Batik: motif cantik melalui proses yang unik


Pertama kali ngelihat jenis kain unik ini dan mengenalnya lebih dekat adalah tepat ketika saya menginjak bangku kelas 3 SD. Disaat kala itu saya sedang tumbuh menjadi sosok imut nan menawan.. heehee..# pendahuluan yang ndak penting yah#

Suatu pagi, guru saya tiba-tiba mengumumkan “Anak-anak.. mulai minggu depan, setiap hari Jumat kita harus memakai seragam baru namanya batik.. mengertiii?” Tanya bu Guru setelah memberikan pengumuman itu. Sebagai murid yang patuh kamipun menjawab dengan serempak bak maestro paduan suara “mengertiiii bu Guruuuuuuu.” Walau sejujurnya saya kala itu, mungkin temen-teman sekelas juga, tidak paham maksud si Ibu Guru tersebut. Kami harus memakai seragam Batik?? itu apa sihh!! Saya ndak mudenkk. Tapi karena saya adalah sosok gadis kecil imut nan penurut (mungkin inilah salah satu kesalahan gaya mendidik ala orang Indonesia, membuat anak menjadi terlalu penurut sehingga tidak mampu mengkritisi sesuatu), sayapun tidak banyak tanya lalu tiba-tiba awal minggu berikutnya, kami sekelas dibagikan sebuah seragam. Seragam warna coklat dengan motif mlungker-mlungker seperti bunga kering (karena warnanya coklat) yang konon kata bu Guru itulah seragam batik baru kami. Yakkkk… The first Batik that i ever have sodaraaa sodaraaa…. Sejak itu, kami resmi menggunakan seragam batik yang dipadankan dengan bawahan warna putih sebagai seragam setiap hari Jumat.. Yeiyyyy…keceee #seingat saya, saya semakin imut dan kece dengan seragam tersebut..:D #

yah.. saya tidak akan membicarakan ke-kece-an dan keimutan saya mengenakan seragam baru ketika saya masih duduk di kelas 3 SD itu. Tetapi,disini saya ingin sedikit membahas dan sedikit mengkritisi serta meng-eksplorasi keingin tahuan saya tentang kain unik yang konon kabarnya merupakan suatu warisan budaya Indonesia yang konon kabarnya juga sudah diakui secara internasional. Dulu, ketika pertama kali mengenal jenis kain ini (waktu saya kelas 3 SD) tidak ada sama sekali dibenak saya pertanyaan-pertanyaan mengenai, mengapa saya harus mengenakan seragam baru itu? mengapa sih motif dari kain itu adalah mlungker-mlunker dan warnanya dominan coklat? Kenapa juga sih harus ada penetapan hari tertentu dimana semua murid dan guru harus mengenakan seragam itu? Kenapa sih harus jenis kain itu, kenapa tidak jenis kain lain misalnya motif bunga-bunga, motif sailor moon atau doraemon yang memang kala itu sedang beken? Tidak ada satupun pertanyaan semacam itu muncul dalam pikiran a-la bocah saya dulu. Dan kini, pikiran itupun muncul, dan dengan bantuan professor Google serta dibantu oleh beberapa pengalaman-pengalaman dan baca sana sini, beberapa pertanyaan tersebut sudah mulai bisa terjawab…🙂

Mari kita mengenal batik lebih dekat….

imagesPengakuan internasional

Jenis kain unik ini mendapatkan beberapa pengakuan-pengakuan internasional yang tidak dapat dipungkiri bahwa hal tersebut menjadikan suatu kebanggaan bagi Negara-negara yang merasa memiliki jenis kain ini. Salah satu penghargaan internasional tersebut adalah diberikan oleh UNESCO sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan NonBendawi  (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) sejak 2 Oktober 2009. Pengakuan keberadaan batik dimata internasional lainnya adalah dimasukkannya pelajaran membatik dalam kurikulum sekolah-sekolah dasar dan menengah umum di Chicago yaitu kota terbesar di negara bagian Illinois, Amerika Serikat, yang juga merupakan kota tempat kediaman pribadi Presiden AS saat ini berada. Pelajaran ini sudah mulai dimasukkan dalam kurikulum Chicago public school mulai tahun ajaran 2012. Selain itu, pelatihan-pelatihan dasar membatik juga diajarkan kepada masyarakat umum di Chicago park district and community center. Bahkan pelatihan membatik juga dilakukan atas kerjasama dengan Peace School and Chicago Public school dengan tema “Batik Workshop for art Educators”. (sumber) Pengakuan kecil lainnya tentang keindahan kain ini pernah saya alami ketika saya bersekolah musim panas pada tahun 2010 di salah satu Kota besar di Belanda, Utrecht. Pada beberapa kesempatan, saya mengenakan pakaian dengan motif batik dan mendapatkan beberapa apresiasi dari kawan-kawan saya yang berkebangsaan USA, Perancis, korea dan Brazil. Selain itu, menurut cerita kawan saya dari Indonesia yang pernah bersekolah di Thailand pada era tahun 90-an, batik merupakan trend dan oleh-oleh yang dinantikan warga Thailand dari student Indonesia kala itu. Pengakuan-pengakuan kecil tentang keindahan kain inilah yang semakin membuat bangga kita sebagai pemilik jenis kain dengan segala keunikan motifnya ini.

motif-batikSejarah perkembangan

Dalam banyak sekali artikel dan beberapa literature, kata Batik berasal dari gabungan 2 kata bahasa jawa yaitu : amba (menulis) dan titik. Jadi batik itu memiliki arti menulis titik atau membuat suatu pola dengan menggabungkan titik-titik diatas suatu kain. Dari hasil penulisan titik-titik diatas kain tersebut lalu kemudian diberi warna dengan suatu teknik perintang pewarnaan yang biasanya dilakukan dengan malam maka jadilah suatu kain unik yang kemudian diistilahkan sebagai kain batik. Seni pewarnaan dengan teknik perintangan ini adalah salah satu bentuk seni kuno yang dikenal semenjak abad ke-4 SM di Negara Mesir yaitu pada proses pembungkusan mumi dengan kain yang dilapisi malam lalu kemudian kain tersebut akan membentuk suatu pola tertentu. Benua-benua lain juga menerapkan system tersebut. Di Benua Asia, Negara tiongkok, India dan Jepang pada tahun 600-900 Masehi juga sudah menggunakan teknik pewarnaan semacam ini. Di benua Afrika teknik pewarnaan semacam ini dikenalkan oleh suku Yoruba di Nigeria serta suku Soninke dan Wolof di Negara Senegal (Nadia Nava, Il batik – Ulissedizioni 1991) . Kalau di Indonesia, teknik ini dipercaya sudah ada semenjak jaman Majapahit dan menjadi sangat popular pada akhir abad ke XVIII atau abad ke XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai abad ke XX. Batik cap baru dikenal setelah peran dunia I atau sekitar tahun 1920-an. Perkembangan batik di Jawa sendiri tidak terlalu banyak tercatat sejarahnya. Seorang pustakawan dari Belanda yang bernama G.P Rouffaer berpendapat bahwa teknik batik ini kemungkinan diperkenalkan dari India dan Srilangka pada abad ke-6 dan ke-7. Di sisi lain, J.L.A. Brandes (arkeolog Belanda) dan F.A. Sutjipta (sejarawan Indonesia) percaya bahwa tradisi batik adalah asli dari daerah seperti Toraja, Flores, Halmahera dan Papua. Dalam literatur Eropa, teknik batik ini pertama kali diceritakan dalam buku History of Java  (London, 1817) tulisan Sir Thomas Stamford Raffles. Ia pernah menjadi Gubernur Inggris  di Jawa semasa Napoleon menduduki Belanda. Pada 1873 seorang saudagar Belanda Van Rijekevorsel memberikan selembar batik yang diperolehnya saat berkunjung ke Indonesia ke Museum Etnik di Rotterdam dan pada awal abad ke-19 itulah batik mulai mencapai masa keemasannya. Sewaktu dipamerkan di Exposition Universalle  di Paris  pada tahun 1900, batik Indonesia memukau publik dan seniman. (Wikipedia)

Ada lagi yang menceritakan, sejarah batik di Indonesia tumbuh dan berkembang semenjak adanya impor kain tenun dari India pada abad ke-17. Kain Eropa juga masuk ke Indonesia pada awal tahun 1815. Namun teori ini juga bergulir begitu saja. Mengingat motif-motif serupa motif batik sudah dapat kita temukan di relief-relief candi Prambanan dan juga Candi Borobudur. Artinya, bangunan-bangunan yang sudah berdiri semenjak abad ke-8 ini sudah mempengaruhi motif batik yang ada hingga sekarang.Sebuah tinjauan sejarah yang diterbitkan oleh Bataviaasche Genootchap Van Kunsten Wetwnschapen tahun 1912 dan bernama kitab Centini menyebutkan, pada jaman Pakubuwono V, sudah ada istilah batik dan pada waktu itu sudah terdapat motif-motif halus seperti gringsing, kawung, parang rusak dan lain-lain. Dalam kitab ini juga disebutkan bahwa canting sudah digunakan pada saat itu. Dalam kesusastraan kuno dan pertengahan, sempat ditemukan pembahasan soal nyerat atau nitik yang diduga merupakan teknik menghias kain menggunakan malam. Kemudian, setelah keraton Kartasuro pindah ke Surakarta, muncullah istilah mBatik dari Jarwo Dosok. Kata ini berasal dari gabungan kata “ngembat” dan “titik” yang berarti membuat titik. Dari semua tinjauan literatur ini cukup terlihat bahwa teknik merintang warna dengan menggunakan malam ini memang berkembang dan maju di tanah Jawa, terutama Jawa Tengah. Perkara kemudian seluruh daerah di Nusantara memiliki batik sudah jelas akibat proses bergeraknya manusia dan bergeraknya kebudayaan yang ada bersama manusia-manusia tersebut. Dan teknik ini kemudian juga berkembang, mengikuti proses asimilasi budaya orang-orangnya. Dan inilah yang kemudian membuat batik menjadi begitu kaya dan beragam. (sumber)

2Motif batik

Kalau membicarakan motif batik, terus terang saya agak kewalahan merangkum karena terlalu beragamnya motif batik yang dimilik Indonesia. Motif-motif ini berkembang ditiap-tiap daerah dan memiliki ciri khans yang berbeda-beda. Berdasarkan artikel batik yang dimuat dalam situs Wikipedia dan beberapa situs lainyya, motif batik bisa dibagi berdasarkan asal daerahnya dan berdasarkan coraknya. Hampir setiap daerah memiliki corak batiknya masing-masing. Bukan hanya di Jawa, beberapa daerah lainnya diluar jawapun bahlan luar negeri memiliki motif beragam untuk kain batik ini. Beberapa motif batik berdasarkan daerahnya adalah: Batik pekalongan, Batik Solo, Batik Cirebon, Batik Bali, Batik Banyumas, Batik Madura, Batik Malang, Batik Solo, Batik Tasik, Batik Aceh, Batik Jombang, Batik Banten, Batik Tulung Agung, Batik Kediri, Batik Kudus, Batik Jepara, Batik Brebes, Batik Minangkabau, Batik Belanda dan Batik Jepang. Sedangkan motig batik berdasarkan jenis coraknya juga sangat beragam. Beberapa diantaranya adalah : batik Kraton, Batik Sudagaran, Batik Cuwiri, Batik Petani, Batik Tambal, Batik Sida Mukti, Batik Sekar Jagad, Batik Pringgodani, Batik Kawung, Batik Sida Luhur, Batik Sida Asih dan Batik Semen Rada.

Untuk masing-masing motif batik tersebut tentunya memiliki makna yang beragam dibalik motif dan warna yang ada. Mungkin lain waktu saya akan benar-benar merangkum sejarah motif batik yaang ada di Indonesia dan menulisnya dalam artikel di Blog saya. yaaahh itung-itungg saya jadi mempelajari budaya Indonesia, dengan mempelajari tentunya akan semakin tumbuh kebanggaan dan kecintaan sebagai bagian dari Indonesia. Lawong bule-bule aja mau dan rela untuk belajar membatik dan mengenal batik lebih dekat, tentunya kita sebagai pemilik budaya asli tersebut harus lebih getol mempelajari, mencintai dan melestarikan kebudaaan yang ada… kalau ndak bisa diakui milik negara lain lohh… :p. Kita harus bangga donk sama salah satu budaya kita ini, karena batik punya motif cantik yang dibuat melalui proses yang unik.. iya tooh?!!

Oke deh… Sedikit ulasan saya tentang batik. semoga bisa berlanjut ke ulasan budaya lainnya..🙂

Mari cintai budaya Indonesia kawan..:)🙂🙂

About tantri

I am nobody who really want to be somebody. Extremely introvert cheerful and easy going girl.. :) Thanks for visiting this blog... ^^

Posted on May 10, 2013, in experince. Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. Saya support blogger Msia… cuma… harap awak letak themes yg lebih ringan …

    connection saya agak slow ..🙂

  2. benar sekali,, banyak prosesnya untuk menghasilkan sesuatu yang sangat unik tentunya,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: