untuk membangun candi di sekitar pantai Talang. Tempat Candi yang tidak terwujud itu, sekarang dikenal dengan Desa Candi Burung merupakan salah satu desa di Kecamatan Poppo, yang lokasinya berdekatan dengan Desa Jamburingin. Burung dalam bahasa Madura berarti gagal (tidak jadi). Rencana pembangunan candi di Pantai Talang pun tidak terlaksana seiring perkembangan kejayaan Kerajaan Majapahit yang mulai pudar serta penyebaran agama Islam mulai masuk dan mendapat sambutan yang sangat baik di Pulau Madura, termasuk daerah Pamekasan. Akhirnya, patung-patung kiriman dari Majapahit pun dilupakan orang, serta lenyap terbenam dalam tanah.

Sekitar tahun 1800, Pak Burung tidak sengaja menemukan patung-patung dari Majapahit tersebut di ladangnya. Kabar penemuan itu sangat menarik perhatian penjajah Belanda. Pemerintah Hindia Belanda meminta Bupati Pamekasan Raden Abdul Latif Palgunadi alias Panembahan Mangkuadiningrat I (1804-1842) untuk mengangkat dan memindahkan patung-patung tersebut ke Kadipaten Pamekasan. Tetapi, karena keterbatasan peralatan saat itu, proses pemindahan patung-patung tersebut ke Kadipaten Pamekasan gagal juga. Patung-patung tersebut tetap berada di lokasi ketika ditemukan. Kurang lebih 100 tahun kemudian, sebuah keluarga Tionghoa membeli ladang tempat penemuan patung-patung tersebut. Setelah dibersihkan, diketahui bahwa patung-patung tersebut bukan sembarang patung. Patung-patung tersebut memiliki khas Buddha beraliran Mahayana yang punya banyak penganut di daratan Tiongkok.

Salah satu patung itu ternyata patung Kwan Im Po Sat alias Avalokitesvara. Tingginya 155 sentimeter, tebal tengah: 36 cm dan tebal bawah: 59 cm . Kabar ini pun tersebar luas di kalangan orang Tionghoa di Pamekasan dan Pulau Madura umumnya. Sejak itulah dibangun sebuah kelenteng untuk menampung patung Kwan Im Po Sat, Dewi Welas Asih yang sangat dihormati di kalangan masyarakat Tionghoa.

KEUNIKAN VIHARA INI

(sumber)

Uniknya, di Vihara Avalokitesvara atau kelenteng Kwan Im Kiong Candi Pamekasan Madura yang notabene sebagai tempat ibadah umat Tri Darma, juga terdapat tempat ibadah untuk umat beragama lain, yaitu Pura untuk umat Hindu dan Mushalla untuk umat Islam. Rencananya akan dibangun lagi sebuah gereja untuk umat Nasrani. Dibandingkan dengan Vihara sendiri, musholla yang ada ada di lingkungan Vihara Avalokisvara Candi Pamekasan,  memang tidak terlalu besar. Berukuran hanya 4×4 meter. Akan tetapi, pihak Vihara, menyediakan perlengkapan ibadah di musholla ini. Tempat berwudlu, sajadah, mukena dan tasbih. Jarak musholla dengan Vihara hanya sekitar 10 meter yang terbatas oleh dinding. Lokasi Pura paling dekat dengan Vihara. Ukuran Pure lebih kecil dari musholla, yakni hanya 3×3 meter. Pembangunan Pura sendiri, sebenarnya atas prakarsa Kapolwil Madura saat itu, yang berasal dari Bali dan menganut Agama Hindu yang menyarankan membangun Pura. MURI (Museum Rekor Dunia Indonesia) telah mencatat, bahwa Vihara Avalokistesvara Candi Pamekasan Madura merupakan sebuah vihara terunik, karena di dalamnya terdapat bangunan Musholla dan Pura. Hal ini merupakan sebuah simbol kerukunan umat beragama yang penganutnya hidup rukun dan berdampingan.

rekor MURI pamekasan

Keunikan lain berdasarkan informasi yang saya dapatkan dari bapak penjaga Vihara disana adalah, hanya dikawasan tempat ibadah itulah air sumur yang dihasilkan berasa tawar dan segar. Namun, air sumur yang berada diluar batas tempat-tembah ibadah tersebut berasa asin karena dekat dengan pantai. Setelah saya tanya mengapa terjadi demikian, bapak tersebut meyakini bahwa hal tersebut merupakan kuasa Tuhan yang maha pengasih.

PERJALANAN SAYA DI TEMPAT IBADAH

Sesampainya saya disana, saya sudah disuguhkan oleh beberapa keunikan. Lokasi tempat-tempat ibadah ini terdapat diarea yang agak nyelempit yang berada di desa diarea persawahan dimana jalanannya belum berlapis aspal. Hal inilah yang membawa kesan alami dari kawasan tersebut. Selain itu, pintu gerbang yang sangat terlihat perpaduan budaya mencerminkan keunikan area tersebut. Pintu gerbang Vihara bercirikan arsitektural khas Indonesia lebih tepatnya yaitu merupakan perpaduan antara Jawa dan Bali, serta Bangunan tinggi disebelahnya yang berwarna dominan merah menambah ke-khasan negeri China. Kebetulan hari itu tidak ada perayaan apa-apa sehingga lokasi tersebut sepi pengunjung. Hanya ada beberapa gelintir orang yang melakukan peribadahan disana dan beberapa orang berseragam yang masih melayani tamu-tamu yang melakukan peribadatan disana.

Memasuki area tersebut, saya disambut ramah oleh beberapa pengunjung yang merupakan keturunan China disana dan beberapa penjaga. Rata-rata, penjaga disana beragama muslim dan merupakan penduduk asli Madura. Walau muslim mereka tahu cara peribadatan agama Budha, Konghuchu dan Hindu di masing-masing tempat peribadatan disana. Musalla yang merupakan tempat beribadah mereka para pegawai muslim disana juga tersedia. Sejenak saya berkeliling, tanpa bermaksud mengganggu peribahan mereka disana dan tanpa bermaksud buruk,saya mengambil gambar dan berfoto-foto di beberapa tempat yang saya anggap unik. Saya juga sempat mencoba cara peribadatan Konghucu dan Budha disana. Saya ikut berdoa disana, menyalakan lilin dan membakar Kimcoa. Menurut orang disana, Kimcoa ini merupakan “kiriman” kita yang masih hidup didunia ini untuk para leluhur yang sudah berada dialam yang berbeda. Selain itu, tentu saya juga bersembahyang di Pura yang terletak diantara tempat peribadatan Konghuchu dan Budha. Arsitektural tepat peribadat Konghucu didominasi dengan warna merah seperti tempat peribadat di China umumnya, tempat peribadatan Budha pun juga memiliki arsitertur yang unik. Terbuat dari batuan hitam dan didesain megah. Tempat peribadatan umat Hindupun juga didesain seperti tempat peribadatan Hindu di Bali. Jadi, didalam area peribadatan tersebut, terdapat beragam desain dan arsitektural sehingga nilai seninya masih sangat terlihat dibalik kesakralan tempat ibadah.

tempat peribatan Agama BudhaBagian dalam tempat peribadatan Agama Budha Tempat istirahat Biksu Pura di dalam pelataran Vihara

Saya sempat berjalan-jalan sejenak setelah sembahyang, lalu berfoto dan kemudian ngobrol dengan beberapa orang disana. Saya sangat suka tempat tersebut karena kedamaian yang diciptakan dari suatu perbedaan yang ada disana. Tidak ada diskriminasi yang mengatas-namakan Agama, tidak ada saling menjatuhkan dan saling menghina antar keyakinan. Yang ada disana adalah persatuan- suatu keBhinekaan yang tetap satu. Suatu perbedaan yang tetap membawa masing-masing didalamnya kejalan perdamaian yang indah. Seperti kutipan yang saya dapatkan dalam suatu blog berikut ini:

“Tidak ada gunanya perbedaan agama dipermasalahkan, karena agama merupakan keyakinan tiap-tiap pribadi, dalam menjalin hubungan antara manusia dengan Tuhannya.” Keyakinan bahwa agama merupakan sesuatu yang sangat individu dalam hubungannya antara manusia dengan Tuhan ini, ternyata tidak hanya dalam tataran konsep hasil pemikiran, namun termanifestasi dalam kehidupan dunia nyata. Seperti halnya di Vihara Avalokitesvara ini.

Setelah usai bersembahyang dan menikmati suasanan disana, kamipun beranjak pulang. Semoga kedamaian dalam perbedaan yang ada di Vihara tersebut juga akan ada disemua tempat di Indonesia yang berBhineka ini.🙂

Saya dan ibu dengan background Pura dan Wihara saya di pintu gerbang Vihara

Sekian

^Tan^

About tantri

I am nobody who really want to be somebody. Extremely introvert cheerful and easy going girl.. :) Thanks for visiting this blog... ^^

Posted on December 30, 2012, in experince. Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. enaknya tan sampe jalan-jalan ke madura sana..dalam rangka apa itu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: