Membaca


Hasil gambar untuk reading a book

Suatu hari di penghujung tahun 2015, saya didatangi oleh petugas survey entah dari lembaga mana. Lelaki muda tersebut menanyakan satu pertanyaan yaitu “Berapa buku yang sudah anda baca di tahun 2015?” Saya pun tidak langsung menjawab karena tentunya perlu waktu beberapa saat untuk menghitung berapa buku yang sudah saya baca di tahun ini. Mungkin jeda saya berpikir dan menjawab membuat sipenanya menyimpulkan sesuatu yang buruk tentang saya yaitu saya salah satu diantara orang muda Indonesia yang tidak gemar membaca. Akhirnya sipenanya menjelaskan maksud dan tujuan mengadakan survey gemar membaca kepada masyarakat muda Indonesia. Beberapa nasehat-nasehat supaya saya gemar membacapun dilontarkan oleh si pemuda itu. Sayapun hanya mengiyakan pernyataan dan nasehat si lelaki muda itu tanpa membantah pernyataannya. Sembari mendengarkan nasehat-nasehat dan obrolan si lelaki muda itu, tiba-tiba munculah pertanyaan di benak saya “Sebegitu parahkah tingkat ketidak gemaran membaca muda-mudi bahkan anak-anak Indonesia?”. Don’t count me in kedalam rumpun muda-muda Indonesia yang tidak gemar membaca. Saya salah satu orang yang gila novel, gila baca berita dan gila membaca apa saja!!! YESSS SAYAA BERKATA JUJUR!! Hingga sayapun heran, kenapa kok jumlah orang yang tidak gemar membaca sebegitu banyaknya sehingga menjamurnya gerakan-gerakan yang bertujuan membuat orang-orang khususnya anak-anak gemar membaca. Berikut saduran berita hasil survey-survey tentang rendahnya minat membaca warga muda dan anak-anak Indonesia.

“Sebanyak 10 persen masyarakat Indonesia yang umurnya di bawah 10 tahun gemar membaca, dan 90 persen penduduk gemar nonton televisi dan tidak suka membaca. Artinya minat baca masyarakat Indonesia sangat rendah,” kata Kepala Kantor Perpustakaan Nasional RI Sri Sularsih dalam acara Safari Gerakan Nasional Gemar Membaca di Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu. Minat baca anak di Indonesia sangat rendah. Berdasarkan data UNESCO, persentase minat baca anak Indonesia sebesar 0,01 persen. Artinya, dari 10.000 anak bangsa, hanya satu saja yang memiliki minat baca. Hal ini disampaikan oleh Anggota Komisi X DPR RI, Yayuk Basuki, dalam kunjungan di Kendal, Senin (25/5/2015). Menurut Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat H.R Agung Laksono, prosentase minat baca masyarakat Indonesia hanya sebesar 0,01 persen. Artinya dalam 10.000 orang hanya 1 orang saja yang memiliki minat baca.Di negara lain, Amerika misalnya, dalam satu tahun rata-rata warganya membaca 20 – 50 buku per tahun dan Jepang 20 – 30 buku per tahun, sementara di Indonesia hanya berkisar antara nol sampai satu buku per tahun,” ungkap Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (RI) Sri Sularsih, Selasa (12/5), di sela-sela Pengukuhan Pengurus Daerah Gerakan Permasyarakatan Minat Baca (PD-GPMB) Sulsel Periode 2015 – 2019 dirangkaikan Talkshow Minat Baca, di Makassar. Secara persentase, masyarakat Indonesia hanya 17 persen yang gemar membaca, sementara sebagian besar lebih memilih jadi penonton televisi (hingga 91,68 persen).

Dengan hasil-hasil survey tentang minat baca yang sangat rendah itulah maka banyak sekali kegiatan-kegiatan amal yang dilakukan demi meningkatkan minat baca anak-anak di Indonesia.

Tetapi, seperti postingan saya sebelumnya, lagi-lagi saya menganggap bahwa rendahnya minat anak-anak dan orang di Indonesia dalam hal membaca salah satunya disebabkan oleh tidak adanya contoh yang baik yang diperoleh dari lingkungan sekitar. Mungkin orang tuanya atau keluarganya juga bukan tipe orang yang gemar membaca?! Mungkin juga orang-orang yang membuat gerakan gemar membaca tidak memberi contoh kepada orang-orang sekitarnya dengan rajin membaca?! Mungkin juga para orang tua memaksakan anaknya supaya gemar membaca tetapi orang tuanya tersebut malah asik nonton sinetron, telenovela ataupun film India?! Jadi, bagaimana anak-anak jadi gemar membaca kalau lingkungannya tidak memberi contoh yang baik tentang pentingnya membaca!!!

Saya kembali lagi ke pertanyaan yang terlontar pada paragraft pertama “Berapa buku yang sudah anda baca di tahun 2015?”. Saya tidak bisa menjawab karena saya tidak tau jawabannya. Terlalu banyak novel yang saya beli dan baca setiap tahunnya. Terlalu banyak buku arkeologi dan sejarah kota yang saya beli dan baca setiap tahunnya karena entah kenapa saya suka buku-buku sejarah. Terlalu banyak bacaan tentang kegunung-apian dan kegempaan yang saya download dan baca setiap tahunnya karena entah kenapa saya suka topik-topik itu. Buku-buku dan bacaan-bacaan tersebut diluar bidang pekerjaan saya. Saya juga diharuskan membaca beberapa paper dan jurnal untuk penelitian ataupun bahan seminar serta bacaan-bacaan serius saya diluar bacaan santai di aplikasi HP saya. Saya juga suka baca berita gosip artis-artis dan mengikuti kasus pembunuhan Mirna dengan racun sianida yang kesemuanya saya baca dari aplikasi berita di HP saya. Sehingga membaca bagi saya adalah suatu kebiasaan seperti halnya rutinitas makan dan minum.

Kenapa saya bisa sebegitu doyannya membaca? Mungkin karena lingkungan saya yang secara tidak langsung mendidik saya sejak kecil tentang kebiasaan membaca. Ayah saya adalah pecinta buku, koleksi bukunya sebanyak 3 lemari dengan lebar masing-masing 2 meteran dan tinggi kurang lebih 2 meteran. Sejak kecil saya dibelikan ayah saya koleksi buku ensiklopedia versi lengkap tentang dunia hewan dan tumbuhan. Sejak kecil juga saya sering melihat ayah saya dan juga ibu saya membaca dirumah maupun dimana saja kalau sedang senggang. Ketika masih kecil ayah saya sering mengajak anak-anaknya untuk bermain dipantai, sembari menjaga anak-anaknya bermain pasir pantai, ayah saya pasti duduk dibawah tempat rindang untuk membaca. Kadang juga kalau saya bosan bermain pasir pantai maka saya mengerjakan PR atau ikutan membaca disana. Jadi saya menyimpulkan bahwa kegemaran saya membaca merupakan salah satu hasil pen-contohan saya dari orang tua saya. Kegemaran membacapun menjadikan saya gemar untuk menulis serta menganalisa sesuatu.

untuk menjadikan anak-anak dan muda-muda Indonesia gemar membaca memang butuh waktu, tetapi ayok kita mulai dari yang kecil-kecil dulu, mulai dari memberi contoh pada orang-orang disekitar kita atau anak-anak kita yang masih kecil-kecil. Membacalah bersama mereka.. Membacalah didepan mereka.. Jangan paksa mereka, tetapi berikan mereka contoh yang baik dari apa yang kita lakukan dirumah.. Membacalah..

” A house without Books is like a room wothout windows”

Advertisements

Menjadi contoh


Saya selalu gemes dengan orang-orang yang berada disekeliling saya. Saya selalu tidak berhenti mengomentari hal-hal yan saya anggap diluar batas kewajaran apabila suatu kejadian aneh terjadi didepan mata saya. Agak serem sih gaya bahasa saya kali ini seolah-olah saya baru saja ketemu sama hal-hal yang menyeramkan. Bukan.. bukan.. saya bukan ketemu dengan hal-hal besar yang membuat saya sebal. Tetapi justru saya ketemu dengan hal-hal yang kecil tetapi terjadi berulang kali dan kejadiannya didepan mata saya yang menurut saya kejadian tersebut akan merusak mental generasi penerus bangsa.. #apasih,makin ngaco ngomongnya# hahaha.. makin clueless dah.. :p

Jadi begini ceritanya, setiap pagi saya selalu berangkat kekantor dan saya melulu melewati beberapa sekolah dasar dimana banyak anak-anak kecil yang bersekolah disitu (yaa jelas laahh..hehe). Bukan anak kecilnya yang menjadi masalah bagi saya tetapi si pengantar anak kecil ke sekolah itu. Penampakan yang saya lihat setiap pagi yang menurut saya janggal adalah :

  1. Seorang ibu/ayah sang pengantar anak sekolah mengantar anaknya ke sekolah tanpa mengenakan helm pun juga si anak tidak ber-helm.
  2. Seorang ibu/ayah sang pengantar anak sekolah mengantar anaknya dengan menyeberang sembarangan tanpa melihat kondisi jalan (tanpa tengok kanan-kiri)
  3. Seorang ibu/ayah sang pengantar anak sekolahan menurunkan anaknya disembarang tempat sehingga membuat macet lalu lintas.

3 poin yang saya sebut di atas hanyalah sebagian kecil dari hal-hal yang membuat saya gemes, karena menurut saya kejadian-kejadian kecil tersebut adalah kejadian yang merusak mental anak bangsa. Kenapa? Tau khan kalau anak-anak (jangankan anak-anak, orang dewasapun juga) cenderung untuk meniru hal-hal yang sering terjadi disekitarnya. Tau juga khan kalau mental anak-anak akan terbentuk dari pengajaran secara tidak langsung dari lingkungannya. Nah, 3 poin di atas adalah salah satu dari jenis-jenis pengajaran orang tua yang menurut saya salah untuk di ajarkan ke anak-anaknya. Secara tidak langsung juga pen”contohan” yang terjadi dengan tidak sengaja tersebut akan melekat didalam pikiran seorang anak sehingga menganggap bahwa hal-hal yang tidak disiplin tersebut adalah suatu hal biasa dan secara tidak langsung dianggap bukan suatu hal yang salah. Jadi mental tidak disiplin seseorang akan terbentuk sejak dini akibat pola asuh yang agak menyimpang yang dilakukan orang tua. Sehingga secara sepihak saya dapat menyimpulkan bahwa ketidak disiplinan yang sebagian besar dilakukan oleh orang Indonesia adalah sudah terdidik sejak kecil akibat pola asuh non-disiplin yang secara tidak sadar disalurkan oleh orang tua ke anak-anaknya. Betul ndak sih?

Yah saya hanya beropini dan secara sepihak menyimpulkan, tetapi hal positif yang dapat saya ambil adalah : “jadilah orang baik serta disiplin dan taat terhadap hal-hal kecil supaya dapat memberi contoh kecil kepada orang sekitar yang siapa tau akan memperbaiki mental Indonesia kedepannya” hehehe..

Sekian

Money minded


Uang memang sesuatu yang fundamental sebagai hal yang penting demi kelangsungan hidup seseorang. Tetapi uang juga dapat berperan ganda dalam kehidupan seseorang. Ia dapat menjadi air yang menenangkan dan menyegarkan, tetapi juga dapat menjadi sesuatu yang menghanyutkan dengan gelombang yang terlalu besar hingga orang-orang tersebut menjadi terlalu terbuai dengan sosok Uang. Karena peran uanglah, seseorang menjadi terlalu apatis. Karena sosok uanglah seseorang menjadi terlalu individualis dan karena sosok uanglah seseorang menjadi gila kerja hingga gila hormat. Tetapi apabila dilihat dari segi positif, uang dapat menjadi salah satu alat untuk berderma, salah satu alat untuk membahagiakan orang lain serta salah satu alat untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan kehidupan.

Namun, apakah peran uang dalam kehidupan seseorang dapat seimbang antara peran positif dan peran negatif? Kalau keseimbangan peran uang dapat terjaga dengan baik, suatu negara pasti tidak akan terjadi perebuatan kekuatan dan kedudukan karena uang; Tidak akan juga terjadi korupsi yang rata-rata dilakukan oleh orang-orang yang sebenarnya sudah memiliki banyak uang. Keseimbangan peran uang dengan semakin bergulirnya waktu dan semakin berkembangnya suatu negara, justru akan mengarah kepada peran negatif dari uang. Jiwa konsumtif menjadi salah satu penyebabnya. Ditambah lagi fasilitas yang mendukung jiwa-jiwa konsumtif atas nama kemoderenan juga menjadikan seseorang lebih terbuai terhadap peran negatif dari uang. Uang menjadi salah satu pemicu seseorang untuk bekerja, tanpa adanya uang maka seseorang tidak akan mau bekerja dengan baik. Loyalitas menjadi dipertanyakan.

Ambil contoh kecil saja yaitu peran uang di suatu instansi. Dimana terkadang uang yang direpresentasikan dengan gaji pada tiang-tiap orang disuatu instansi menjadi pemicu adanya kecemburuan sosial. Perasaan ketidakadilan antara besar kewajiban serta hak yang diterima sering kali menjadi pemicu kecemburuan hingga ketimpangan sosial. Ujung-ujungnya menjadi, tidak ada uang maka tidak akan bekerja dengan baik. Atau kalau disuatu instansi pemerintahan, tidak ada SK maka tidak usah bekerja (Karena SK nantinya dapat ditukarkan dengan uang remunerasi). Hingga orang-orang berlomba untuk mengumpulkan SK ataupun mengumpulkan bukti bahwa mereka telah bekerja dengan lebih sehingga layak untuk mendapatkan Uang dengan nominal 0 yang banyak dibelakangnya. (Walaupun kadang-kadang SK tersebut terkesan dipaksakan untuk dibuat). Apabila 0 yang diterima dalam remunerasi dirasa lebih kecil dibanding rekan sejawat yang pekerjaannya dianggap lebih sedikit, maka protes dan cemburulah seseorang tersebut. Hingga akhirnya terjadi perbanding-perbandingan antara orang satu dengan orang lain. Padahal sebenarnya yang diterima sudah cukup banyak, tetapi perasaan ketidakadilan karena orang lain mendapat lebih banyak justru menjadi pemantik kecemburaun tersebut. Perlombaan banyak-banyakan bukti telah bekerja dalam selembar kertas SK menjadi semarak dan berjalan dengan serunya. Protes-protes karena bukti-bukti tersebut ada yang belum ter-input kedalam suatu sistem penghitung Uang yang diterima juga marak terjadi. Sehingga sifat negatif uangpun menjadi semakin menonjol dibandingkan sifat positif.

Uang memang suatu yang fundamental dan penting dalam kehidupan kita, tetapi jangan biarkan uang menjadikan kita terlalu gelap mata untuk berbuat hal-hal negatif. Jangan terlalu rakus terhadap uang karena lama-kelamaan justru ia yang akan menggerogoti kehidupan kita. Jagalah keseimbangan antara positif dan negatif dari uang dan yakinlah bahwa  uang akan datang dengan sendirinya kalau Tuhan menganggap kita membutuhkan dan do your best tanpa memikirkan hasil berupa uang karena nantinya dia akan dengan sendirinya hadir sebagai buah dari do our best dalam setiap hal.. 🙂

Diklat Prajabatan Golongan 3 : Materi oh materi… (3)


Lanjutan…

Sepertinya saya harus membuka buku materi nih sebelum menulis ini… #fyuhhhh#

Diklat prajabatan yang saya ikuti ini adalah disesuaikan dengan diklat prajabatan pola baru. Perbedaan antara pola baru dan pola lama adalah pada durasi pelaksanaan, sistem pelaksanaan dan materi yang disampaikan. Dasar hukum pelaksanaan diklat pra-jabatan bagi CPNS adalah UU Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara, Peraturan kepala LAN Nomor 38 tahun 2014 tentang pedoman penyelenggaraan diklat pra-jabatan Golongan III. Durasi pelaksanaan pola baru ini adalah relatif lebih lama dibandingkan dengan pola-pola sebelumnya. Rencananya, pola baru ini akan dilaksanakan selama 3 bulan dengan sistem on dan off campus. Tetapi karena keterbatasan dana, maka sistem baru ini terlaksana dalam durasi 31 hari dengan tetap menggunakan sistem on off campus. Diklat yang saya ikuti ini dilaksanakan dalam waktu 31 hari terhitung mulai tanggal 15 Mei sampai 25 Juni 2015.

yang dimaksud on campus adalah, kegiatan prajabatan dilaksanakan dengan internalisasi materi di “Kampus” pusbangtendik, Sawangan, Depok, Jawab barat yaitu dari tanggal 15 Mei hingga 29 Mei 2015. Sedangkan kegiatan off “Kampus” adalah Aktualisasi dari materi yang telah diberikan di “Kampus”Depok untuk di implementasikan di unit kerja masing-masing yaitu mulai tanggal 1 Juni s/d 18 Juni 2015. Sedangkan ujian akhir akan dilaksanakan pada 23-25 Juni 2015 di Pusbangtendik. Output dari On 1 (15 Mei sd 29 Mei) adalah Proposal Rancangan Aktualisasi yang dilaksanakan pada tanggal 27 Mei 2015 dan Ujian materi komprehensif yang telah dilaksanakan tanggal 28 Mei 2015. Output dari Off 1 (1 Juni s/d 18 Juni 2015) adalah Laporan aktualisasi dari segala kegiatan yang dilaksanakan di unit kerja masing-masing. Output dari On 2 (23-25 Juni 2015) adalah Sidang/seminar akhir untuk mempresentasikan Aktualisasi yang telah dilaksanakan selama off. Presentasi ini akan dihadiri oleh Mentor (pembimbing) dari masing-masing unit kerja.

Internalisasi Materi ANEKA

Materi yang saya dapatkan selama prajabatan adalah : ANEKA yang merupakan kepanjangan dari Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika publik, Komitmen mutu dan Anti Korupsi. Masing-masing nilai-nilai dasar tersebut memiliki indikator yang harus diinternasilasi pada masing-masing peserta diklat untuk diaktualisasikan selama pelaksanaan off kampus di masing-masing unit kerja.

Indikator dari Akuntabilitas yaitu: Tanggung jawab, Jujur, Kejelasan target, Netral, Mendahulukan kepentingan publik, adil, Transparan, Konsisten, Partisipatif. Indikator dari Etika Publik yaitu : Jujur, Bertanggung jawab, Integritas tinggi, Cermat, Disiplin, Hormat, Sopan, Taat pada peraturan perundang-undangan, Taat Perintah, Menjaga rahasia. Indikator dari Nasionalisme adalah: sesuai dengan Pancasila Sila kesatu sampai kelima. Indikator dari Komitmen mutu yaitu: Efektivitas, Efisiensi, Inovasi dan Berorientasi mutu. Indikator dari Anti Korupsi yaitu: Jujur, disiplin, Tanggung jawab, Kerja keras, Sederhana, mandiri,Adil, Berani, peduli.

Selama proses internalisasi dilaksanakan, materi-materi yang diberikan oleh Widyaiswara (WI) adalah materi-materi yang berkaitan dengan nilai dasar tersebut. Metode penyampaian materi dilakukan dengan 20 menit pola lama yaitu WI menyampaikan materi, selanjutnya adalah studi kasus yang disampaikan dari cerita maupun video lalu peserta yang dibagi dalam group wajib melakukan diskusi dan hasil diskusinya harus dipresentasikan. Hampir semua materi yang diberikan adalah dikaitkan dengan peraturan pemerintah serta beberapa perundang-undangan. Beberapa PP dan UU yang sempat dibahas dalam materi-materi oleh WI adalah : PP no.46 tahun 2011 tentang penilaian prestasi kerja PNS; UU no.14 tahun 2008 yaitu tentang keterbukaan informasi publik; UU no.5 tahun 2014 yaitu tentang Aparatus Sipil Negara; Peraturan Kepala LAN no.11 tahun 2011 yaitu tentang pedoman penyelenggaraan diklat prajabatan CPNS; PP no 42 tahun 2004 yaitu tentang kode etik PNS; PP no 53 tahun 2010 yaitu tentang disiplin PNS dan masih banyak lagi peraturan-peraturan perundang-undangan lain yang dibahas selama diskusi. Bersenang-senanglah bagi anda yang memiliki background study  sosial, hukun dan  ilmu pemerintahan yang sudah sangat paham tentang materi ini dan berpusing-pusinglah bagi anda yang berada diluar background study tersebut. Sayapun masuk diantara kelompok yang ke-dua.. kelompok orang-orang pusing..hehehe…

(Bagi yang akan prajab dalam waktu dekat ini: siapkan perlengkapan anda yang bisa terkoneksi dengan internet dengan cepat. Bawa aja semua dikelas… hehehe…)

Diklat prajabatan Golongan 3: Daily activity (2)


Lanjutan….

Karena Kegiatan pembukaan prajabatan dimulai pada hari Jumat, sedangkan hari Sabtunya adalah libur tanggal merah, saya berharap bahwa selama weekend ini kami tidak ada kegiatan apa-apa. Saya berharap juga bahwa nantinya saya bisa keluar dari tempat diklat dan jalan-jalan ke tempat teman-teman saya di depok dan sekitarnya. Ternyata.. Harapan itu musnah sodara-sodaraa. Harapan musnah setelah saya melihat jadwal kegiatan yang harus kami laksanakan selama 2 minggu kedepan ini dimana kami tidak akan mendapatkan hari libur. Weekendpun akan tidak end alias kami tetap akan ada materi-materi yang sepertinya akan menjadikan mata saya semakin ngantuk dan ngantuk.. ohhh noooo…

Materi pertama di hari Sabtu adalah tentang dinamika kelompok dimana inti dari materi ini adalah saling mengenal satu sama lain. Kami ber-120 dipecah menjadi 3 kelas disesuaikan dengan angkatan kami masing-masing. Saya masuk di Angkatan 12. Untuk kelas dinamika kelompok ini, kami dipandu oleh 3 orang satgas (adau semacam wali kelas atau apa ya.. yang pasti mereka ber3 bertanggung jawab penuh terhada kelas kami). Kami mengenalkan diri satu persatu didepan kelas. Banyak dari teman-teman baru saya di angkatan ini punya selera humor yang tinggi. Beberapa dari mereka juga sudah memiliki bisnis sendiri. Beberapa juga sudah menyelesaikan S3 nya di luar negeri, beberapa lagi sedang kuliah S3 di luar negeri. Sepertinya teman sekelas saya adalah orang-orang hebat dan keren yang berkumpul menjadi satu di angkatan 12. wahhh.. bakalan seru nih, semoga saya bisa dapat banyak pelajaran dari kelas ini.. Materi dari pagi hingga siang hari ini lumayan menyenangkanlah. Lumayan seru walaupun agak sedikit ngantuk

Materi malam-pertama yang akan saya terima adalah materi tentang kesehatan mental yang dimulai pada pukul 19.00. yaaa, materi kesehatan mental ini baru akan dimulai di hari pertama dan kejadiannya adalah malam hari sodara-sodara. Benar-benar akan menguras tenaga dan mental sepertinya. Untuk mencegah ngantuknya mata saya dalam menerima materi serta rusaknya mental saya gara-gara ketiduran dalam menerima materi, sayapun memilih duduk di kursi paling depan. Kali ini adalah kelas gabungan diruangan besar. Duduk didepan ternyata berhasil membuat mata saya terpaksa melek (walau sudah melek melek merem dan ngantuk). But.. materi ini so far so good lah walaupun menurut saya materinya masih ada unsur-unsur mengarah ke ajaran-ajaran Agama tertentu. Tapi ya sudahlah, terima saja selama saya tidak mengantu… Materi usai jam setengah sepuluh malam sodara-sodara…

Hari minggu juga ada materi.. singkat cerita, materinya lumayanlah. Widyaiswara (pengajar) kami juga lumayan seru dan tidak membuat ngantuk. Tetapi tetep saja membuat saya bingung untuk menerima materi tersebut. Materi-materi yang diberikan kebanyakan adalah berupa pengenalan sistem prajabatan pola baru berdasarkan UU nomor 5 tahun 2014 dan beberapa aturan-aturan kementrian serta peraturan-peraturan pemerintah lainnya. Benar-benar saya harus belajar dari awal karena saya tidak pernah mempelajari itu sebelumnya.

Weekendpun berjalan dengan baik walau penuh dengan materi.. Segala kegiatan weekend dimulai pukul 08.00 karena tidak ada senam dan apel pagi. kegiatan weekday dimulai pukul 05.30 untuk senam pagi selama 1 jam lalu dilanjutkan dengan apel pagi pukul 07.30 kemudian lanjut materi pada pukul 08.00 dan seterusnya….

Weekday pertama kami…

Teman sekamar saya sudah bangun pukul 04.00 pagi untuk memulai aktivitasnya yaitu mencuci (busett dahhh jam segini nyuci…). Sayapun ikutan bangun sepagi itu. saya bersiap-siap untuk mengawali hari dengan senam pertama di diklat kali ini. Karena hari pertama senam, saya menjadi sangat was-was dengan waktu. Kami di Ramayana 15 ber-6 sedangkan jumlah kamar mandi hanya 3. Seusai senam dan makan pagi, kami hanya memiliki waktu 30 menit untuk bersiap-siap sebelum apel pagi dimulai. Untuk mencukupkan waktu, saya mencoba untuk mandi dulu sebelum senam dengan tujuan adalah apabila nanti setelah senam kamar mandi masih dipakai oleh teman-teman, sayapun tidak perlu mandi lagi dan lansung semprot minyak wangi untuk bersiap apel..hahaha.. #jorokk yaaa#

Pukul 5 pagi kami ber 6 sudah bersiap untuk menuju lapangan senam. Kamar kami di belakang dan paling ujung dan memerlukan waktu kurang lebih 10-15 menit berjalan santai menuju lokasi senam, untuk itu kami harus berangkat lebih awal. Syukurlah, dihari pertama kami senam, tidak ada peserta yang terlambat. Seusai senam, kami terburu-buru menuju ruang makan dan cepat-cepat makan. Perlu diketahui, tempat makan kami 3 angkatan adalah terpisah. Saya yang angkatan 12 tidak boleh mengambil makan ataupun makan di tempat makan angkatan 10 dan 11. Begitu juga sebaliknya. Kalau ketahuan mengambil di tempat angkatan lain maka akan ditegur oleh tim disiplin. dan sayapun sudah sekali kena teguran sodara sodara.. hehehe..

ya sudah lah.. sayapun memulai apel pagi dan materi dengan tidak mandi lagi.. #uppss#

Materi berjalan dengan menyenangkan dan kegiatan weekday saya begitu seterusnya…