antara wanita karir dan ibu rumah tangga tulen


Mungkin sudah terlalu banyak sekali blogers maupun orang-orang yang concern dengan isu feminisme yang menulis tentang tema ini. Banyak juga ibu-ibu arisan atau mbak-mbak kantoran atau ibu-ibu muda yang sering membicarakan tentang topik ini. Walau sudah banyak di bahas, tetapi disini saya juga ingin ikut-ikutan membahas tentang topik itu. Bukan dari sudut pandang orang-orang yang sudah menulis tema ini duluan, tetapi dari sudut pandang saya sendiri. Bukan dari gaya penulisan mereka yang sudah pernah menulis, tetapi dengan gaya penulisan saya. Beda orang tentunya beda pemikiran. Beda budaya dan adat kebiasanya juga akan menyebabkan beda pemikiran dan beda tulisan juga. Jadi, mari kita bahas tentang wanita karir dan ibu rumah tangga di sini.

Kalau saya disuruh memilih antara menjadi wanita karir atau ibu rumah tangga, dulu dari tahun ke tahun jawaban saya akan tidak stabil. “Kalau nanti dapat suami kaya raya, saya jadi ibu rumah tangga saja deh. buat apa repot-repot” pernah saya menjawab begitu. Pernah juga saya menjawab “ya jadi wanita karir donk, lebih mandiri dan independent” Beberapa waktu kemudian, jawaban saya juga bisa berubah dengan alasan yang berubah pula. Dasaaar sayanya memang plin-plan waktu itu. Tetapi kalau saya ditanya sekarang, jawaban saya sudah mantab “Wanita karir dooonk”… hehehe… Apa alasannya, saja jelaskan nanti.๐Ÿ™‚

Saya memiliki beberapa teman baik masa kecil dan juga memiliki beberapa teman dekat masa sekolah yang kesemuanya adalah wanita. dan, coba tebak, apa profesi rata-rata kawan dekat saya itu? “Ibu rumah tangga tulen”. Hampir kebanyakan kawan wanita saya baik yang pada saat sekolah mereka tergolong perempuan pintar maupun biasa saja memilih untuk menggantungkan ijazah sarjananya dan memilih untuk menjadi ibu rumah tangga tulen. Beberapa dari mereka melakukan pilihan tersebut bukan dengan unsur paksaan melainkan dengan kesadaran mereka masing-masing. Sempat beberapa kali kamiย  diskusi tentang pilihan mereka, bahwa mereka memiliki beberapa alasan sehingga melakukan pilihan ini. Beberapa alasan atas pilihan mereka adalah sebagai berikut:

  • Tidak ada yang menjaga anaknya. Rata-rata pilihan ini dilakukan bagi wanita yang bekerja berbeda kota dengan orang tua ataupun mertuanya sehingga kerepotan untuk mencari pengasuh anaknya. Atau mereka tidak percaya dengan pengasuh anak karena tingkat penculikan maupun penyiksaan anak di kota-kota besar yang dilakukan pengasuh anak kerap terjadi.
  • Sedang program untuk memiliki anak. Pilihan ini dilakukan karena si wanita dianggap terlalu sibuk sehingga tidak memperhatikan kesehatan diri. Kesibukan wanita itu ditengarai sebagai faktor utama susahnya memiliki keturunan.
  • Jam kerja si istri dan si suami terlalu gila sehingga waktu untuk bertemu antara mereka tergolong sedikit sehingga dikawatir akan merusak hubungan pernikahan mereka. Sehingga salah satu harus mengalah.
  • Pemikiran lawas, bahwa suami bekerja, sedangkan istri ya ibu RT. Pilihan ini sering dilakukan oleh wanita-wanita dengan pemikiran lawas. Sehingga setelah menikah, kewajiban istri adalah sepenuhnya melayani suami tanpa gangguan pekerjaan luar dan lain-lainnya.
  • Susahnya si istri untuk dapat kerja. Biasanya sih karena “nilai jual” wanita dengan dilihat dari nilai-nilai pada masa sekolah yang dirasa tidak masuk dalam kualifikasi pencari kerja. Sehingga dengan terpaksa mereka memilih tidak bekerja.

Sedangkan, beberapa kawan saya juga masih memilih untuk terus berkarir walau sudah menikah. Termasuk saya. Beberapa alasan mengapa kami tetap memilih untuk berkarir adalah:

  • Sudah memiliki posisi bagus dalam pekerjaannya.
  • Memiliki kualifikasi pendidikan yang (terlanjut) tinggi sehingga sayang untuk menyia-nyiakannya.
  • Bekerja sesuai bidang minat dan passion-nya sehingga menganggap bekerja adalah sebuah wadah untuk mengembangkan krindependent eatifitas sekaligus merupakan hiburan.
  • Merasa dan tidak tergantung oleh pasangan (bagi yang sudah menikah).
  • (rata-rata dari kami) Belum memiliki anak atau bahkan ada yang memang menunda punya anak. Sehingga tidak terlalu kerepotan untuk membagi waktu. Atau, bagi yang sudah memiliki anak, si anak sudah dijaga oleh orang terpercaya pada saat si ibu bekerja.
  • Bukan tipe wanita yang suka diam di rumah dan cenderung menyukai tantangan.

Dari pilihan yang sudah ditetapkan masing-masing wanita sebagai jalan hidupnya tentunya memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Kadang kelebihan masing-masing sering membuat yang lainnya iri. Misal nih ya, temen saya yang ibu rumah tangga tulen suka iri dengan saya dan bilang “iya, kamu enak kerja punya duit sendiri dan bisa shopping sepuasnya. Nah aku harus nyukup-nyukupin gaji suami dengan kebutuhan anak juga”. Tetapi sebaliknya suatu ketika sayapun juga pernah iri ke mereka “Enak kamu dirumah ada yang diajak main yaitu anak-anakmu. Lah aku, belum punya anak”. hehehe.. ya gitu deh.. rumput tetangga jauh lebih hijau, kita sudah dikasi hidup yang enak untuk masing-masing orang, masih saja merasa iri dengan yang lain. Itulah manusia.. :p

Terserah masing-masing wanita mau memilih jalan hidupnya sebagai apa. Yang pasti setiap pilihan harus ada konsekuensinya. Setiap pilihan pasti ada sisi plus dan minusnya. Sisi plus jangan menjadikan kita sombong, sisi minus jangan menjadikan kita down dan putus asa. Sebagai ibu rumah tangga tulen jangan menyebabkan seorang wanita menjadi hilang kreatifitas dan hilang ilmu; Sebagai wanita karir jangan menjadikan wanita hilang tanggung jawab dan hilang respect terhadap pasangannya. Sebagai apapun pilihan hidup seorang wanita, tetaplah menjadi wanita baik-baik yang berjalan lurus di jalan kebaikan…๐Ÿ™‚

About tantri

I am nobody who really want to be somebody. Extremely introvert cheerful and easy going girl.. :) Thanks for visiting this blog... ^^

Posted on November 20, 2014, in experince. Bookmark the permalink. 10 Comments.

  1. “Sebagai apapun pilihan hidup seorang wanita, tetaplah menjadi wanita baik-baik yang berjalan lurus di jalan kebaikanโ€ฆ :)”
    SETUJU banget Mbak.
    Saya sendiri pun saat ini sedang hamil 7 bulan namun masih tetap bekerja. Hingga sekarang belum terpikirkan apakah nanti setelah cuti melahirkan saya akan kembali bekerja atau berhenti saja sekalian dan fokus mengasuh anak dan mengurus keluarga.

  2. kalau soal ini gak ada abis2nya ya

  3. Aku nggak suka dengan stereotype yang menempel ke ibu rumah tangga dan menyayangkan kecerdasan mereka. Alamaaaak, emangnya kalau pintar harus selalu kerja gitu.

    • tapi kadang stereotype itu muncul gara2 lingkungan sekitar juga sih ya..๐Ÿ™‚

      • Iya dan kita membiarkan. Makanya sekarang aku rajin komplain kalau ada yang ngasih stereotype.

        • iya.. ada tmnku perempuan yang the best-nya se kampus krn IPK-nya cumlaude terus.. lalu lanjut S2, cumlaude lagi. Ketika dia memilih untuk menjadi ibu rumah tangga tulen, kawan2nya berkomentar gini.. “kasian banget, pinter2 gitu ilmunya ndak kepake”. Dan ternyata, orang tuanyapun (yg kebetulan aku kenal baik) juga menyayangkan itu dan komentar “sudah sekolah susah-susah, ujung2nya di rumah”.. hehe.. masih stereotype yah.. tapi begitulahhh… :p

  4. Hai mbak salam kenal..
    Kalau ngomongin masalah begini emang selalu seru untuk dibahas, aku pun masih bingung nantinya kalau udah menikah mau pilih yang mana. Apalagi kalau udah ada anak, makin nggak tega lah buat ninggalinnya (padahal nikah aja belom udah kepikiran anak aja hahaha)

    • Haloo..salam kenal mbak..๐Ÿ™‚ haha.. ya ya memang sudah harus agak dipikirkan walo belum nikah tapi jangan terlalu dipikirkan dah.. let it flow gitu..๐Ÿ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: