Prosesi pernikahan adat Bali: Pernikahan saya


Setelah tepat setahun lalu saya menulis tentang prosesi pernikahan adat Bali yang dijalankan oleh teman saya, pada tahun ini giliran saya menulis lagi tentang prosesi pernikahan Bali based from my experience. Yups.. kira-kira 2 minggu lalu saya melewati prosesi pernikahan adat Bali yang panjang dan cukup melelahkan. Prosesi pernikahan adat yang tentunya penuh makna tersebut dilaksanakan kurang lebih selama 7 hari dengan upacara adat besar dilaksanakan dari tanggal 11-14 Oktober 2013 dan upacara adat kecil-kecil yang dilaksanakan tanggal 10 Oktober, 15-17 Oktober 2013. Acaranya cukup panjang dan melelahkan tentunya sehingga sayapun merasa kapok untuk menikah.. cukup sekali saja deh merasakan capeknya menikah..hehe…

Begini cerita detail pernikahan adat Bali yang saya lalui…

Tanggal 10 Oktober (malam hari) merupakan acara awal dari prosesi pernikahan. Dimulai dengan beberapa keluarga inti dan perwakilan keluarga dari suami saya (hmm pada saat itu masih calon suami..heehee)  datang kerumah dengan tujuan untuk sekedar bersilaturahmi dan memantapkan acara esok hari. Orang di Banjar (desa) suami saya menyebut acara ini dengan nama Mesedekan (mendekatkan). Acara berlangsung secara semi-formal tetapi lebih mengarah ke informal. Mereka menggunakan bahasa Bali halus yang agak sulit saya mengerti..haha.. Acara ini berlangsung lancar selama kurang lebih 2 jam.

Tanggal 11 Oktober (pukul 15.00 WITA) merupakan acara hampir inti dari acara pernikahan kami. Keluarga besar suami saya beserta warga Banjar tempat tinggal suami saya beramai-ramai datang kerumah saya untuk menjemput saya. Acara ini namanya Ngidih (meminta). Bukan sekedar menjemput atau meminta saya secara paksa loh yaa.. hehe.. acara ini diselingi dengan prosesi-prosesi dan upacara-upacara adat dan keagamaan. Mungkin ini adalah semacam acara akad nikah atau pemberkatan pernikahan gitu. Sebelumnya, saya selaku calon pengantin perempuan harus menunggu didalam kamar (nama kamarnya adalah bale daje (balai sisi utara)). Selama saya menunggu didalam kamar, di bale dangin_balai sisi timur (suatu tempat yang biasa dilaksanakan upacara Manusa Yadnya di Bali salah satunya pernikahan) dilangsungkan proses meminang/meminta mempelai wanita yang dilakukan oleh klian banjar (semacam kepala desa), orang tua mempelai pria dan mempelai pria serta disaksikan oleh seluruh warga banjar dan keluarga baik dari mempelai laki maupun perempuan. Kira-kira isi inti percakapannya begini…(semua dialog dilakukan menggunakan Bahasa Bali halus)

Perwakilan keluarga saya: ada apakah gerangan bapak-ibu serta warga banjar sekalian datang bertamu beramai-ramai kerumah kami?

Klian banjar suami saya : kami dengar bahwa warga banjar kami yang bernama… (nama suami saya).. memiliki hubungan kusus dengan anggota keluarga anda yang bernama (nama saya).. sehingga maksud kedatangan kami adalah hendak menanyakan kesediaan untuk dipinang…

Perwakilan keluarga saya : oh ya,apakah betul demikian? Atas dasar apa saudara.. (nama suami saya)… hendak meminang .. (nama saya).. apakah betul-betul atas dasar cinta? Apakah benar seperti itu?

Klian banjar suami saya: atas dasar suka-sama suka dan cinta sama cinta. Betul begitu saudara.. (nama suami saya)..

Suami saya : betul begitu pak…

Perwakilan keluarga saya: Baik kalau begitu mari kita tanyakan saudari …(nama saya).. secara langsung apakah betul demikian yang terjadi. Silahkan ibunda dari.. (nama saya).. silahkan memanggil..(nama saya)…

(… lalu ibu saya menjemput saya keluar dari bale daje menuju bale dangin..sayapun dipersilahkan duduk..)

Perwakilan keluarga saya: Tantri… ini ada orang dari banjar …(nama daerah suami saya) datang kemari hendak meminang kamu. Nama orang tersebut adalah… (nama suami saya).. apakah kamu betul-betul kenal dengan dia?

Saya : betul kenal..

Perwakilan keluarga saya : apakah kamu betul-betul bersedia dipinang oleh dia atas dasar cinta sama cinta dan tidak ada paksaan dari siapapun?

Saya : betul cinta dan tidak ada paksaan..

Perwakilan keluarga saya : Bagaimana saudara..(nama suami saya).. apakah kamu betul betul cinta dan secara sadar mau meminang keluarga saya yg bernama..(nama saya)…

Suami saya : iya betul dan sadar…

Perwakilan keluarga saya : baik, berarti apa yang dikatakan saudara klian banjar betul bahwa saudara (nama suami saya) memang ada hubungan dengan salah satu anggota keluarga saya yang bernama (nama saya) atas dasar cinta-sama cinta.. baik kalau begitu saya serahkan kepada klian banjar…

Klian Banjar suami saya : Baik kalau begitu, disini dengan disaksikan oleh keluarga besar baik dari keluarga (nama suami saya) dan (nama saya) serta warga banjar pada masing-masing daerah mempelai telah menyaksikan bahwa warga desa saya yang bernama (nama suami saya) akan meminang (nama saya). Untuk itu kami mohon ijin untuk membawa saudari (nama saya) untuk melangsungkan segala upacara prosesi pernikahan di banjar kami.

Perwakilan keluarga saya : Baik kalau begitu, silahkan melangsungkan upacara pernikahan di Banjar bapak. Tapi sebelumnya saya persilahkan kepada (nama ayah saya) untuk memberikan wejangan pernikahan untuk mereka berdua…

…. Kira-kira seperti itulah prosesi formal prosesi awal pernikahan. Pada tanggal ini juga dilangsungkan penandatangan berkas-berkas pernikahan oleh saya dan suami, orang tua kami serta para saksi yang hadir. Setelah proses ini, kami melakukan persembahyangan di merajan rumah saya lalu kemudian setelah berpamitan saya dibawa oleh keluarga besar suami saya kerumahnya yang berjarak kurang lebih 10 menit dengan menggunakan mobil.

Memasuki pekarangan rumah suami saya, sebelumnya dilaksanakan upacara natab atau semacam prosesi ucapan selamat datang kepada saya selaku anggota baru dan memohon restu supaya segala prosesi berjalan dengan lancar. Selanjutnya, selama 3 hari kedepan kami tidak diperkenankan untuk keluar dari pekarangan rumah. Jadi kami mulai dipingit… hohoo… Upacara selanjutnya dilaksanakan di Bale dangin rumah suami saya berupa natab banten pernikahan, suap-suapan, makan sirih dll seperti halnya adat jawa.

Tanggal 12 Oktober 2013. Hari pertama dirumah suami saya awali dengan bangun pagi. Karena warga Banjar sudah mulai berkumpul untuk mempersiapkan acara hari ini sehingga sayapun juga harus bergabung dengan mereka. Pada hari ini, warga banjar dan beberapa saudara jauh datang kerumah untuk prosesi non-formal yang diberi nama medelokan (melihat mempelai). Mereka membawa Gula,beras dan telur sambil berkenalan dengan saya dan suami. Prosesi ini berlangsung terus dari pagi hingga menjelang malam. Berhubung mertua saya ada hubungan baik dengan bangsawan-bangsawan dikerajaan, sehingga banyak sekali tamu-tamu bangsawan yang hadir dalam acara ini. Hal tersebut membuat saya bingung berbahasa. Bagaimana tidak, berbicara dengan bangsawan harus menggunakan bahasa Bali halus. Saya yang kelahiran Surabaya, besar dan hidup diSurabaya jadi merasakan “roaming nasional” terhadap bahasa tersebut.. haahaa.. cuek ajah deh, pake Bahasa Indonesia gakpapa lah asal mertua nda tau. Kalau tauu.. beuhh saya bisa dijewel karena ndak tau unggah-ungguh..heehee.. Tapi giliran bule australia kawan saudara mertua yang hadir, giliran saya dipanggil mertua disuruh jadi transleter.. hahaha.. gakpapa lah,biar ada gunanya nih menantu barunya..:p

Tanggal 13 Oktober 2013. Hari kedua dirumah suami saya awali lagi-lagi dengan bangun pagi. Karena, hari ini warga Banjar datang kerumah suami pagi-pagi sekali untuk mempersiapkan acara hari ini. Ada beberapa warga yang mempersiapkan makanan untuk dikonsumsi warga banjar dan pemuda dalam acara nanti malamnya. Ada beberapa warga yang mempersiapkan sesajen untuk upacara pada esok harinya. Ada beberapa warga yang mempersiapkan peralatan-peralatan untuk acara Mebat (pesta babi guling, ngelawar dan acara makan-makan yang bertema pesta rakyat) yang akan diadakan pada tanggal 14 Oktober dini hari. Tamu-tamu dan keluarga besar masih juga berdatangan dalam acara medelokan seperti halnya yang dilakukan pada hari sebelumnya. Kemudian pada malam harinya berlangsung acara perkenalan dengan warga. Dibali sistem adatnya adalah perempuan yang menikah akan masuk menjadi keluarga mempelai laki-laki sekaligus masuk sebagai anggota Banjar tempat asal mempelai laki-laki, sehingga pada malam itu saya diperkenalkan sebagai anggota baru dihadapan warga Banjar setempat. Prosesi ini dihadiri oleh seluruh warga Banjar dan seluruh pemuda-pemudi Banjar tersebut. Dalam acara ini Klian Banjar (kepala desa) memperkenalkan saya sebagai istri dari warga Banjar tersebut sekaligus sebagai warga baru di Banjar tersebut. Nomer warga saya adalah 1444, angka cantik bukan?! heehee…

Tanggal 14 Oktober 2013. Hari ketiga dirumah suami, saya awali lagi-lagi dengan bangun lebih pagi lagi. Saya harus bersiap sejak pukul 3 dini hari, sedangkan suami saya hanya tidur 1-2 jam karena mengikuti acara mebat, pesta rakyat memotong Babi, membuat babi guling dan ngelawar yang dimulai sejak malam hingga dini hari bersama bapak-bapak warga Banjar. Saya harus bangun dini hari untuk bersiap melakukan proses rangkaian upacara pernikahan yang namanya Mekala-kala yang rencananya dilaksanakan sepagi mungkin. Rencana awal upacara akan dilaksanakan pada pukul 4 pagi, tapi kemudian diundur menjadi pukul 5 pagi yang dipimpin oleh pemangku (pemuka Agama). Upacara dibuat sepagi mungkin untuk menghindari “tangan-tangan hitam nan jahil” yang berniat buruk. Selain itu, hari ini merupakan hari terpadat karena sangat banyak acara sehingga perlu diawali sepagi mungkin. Acara mekala-kala baru bisa dimulai pukul 5.30 pagi. Prosesi dan tujuan upacara mekala-kala dan upaca lainnya dalam pernikahan kami dapat dilihat pada weddingblog kami.

Setelah upacara Mekal-kala usai, acara dilanjutkan dengan mepamit yang dilakukan dirumah saya. tetapi sebelumnya kami harus berganti pakaian dan mengenakan pakaian pernikahan Agung dengan bunga emas tinggi dikepala yang membuat pusing kepala.heehee… Kami bertolak menuju rumah saya pukul 9 pagi. Perjalanan kerumah saya dilakukan dengan beriring-iringan, seperti iring-iringan pengantin atau apalah namanya. Dirumah saya,sudah menunggu keluarga besar, kawan dan warga dari Banjar saya. Hari ini merupakan hari dimana saya harus berpamitan kepada leluhur dirumah saya, karena secara adat saya sudah bergabung dengan keluarga suami saya. Sehingga sayapun harus pamit juga kepada leluhur dirumah asli saya. Acara berpamitan dilakukan selama kurang lebih 1.5 jam. Setelah itu, rombongan harus kembali kerumah mempelai laki-laki karena adanya acara resepsi yang berlangsung pada pukul 11.00 WITA. Resepsi berjalan seperti halnya resepsi biasanya. Bedanya, kalau adat jawa mempelai duduk diatas pelaminan lalu para tamu menyalami pengantin. Tetapi dalam adat Bali, tidak ada pelaminan jadi mempelai bebas berjalan-jalan menemui para undangan. Setelah resepsi, acara berikutnya adalah Upacara Mejaya-jaya yang dipimpin oleh Pedanda. Upacara ini merupakan puncak dari upacara pernikahan sekaligus akhir dari upacara besar adat pernikahan Bali. Proses dilakukan dengan bersembahyang, kemudian natap, kemudian suap-suapan, menggigit sirih dll yang mirip dengan budaya pernikahan Jawa. Prosesi berlangsung hingga pukul 5 sore. Namun hingga pukul 10 malam para tamu masih berdatangan.

Tanggal 15 Oktober 2013. Hari keempat dirumah suami. Kami tidak perlu bangun pagi seperti hari kemaren..horeee. Tapiii, tetap saja saya harus bangun pagi karena mengurus sesuatu dengan ibu mertua saya. Hari ini tidak seberapa sibuk seperti hari sebelumnya. Upaca-upacara besar sudah selesai, namun masih ada acara-acara kecil yang masih harus dilakukan yaitu natab (semacam berdoa atau apalah,sulit dijelaskan) selama 3 hari berturut-turut.

Tanggal 16-17 Oktober 2013 juga tidak ada upacara-upacara besar dan hanya upacara natab saja yang dilakukan. tetapi pada tanggal 17 Oktober juga dilakukan acara adat yang namanya melali (berkunjung). Jadi, saya, suami beserta mertua saya mengunjungi rumah asli saya sambil membawa ketupat dan jajanan lainnya. Semacam silaturahmi gitulah. Pada acara tidak resmi ini kami juga diharuskan untuk makan dirumah asli saya. Entah tujuannya apa, tapi kata ibu mertua, kami harus ngidih nasi (minta nasi) sedikit saja dirumah.

dan usailah prosesi pernikahan adat Bali yang saya lalui beserta suami. Capek memang, tapi justru rangkaian adat yang memiliki makna simbolis inilah yang dapat menjadi kenangan dari sebuah pernikahan. Pernikahan menurut saya dan suami bukanlah sebuah pesta mewah dengan tujuan untuk berhura-hura. Pernikahan merupakan penyatuan 2 manusia untuk mempererat silaturahmi, antara 2 keluarga sekaligus 2 warga Banjar kedua mempelai. Silaturahmi antar manusia tersebut ditandai dengan adanya rangkaian prosesi kunjung dan mengunjungi serta perkenalan antara keluarga besar maupun warga banjar dari Banjar saya serta Banjar suami. Silaturahmi dengan leluhur juga ditandai dengan prosesi dan upacara adat dalam rangkaian upacara pernikahan. Silaturahmi dengan Tuhan juga dilakukan dengan rangkaian upacara sakral yang berlangsung dalam prosesi pernikahan. Selain itu, pernikahan adat yang telah saya lakukan tersebut membuka mata saya tentang arti kerukunan, arti gotong royong dan kebersamaan dimana warga banjar dari masing-masing desa kami, saling tolong menolong, kunjung mengunjungi dan saling membantu dalam mempersiapkan segala rangkaian upacara. Prosesi pernikahan adat yang lengkap ini juga merupakan salah satu cara untuk tetap melestarikan adat dan budaya Indonesia yang sangat mewah dan penuh makna. Lebih mewah dibandingkan dengan melangsungkan pernikahan dihotel dan gedung megah.. hehehe…

1374038_10201222501182957_1317118836_nSekian..

^Tantri^

About tantri

I am nobody who really want to be somebody. Extremely introvert cheerful and easy going girl.. :) Thanks for visiting this blog... ^^

Posted on October 25, 2013, in experince. Bookmark the permalink. 5 Comments.

  1. Waaah selamat menikah mbak Tantri. Pantesan sudah lama tak wara-wiri😀

    Saya setuju dengan: “Rangkaian adat yang memiliki makna simbolis inilah yang dapat menjadi kenangan dari sebuah pernikahan. Pernikahan bukanlah sebuah pesta mewah dengan tujuan untuk berhura-hura. Pernikahan merupakan penyatuan 2 manusia untuk mempererat silaturahmi, antara 2 keluarga”.

    kalau bukan kita yang melestarikan adat istiadat itu, siapa lagi? Alamat punah lah dia🙂 Ya kan, mbak?🙂

    • iyaa.. terima kasih mbak Messa.. iya nih, kehidupan baru..tempat tinggal baru.. adaptasi nih, jadi blm sempet ngeblog dan wirawiri di dunia per-blogan.heehe..

      iya, betul sekali.. adat istiadat dan budaya adalah identitas Indonesia yg patut dibanggakan sehingga harus dilestarikan…🙂

  2. ahhh aku pun numpang menikah di kampung mu mbak heheh numpang dalam arti kata sebenarnya :-))

  3. makasi mbok, infonya hehe🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: