Penanggungan : the way to refresh my mind and recharge the spirit


Saya baru turun gunung. Istilah turun gunung yang saya tulis ini bukan dalam arti kiasan, tetapi memang saya benar-benar baru saja turun gunung: Gunung Penanggungan. Berawal dari undangan “resmi: kawan saya via sms yang bunyinya begini kurang lebih : ” Ibu Tantri, saya mengundang anda untuk menghadiri acara pendakian gunung Penanggungan pada hari Sabtu-minggu besok”. Tentu saja undangan “resmi” tersebut saya balas dengan menelpon dia dan menanyakan keseriusan undangan tersebut. Hmmm.. tanpa berpikir saya pun langsung meng-iyakan undangan tersebut mumpung saya sedang free on call alias ndak seberapa sibuk di 2 hari tersebut. Akhirnya, dengan sisa waktu dibalik kesibukan saya..(haahaa.. sok sibuk amat sih) saya pun sedikit-sedikit browsing untuk mendapatkan informasi bentuk dan medan “tempur” yang harus saya lalui dalam pendakian ini. Maklummm laahh masih newbie di dunia pendakian ini..heehee.. Ternyata oh ternyata, berdasarkan blog yang saya baca, medan penanjakan di penanggungan cukup untuk menguras tenaga. dengan embel-embel Penanggungan sebagai track pendakian ter-mudah, ter-gampang, ter-enteng dan ter-ter- yang menghembuskan angin surga, tanpa persiapan fisik yang matang, saya pun bertekad semangat juang empat lima untuk mendaki. Jadilah, saya mendaki… Bersama 2 kawan saya: Windu dan Nyom-Nyom dan 1 pacar saya (dene).. (jangan dibalik jumlahnya… :p )

Persiapan yang tidak matang saya jalani. Kami janjian bertemu di Terminal pukul 1 siang hari Sabtu. Tetapi saya baru sempat belanja barang-barang kebutuhan mendaki pada hari Jumat sore lalu kemudian malamnya saya masih ada beberapa urusan yang membuat saya kurang tidur. Sabtu pagi hingga jam 10, saya juga masih tinjau lokasi untuk persiapan kegiatan hari Senin. Sedangkan Dene pada hari Jumat baru pulang dari kantor jam 9.30 malam sehingga baru bersiap barang barang pada Sabtu pagi kemudian baru beli sandal mendaki langsung sebelum berkumpul di terminal. Persiapan yang betul-betul mendadak ya.. but.. it’s oke.. fun.. kami pun berangkat dengan sebelumnya berkumpul di Terminal Bungurasih. Dari sana kami ber-4 menumpang bus menuju Pandaan dengan biaya Rp.5000 dengan travel time 1 jam. Kemudian dari Terminal Pandaan kami menumpang angkot dengan biaya Rp.7500 dengan travel time 1 jam. Jadi total travel time dari Surabaya- starting point pendakian adalah 2 jam dengan biaya Rp.12.500. Kami berhenti di depan balai desa lalu kemudian jalan kaki 1 km menuju post pertama pendakian.

kamipun mendaki…..let’s the story begin….

Sampai di kaki Penanggungan yang merupakan post awal pendakian, matahari sudah mulai meredup sinarnya, hujanpun belum berhenti mengguyur. Pos pertama merupakan post pemberhentian dimana kami harus menunjukkan ID salah satu dari anggota team kami demi keamanan dan kelancaran perjalanan kami nantinya. Redupnya mentari mengiringi perjalanan kami melewati jalanan di kaki gunung penanggungan. Jalanan mulai berbatu yang dihiasi oleh guguran dedaunan kering milik pohon-pohon tinggi mengiringi perjalanan awal kami. Jalanan masih datar, lurus tetapi berbatu. Hujan menambah runyam suasana. Melewati jalanan berbatu serta licin ditambah lagi guyuran hujan yang mengharuskan kami mengenakan jas hujan menambah sulit proses perjalanan awal kami kala itu. Ditambah lagi barang bawaan utama khususnya perbekalan air minum yang harus kami gendong menuju puncak Penanggunngan semakin  mempersulit perjalanan kami. Padahal itu masih awal, masih jalan datar tetapi perasaan sulit sudah saya rasakan. Perjalanan dijalan datar dan berbatu ditempuh dalam waktu kurang lebih satu jam. Rasa lelah belum seberapa merambat di kaki saya, malah kala itu lama kelamaan saya merasakan medan yang mudah. Hanya jalan datar,licin dan berbatu. Awal-awalnya memang sulit, tetapi karena waktu membuat saya terbiasa dengan kondisi tersebut sehingga terasa mudah. Jalan itupun saya rasakan terlalu mudah bagi saya, sehingga saya membutuhkan tantangan yang lebih. Semangat sayapun masih banyak tersisa, tenaga saya juga semakin tersedia dengan tegukan beberapa liter air perbekalan saya.

Perjalanan dilanjutkan menuju tantangan berikutnya. Satu jam berlalu dijalan datar serta berbatu licin itu. Kemudian tantangan berikutnya adalah perjalanan diarea yang agak menanjak, berbatu licin diarea semak-semak. Setelah sebelumnya melewati jalanan lebar, lurus, licin dan berbatu tadi, saya merasa semakin tertantang dengan jalanan yang agak menanjak ini. Kami melewati semak belukar. Pepohonan masih tinggi yang artinya kami masih berada di kaki gunung. Kami berjalan dan terus berjalan. Setiap langkah pasti akan ada tantangan baru. Bebatuan yang gradasinya berbeda serta tingkat kelicinan dan bentuk yang berbeda agak mempersulit langkah saya, itu adalah tantangan bagi saya. Salah memilih batu yang saya gunakan sebagai pijakan, bisa-bisa saya terpeleset atau bahkan jatuh. Sehingga sayapun harus hati-hati menetapkan langkah saya. Setiap 30 menit berjalan, perjalanan kami hentikan untuk mengambil tenaga sambil meneguk perbekalan air putih kami. Jalanan semakin menanjak, yang mulanya hanya melewati kemiringan 15 derajat, semakin jauh kami melangkah, sudut jalanan yang kami lalui semkian meningkat dari 30, 40 hingga 50 derajat ditambah lagi belokan-belokan tajam yang kami lalui.

Kelelahan mulai saya dan kawan-kawan rasakan pada 2 jam pertama perjalanan kami. Medan yang sulit dan benar-benar diluar perkiraan saya, ditambah lagi hujan yang selalu mengguyur serta gelapnya malam membuat energi saya semakin terkuras. Tidak jarang saya merangkak, berusaha meraih bebatuan sebagai pijakan tangan dan kaki untuk bisa berhasil melangkah ketempat yang lebih tinggi. Saya mulai berasakan kelelahan fisik, tetapi semangat masih ada. Saya mengikuti langkah Nyom-nyom yang berada tepat didepan saya. Salah sedikit saya memilih langkah, bebatuan yang saya pijak bisa ambrol, sayapun bisa terjatuh. Bukan hanya itu, Dene dan Windu yang berada di belakang saya bisa saja terkena batu itu. Sehingga sayapun harus berhati-hati karena langkah yang saya pilih itu adalah penentuan bagi saya dan orang lain dibelakang saya. 2.5 Jam perjalanan agak membuat kami putus asa karena kelelahan. Medan yang terlalu berat juga membuat Windu sempat berpikiran untuk menghentikan perjalanan. Setiap menemukan jalanan datar, sorak keriangan selalu muncul dari bibir Windu karena dia sangat berharap untuk membangun tenda di jalan datar itu, bukan dilokasi berkemahan di atas sana. Mau tidak mau, dengan berusaya untuk saling memompa semangat, maka kamipun terus melangkah dan berniat untuk sampai ke lokasi perkemahan di atas sana. Walau lelah, walau sulit itu harus dilalui. Maka, langkah demi langkah kami lalui dengan cara apapun entah harus merangkak, menunduk, mendorong kawan didepan untuk naik ke lokasi yang lebih tinggi ataupun menarik kawan yang masih dibawah.

3.5 jam perjalanan kami lalui dengan sangat kelelahan. Kami melewati beberapa pendaki yang juga beristirahat dengan wajah kelelahan. Kami berjalan terus dan terus. Perjalanan yang sebenarnya memakan waktu hanya 3 jam, bagi kami yang sering berhenti untuk istirahat merasa waktu 3 jam adalah sangat kurang. Kami kembali merasakan benar-benar putus asa dan sangat kelelahan pada saat 3.5 jam perjalanan sudah kami lalui. Tidak ada tanda-tanda bahwa kami sudah dekat dengan lokasi perkemahan. Tidak ada suara keramaian canda tawa pendaki yang lainnya. yang terdengar hanya suara hewan malam dan iringan lagu Padi yang sengaja dihidupkan oleh Nyom-nyom untuk mengusir kebosanan serta kelelahan. Pada saat itu, kami beristirahat dan duduk di bebatuan besar sambil menghadap kearah kota. Menghadap kebawah melalui hampir puncak gunung membuat semangat dan tenaga kami kembali tumbuh. Indahnya kerlip-kerlip lampu malam yang terlihat dari kesunyian di puncak gunung membuat semangat kami semakin membara untuk mencapai lokasi perkemahan. Kamipun melanjutkan perjalanan. Langkah demi langkah kami lalui dijalanan yang terjal itu. Lelah, sudah sangat pasti merasuki kami. Bayangan-bayangan akan nyaman tidur dikasur dikamar sendiri ataupun mandi dibawah kucuran air segar dan wangi sabun terus membayangi saya kala itu. Efek dari lelah membuat saya agak sedikit berhalusinasi terhadap indahnya hidup dikota.haahh.. lelahnya perjalanan pendakian pertama saya ini….

Semakin lama berjalan langkah saya semakin tidak stabil. Saya semakin tidak percaya diri dalam memilih pijakan, akibatnya saya sering terpeleset dan nyaris jatuh. Semakin saya tidak percaya diri dalam mengambil langkah dijalanan terjal berbatu itu, semakin sering saya terpeleset. Sehingga sayapun kala itu semakin mensugesti diri untuk lebih percaya diri dalam mengambil langkah serta meyakinkan hati bahwa lokasi tujuan kami sudah semakin dekat. yahh.. Sugesti berhasil. Semangat saya mulai tertata, langkah sayapun sudah tidak gontai. Hawa dingin puncak gunung sudah mulai menghampiri kami, sesekali diselingi oleh sisa-sisa rintik hujan dari dedaunnan pepohonan yang tertiup angin gunung. Tanaman yang perdu dan tundra menandakan bahwa kami sudah semakin ke puncak. Semakin melangkah, semakin berat rasanya. Walau semangat masih ada, tetapi tenaga sudah sangat sedikit. Saya berjalan sudah semakin tertatih. Terlalu lelah dan tiba-tiba terpikir, kenapa saya susah-susah mendaki dengan kondisi yang serba terbatas begini, padahal kehidupan dikota jauh lebih menyenangkan. Bisa tidur diatas kasur empuk, mandi sepuasnya dan melalukan hal-hal yang bisa dibilang jauh lebih mudah dari pada mendaki. Terpikir juga oleh saya kala itu, bahwa para pendaki adalah orang-orang yang kurang kerjaan yang lebih memilih hidup susah ketimbang hidup menyenangkan. Pikiran-pikiran yang terlalu berhalusinasi semakin sering menghampiri saya seiring dengan semakin lelahnya saya. Langkah saya gontai, saya semakin lelah. Kawan-kawan saya juga tampak sangat kelelahan.Kami terus melangkah…

Suara sorak-sorai pendaki-pendaki lain tiba-tiba terdengar, sangat dekat dengan kami. Sangat dekat, hanya beberapa meter. Sorak-sorai itu merupakan hembusan angin surga bagi kami sekaligus merupakan suatu pertanda bahwa kami sudah sampai ke tempat tujuan kami, lokasi perkemahan. Kamipun semakin bersemangat dan mempercepat langkah kami. Deretan tenda berjejer rapi tepat didepan kami, artinya bahwa kami sudah sampai. Kami langsung bersorak senang dan saya langsung melihat kebawah. Memandang kearah jalanan sulit yang sudah kami lalui sambil menikmati indahnya pemandangan kota dari atas gunung yang tertutup kabut tipis. Jam 9 malam, kami tiba dilokasi itu. Perjalanan 4.5 jam yang sangat melelahkan, tetapi sangat memuaskan ketika sesampaikan kami ke tempat tujuan. Memang, perjalanan belum berakhir. Esok harinya, kami harus mendaki lagi dengan medan yang lebih sulit selama 1.5 jam menuju puncak tearatas penanggungan.

Namun, dari 4.5 jam perjalanan pendakian menuju puncak ini saya mendapatkan banyak sekali pelajaran. Mendaki gunung itu seperti menjalani sebuah kehidupan dimana akan kita temui banyak sekali rintangan. Rintangan tersebut ada yang lurus tetapi licin, ada yang berbatu serta licin, ada juga yang berkelok serta terjal. Sesusah apapun jalanan yang kita lalui, semangat harus tetap membara. Apabila semangat kita hilang,ada kawan yang memompa untuk mengembalikan semangat itu. Apabila semangat kawan kita hilang, maka giliran kita yang memompa semangat mereka. Kita hidup sebagai makluk sosial,maka saling menolong dan saling memompa semangat adalah penting dalam berkawan. Hidup adalah perjuangan. Untuk meraih hal yang lebih tinggi, maka dibutuhkan suatu usaha yang keras dan gigih. Walau itu lelah, walau membutuhkan waktu yang sangat lama, semangat harus tetap terjaga. Percaya diri dalam mengambil sebuah langkah, juga harus kita lakukan supaya tidak terpeleset maupun terjatuh dalam menjalankan kehidupan. Namun apabila kita lelah, istirahat sejenak untuk mengembalikan tenaga juga sangat diperlukan.

Apabila usaha keras dan kegigihan dibalik sebuah doa yang dipanjatkan telah kita lakukan, maka hasil yang indah sudah pasti akan kita peroleh. Pemandangan sangat indah yang dapat saya nikmati dari puncak gunung merupakan salah satu hasil dari usaha dan kerja keras yang saya lakukan dalam pendakian ini. Dalam kehidupanpun juga begitu, kesuksesan dan kebahagiaan yang membanggakan tentu  akan kita raih dengan usaha dan kerja keras serta penuh percaya diri dalam menetapkan langkah.

kemudian… ketika kami turun gunung…

Saya benar-benar merasakan hidup adalah perjuangan ketika saya menuruni Gunung Penanggungan. Mengimbangi gaya grafitasi ditambah dengan beban tubuh justru jauh lebih berat daripada melawan gaya grafitasi ditambah lagi kondisi kaki saya yang bengkak akibat terjatuh dipuncak serta perasaan trauma saya yang tiba-tiba datang akibat saya terpeleset dan jatuh dipuncak. Saya trauma terjatuh, kaki saya rasanya lemas ketika saya melihat bebatuan dibawah saya, ditambah lagi pergelangan kaki kanan yang bengkak akibat terkilir membuat perjalan saya menuruni gunung ini terasa menyiksa dan saya hampir putus asa. Tetapi dari sini saya bisa belajar arti perjuangan dan arti kesetiakawanan. Saya harus berjuang dengan sisa tenaga saya dalam keadaan fisik yang sudah tidak stabil untuk turun dimedan terjal, licin serta bebatuan ini apabila say amenyerah,maka saya tidak akan bisa kembali ke Surabaya dengan selamat. Selain itu saya juga diajarkan tentang kesetia kawanan dimana Windu berusaha mengobati pergelangan kaki saya dengan semampunya, Nyom-nyom meminjamkan sepatu gunungnya dan ditukar dengan sandal gunung saya untuk melindungi bengkak pada kaki saya serta Dene yang sangat suka rela membawakan barang-barang saya (walaupun dia sudah terlalu berat membawa barangnya sendiri), serta terus memompa semangat saya disisa perjalanan kami. Dengan upaya sebisa saya,entah itu dengan ngesot, menempel disemak-semak sambil menarik ranting pohon ataupun jalan dengan kecepatan 1 kilometer per 2 jam, akhirnya kami mampu sampai kekaki gunung- pos 1 dalam waktu hampir 5 jam. Yeiiiyyy.. Puas rasanya berhasil sampai tujuan…

yaahhh.. Hidup adalah perjuangan.. Terima kasih Nyom2,Windhu dan Dene yang sudah berjuangan bersama-sama di usia yang (agak) tua kita dan (agak tidak) bertenaga kita dalam pendakian gunung ini.. heehee…

yahh.. Penanggungan cukup membuat saya me-refresh pikiran saya dan menambah semangat saya untuk melanjutkan kegiatan dalam kehidupan..🙂 Saya mengambil banyak pelajaran positif dari perjalanan saya kali ini..

PS : Hingga saat ini (2 hari setelah turun Gunung) kaki saya masih bengkak, pegel2,warna-warni merah dan biru seperti salak gosong.. Pesan bagi para pendaki Newbie.. 1).Olahragalah untuk pemanasan sebelum kalian mendaki. 2) Jangan bawa barang yang terlalu ndak penting dalam mendaki, beban akan makin berat.

Sekian

^Tan^

About tantri

I am nobody who really want to be somebody. Extremely introvert cheerful and easy going girl.. :) Thanks for visiting this blog... ^^

Posted on April 16, 2013, in experince. Bookmark the permalink. 3 Comments.

  1. banyak makna dibalik mendaki gunung…menemukan keindahan alam, menemukan arti hidup, menemukan sahabat, dan tentunya menemukan diri sendiri. itulah kenapa saya naik gunung..heuheuhue…selamat telah sampai puncak.

    • yahh.. umur sudah seginii Nyoom.. kapan lagi bisa naik gunung lagi yakz?! waktu itu gara2 habis baca novel2 petualangan hidup sebangsa 5 cm en life of phi dan novel2 jalan2 lainnya jadi keranjingan pengen bertualang.. Tapiii, inget2 umur jadi ngerasa tuelaat banget memulai heboh2an naik gunung dan bertualang.. heehee.. sudah dehh, mungkin penanggungan jadi yang pertama dan terakhir. Ntar “mendaki”nya ke Pura Lempuyang atau Pura2 diatas gunung lainnya deh..:) Baidewe, banyak Pura di Bali yang dibangun diatas gunung loo… ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: