(masih) cerita tentang Bali : Dadong


Minggu lalu ketika saya ke Bali, saya sempat beberapa kali jalan-jalan dikawasan-kawasan wisata di Bali. Tapi kok rasanya ndak seberapa seru untuk diceritakan dalam blog saya yah,karena tentu sudah banyak blogers,travel writter maupun jurnalis dan penulis artikel pariwisata yang pernah berkunjung kesana dan menuangkannya didalam blog/artikel/jurnal dll masing-masing. Jadi,saya urungkan niat untuk menulis tentang wisata-wisata yang saya kunjungi di Bali dan saya cerita yang lainnya.

Saya akan bercerita tentang Dadong…

Dadong diambil dari Bahasa Bali yang artinya Nenek. Beberapa daerah diBali menggunakan sebutan lain dalam memanggil nenek. ada yang memanggil Nini, Nenek, mbah dll.  Dadong saya adalah seorang wanita yang terlahir sebelum jaman kemerdekaan. Hingga sekarang tidak pernah ingat pasti berapa usianya. Setiap kali ditanya, sejak dulu selalu menjawab bahwa usianya 70 tahunan. Lalu sejak 3 tahun yang lalu setiap saya bertanya berapa usianya, dadong selalu menjawab dengan percaya diri bahwa usianya adalah 73 tahun. Entah berapa usia sebenarnya karena dadong selalu mengkalim bahwa usianya 73 setiap tahun saya tanyakan. Seperti layaknya wanita-wanita jaman lawas, pikiran dadong masih lumayan sempit. Namun, saya salut dengan ketulusan-ketulusan yang diperbuat oleh dadong kepada keluarganya, kepada adat balinya dan kepada sosial masyarakat adat diwilayah tempat tinggalnya. Saya sering sekali ngobrol dengan dadong, dan seperti orang tua kebanyakan, cerita kehidupan masa-masa lampau menjadi cerita langganan yang terus diulang untuk diceritakan kesaya. Sehingga dari cerita yang terus diulang-ulang oleh dadong setiap saya pulang ke Bali, sedikit banyak saya dapat menggambarkan kisah-kisah dadong masa lampau.

Dadong terlahir sebagai anak terakhir dari 11 bersaudara. Dari ke-11 saudaranya itu, hanya 7 yang bertahan hidup. Memang, karena belum adanya program Keluarga Berencana pada masa lampau menyebabkan banyak keluarga memiliki banyak anak yang kebanyakaan tidak memiliki persiapan yang matang dari orangtuanya. Sehingga dari sekian banyak bayi yang lahir, hampir sebagian dari mereka meninggal ketika masih bayi entah karena sakit ataupun kegagalan persalinan. Hal tersebut juga terjadi pada saudara-saudara dadong. Dadong tumbuh layaknya anak-anak kecil pada masa lampau yang masih hidup dibawah garis kemiskinan. Hidup didesa dengan kondisi serba minim membuat anak-anak jaman dulu,salah satunya dadong, kehilangan hak bermainnya. Sejak kecil dadong sudah mengenal kata bekerja keras. Membuat perhiasan perak (yang memang menjadi komoditas utama perekonomian di desa) selalu dilakukannya setiap pulang sekolah. Mengerjakan pekerjaan domestik rumah tangga juga harus dilakukan. Menurut dadong, dia termasuk salah satu anak yang pandai dikelasnya. Karena kepandaiannya, dadong berhasil menamatkan sekolahnya hingga jenjang SD, tingkatan pendidikan yang sudah cukup bagus pada jaman itu. Anak-anak lainnya pada masa itu belum tentu mampu menyelesaikan sekolah hingga tamat SD. Namun sayangnya, karena keterbatasan biaya dan kurangnya pemahaman akan pentingnya pendidikan pada masa itu membuat dadong tidak meneruskan sekolahnya. Kehidupan dadong pasca berhenti sekolah dilakukan dengan melakukan kegiatan domestik rumah tangga, kegiatan adat dan bekerja untuk memenuhi kebutuhan.

Dadong menikah dengan Pekak (sebutan Kakek dalam bahasa Bali) ketika usia 20an. Tanpa mengenal dengan baik siapa pekak dan atas dasar nurut dengan perintah orang tuanya, dadong menikah dengan pekak. Pernikahan yang berawal dari perjodohan. Memang jaman itu, perjodohan bukan merupakan sesuatu yang salah karena hal tersebut dilakukan sebagai sebuah kebiasaan. Apabila anak muda dirasa sudah cukup umur untuk memasuki jenjang pernikahan, maka orang tua akan mencarikan jodoh bagi anak-anaknya yang sekiranya pantas. Karena lingkup pergaulan pada masa itu masih sempit,sehingga tidak sedikit orang yang menikah dengan orang satu desa. Sehingga kalau ditelusuri lebih lanjut, seluruh warga didesa saya memiliki ikatan keluarga karena tali persaudaraan yang dijalin dari pernikahan orang-orang tua dimasa lampau. Walau dijodohkan, pernikahan dadong dan pekak berjalan dengan sangat baik.

Walaupun pekak adalah pegawai negeri dinas pertanian, namun bukan berarti kehidupan perekonomian keluarga baru pekak dan dadong berjalan dengan mulus. Kehidupan berjalan dengan sangat sederhana, namun hal tersebut tidak membuat dadong berputus asa dalam menjalankan hidup. Segala kebutuhan sehari-hari diupayakan dengan usaha sendiri. Untuk membangun dan memperbaiki rumah pada tahun-tahun berikutnya, dadong beserta anaknya yang masih kecil-kecil (salah satunya ibu saya), rela naik-turun lembah dibelakang rumah untuk mencari pasir dan batu pecah disungai. Untuk kebutuhan air sehari-hari, dadong juga selalu turun kelembah untuk mengambil ember demi ember air. Pekak berangkat bekerja dipagi hari dan pulang disore hari,sehingga segala urusan domestik rumah tangga adalah urusan dadong. Sebagai wanita bali pada umumnya dimasa lampau, kehidupan domestik rumah tangga adalah meliputi kegiatan-kegiatan adat keagamaan dan sosial masyarakat yang masih sangat kental diBali. Untuk kebutuhan memasak, dadong harus mengambil kayu bakar di hutan belakang rumah. Untuk kebutuhan sayuran dadong dapat memetiknya dihutan belakang rumah. Karena dadong memiliki 4 orang anak, untuk memenuhi segala kebutuhan anak-anaknya, dadong berusaha untuk meminimalisir pengeluaran dalam hal makanan. Seringkali anak-anak dadong makan nasi (yang berasnya diambil dari hasil panen sawah peninggalan kakek buyut) dan sebutir telur ayam yang dibagi 4. Karena kehidupan masa lampau yang serba pas-pasan, sejak kecil anak-anak dadong sudah terbiasa dengan kerja keras. Tahun demi tahun berjalan dengan biasa saja. Dadong masih sibuk dengan urusan rumah tangga ditambah lagi mengurus orang-orang tua yaitu nenek dari Pekak saya, serta ayah dan ibu dari pekak saya dan juga mencoba untuk memenuhi kebutuhan keluarga dengan berjualan. Karena dadong yang bertugas mengurus urusan rumah, sehingga mengurus segala kebutuhan orang-orang tua dirumahpun juga menjadi tanggung jawab dadong.

Adakalanya, kehidupan perekonomian Pekak dan dadong berada diujung tanduk. Apalagi dimasa-masa ketika Anak pertamanya diterima bersekolah di PTN dikota, sedangkan 3 anak lainnya melanjutkan sekolah ke luar Bali. Pada masa-masa itulah, karena pekak dan dadong mengharuskan anak-anaknya mendapatkan pendidikan tinggi, segala upaya dilakukan supaya anak-anaknya dapat sekolah. Dadong memiliki saudara-saudara yang tergolong sukses dan kaya raya, demi kebaikan anak-anaknya, dadong berhutang pada mereka. Berhutang demi menyekolahkan anak-anaknya. Untuk membayar hutang tersebut, dadong dan pekak bekerja keras dan sedikit-demi sedikit mencicil hutang-hutang tersebut. Hingga akhirnya hutang tersebut dapat dilunasi, meski dalam waktu yang lama.

Tahun demi tahun berjalan, kehidupan perekonomian keluarga beransur-ansur mulai membaik dan kini kehidupan dadong sudah mulai berjalan dengan santai. anak-anaknya sebagian besar sudah menjadi orang sukses. Namun,karena tempaan kehidupan yang diperoleh dadong saya sejak kecil, hingga kini dadong masih senang hidup sederhana walaupun tinggal didalam sebuah rumah yang sudah dibangun dengan megah dan luas. Mungkin juga karena tempaan kehidupan yang sangat keras membuat dadong sangat tabah dan sabar menghadapi berbagai masalah dalam hidupnya. Hal yang paling saya salut dengan dadong adalah, prinsip ketulusannya. Entah karena mindset feodalisme masa lampau yang masih dipegang teguh dipikiran dadong, atau entah karena kebiasaan, hingga usianya yang cukup senja ini dadong masih saja suka sibuk didapur menyiapkan sendiri makanan sehat untuk pekak. Atau jika anak-anak dan cucu-cucunya pulang dari Jawa, dadong pasti heboh mempersiapkan makanan dan membelikan jajanan pasar kesukaan. Selain itu, dadong masih juga menyibukkan diri dengan ritual-ritual keagamaan dan adat. Dadong masih sangat ingat  hitungan-hitungan penanggalan Bali untuk keperluan hari raya. Dadong juga masih mempersiapkan sesajen-sesajen, merangkainya sendiri dan menghaturkannya sendiri. Saya sering bertanya alasan mengapa diusia yang senja itu dadong masih mau bersibuk-sibuk ria mempersiapkan sesajen yang ribet itu. Menurut dadong, dia ingin mempersembahkan sesuatu yang indah dengan usahanya sendiri kehadapan Tuhan atas kehidupan yang telah diberikan selama ini. Walau usianya yang sudah senja, dengan sisa tenaga yang masih dimilikinya, dadong masih berusaha untuk melakukan yang terbaik untuk keluarganya dan masih berusaha untuk bersyukur kepada Tuhan atas apa yang dimilikinya dengan masih memegang teguh adat dan budaya. #Oh iya, dadong dulu juga penari loh..🙂

Mungkin, hampir semua orang tua yang pernah merasakan hidup susah dimasa lampau, akan sangat lebih menghargai kehidupannya dengan mensyukuri baik buruk dan susah senang kehidupannya. Saya yang hidup dijaman modern, serba instan dan serba mudah mungkin tidak akan sekuat dan setabah dadong nantinya dimasa tua. Kadang, kemoderen dan kemudahan kehidupan justru membuat manusia menjadi lemah. Contohnya saya yang terlalu dimanjakan oleh kemudahan teknologi..hehehe.. Tetapi dengan melihat kehidupan,ketulusan, sikap dan cara pandang dadong dalam menjalani kehidupan, saya jadi belajar arti perjuangan, berusaha yang terbaik dan bersyukur dalam menjalani kehidupan…🙂

(reques dari Mbak bel…:p )

Foto kitaDSC_0406

Surabaya, 15 Agustus 2013

About tantri

I am nobody who really want to be somebody. Extremely introvert cheerful and easy going girl.. :) Thanks for visiting this blog... ^^

Posted on August 20, 2013, in experince. Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. Poto dadongnya donk😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: