Limbah plastik dan kantong belanja


Tau khan gerakan pemerintah yang berupaya untuk mengurangi konsumsi masyarakat dengan mentidak gratiskan plastik belanja? Tau juga khan upaya pemerintah untuk “menjual” plastik kantong belanja yang semula gratis menjadi seharga Rp.200? apa? ada yang belum tau? wooow… Saya aja tau gerakan itu masak sih situ ndak tau?! Ndak tau atau pura-pura ndak tau sih? hehehe..

Beberapa hari yang lalu, ketika gerakan tersebut di atas baru dicanangkan, saya kebetulan berbelanja ke toko Informa di mall dekat kantor. Bodohnya saya lupa banget membawa kantong belanja karena niat awalnya memang hanya makan siang dan sight seeing siang saja di mall itu. Ketika saya menuju kasir untuk membayar, lalu mbak di kasir bertanya “Sudah bawa kantong belanja?” Otomatis saya jawab belum. Berniat untuk tidak menggunakan plastik dan memang sedang lupa untuk membawa plastik saya berniat untuk membawa saja belanjaan saya tanpa kantong belanja. Toh mudah juga dibawa dan toh ada pegangan atau semacam cantolan untuk membantu membawa. Tetapi tiba-tiba saja seorang teman saya yang kebetulan juga sama-sama belanja dengan saya bilang begini “Udah ahh ribet, beli kresek aja. Harga Rp.200 juga”. Well, luruhlah sudah niat awal saya untuk ikut gerakan pemerintah dengan tidak menggunakan kresek. hehehe.

Memang sih uang Rp.200 tidak ada artinya dibandingkan dengan harga barang belanjaan sehingga sebagian orang (lebih tepatnya orang yang mungkin kurang sadar) lebih memilih untuk mengeluarkan Rp.200 dibandingkan dengan membawa kantong belanja sendiri. Bahkan ada banyak kalangan yang pesimis dengan tingkat keberhasilan gerakan ini dan menyayangkan dengan harga “jual” kresek belanja yang sangat murah sehingga efek jeranya tidak akan kelihatan. Tetapi taukah anda, harga Rp.200 apabila dibandingkan dengan dampak yang terjadi pada lingkungan dan bumi kita ini justru akan memprihatinkan pada beberapa tahun yang akan datang. Tahukan anda bahwa plastik belanja yang anda gunakan yang nantinya akan dibuang itu akan berdampak sangat buruk terhadap lingkungan? Mungkin masih banyak yang tidak tau alasan kenapa sih pemerintah melakukan gerakan tersebut atau mungkin masih banyak yang belum sadar akan bahaya lingkungan yang disebabkan oleh limbah plastik. Berdasarkan data comot sana sini saya berusaha untuk mengulas tentang sampah plastik.

Perkembangan plastik di dunia

Plastik baru secara luas dikembangkan dan digunakan sejak abad ke-20. Namun  penggunaannya berkembang secara luar biasa dari hanya beberapa ratus ton pada tahun 1930-an, menjadi 150 juta ton/tahun pada tahun 1990-an dan 220 juta ton/tahun pada tahun 2005 Plastik menjadi primadona karena beberapa sifatnya yang istimewa yakni, mudah dibentuk sesuai dengan kebutuhan; bobotnya ringan sehingga bisa menghemat biaya transportasi; tahan lama; aman dari kontaminasi kimia, air dan dampaknya; aman sebagai kemasan barang maupun makanan; dan tahan terhadap cuaca dan suhu yang berubah; dan yang lebih penting lagi adalah harganya murah.

Fenomena booming sampah plastik telah menjadi momok yang menakutkan di setiap belahan bumi. Tidak saja di negara-negara berkembang tetapi juga di negara-negara maju seperti Amerika, Inggris, dan Jepang. Saat ini penggunaan material plastik di negara-negara Eropa Barat mencapai 60kg/orang/tahun, di Amerika Serikat mencapai 80kg/orang/tahun, sementara di India hanya 2kg/orang/tahun.

Menurut laporan Environmental Protection Agency (EPA) US, di Amerika saja, produksi sampah plastik meningkat dari kurang dari satu persen pada tahun 1960 menjadi 12 persen atau sekitar 30 juta ton pada 2008 dari jumlah total produksi sampah domestik negara ini. Kategori sampah plastik yang terbesar berasal dari kemasan dan wadah seperti; botol minuman, tutup botol, botol sampo dan lainnya. Jenis sampah plastik juga ditemukan pada jenis barang plastik yang penggunaanya bertahan lama seperti pada peralatan perlengkapan dan perabotan, dan barang plastik yang penggunaannya tidak bertahan lama seperti, diaper, kantong plastik, cangkir sekali pakai, perkakas, dan perlengkapan medis.

Sementara itu, Inggris memproduksi sedikitnya 3 juta ton sampah plastik setiap tahun. Sebanyak 56 persen dari jumlah tersebut berasal dari kemasan, dan 75 persen (dari persentase kemasan) berasal dari sampah rumah tangga. Sampah kantong plastik yang dihasilkan oleh Kota Jakarta saja dalam sehari mencapai 1.000 ton. Sampai saat ini belum ada pengelolaan khusus sampah plastik di tingkat kota. Namun pemulung memiliki peran yang sangat penting dalam mata rantai daur ulang sampah plastik yang dilakukan secara informal

Perkembangan Plastik di Indonesia

Di Indonesia, menurut data statistik persampahan domestik Indonesia, jenis sampah plastik menduduki peringkat kedua sebesar 5.4 juta ton per tahun atau 14 persen dari total produksi sampah. Dengan demikian, plastik telah mampu menggeser sampah jenis kertas yang tadinya di peringkat kedua menjadi peringkat ketiga dengan jumlah 3.6 juta ton per tahun atau 9 persen dari jumlah total produksi sampah.

Sementara berdasarkan data dari Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Jakarta, tumpukan sampah di wilayah DKI Jakarta mencapai lebih dari 6.000 ton per hari dan sekitar 13 persen dari jumlah tersebut berupa sampah plastik. Dari seluruh sampah yang ada, 57 persen ditemukan di pantai berupa sampah plastik. Sebanyak 46 ribu sampah plastik mengapung di setiap mil persegi samudera bahkan kedalaman sampah plastik di Samudera Pasifik sudah mencapai hampir 100 meter.

Dampak sampah plastik

“Berdasarkan data statistik persampahan domestik Indonesia, jumlah sampah plastik tersebut merupakan 14 persen dari total produksi sampah di Indonesia,” kata Ketua Umum “Indonesia Solid Waste Association” (InSWA), Sri Bebassari.

Konsumsi berlebih terhadap plastik, pun mengakibatkan jumlah sampah plastik yang besar. Karena bukan berasal dari senyawa biologis, plastik memiliki sifat sulit terdegradasi (non-biodegradable). Plastik diperkirakan membutuhkan waktu 100 hingga 500 tahun hingga dapat terdekomposisi (terurai) dengan sempurna. Sampah kantong plastik dapat mencemari tanah, air, laut, bahkan udara.

Kantong plastik terbuat dari penyulingan gas dan minyak yang disebut ethylene. Minyak, gas dan batu bara mentah adalah sumber daya alam yang tak dapat diperbarui. Semakin banyak penggunaan palstik berarti semakin cepat menghabiskan sumber daya alam tersebut. Fakta tentang bahan pembuat plastik, (umumnya polimer polivinil) terbuat dari polychlorinated biphenyl (PCB) yang mempunyai struktur mirip DDT. Serta kantong plastik yang sulit untuk diurai oleh tanah hingga membutuhkan waktu antara 100 hingga 500 tahun. Akan memberikan akibat antara lain:

  • Tercemarnya tanah, air tanah dan makhluk bawah tanah.
  • Racun-racun dari partikel plastik yang masuk ke dalam tanah akan membunuh hewan-hewan pengurai di dalam tanah seperti cacing.
  • PCB yang tidak dapat terurai meskipun termakan oleh binatang maupun tanaman akan menjadi racun berantai sesuai urutan rantai makanan.
  • Kantong plastik akan mengganggu jalur air yang teresap ke dalam tanah.
  • Menurunkan kesuburan tanah karena plastik juga menghalangi sirkulasi udara di dalam tanah dan ruang gerak makhluk bawah tanah yang mampu meyuburkan tanah.
  • Kantong plastik yang sukar diurai, mempunyai umur panjang, dan ringan akan mudah diterbangkan angin hingga ke laut sekalipun.
  • Hewan-hewan dapat terjerat dalam tumpukan plastik.
  • Hewan-hewan laut seperti lumba-lumba, penyu laut, dan anjing laut menganggap kantong-kantong plastik tersebut makanan dan akhirnya mati karena tidak dapat mencernanya.
  • Ketika hewan mati, kantong plastik yang berada di dalam tubuhnya tetap tidak akan hancur menjadi bangkai dan dapat meracuni hewan lainnya.
  • Pembuangan sampah plastik sembarangan di sungai-sungai akan mengakibatkan pendangkalan sungai dan penyumbatan aliran sungai yang menyebabkan banjir.

Beberapa fakta yang berkaitan dengan sampah plastik dan lingkungan:

  • Kantong plastik sisa telah banyak ditemukan di kerongkongan anak elang laut di Pulau Midway, Lautan Pacific
  • Sekitar 80% sampah dilautan berasal dari daratan, dan hampir 90% adalah plastik.
  • Dalam bulan Juni 2006 program lingkungan PBB memperkirakan dalam setiap mil persegi terdapat  46,000 sampah plastik mengambang di lautan.
  • Setiap tahun, plastik telah ’membunuh’ hingga 1 juta burung laut, 100.000 mamalia laut dan ikan-ikan yang tak terhitung jumlahnya.
  • banyak penyu di kepulauan seribu yang mati karena memakan plastik yang dikira ubur-ubur, makanan yang disukainya.

Setelah tahu dampak buruk limbah sampak plastik, setelah tahu banyak makluk hidup yang terkena dampak negatif limbah sampah dan setelah tahu dimana posisi Indonesia yang menjadi salah satu penyumbang sampah plastik terbesar di dunia, lalu hal kecil apa yang bisa kita lakukan untuk membantu lingkungan dan bumi dari bahaya sampah plastik??!!

Mari kita bawa kantong belanja sendiri, mari kita mengurangi konsumsi penggunaan plastik dari sekarang. Saya sudah memulainya sedikit demi sedikit, bagaimana dengan anda?! Yukk mulai dari sekarang, bantu lingkungan dan bumi kita agar terhindar dari bahaya pencemaran lingkungan.

Referensi : http://inswa.or.id/

Advertisements

Aktif dan kritis


Suatu pagi saya mendengar percakapan seorang ibu dengan anaknya. Si anak bertanya macam-macam ke ibunya lalu si ibu menjawab sekenanya. Si anak bertanya lagi lalu kembali lagi si ibu menjawab dengan seadanya. Si anak bertanya terus dan terus lalu berujung pada si ibu marah kepada anaknya dan mengatakan “jangan bawel-bawel, ibu lagi sibuk”. Hingga akhirnya si anak terdiam dengan mungkin menatap ibunya kecewa bercampur takut. Takut dimarahi kalau terus berbicara atau malah takut dimarahi karena sering bertanya.

Lain cerita, suatu siang dipusat perbelanjaan saya kembali lagi mendengar obrolan seorang ibu muda dengan bocah yang mungkin anaknya. Kebetulan si wanita muda dan si bocah itu berjalan sembari ngobrol tepat di belakang saya sehingga saya dengan jelas mendengar obrolan ibu dan anak tersebut. Awalnya hanya obrolan-obrolan ringan dimana si anak heboh bertanya sedangkan ibunya menanggapi dengan sekenanya hingga suatu saat si anak merengek kepada ibunya untuk meminta sesuatu sambil berceloteh bertanya ini itu. Mungkin anak itu lelah dan bosan diajak berkeliling oleh ibunya di pusat perbelanjaan. Mungkin juga memang itu adalah jam tidur siang si anak sehingga jelas saja tengah hari itu si anak merengek karena kelelahan. Tetapi entah kenapa si ibu tiba-tiba berkata “Sudah..sudah jangan ribut kamu, ibu jewer dan pukul loh kamu kalau ribut terus” lalu dengan tiba-tiba si anak menjawab “ibu tak keplak (pukul dalam bahasa jawa) juga loo” karena mencontoh perkataan ibunya.

flashback ke beberapa tahun lalu ketika saya masih di Belgia. Saya duduk di stasiun kereta sambil menunggu kedatangan teman dari kota lain. Di sebelah saya duduk seorang ibu muda dengan 2 orang anaknya yang masih usia kira-kira di bawah 10 tahun. Dengan menggunakan bahasa Belanda si bocah berceloteh tentang kereta api, tentang stasiun dan bertanya ini-itu kepada ibunya. Sedangkan adiknya sibuk memakan waffle coklat di tangannya sambil berceloteh sambil bertanya ini itu kepada kakak dan ibunya. Sang ibu dengan senyum manisnya, dengan sabar menjawab satu persatu pertanyaan anaknya. Menjawab dengan jawaban sesungguhnya tentang kereta api. Menjawab dengan sesungguhnya dan tidak sekenanya tentang nama-nama kereta api, jumlah gerbongnya dan banyak sekali penjelasan-penjelasan untuk anak nya tentang kereta api.

Di lain tempat, ketika saya mengajak serta teman-teman di Belgia beserta adik-adik dan keponakannya yang masih usia sekolah mengunjungi musium geologi di Oostende salah satu kota di Belgia. Dengan semangatnya anak-anak kecil di sana mendengarkan cerita guide tentang kondisi geologi dan beberapa kasus-kasus geologi yang terjadi di dunia. Dengan aktif dan kritisnya mereka bertanya tentang kejadian letusan gunung Krakatau dan Tambora di Indonesia yang ketika itu saya sendiri tidak seberapa paham. Dengan semangatnya mereka bertanya tentang pergerakan lempeng. Dengan sabar dan tersenyum pula para guide geologi tersebut menjelaskan satu persatu dengan gaya bahasa yang mudah dan menarik untuk dipahami anak-anak.

dari 4 paragraf di atas, 2 paragraf adalah kisah anak-anak di Indonesia dan 2 paragraf analah kisah anak-anak di salah satu negara di Benua Eropa. Mereka sama saja adalah bocah-bocah yang aktif dan kritis karena anak memang terlahir dengan penuh tanda tanya. Sehingga sudah sewajarnya anak-anak di segala belahan bumi manapun tumbuh menjadi anak yang cerewet, aktif dan kritis dengan keingin tahuan yang besar. Bedanya adalah, bagaimana lingkungan terdekat yaitu orang tuanya menanggapi keaktifan dan kekritisan anak dengan cara yang positif. Biarlah anak-anak bertanya macam-macam karena itu pertanda bahwa otak anak-anak sedang berkembang. Biarkan anak-anak bertanya macam-macam karena mereka memang tidak tau dan sedang ingin tahu. Jawablah pertanyaan-pertanyaan mereka dengan jawaban yang sesungguhnya tetapi dengan cara yang mudah dipahami anak-anak. Jangan marahi mereka dan jangan batasi keingin tahuan mereka dan jangan jadikan mereka takut untuk bertanya.

Karena sesuatu tercipta dari keingin tahuan. Karena suatu maha karya tercipta karena keaktifan untuk ingin tahu. Karena keingin tahuan yang positif dan kritis dari anak-anak Indonesia adalah kecerdasan yang akan membawa Indonesia lebih baik lagi di masa yang akan depan.

Membaca


Hasil gambar untuk reading a book

Suatu hari di penghujung tahun 2015, saya didatangi oleh petugas survey entah dari lembaga mana. Lelaki muda tersebut menanyakan satu pertanyaan yaitu “Berapa buku yang sudah anda baca di tahun 2015?” Saya pun tidak langsung menjawab karena tentunya perlu waktu beberapa saat untuk menghitung berapa buku yang sudah saya baca di tahun ini. Mungkin jeda saya berpikir dan menjawab membuat sipenanya menyimpulkan sesuatu yang buruk tentang saya yaitu saya salah satu diantara orang muda Indonesia yang tidak gemar membaca. Akhirnya sipenanya menjelaskan maksud dan tujuan mengadakan survey gemar membaca kepada masyarakat muda Indonesia. Beberapa nasehat-nasehat supaya saya gemar membacapun dilontarkan oleh si pemuda itu. Sayapun hanya mengiyakan pernyataan dan nasehat si lelaki muda itu tanpa membantah pernyataannya. Sembari mendengarkan nasehat-nasehat dan obrolan si lelaki muda itu, tiba-tiba munculah pertanyaan di benak saya “Sebegitu parahkah tingkat ketidak gemaran membaca muda-mudi bahkan anak-anak Indonesia?”. Don’t count me in kedalam rumpun muda-muda Indonesia yang tidak gemar membaca. Saya salah satu orang yang gila novel, gila baca berita dan gila membaca apa saja!!! YESSS SAYAA BERKATA JUJUR!! Hingga sayapun heran, kenapa kok jumlah orang yang tidak gemar membaca sebegitu banyaknya sehingga menjamurnya gerakan-gerakan yang bertujuan membuat orang-orang khususnya anak-anak gemar membaca. Berikut saduran berita hasil survey-survey tentang rendahnya minat membaca warga muda dan anak-anak Indonesia.

“Sebanyak 10 persen masyarakat Indonesia yang umurnya di bawah 10 tahun gemar membaca, dan 90 persen penduduk gemar nonton televisi dan tidak suka membaca. Artinya minat baca masyarakat Indonesia sangat rendah,” kata Kepala Kantor Perpustakaan Nasional RI Sri Sularsih dalam acara Safari Gerakan Nasional Gemar Membaca di Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu. Minat baca anak di Indonesia sangat rendah. Berdasarkan data UNESCO, persentase minat baca anak Indonesia sebesar 0,01 persen. Artinya, dari 10.000 anak bangsa, hanya satu saja yang memiliki minat baca. Hal ini disampaikan oleh Anggota Komisi X DPR RI, Yayuk Basuki, dalam kunjungan di Kendal, Senin (25/5/2015). Menurut Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat H.R Agung Laksono, prosentase minat baca masyarakat Indonesia hanya sebesar 0,01 persen. Artinya dalam 10.000 orang hanya 1 orang saja yang memiliki minat baca.Di negara lain, Amerika misalnya, dalam satu tahun rata-rata warganya membaca 20 – 50 buku per tahun dan Jepang 20 – 30 buku per tahun, sementara di Indonesia hanya berkisar antara nol sampai satu buku per tahun,” ungkap Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (RI) Sri Sularsih, Selasa (12/5), di sela-sela Pengukuhan Pengurus Daerah Gerakan Permasyarakatan Minat Baca (PD-GPMB) Sulsel Periode 2015 – 2019 dirangkaikan Talkshow Minat Baca, di Makassar. Secara persentase, masyarakat Indonesia hanya 17 persen yang gemar membaca, sementara sebagian besar lebih memilih jadi penonton televisi (hingga 91,68 persen).

Dengan hasil-hasil survey tentang minat baca yang sangat rendah itulah maka banyak sekali kegiatan-kegiatan amal yang dilakukan demi meningkatkan minat baca anak-anak di Indonesia.

Tetapi, seperti postingan saya sebelumnya, lagi-lagi saya menganggap bahwa rendahnya minat anak-anak dan orang di Indonesia dalam hal membaca salah satunya disebabkan oleh tidak adanya contoh yang baik yang diperoleh dari lingkungan sekitar. Mungkin orang tuanya atau keluarganya juga bukan tipe orang yang gemar membaca?! Mungkin juga orang-orang yang membuat gerakan gemar membaca tidak memberi contoh kepada orang-orang sekitarnya dengan rajin membaca?! Mungkin juga para orang tua memaksakan anaknya supaya gemar membaca tetapi orang tuanya tersebut malah asik nonton sinetron, telenovela ataupun film India?! Jadi, bagaimana anak-anak jadi gemar membaca kalau lingkungannya tidak memberi contoh yang baik tentang pentingnya membaca!!!

Saya kembali lagi ke pertanyaan yang terlontar pada paragraft pertama “Berapa buku yang sudah anda baca di tahun 2015?”. Saya tidak bisa menjawab karena saya tidak tau jawabannya. Terlalu banyak novel yang saya beli dan baca setiap tahunnya. Terlalu banyak buku arkeologi dan sejarah kota yang saya beli dan baca setiap tahunnya karena entah kenapa saya suka buku-buku sejarah. Terlalu banyak bacaan tentang kegunung-apian dan kegempaan yang saya download dan baca setiap tahunnya karena entah kenapa saya suka topik-topik itu. Buku-buku dan bacaan-bacaan tersebut diluar bidang pekerjaan saya. Saya juga diharuskan membaca beberapa paper dan jurnal untuk penelitian ataupun bahan seminar serta bacaan-bacaan serius saya diluar bacaan santai di aplikasi HP saya. Saya juga suka baca berita gosip artis-artis dan mengikuti kasus pembunuhan Mirna dengan racun sianida yang kesemuanya saya baca dari aplikasi berita di HP saya. Sehingga membaca bagi saya adalah suatu kebiasaan seperti halnya rutinitas makan dan minum.

Kenapa saya bisa sebegitu doyannya membaca? Mungkin karena lingkungan saya yang secara tidak langsung mendidik saya sejak kecil tentang kebiasaan membaca. Ayah saya adalah pecinta buku, koleksi bukunya sebanyak 3 lemari dengan lebar masing-masing 2 meteran dan tinggi kurang lebih 2 meteran. Sejak kecil saya dibelikan ayah saya koleksi buku ensiklopedia versi lengkap tentang dunia hewan dan tumbuhan. Sejak kecil juga saya sering melihat ayah saya dan juga ibu saya membaca dirumah maupun dimana saja kalau sedang senggang. Ketika masih kecil ayah saya sering mengajak anak-anaknya untuk bermain dipantai, sembari menjaga anak-anaknya bermain pasir pantai, ayah saya pasti duduk dibawah tempat rindang untuk membaca. Kadang juga kalau saya bosan bermain pasir pantai maka saya mengerjakan PR atau ikutan membaca disana. Jadi saya menyimpulkan bahwa kegemaran saya membaca merupakan salah satu hasil pen-contohan saya dari orang tua saya. Kegemaran membacapun menjadikan saya gemar untuk menulis serta menganalisa sesuatu.

untuk menjadikan anak-anak dan muda-muda Indonesia gemar membaca memang butuh waktu, tetapi ayok kita mulai dari yang kecil-kecil dulu, mulai dari memberi contoh pada orang-orang disekitar kita atau anak-anak kita yang masih kecil-kecil. Membacalah bersama mereka.. Membacalah didepan mereka.. Jangan paksa mereka, tetapi berikan mereka contoh yang baik dari apa yang kita lakukan dirumah.. Membacalah..

” A house without Books is like a room wothout windows”

Menjadi contoh


Saya selalu gemes dengan orang-orang yang berada disekeliling saya. Saya selalu tidak berhenti mengomentari hal-hal yan saya anggap diluar batas kewajaran apabila suatu kejadian aneh terjadi didepan mata saya. Agak serem sih gaya bahasa saya kali ini seolah-olah saya baru saja ketemu sama hal-hal yang menyeramkan. Bukan.. bukan.. saya bukan ketemu dengan hal-hal besar yang membuat saya sebal. Tetapi justru saya ketemu dengan hal-hal yang kecil tetapi terjadi berulang kali dan kejadiannya didepan mata saya yang menurut saya kejadian tersebut akan merusak mental generasi penerus bangsa.. #apasih,makin ngaco ngomongnya# hahaha.. makin clueless dah.. :p

Jadi begini ceritanya, setiap pagi saya selalu berangkat kekantor dan saya melulu melewati beberapa sekolah dasar dimana banyak anak-anak kecil yang bersekolah disitu (yaa jelas laahh..hehe). Bukan anak kecilnya yang menjadi masalah bagi saya tetapi si pengantar anak kecil ke sekolah itu. Penampakan yang saya lihat setiap pagi yang menurut saya janggal adalah :

  1. Seorang ibu/ayah sang pengantar anak sekolah mengantar anaknya ke sekolah tanpa mengenakan helm pun juga si anak tidak ber-helm.
  2. Seorang ibu/ayah sang pengantar anak sekolah mengantar anaknya dengan menyeberang sembarangan tanpa melihat kondisi jalan (tanpa tengok kanan-kiri)
  3. Seorang ibu/ayah sang pengantar anak sekolahan menurunkan anaknya disembarang tempat sehingga membuat macet lalu lintas.

3 poin yang saya sebut di atas hanyalah sebagian kecil dari hal-hal yang membuat saya gemes, karena menurut saya kejadian-kejadian kecil tersebut adalah kejadian yang merusak mental anak bangsa. Kenapa? Tau khan kalau anak-anak (jangankan anak-anak, orang dewasapun juga) cenderung untuk meniru hal-hal yang sering terjadi disekitarnya. Tau juga khan kalau mental anak-anak akan terbentuk dari pengajaran secara tidak langsung dari lingkungannya. Nah, 3 poin di atas adalah salah satu dari jenis-jenis pengajaran orang tua yang menurut saya salah untuk di ajarkan ke anak-anaknya. Secara tidak langsung juga pen”contohan” yang terjadi dengan tidak sengaja tersebut akan melekat didalam pikiran seorang anak sehingga menganggap bahwa hal-hal yang tidak disiplin tersebut adalah suatu hal biasa dan secara tidak langsung dianggap bukan suatu hal yang salah. Jadi mental tidak disiplin seseorang akan terbentuk sejak dini akibat pola asuh yang agak menyimpang yang dilakukan orang tua. Sehingga secara sepihak saya dapat menyimpulkan bahwa ketidak disiplinan yang sebagian besar dilakukan oleh orang Indonesia adalah sudah terdidik sejak kecil akibat pola asuh non-disiplin yang secara tidak sadar disalurkan oleh orang tua ke anak-anaknya. Betul ndak sih?

Yah saya hanya beropini dan secara sepihak menyimpulkan, tetapi hal positif yang dapat saya ambil adalah : “jadilah orang baik serta disiplin dan taat terhadap hal-hal kecil supaya dapat memberi contoh kecil kepada orang sekitar yang siapa tau akan memperbaiki mental Indonesia kedepannya” hehehe..

Sekian

Money minded


Uang memang sesuatu yang fundamental sebagai hal yang penting demi kelangsungan hidup seseorang. Tetapi uang juga dapat berperan ganda dalam kehidupan seseorang. Ia dapat menjadi air yang menenangkan dan menyegarkan, tetapi juga dapat menjadi sesuatu yang menghanyutkan dengan gelombang yang terlalu besar hingga orang-orang tersebut menjadi terlalu terbuai dengan sosok Uang. Karena peran uanglah, seseorang menjadi terlalu apatis. Karena sosok uanglah seseorang menjadi terlalu individualis dan karena sosok uanglah seseorang menjadi gila kerja hingga gila hormat. Tetapi apabila dilihat dari segi positif, uang dapat menjadi salah satu alat untuk berderma, salah satu alat untuk membahagiakan orang lain serta salah satu alat untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan kehidupan.

Namun, apakah peran uang dalam kehidupan seseorang dapat seimbang antara peran positif dan peran negatif? Kalau keseimbangan peran uang dapat terjaga dengan baik, suatu negara pasti tidak akan terjadi perebuatan kekuatan dan kedudukan karena uang; Tidak akan juga terjadi korupsi yang rata-rata dilakukan oleh orang-orang yang sebenarnya sudah memiliki banyak uang. Keseimbangan peran uang dengan semakin bergulirnya waktu dan semakin berkembangnya suatu negara, justru akan mengarah kepada peran negatif dari uang. Jiwa konsumtif menjadi salah satu penyebabnya. Ditambah lagi fasilitas yang mendukung jiwa-jiwa konsumtif atas nama kemoderenan juga menjadikan seseorang lebih terbuai terhadap peran negatif dari uang. Uang menjadi salah satu pemicu seseorang untuk bekerja, tanpa adanya uang maka seseorang tidak akan mau bekerja dengan baik. Loyalitas menjadi dipertanyakan.

Ambil contoh kecil saja yaitu peran uang di suatu instansi. Dimana terkadang uang yang direpresentasikan dengan gaji pada tiang-tiap orang disuatu instansi menjadi pemicu adanya kecemburuan sosial. Perasaan ketidakadilan antara besar kewajiban serta hak yang diterima sering kali menjadi pemicu kecemburuan hingga ketimpangan sosial. Ujung-ujungnya menjadi, tidak ada uang maka tidak akan bekerja dengan baik. Atau kalau disuatu instansi pemerintahan, tidak ada SK maka tidak usah bekerja (Karena SK nantinya dapat ditukarkan dengan uang remunerasi). Hingga orang-orang berlomba untuk mengumpulkan SK ataupun mengumpulkan bukti bahwa mereka telah bekerja dengan lebih sehingga layak untuk mendapatkan Uang dengan nominal 0 yang banyak dibelakangnya. (Walaupun kadang-kadang SK tersebut terkesan dipaksakan untuk dibuat). Apabila 0 yang diterima dalam remunerasi dirasa lebih kecil dibanding rekan sejawat yang pekerjaannya dianggap lebih sedikit, maka protes dan cemburulah seseorang tersebut. Hingga akhirnya terjadi perbanding-perbandingan antara orang satu dengan orang lain. Padahal sebenarnya yang diterima sudah cukup banyak, tetapi perasaan ketidakadilan karena orang lain mendapat lebih banyak justru menjadi pemantik kecemburaun tersebut. Perlombaan banyak-banyakan bukti telah bekerja dalam selembar kertas SK menjadi semarak dan berjalan dengan serunya. Protes-protes karena bukti-bukti tersebut ada yang belum ter-input kedalam suatu sistem penghitung Uang yang diterima juga marak terjadi. Sehingga sifat negatif uangpun menjadi semakin menonjol dibandingkan sifat positif.

Uang memang suatu yang fundamental dan penting dalam kehidupan kita, tetapi jangan biarkan uang menjadikan kita terlalu gelap mata untuk berbuat hal-hal negatif. Jangan terlalu rakus terhadap uang karena lama-kelamaan justru ia yang akan menggerogoti kehidupan kita. Jagalah keseimbangan antara positif dan negatif dari uang dan yakinlah bahwa  uang akan datang dengan sendirinya kalau Tuhan menganggap kita membutuhkan dan do your best tanpa memikirkan hasil berupa uang karena nantinya dia akan dengan sendirinya hadir sebagai buah dari do our best dalam setiap hal.. 🙂