Terjebak dalam mindset wanita Asia?


sekitar 3 hari yang lalu tiba-tiba saya ditelpon oleh kawan lama saya yang memang sudah cukup lama kita ndak bersua-sua. Alhasil, untuk melepas kekangenan saya dengan ibu-ibu kawan lama saya yang menelepon itu, kamipun ngerumpi ngalor-ngidul ini-itu dan ha-ha-hi-hi agak ndak penting. Kebetulan beliaunya sedang lowong ditengah jadwal pelatihan penulisan ilmiahnya di Kota Malang, dan sayanya juga sedang lowong-bolong diruangan laboratorium saya setelah selesai mengajar kelas. Tema obrolannya ya ini-itu dan ngrumpiin kawan-kawan kami yang sudah mencar kemana-mana hingga membicarakan kehidupan saya pasca pernikahan. Lalu si ibu itu tiba-tiba bertanya seputar kehidupan saya yang inti pertanyaannya adalah begini

“Mbak, sampeyan sudah bisa masak tah buat suaminya” Tanya si ibu kawan baik saya itu.

“Yahh kalau sempat masak bu, kalau ndak ya saya beli” jawab saya yang menurut saya sangat wajar.

Lalu tiba-tiba kawan saya itu menasihati saya yang intinya adalah “mbak Tantri sebagai istri harus bisa masakin suami donk”

Obrolan kami kemudian berlanjut lumayan panjang dan kemudian berakhir karena kelas penulisan ilmiah kawan saya itu sudah akan dimulai.  Dengan berakhirnya obrolan kami ditelepon itu tiba-tiba saya berpikir tentang salah satu tema pembicaan kami kala itu yaitu, sebagai istri saya DIHARUSKAN bisa memasak untuk suami. Oh ya? Apa iya seorang istri harus bisa memasak supaya bisa disayang suami? lalu, apa iya seorang istri harus pintar bersih-bersih rumah dulu supaya disayang suami? lalu, apa iya seorang istri harus mencucikan baju dan menyetrikakan baju suami supaya bisa disayang suami? lalu, suami harus apa supaya bisa disayang istri? Tiba-tiba saya terjebak dalam pemikiran tentang hakekat sebuah pernikahan, tugas seorang istri dan tugas seorang suami, kewajiban dan hak istri dan suami dalam kehidupan berumah tangga.

Saya pernah tinggal satu tahun dalam sebuah keluarga Eropa dalam suatu program home-stay dimana disana saya bisa belajar tentang cara hidup dan cara pandang mereka tentang kehidupan. Suami istri dalam keluarga itu sama-sama bekerja sehingga sama-sama memiliki kesibukan yang menggunung diluar rumah. Untuk urusan rumah, mereka mengerjakan secara bersama-sama. Apabila  istri pulang agak malam, maka sang suamilah yang akan memasak. Apabila sang istri sedang sangat sibuk sedangkan sang suami sedang kosong,maka dia tidak segan-segan membersihkan rumah. Begitu juga sebaliknya, sehingga segala urusan rumah terselesaikan dengan bersama-sama. Tidak ada keharusan bahwa seorang istri yang harus mengerjakan segala urusan rumah. Sang suamipun juga memiliki tugas belanja, sebuah tugas yang dalam mindset saya adalah tugas seorang wanita. Tetapi dilain waktu, apabila sang istri lowong, dan sang suami sibuk maka sang istrilah yang melakukan belanja. Awalnya saya agak sedikit heran dengan kebiasaan-kebiasaan mereka, karena dalam mindset saya, tugas seorang istri adalah segala urusan domestik rumah tangga. Tetapi mindset lawas saya berubah dengan melihat kehidupan dan kemesraan mereka berdua. Sehingga tak ada pikiran lagi bahwa untuk disayang suami, wanita harus memasak,membersihkan rumah, mencuci,menyetrika dan doing all the house-helper doing. Justru suami atau istri bersedia melakukan segara urusan rumah sebagai tanggung jawab bersama atas dasar sayang dan cinta,bukan karena memohon sayang/cinta pada pasangannya.

Begitu juga dalam kehidupan pernikahan saya, suami saya never-ever-ever berpikiran dengan menikahi saya maka dia akan mempunyai pembantu baru dirumahnya. Tetapi, karena saya sejak kecil sudah memiliki mindset wanita asia dengan ibu saya yang seorang ibu-rumahtangga tulen yangmana wanita harus mengurusi urusan domestik rumah tangga, sehingga saya masih melakukan hal-hal tersebut. Saya melakukannya kalau tenaga dan waktu masih mencukupi dan tidak ada pemaksaan-pemaksaan yang membuat saya melakukan itu. Saya dan suami sama-sama bekerja sehingga sebagian waktu kami memang tidak untuk dirumah, sehingga kami berusaha untuk melakukan segala urusan rumah dengan bersama-sama.  Saya merasa appreciate kalau suami saya mau membersihkan rumah ataupun berkebun kalau dia melihat saya sedang sibuk memasak. Saya merasa suka juga kalau setelah saya selesai menyapu tiba-tiba dia membantu saya mengepel. Suami saya juga suka kalau dia sedang sibuk didepan labtop dengan pekerjaannya,tiba-tiba saya membuatkannya minuman dingin kesukaannya atau melakukan hal-hal kecil buat dia tanpa disuruh. Saya juga senang kalau tiba-tiba dia mencucikan mobil saya atau membersihkan sepatu saya pada saat saya sedang sibuk menyikat kamar mandi atau mencuci baju.Saya juga suka kalau suami saya bersedia menggoreng ayam tanpa disuruh apabila dia melihat istrinya sedang capek.

Suatu ketika kalau kami sama-sama sangat lelah dengan urusan pekerjaan, tidak ada salahnya kalau kami membawa cucian ke laundry dan membeli makanan diluar tanpa harus repot-repot memasak. Tidak ada salahnya juga kami menaruh mobil ketukang cuci mobil dan menyewa tukang bersih-bersih kebun. Jadi, urusan pekerjaan dapat berjalan dengan baik tanpa meninggalkan segala urusan domestik rumah tangga.  Jadi, saya tidak terlalu terjebak dalam mindset wanita asia bahwa segala urusan domestik adalah urusan saya sebagai istri. Sayapun juga tidak takut kadar sayang dan cinta suami saya akan berkurang hanya gara-gara saya tidak 100% mengurusi urusan domestik rumah.

Mungkin akan lain lagi ceritanya kalau saya bukan wanita yang bekerja,tetapi murni ibu rumah tangga. Sehingga segala urusan domestik sah-sah saja secara resmi menjadi 100% urusan saya.🙂

About tantri

I am nobody who really want to be somebody. Extremely introvert cheerful and easy going girl.. :) Thanks for visiting this blog... ^^

Posted on December 9, 2013, in experince. Bookmark the permalink. 33 Comments.

  1. zaman sudah berubah, bukan saat nya lagi istri hanya di dapur dan dkasur. Semua nya harus bisa berdiri sama2 mencapai kebahagiaan.
    Tapi smeu anya kembali lagi ke suami nya, apakah bisa seperti itu. Hmmmm tapi dengan istri bisa masak menjadi nilai lebih sech hahaha #tetep

  2. iya sih sebenernya lebih bagus kalo pekerjaan mengurus rumah itu dipandang sebagai “kerja tim” hehe. apalagi kalau udah punya anak, biar gak kehabisan energi buat menghabiskan waktu bersama anak. kadang orangtua terlalu sibuk mengurus rumah, pas anaknya minta perhatian malah diketusin dengan alasan capek. kasian anaknya.

    • yeah.. that’s true. Membangun keluarga dan hidup berumah tangga adalah sebuah kerja tim yang harus dilaksanakan berdua tanpa harus ada tekanan,paksaan,umpatan,keterpaksaan dll..🙂 woooww..its must be much more challenging klo sudah punya anak nanti yah, kerja timnya harus lebih josss… ^^

  3. Halo Tantrii, apa kabar? Ehh ketemu nya di blog lagi yaaa dan udah merit, happy wedding yaa🙂 Iaa itu bener, kalau abis dari ngeliat si host family di sana yang bahu membahu kerja urusan rumah tangga, mereka bahagia2 aja yaa🙂

    • Hei Astrid..kbr baik,kamu apa kbr? wahwah, kita nda pernah ketemuan di Eropa sewaktu disana tp ketemunya di Blog..:) Thanks much yah.. iya betul, mindset wanita asia yg ngemong (lebih care gitu) membuat wanita Indonesia jd ngerasa punya tugas utama untuk ngurus rumah. Itu kenapa banyak laki2 eropa yang suka dng wanita Asia krn mindset itu kali’ yaaa…:)

  4. Beda negara berbeda mindsetnya. Ada negara yg kaum prianya sama sekali ga mau ke dapur atau bantu urusan rumah tangga karena menurut mereka itu kerjaan wanita, ada pula negara yg kaum prianya biasa ngerjaian urusan dapur dan rumah tangga.

    Untungnya suamiku mau bantu/ngerjain kerjaan ibu rumah tangga, klo aku masak, dia nyadar harus cuci piring, aku cuci pakaian (padahal pakai mesin cuci), klo selesai suami yg menggantung pakaiannya, klo aku bersihkan rumah, dia pasti ikutan sadar bantuin, klo aku repot di kebun ngurus tanaman2ku, suami yg masak hehe😀 .

    Anak melihat orangtuanya, misal si bapak bantuin istrinya di dapur, maka setelah anaknya besar dia berpikir klo dia juga harus bantuin istrinya.

    • iya ya, pria pria Non-Asia memang sudah terbiasa dengan mind set team work dalam mengerjakan urusan rumah tangga ya.. Klo di US malah ada komunitas yg namanya SAHD (Stay at home dad) atau semacam bapak rumah tangga gitu dengan alasan supaya anak2 dirumah msh dpt kasih sayang ortu dan karena ibunya lbh punya pekerjaan yg mapan. Mereka nda malu dengan status tsb.. coba di Indonesia.. salah satu pemicu KDRT justru adalah istri lebih hebat karirnya dibanding suami,shg suami merasa tersaingi lalu tersinggung jadi dilampiasin marahnya ke istri.

      iya, suamiku walo orang Indonesia untungnya agak punya mindset kayak orang Eropa untuk urusan rumah tangga. Walaupun kadang2 kumat juga mindset asianya.. heheehee.. #jitak suami# :p

      Iya, mindset tertanam pd anak karena lingkungannya.🙂

      • Saya pernah baca satu artikel yg mengulas “bapak rumah tangga”, jadi istrinya kerja kantoran, nah si bapak yg mengasuh anak. Mungkin tergantung masing-masing keluarga ya, ada yg bapak rumah tangga harus kerja di luar rumah, lah malah di negara lain bpknya kerja dirumah hihi.

        • hihihi.. iya, itu deh mbak Nella.. Mindset mereka menjadikan bapak rumah tangga adalah hal biasa.. kalau di Indonesia raya mah jarang yang begitu..:) tapi kasihan juga sih ya istrinya,bebannya jadi berat.Karena urusan hamil dan melahirkan secara biologis adalah “kewajiban”perempuan, ndak bisa dipindah ke laki-laki kecuali ada metode kedokteran yg bisa dengan gampangnya memindahkan rahim perempuan ke laki2..hehe.. jadi kalau istri yg sibuk kerja, nanti juga bakalan hamil 9 bulan lalu melahirkan,lalu ngurusin bayi juga dan kerja juga..kok rasanya makin ribet deh peran wanita. Laki2 dirumah (secara psikologis laki2 punya desire terhadap lawan jenis lebih besar) lalu tiba2 ada ibu2 tetangga cantik dan seksi,tiba2 jadi doyan main ke tetangga deh.. hihi.. gemana yaa?!! kalau dihubung2kan dengan culture,cara pandang,kondisi psikologis dll jadi bingung deh… hehe..ngapain ya dipikirin itu..:p

  5. Hihihi.. iyaa, waktu ortuku di sini, berasa banget tuh bedanya. Tiap kali si bubu pulang, ibuku selalu bilang “bikinin teh gih” trus aku cuma jawab “nanti kalo aus juga minum sendiri anaknya” hahahahaha.. *istri kurang ajar* tapi emang pria2 sini kebanyakan udah mandiri sih yaaa.. jadi dari awal juga udah ngeh kalo kerjaan rumah itu team work. Toh awalnya nyari istri bukan karena bisa masak, bisa nyuci, bisa beres2 kan.. kalo itu mah cari ART aja kayaknya..😛

    • Setujuuu…istri tidak sama dengan ART..heehee.. aku pernah juga ditanya sama tmn2 ibuku.. “tantri,klo dirumah nyuciin bajunya suami ndak,yg nyetrika siapa, bersih2 siapa, masak nggak?” aku jawab… “Looo emangnya suamiku butuh ART ya bukan butuh istri?” untungnya ibuku nyante aja sama kebiasaan anak en mantunya yg sering tukar posisi ngurusin rumah.. mantu berkebun..anak ngecek radiator mobil.. hehe.. dll..

  6. sepakat mbak……🙂

  7. aku di rumah yang kebagian tugas untuk groceries malah suami , karena dia nya suka banget juga belanja2 makanan, saya hanya kasih list🙂
    masak pun ga melulu saya yg masak…

    • hehe.. iya ya..kegiatan groceries jadi menyenangkan dan seolah2 shoping ke mall gitu ya..:) saya juga nda melulu saya yg masak, bisa warung makan seberang rumah atau sekali2 beli fastfood..hehe..#sayamalesmasak_suamilagisibuk#

  8. Tergantung kebiasaan dan mindset juga sih kalau masalah ini. Aku di rumha juga suka bergantian sama istri untuk masak dan beberes rumah. Bahkan anak-anak juga menikmati “kerja” beberes rumah, karena buat mereka, itu seperti keluar dari kegiatan rutin mereka untuk belajar sehari-hari 🙂

  9. terpujilah wanita asia..heuheuheuheu…

  10. Aku suka sama tulisan ini, rasanya pengen aku sebarin ke smua pria indonesia ini hahahahaha… Abisna susah sih mbak, soalny kita tuh udh terdoktrin sama ajaran lama, klo pria sbg suami dah kayak hidup priyai, semua harus dilayanin, cuma emang bedanya skrg sih pelan2 suami ngerti kok ga smua urusan domestik itu urusan istri, ada jg lah dia mau bantu2 tp kdg2 tergantung mood, bukan karena kesadaran atau spontan kayak di dunia eropa sana, klo di eropa kan mau ga mau, baik co atau ce nya mau lakukan itu smua krn dituntut keaadaan harus mandiri. Nah.. Klo kebetulan istri kerja diluar rmh, dan suami mau ga mau dong harus sama2 bantu untuk urusan domestik, tp kalau istri seorang ibu rmh tangga full, aku bilang jg perlu lah mbak.. Istri sesekali keluar dari rutinitas biar ga bosen, ya pinter2nya suami dan istri mensiasti itu smua, asalkan ga ada yg keberatan, tp kyknya kudu jg deh ini didiskusikan, secara jd ibu rt itu kerjaannya paling banyak -_______-

    • hehe.. iya di Indonesia bnyk doktrik-doktrin yg mnyatakan bahwa wanita akan masuk surga dengan mengabdi pada suami dan “bekerja” dirumah, jadi mindset yg tumbuh ya gitu itu deh…🙂 Klo diluar negeri sih ndak ada doktrin yg seperti itu ya..🙂

  11. setuju bangeet mb! aku kaget juga pas lihat temen aku cowok2 Eropa pada jago masak, mau belanja ke supermarket, bahkan cuci piring. kaget bangeeeet mengingat temen2 cowok aku di Indonesia biasanya kalo diminta tolong buat ngelakuin hal2 itu komennya, “itu kan pekerjaan wanita.”

  12. Ini pandangan yang masih tradisional dimana perempuan harus bisa masak & mengurus rumah tangga. Bahkan jika perempuan bekerja juga diharapkan masak & berberes sesampainya dirumah. Sementara si suami? Sampai dirumah santai, makan minum. Ngga adil ya, padahal kan rumah berdua juga🙂

    • yah betul… tidak adil…🙂 kalau melihat dari sudut pandang ini itu dan doktrin ini itu, kadang kala ketidak adilan itu jadi ndak kentara yah sehingga menjadi sesuatu yang biasa dan dianggap lumrah.. :p

  13. Persis saya baru dpt postingan di bbm group hari ini

    “JADI ISTRI ITU LEBIH BAIK PINTER MIJIT DARIPADA PINTER MASAK. LEBIH BAHAYA SUAMI SUKA PIJIT DI LUAR DARIPADA MAKAN DI LUAR.”…hahahhaha…intermezo

    Setuju dengan mba Tantri…pernikahan adalah team work.

  1. Pingback: Kerjasama itu Penting! | Ladeva's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: