Menjadi contoh


Saya selalu gemes dengan orang-orang yang berada disekeliling saya. Saya selalu tidak berhenti mengomentari hal-hal yan saya anggap diluar batas kewajaran apabila suatu kejadian aneh terjadi didepan mata saya. Agak serem sih gaya bahasa saya kali ini seolah-olah saya baru saja ketemu sama hal-hal yang menyeramkan. Bukan.. bukan.. saya bukan ketemu dengan hal-hal besar yang membuat saya sebal. Tetapi justru saya ketemu dengan hal-hal yang kecil tetapi terjadi berulang kali dan kejadiannya didepan mata saya yang menurut saya kejadian tersebut akan merusak mental generasi penerus bangsa.. #apasih,makin ngaco ngomongnya# hahaha.. makin clueless dah.. :p

Jadi begini ceritanya, setiap pagi saya selalu berangkat kekantor dan saya melulu melewati beberapa sekolah dasar dimana banyak anak-anak kecil yang bersekolah disitu (yaa jelas laahh..hehe). Bukan anak kecilnya yang menjadi masalah bagi saya tetapi si pengantar anak kecil ke sekolah itu. Penampakan yang saya lihat setiap pagi yang menurut saya janggal adalah :

  1. Seorang ibu/ayah sang pengantar anak sekolah mengantar anaknya ke sekolah tanpa mengenakan helm pun juga si anak tidak ber-helm.
  2. Seorang ibu/ayah sang pengantar anak sekolah mengantar anaknya dengan menyeberang sembarangan tanpa melihat kondisi jalan (tanpa tengok kanan-kiri)
  3. Seorang ibu/ayah sang pengantar anak sekolahan menurunkan anaknya disembarang tempat sehingga membuat macet lalu lintas.

3 poin yang saya sebut di atas hanyalah sebagian kecil dari hal-hal yang membuat saya gemes, karena menurut saya kejadian-kejadian kecil tersebut adalah kejadian yang merusak mental anak bangsa. Kenapa? Tau khan kalau anak-anak (jangankan anak-anak, orang dewasapun juga) cenderung untuk meniru hal-hal yang sering terjadi disekitarnya. Tau juga khan kalau mental anak-anak akan terbentuk dari pengajaran secara tidak langsung dari lingkungannya. Nah, 3 poin di atas adalah salah satu dari jenis-jenis pengajaran orang tua yang menurut saya salah untuk di ajarkan ke anak-anaknya. Secara tidak langsung juga pen”contohan” yang terjadi dengan tidak sengaja tersebut akan melekat didalam pikiran seorang anak sehingga menganggap bahwa hal-hal yang tidak disiplin tersebut adalah suatu hal biasa dan secara tidak langsung dianggap bukan suatu hal yang salah. Jadi mental tidak disiplin seseorang akan terbentuk sejak dini akibat pola asuh yang agak menyimpang yang dilakukan orang tua. Sehingga secara sepihak saya dapat menyimpulkan bahwa ketidak disiplinan yang sebagian besar dilakukan oleh orang Indonesia adalah sudah terdidik sejak kecil akibat pola asuh non-disiplin yang secara tidak sadar disalurkan oleh orang tua ke anak-anaknya. Betul ndak sih?

Yah saya hanya beropini dan secara sepihak menyimpulkan, tetapi hal positif yang dapat saya ambil adalah : “jadilah orang baik serta disiplin dan taat terhadap hal-hal kecil supaya dapat memberi contoh kecil kepada orang sekitar yang siapa tau akan memperbaiki mental Indonesia kedepannya” hehehe..

Sekian

About tantri

I am nobody who really want to be somebody. Extremely introvert cheerful and easy going girl.. :) Thanks for visiting this blog... ^^

Posted on February 1, 2016, in experince. Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. Kita juga ngerasa yg sama, gimana anak2 mau nyontoh yg baik ya lah orang tuanya aja banyak yg gak taat aturan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: