Lombok bukan cabe… (Part 2: Desa Sade, Sukarara, Pantai kuta dan Senggigi)


Lomboook here we come without my big camera..(gara-gara ada “Mahkluk jail” cerewet yang menyebabkan saya lupa membawa Kamera…:p ) #Melanjutkan cerita liburan pada postingan saya sebelumnya#

Bandara LombokPesawat yang kami tumpangi mendarat dengan mulus di bandara Internasional Lombok Praya. Bandaranya masih terlihat baru dan masih tertata rapi. Kerumunan warga lokal terlihat bergerombol didepan bandara. Ada yang duduk ditikar sambil menikmati camilan. Ada yang melihat kearah bandara seolah menanti sesuatu yang muncul. Ada yang bermain bola atau hanya sekedar berkejar-kejaran. Awalnya saya kira bahwa gerombolan warga yang terlihat seperti piknik di depan bandara itu adalah para keluarga penjemput penumpang pesawat, tetapi ternyata gerombolan warga itu memang benar-benar piknik di pelataran luar bandara. yaa..memang,mereka benar-benar sedang berpiknik. Cerita ibu saya yang baru sebulan lalu ke Lombok, bahwa diluar bandara banyak sekali warga lokal yang bergerombol piknik sembari menanti pesawat lewat. Mungkin pesawat masih merupakan barang langka bagi warga sekitar area bandara, atau mungkin memang tidak ada hiburan lainnya selain bandara baru itu. ahh, tidak perlu berspekulasi, mari kita lanjutkan perjalanan.

piknik piknik

Tujuan pertama dari jalan-jalan kami adalah menuju Desa Sade, Rembitan yang terletak di lombok tengah. Sama halnya dengan kawasan-kawasan lain di Indonesia, Lombok juga memiliki suatu desa unik yang masih menampilkan ke khasan daerahnya. Salah satunya adalah desa yang kami kunjungi kali ini yang terletak di kawasan rembitan. Desa ini unik karena masih sangat menjunjung adat lokal ditengah kemoderenan jaman. Desa ini terletak dipinggir jalan besar dan beraspal,namun suasana didesa ini masih terjaga kepolosannya. Warga desa yang didiami suku Sasak ini adalah berjumlah 700 jiwa dari 150 kepala keluarga. Gaya hidup yang berkelompok menjadikan warga desa ini menjalin tali kekeluargaan yang sangat erat. Saya mencatat beberapa keunikan yang ada didesa ini yaitu:

a. Masih melaksanakan sistem kawin lari (walaupun sebenarnya mereka tidak kawin sambil lari loo yaa..hehehe..). Maksudnya, sistem pernikahan dengan menculik si gadis masih dilaksanakan didesa ini walaupun sebenarnya keluarga si gadis tau bahwa anak gadisnya hendak diculik. Hal ini semata-mata hanya untuk menjungjung adat budaya setempat. Pada masing-masing rumah terdapat sebuah ruangan tanpa jendela yang digunakan untuk tempat “sembunyi” si gadis supaya tidak diculik. Tetapi nyatanya, “penculikan” masih terus terjadi.πŸ™‚

b. Melakukan sistem mengepel lantai dengan kotoran kerbau. Konon katanya, kotoran kerbau yang sudah mengering dapat menyebabkan lantai rumah menjadi lebih kinclok. (apakah anda mau mencoba dirumah anda masing-masing?? heheh..) . Selain itu, fungsi lainnya adalah bau kotoran kerbau dapat mengusir nyamuk (dan bahkan bisa jadi mengusir si empunya rumah karena baunya..heheh…#bercanda#). Dampak positif dari pengepelan kotoran kerbau ini adalah, saling terikatnya hubungan kekeluargaan antar warga. Hal tersebut terjalin karena apabila siempunya rumah mengepel lantai dengan kotoran kerbau, selama 3 hari rumah tersebut dikosongkan dan siempunya rumah biasanya menginap di rumah tetangganya.

c. Masih membudayakan sistem menenun kain dengan cara manual. Bahkan pembuatan benangnya juga dilakukan secara manual. Saya melihat ada nenek-nenek (yang mungkin usianya 80 tahunan) masih melakukan pemintalan benang untuk menenun.

d. Rumah di Desa ini masih sangat tradisional. Masih beratapkan rerumputan jerami ijuk dll yang katanya harus mereka ganti dengan manual paling tidak setahun sekali. Lantainya masih dari tanah dan ada juga yang terbuat dari semen yang dilapisi kotoran kerbau. Dindingnya masih berupa gedeg (anyaman bambu). Kuda-kuda, kolom dan balok stuktural rumahnya masih juga terbuat dari bambu. Yang pasti, semuanya masih tradisional.

e. Kamar mandi, toilet terletak diluar rumah. Karena mereka percaya bahwa kamar mandi adalah rumahnya setan. Sehingga mereka tidak mau tinggal seatap dengan setan. Walhasil, kamar mandi tidak ditempatkan seatap dengan rumah utama.

Saya tidak terlalu banyak meng-captured desa ini karena saya masih sakit kepala dan ngantuk pada saat itu, sehingga apa yang guide lokal katakan hanya masuk kuping kanan dan keluar kuping kiri..hehe..Begidtu juga dengan Dene, kupingnya buntu karena ngantuk..:p Kami hanya bisa merekam sedikit saja tapi masih sempat berfoto-foto kok di sana..hehe.. Beberapa ulasan tentang desa ini bisa dibaca di blog tetangga (link: ini , itu, lain )

lantai yang baru dilumuri kotoran kerbaurumah tradisioanl di desa Sagenenek pemintal benang ibu penenunpintu kamar gadisDesa Sada

Kunjungan berikutnya adalah menuju desa Sukarara yang juga memiliki kekhasan motif tenun. Sebenarnya sejak dari Surabaya, saya sudah meniatkan diri untuk memberi selembar tenun dengan motif unik dan khas dari masing-masing desa di Lombok. Setelah saya membeli selembar kain tenun kecil di desa Sade, saya juga berniat membeli sehelai dari desa Sukarara. Motif kain tenun didesa ini menurut saya jauh lebih bagus dan bercorak dibandingkan dengan motif tenun didesa Sade yang simple dan hanya bergaris-garis. Tetapi, harganya tidak seindah motifnya sodara-sodaraaa. Sehelai kain songket bisa dihargai sekian ratus ribu hingga jutaan. Memang sih ya,sepadan dengan usaha para penenun yang teliti satu persatu merangkai benang hingga menghasilkan motif seindah itu. Saya suka motifnya, saya suka warnanya, tapi sejujurnya saya tidak suka dengan harganya.hehe. Dene juga ndak suka harganya,diapun juga tidak seberapa doyan dengan kain-kain. Mungkin karena daerah pengrajin kain yang saya kunjungi ini juga dikunjungi oleh para wisatawan mancanegara, sehingga harga kainnya menjadi fantastik harga bule gitu. Tapi,entahlah.. setelah melihat harga seluruh jenis kain ditempat itu, saya memantapkan diri untuk tidak jadi membelinya.. huuhuuhuu… (Dene juga tidak sudi membelikan saya selembar kain dengan harga jutaaan ituuu..huuhuu.) Nantilah kalau saya sudah kaya-raya baru deh saya mau membelinya..πŸ˜€

Proses pembuatan kain tenun berpola seperti yang ada didesa ini bisa memakan waktu hingga berbulan-bulan. Diawali dengan memilah benang pada masing-masing warna untuk membentuk sebuah pola tertentu yang memakan waktu hingga seminggu. Baru kemudian sedikit demi sedikit para penenun dengan teliti merangkai helai demi helai benang hingga menjadi selembar kain. Biasanya dalam sehari (dalam 8 jam kerja) masing-masing penenun dapat membuat 10-15 cm kain tergantung motifnya. Padahal panjang total kain adalah 4 meter. Jaman dulu, menenun adalah suatu kewajiban bagi anak gadis. Mereka tidak diperbolehkan menikah apabila belum bisa menenun. Kebisaan menenun pada anak gadis dapat dilihat dari panjang rangbutnya. Apabila si gadis berambut panjang, itu berarti bahwa mereka sudah bisa dan pandai menenun. Apabila belum bisa menenun, maka rambut sigadis tidak diijinkan panjang. Tapi itu dulu, saya tidak tau apakah jaman sekarang masih juga seperti itu. Kalau untuk laki-laki, mereka tidak diijinkan untuk membuat kain tenun seperti yang dilakukan oleh perempuan. Saya tidak jelas kenapa ya.. (lagi-lagi mata saya ngantuk mendengarkan penjelasan dari guide, sehingga masuk kuping kanan keluar kuping kiri..hehe..). Penjelasan lebih jelas ada pada blog khusus Desa Sukarara.

Perjalanan kami dilanjutkan menuju Pantai Kuta (beda loo dengan yang di Bali..). Pantai ini terkenal dengan pasirnya yang butirannya sama seperti butiran merica. Pantainya tenang, sepi dan bagus walau pemandangan dipintu masuk pantai ini masih terkesan kusam dan tidak terawat dengan baik. Saya suka pantai karena di Surabaya tidak ada pantai yang indah. Pasirnya bagus seperti merica memang. Sayapun melepas sandal lalu berlalu penuju pesisir. Tetapi Dene, dia saltum (salah kostum) eh salsep (salah sepatu)..haha.. Jadinya, dia ndak seberapa doyan untuk bermain-main mendekati air dan berjalan diatas pasir merica karena dia pakai sepatu. Sepatu seperti bapak-bapak mau ngantor pula. yeeeehh sudah tau mau berlibur,eh ente malah pake kostum kaos berkerah,celana kain en sepatu kantor.πŸ˜€ . Karena ndak betah ditinggal istrinya berjalan-jalan tanpa alas kaki dan berlari diatas pasir pantai lalu narsis foto-foto, walhasil Dene melepas sepatunya lalu ikutan nyemplung ke air lalu berfoto di bibir karang. hehe..

Saya nihh Kuta Lombok

Setelah puas berfoto, puas berlari diatas merica, puas memandang pantai, kami bertolak menuju Pantai Senggigi. Tepat disebelah pantai senggigi adalah merupakan resort&hotel yang akan kami tinggali selama 3 hari 2 malam.. cuhuiyyy..

(Bersambung…)

About tantri

I am nobody who really want to be somebody. Extremely introvert cheerful and easy going girl.. :) Thanks for visiting this blog... ^^

Posted on November 19, 2013, in experince. Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. Pantai Kuta Lombok emang keren!
    ada foto sunsetnya kah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: