Banjir Jakarta : Sebuah rutinitas dan realitas sebuah kota Metropolitan


ImageJakarta, adalah sebuah kota megah-kota metropolitan dimana disana merupakan suatu kiblat kesuksesan dari sekian juta manusia yang merantau didalamnya. Kota yang merupakan icon ke-metropolatan sebuah negara dan dijadikan salah satu pusat perekonomian suatu negara dan suatu benua. Juga sebuah kota megah yang didalamanya dibangun menjulang gedung-gedung pencakar langit puluhan bahkan ratusan lantai serta dibangun megahnya untaian-untaian jalan melayang atau bahasa bekennya flyover dengan sistem transportasi umumnya yang lebih modern dibanding kota lain di Indonesia. Jakarta-sebuah kota dengan kehidupan yang berjalan aktif 24 jam yang seolah tak pernah tidur dari hiruk pikuk aktivitas demi berjalannya suatu sistem ekonomi negara. Hiruk pikuk dan kesibukan Jakarta memang betul-betul menjadi daya tarik tersendiri bagi para pendatang yang mengusung pola Urbanisasi. Orang desa berbondong-bondong masuk ke kota. Orang kota pinggiran,berbondong-bondong mencari penghidupan yang konon katanya menjanjikan di Jakarta. Jutaan manusia tumplek-blek dikota metropolitan ini. Setiap tahun,lebih tepatnya setiap setelah lebaran, peningkatan jumlah penduduk Jakarta semakin menjadi-jadi. Mall baru diibangun, pendatang barupun berbondong-bondong ingin bekerja disana. Dan Jakarta menjadi penuh sesak… Bangunan bertambah sebanding dengan korelasi peningkatan jumlah penduduk didalamnya. Sehingga jakarta menjadi penuh sesak. Setiap tahun jakarta seolah kebanjiran pendatang dan setiap tahun pulalah Jakarta juga kebanjiran oleh air. yaa.. kebanjiran air dalam arti yang sebenarnya.

Jakarta memang megah, namun inilah salah satu dari sekian banyak kekurangan dari kota ini yaitu; Banjir. Banjir Jakarta seolah-olah tidak pernah luput dari sasaran pemberitaan empuk masyarakat. Apabila distatistik secara kasar, banjir Jakarta akan terjadi setiap tahun dan banjir besar Jakarta paling tidak akan datang setiap 5 tahunan. 5 tahun lalu, sekitar tahun 2007an banjir besar seperti yang terjadi kali ini di Jakarta juga terjadi. Genangan air tidak lagi berukuran milimeter maupun sentimeter yang sebanding dengan ukuran mata kaki manusia. Banjir yang terjadi kini sudah sampai ukuran yang lebih, “dengkul”, “lutut”, “paha”,”pinggang’ dan “dada” sudah menjadi patokan ukuran banjir yang terjadi di Jakarta. Banyak warga mengungsi. Jajaran pemerintahan daerah sampai kepemerintahan pusatpun turut kebanjiran. Berbondong-bondonglah beliau-beliau meninjau lokasi banjir. Berbondong-bondonglah beliau-beliau menghimbau,menyuruh,memerintahkan atau apalah bahasanya kepada bawahan-bawahannya untuk bersama-sama mengerahkan tenaga untuk meredakan kepanikan dalam musibah langganan ini. Perintah-perintah yang terjadi spontan atau setelah kejadian yang dilakukan beliau-beliau tersebut memang tokcer dilakukan dalam jangka pendek,tetapi bagaimana dengan jangka panjang? Mengapa banjir di Jakarta dapat terus terjadi seperti itu? Apa antisipasi yang semestinya harus dilakukan?

Banjir Jakarta: sejarah masa lampau

Banjir merupakan peristiwa yang akrab bagi kota-kota di Pantai Utara Jawa termasuk kota Jakarta.  Jakarta yang dibangun oleh Jan Pieters Z. Coen di awal abad ke 17 dengan konsep kota air (waterfront city) merupakan kota yang sangat akrab dengan permasalahan banjir sejak awal pendiriannya. Pada waktu didirikan di tahun 1619 pada lokasi kota pelabuhan Sunda Kelapa, Batavia dirancang dengan kanal-kanal seperti kota Amsterdam dan kota-kota lain di Belanda. Secara historis semenanjung dan Teluk Jakarta memang rawan banjir akibat peningkatan debit air sungai-sungai Cisadane, Angke, Ciliwung dan Bekasi pada musim hujan. Tetapi saat itu desain ini gagal diterapkan karena tingginya sedimentasi dan rendahnya pemeliharaan saluran dan kanal.

Empat puluh persen atau sekitar 24.000 ha dari seluruh wilayah DKI Jakarta adalah dataran yang letaknya lebih rendah dari permukaan laut. Dataran yang rendah ini dialiri oleh tiga belas sungai yang bermuara di Laut Jawa. Saat ini Jakarta juga merupakan kota dengan jumlah penduduk tertinggi di Indonesia dan jumlah ini terus bertambah karena daya tarik kota ini sebagai pusat perekonomian Indonesia. Tingkat pertambahan penduduk yang tinggi ini menimbulkan tekanan pada lingkungan hidup Jakarta yang semakin lama semakin berat. Perpaduan antara kondisi geografis yang rendah dan dialiri oleh banyak sungai, serta kian rusaknya lingkungan hidup akibat tekanan pertumbuhan penduduk, menyebabkan Jakarta kian lama kian rentan terhadap ancaman bencana banjir. Banjir di Kota Jakarta berkaitan erat dengan banyak faktor seperti, antara lain, pembangunan fisik di kawasan tangkapan air di hulu yang kurang tertata baik, urbanisasi yang terus meningkat, perkembangan ekonomi dan perubahan iklim global. Sesungguhnya banjir di kota ini bukanlah masalah baru. Pemerintah kolonial Belanda pun sudah sedari awal dipusingkan dengan banjir dan tata kelola air Jakarta. Hanya berselang dua tahun setelah Batavia dibangun lengkap dengan sistem kanalnya, tahun 1621 kota ini mengalami banjir. Ini adalah catatan pertama dalam sejarah Hindia Belanda, di mana pos pertahanan utama VOC di Asia Timur itu dilanda banjir besar (”Warisan Batavia untuk Jakarta”, artikel dalam Harian Kompas 11 November 2007) . Selain itu banjir-banjir kecil hampir setiap tahun terjadi di daerah pinggiran kota, ketika wilayah Batavia telah melebar hingga ke Glodok, Pejambon, Kali Besar, Gunung Sahari dan Kampung Tambora. Tercatat banjir besar terjadi antara lain pada tahun 1654, 1872, 1909 dan 1918.

Banjir besar yang terjadi pada tahun 1918 membuat hampir seluruh kota tergenang. Dilaporkan pada saat itu ketinggian air sempat mencapai setinggi dada manusia (“Banjir Batavia, banjir kanal dan van Breen” artikel dalam Harian Kompas 5 Februari 2007 ). Salah satu upaya penanggulangan banjir yang dilakukan oleh Pemerintah kolonial setelah banjir besar 1918 adalah membangun saluran air yang disebut sebagai Banjir Kanal Barat pada tahun 1922. Pembangunan Banjir Kanal Barat merupakan ide ahli tata kelola air, Herman van Breen. Kanal ini terutama dibangun untuk melindungi kawasan Kota dari banjir tetapi tidak melindungi daerah-daerah lainnya. Panjang Banjir Kanal Barat adalah 17,5 km dan pada waktu itu kanal ini terhitung hebat karena mampu mengatur air yang masuk ke kota Batavia, dan menampung air Sungai Ciliwung, Sungai Cideng, Sungai Krukut dan Sungai Grogol. Saat itu jumlah penduduk masih relatif sedikit; tahun 1930 tercatat penduduk Batavia hanya berjumlah 811.000 orang (The Ecology of Java and Bali oleh Tony Whitten, Roehayat Emon Soeriaatmadja dan Suraya A Afif, diterbitkan oleh Periplus, 2000). Tekanan penduduk pada lingkungan alam Jakarta ketika itu belumlah sebesar sekarang sehingga Herman van Breen berhasil dengan mudah melindungi kawasan Kota dari banjir.

Banyak perubahan telah terjadi sejak tahun 1920-an. Kondisi alam Jakarta telah berubah drastis akibat pertumbuhan penduduk dan perluasan kawasan permukiman serta industri. Jika sebelumnya curah hujan dapat meresap ke dalam tanah dan sisanya tersalurkan ke sungai, pembangunan fisik yang terjadi telah menutupi daerah-daerah resapan air. Karena luas daerah yang tidak terbangun semakin lama semakin menyempit, curah hujan yang terjadi di Jakarta sekarang langsung tersalurkan ke sungai dan saluran-saluran air lainnya untuk kemudian dialirkan ke laut.

Banjir Jakarta: kini dan nanti

Dalam empat dasawarsa terakhir ini, peningkatan jumlah penduduk Jakarta yang berlangsung pesat telah menyebabkan kawasan resapan air berkurang drastis karena beralih fungsi menjadi daerah permukiman dan industri. Lahan terbuka digantikan oleh rumah dan bangunan, dan yang tersisa pun ditutupi oleh jalan aspal atau pelataran parkir sehingga tidak mampu menyerap air. Air hujan yang tidak teresap berubah menjadi aliran permukaan yang mengalir ke sungai, yang selanjutnya dialirkan ke laut sesuai kapasitas sungai-sungai yang ada dalam menampung air tersebut. Dalam jumlah besar, air hujan yang tidak tertampung akan menjadi banjir. Terjadinya banjir akan tergantung pada tingginya curah hujan di hulu dan di wilayah Jakarta sendiri, volume sampah yang membuat sungai-sungai menjadi mampet dan dangkal, serta pasang surutnya air laut. Bila salah satu faktor yang disebutkan ini sedang berada dalam keadaan tidak normal, terjadilah banjir dan genangan air di beberapa kawasan yang rendah di ibukota. Bila semua faktor berada dalam keadaan tidak normal, banjir besar akan menimpa Jakarta. Faktor perubahan iklim juga akan berdampak besar terhadap kondisi Jakarta.

Salah satu dampak perubahan iklim global pada Kota Jakarta adalah kenaikan paras muka air laut. Pemuaian air laut dan pelelehan gletser dan lapisan es di kutub menyebabkan permukaan air laut naik antara 9 hingga 100 cm. Kenaikan paras muka air laut dapat mempercepat erosi wilayah pesisir, memicu intrusi air laut ke air tanah, dan merusak lahan rawa pesisir serta menenggelamkan pulau-pulau kecil. Kenaikan tinggi muka air laut antara 8 hingga 30 centimeter akan berdampak parah pada Kota Jakarta yang rentan terhadap banjir dan limpasan badai. Di Ibukota masalah ini diperparah dengan turunnya permukaan tanah akibat pendirian bangunan bertingkat dan pengurasan air tanah secara berlebihan. Suatu penelitian memperkirakan bahwa kenaikan paras muka air laut setinggi 0,5 meter dan penurunan tanah yang terus berlanjut dapat menyebabkan enam lokasi di Jakarta dengan total populasi sekitar 270.000 jiwa terendam secara permanen, yakni di kawasan Kosambi, Penjaringan dan Cilicing dan tiga lagi di Bekasi yaitu di Muaragembong, Babelan dan Tarumajaya. Sebuah studi lain yang berfokus pada dampak perubahan iklim di Asia Tenggara dan memberi peringkat pada kerentanan negara-negara di Asia Tenggara terhadap perubahan iklim menemukan beberapa hal menarik tentang DKI Jakarta (”Climate Change Vulnerability Mapping for Southeast Asia” by Arief Anshory Yusuf and Herminia Francisco for the Economy and Environment Program for Southeast Asia, Singapore, January 2009). Dari 530 wilayah kota di tujuh negara yang dikaji, yakni Indonesia, Thailand, Kamboja, Laos, Vietnam, Malaysia dan Philipina, lima wilayah kota administrasi di DKI Jakarta masuk dalam 10 besar kota yang rentan terhadap perubahan iklim. Tak tanggung-tanggung, dari 10 besar tersebut tiga wilayah kota administrasi di DKI Jakarta menempati tiga urutan tertinggi, yaitu Jakarta Pusat di urutan pertama, kemudian Jakarta Utara di posisi kedua dan Jakarta Barat di posisi ketiga. Sedangkan Jakarta Timur masuk dalam urutan ke lima dan Jakarta Selatan urutan ke delapan. Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu tidak masuk dalam wilayah yang rentan terhadap perubahan iklim. Sepuluh wilayah kota yang rentan terhadap perubahan iklim di Asia Tengara adalah10 (“DKI rentan perubahan iklim” artikel diunduh dari http://www.beritajakarta.com pada tanggal 8 Mei 2009) :

  • Jakarta Pusat (DKI Jakarta)
  • Jakarta Utara (DKI Jakarta)
  • Jakarta Barat (DKI Jakarta)
  • Mandol Kiri (Kamboja)
  • Jakarta Timur (DKI Jakarta)
  • Rotano Kiri (Kamboja)
  • National Capital Region (Filipina)
  • Jakarta Selatan (DKI Jakarta)
  • Bandung (Jawa Barat)
  • Surabaya (Jawa Timur)

Studi yang dilakukan oleh Economy and Environmental Program for Southeast Asia (EEPSEA) ini menciptakan sebuah Climate Hazard Index yang dibangun berdasarkan faktor-faktor: angin puyuh (cyclone), banjir, musim kering antara tahun 1980-2000, kerentanan terhadap longsor, dan peningkatan ketinggian air laut. Studi EEPSEA menemukan bahwa tingkat kepadatan penduduk merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan perubahan iklim dan bagaimana suatu daerah dapat mengantisipasi dan beradaptasi terhadap perubahan iklim.

Banjir, factor penyebab?!

Berbagai faktor penyebab memburuknya kondisi banjir Jakarta saat itu ialah pertumbuhan permukiman yang tak terkendali disepanjang bantaran sungai, sedimentasi berat serta tidak berfungsinya kanal-kanal dan sistem drainase yang memadai. Hal ini mengakibatkan Jakarta terutama di bantaran sungai menjadi sangat rentan terhadap banjir. Berdasarkan dokumentasi, Kota Jakarta dilanda banjir besar pada tahun 1621, 1654, dan 1918. Selanjutnya banjir besar juga terjadi pada tahun 1976, 1996, 2002, dan 2007. Banjir Jakarta pada tahun 1996 terjadi pada seluruh penjuru kota serta menjadi tragedi nasional yang menjadi pusat perhatian. Pada tahun 2002 dan 2007, banjir kembali melanda Jakarta dan sekitarnya dengan dampak yang lebih luas dan parah.

Banjir besar Jakarta tahun 1997 rupanya bukan hanya menciptakan tragedi nasional tetapi juga menarik perhatian seluruh dunia. Banjir tersebut dilaporkan menggenangi 4 Kelurahan, 745 rumah, serta mengakibatkan 2.640 orang harus mengungsi. Banjir tsb dilaporkan mencapai rata – rata tinggi 80 cm. Pada Tahun 2002 dan 2007 dilaporkan Banjir Jakarta memburuk dengan penambahan luas genangan banjir dan dampak keuangan yang lebih besar. Banjir besar tahun 2002 dilaporkan menggenangi Jakarta, Tangerang dan Bekasi. Banjir tsb dilaporkan membunuh 2 orang dan 40.000 orang pengungsi. Sementara banjir pada 2 – 4 Februari 2007 mempengaruhi 60% dari wilayah Jakarta, yang menyebabkan Jakarta di bawah tanda merah panggung dan menggusur 150.000 orang. Hal ini menunjukkan bahwa dampak banjir memburuk setiap tahun karena faktor-faktor internal dan eksternal.

Penyebab banjir di DKI Jakarta, secara umum terjadi karena dua faktor utama yakni faktor alam dan faktor manusia. Penyebab banjir dari faktor alam antara lain karena lebih dari 40% kawasan di DKI Jakarta berada di bawah muka air laut pasang.  Sehingga Jakarta Utara akan menjadi sangat rentan terhadap banjir saat ini. Selain itu secara umum topografi wilayah DKI Jakarta yang relatif datar dan 40% wilayah DKI Jakarta berada di dataran banjir Kali Angke, Pesanggrahan, Ciliwung, Cipinang, Sunter, dll. Sungai – sungai ini relatif juga terletak di atas ketinggian kawasan sekitarnya. Karena fungsi sungai – sungai ini tadinya merupakan saluran irigasi pertanian. Sedangkan kondisi saat ini kebanyakan lahan pertanian diubah menjadi perumahan dan lain – lain. Akibatnya  air secara otomatis berkumpul di kawasan cekungan di Jakarta Utara.

Berdasarkan data klimatografi di kawasan DKI Jakarta, intensitas hujan tinggi (2.000 – 4.000 mm setiap tahunnya) dengan durasi yang lama.  Hal ini merupakan sifat umum kawasan tropis lembab serta dampak dari pemanasan global. Curah hujan ini selanjutnya akan menciptakan limpasan air yang deras ketika jatuh di atas daerah tangkapan air (catchment) seluas 850 km2 di hulu Jakarta. Daerah tangkapan ini juga mencakup Cianjur, Bogor, Depok dan DKI Jakarta. Pembangunan besar – besaran di kawasan ini juga menambah debit  limpasan permukaan yang akhirnya juga menambah potensi banjir di kawasan hilir sungai.

Kondisi ini diperparah oleh kecilnya kapasitas tampung sungai saat ini dibanding limpasan (debit) air yang masuk ke Jakarta.  Kapasitas sungai dan saluran makro ini disebabkan karena konversi badan air untuk perumahan, sedimentasi dan pembuangan sampah secara sembarangan. Yang yerakhir pengaruh peningkatan pasang air laut dan penurunan tanah di Jakarta Utara juga menyebabkan daerah Jakarta Utara semakin rentan banjir.

Sedangkan penyebab banjir dari sisi faktor manusia antara lain karena tidak terintegrasinya tata kota dan tata air di Jabodetabekjur, perencanaan tata ruang yang melebihi kapasitas daya dukung lingkungan (di antaranya kurangnya tempat parkir air dan sumber air bersih) serta lemahnya implementasi tata ruang dan tata air di Jabodetabekjur. Kompetisi dan eksploitasi pemanfaatan  lahan di kawasan Jabodetabekjur yang sedemikian cepat juga membuat konversi besar-besaran badan air dan daerah rawan banjir (sungai, rawa, situ serta sempadannya) menjadi perumahan, kawasan industri, dll.

Selanjutnya hal ini juga mengakibatkan sedimentasi sungai akibat lumpur, sampah organik dan inorganik yang disebabkan oleh pembukaan lahan tersebut. Ketidakjelasan pembagian peran dan tugas Pemerintah, Pemerintah Daerah, swasta dan masyarakat dalam pengoperasian dan pemeliharaan infrastruktur tata air juga menyebabkan memburuknya kondisi banjir yang ada. Terakhir faktor penyebab manusiawi banjir Jakarta ialah pengambilan air tanah yang berlebihan. Hal ini menyebabkan penurunan tanah semakin ekstrim terutama di Jakarta Utara.

Lalu, Banjirpun terjadi pada awal tahun 2013

Kini, banjir diJakarta terjadi lagi. Terulang lagi kejadian banjir-banjir yang merupakan suatu rutinitas sebuah kota metropolitan ini. Rutunitas yang sebenarnya sudah diketahui penyebabnya dan dengan begitu akan bisa diketahui solusi yang harus dijalankan. Entah bagaimana nanti solusi yang dilakukan,namun besar harapan seluruh warga Indonesia pada umumnya dan warga Jakarta pada kususnya supaya banjir ini dapat teratasi,bukan hanya solusi jangka pendek tetapi solusi kongkrit jangka panjang yang sangat dinanti. Memang banyak wacana muncul setelah adanya banjir ini, entah wacana pemindahan ibukota, entah wacana pembangunan banjir kanal timur, entah wacana pembangunan Integrasi Tata Ruang dan Tata Air, pemodelan Integrated Water Resource Management (IWRM) Plan maupun pembangunan polder sebagai penampung air raksasa. Apapun solusi yang akan dilakukan,sangat diharapkan bukti kongkrit dari wacana-wacana dari solusi tersebut. Sehingga nantinya Jakarta bisa kembali menjadi sebuah kota metropolitan, kota modern sesungguhnya yang layak untuk dihuni serta bebas dari bencana-bencana yang dapat mengganggu kelangsungan roda kehidupan suatu Negara tersebut.

ImageBanjir di Bunderan HI, Jakarta

Semoga banjir di tahun ini merupakan banjir besar yang terakhir yang terjadi di Jakarta serta kota-kota lainnya di Indonesia.

Rangkuman dari beberapa sumber :

Mengapa Jakarta Banjir? Pengendalian banjir Provinsi DKI Jakarta

Greenimpactindo

Kajian tata air kawasan rawa buaya

Sumber-sumber terkait yang sudah tercantum pada tulisan diatas.

Sekian

^Tan^ 18 January 2013

About tantri

I am nobody who really want to be somebody. Extremely introvert cheerful and easy going girl.. :) Thanks for visiting this blog... ^^

Posted on January 18, 2013, in experince and tagged . Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. semoga surabaya ga kayak jakarta..apalagi bali…hahahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: