Aktif dan kritis


Suatu pagi saya mendengar percakapan seorang ibu dengan anaknya. Si anak bertanya macam-macam ke ibunya lalu si ibu menjawab sekenanya. Si anak bertanya lagi lalu kembali lagi si ibu menjawab dengan seadanya. Si anak bertanya terus dan terus lalu berujung pada si ibu marah kepada anaknya dan mengatakan “jangan bawel-bawel, ibu lagi sibuk”. Hingga akhirnya si anak terdiam dengan mungkin menatap ibunya kecewa bercampur takut. Takut dimarahi kalau terus berbicara atau malah takut dimarahi karena sering bertanya.

Lain cerita, suatu siang dipusat perbelanjaan saya kembali lagi mendengar obrolan seorang ibu muda dengan bocah yang mungkin anaknya. Kebetulan si wanita muda dan si bocah itu berjalan sembari ngobrol tepat di belakang saya sehingga saya dengan jelas mendengar obrolan ibu dan anak tersebut. Awalnya hanya obrolan-obrolan ringan dimana si anak heboh bertanya sedangkan ibunya menanggapi dengan sekenanya hingga suatu saat si anak merengek kepada ibunya untuk meminta sesuatu sambil berceloteh bertanya ini itu. Mungkin anak itu lelah dan bosan diajak berkeliling oleh ibunya di pusat perbelanjaan. Mungkin juga memang itu adalah jam tidur siang si anak sehingga jelas saja tengah hari itu si anak merengek karena kelelahan. Tetapi entah kenapa si ibu tiba-tiba berkata “Sudah..sudah jangan ribut kamu, ibu jewer dan pukul loh kamu kalau ribut terus” lalu dengan tiba-tiba si anak menjawab “ibu tak keplak (pukul dalam bahasa jawa) juga loo” karena mencontoh perkataan ibunya.

flashback ke beberapa tahun lalu ketika saya masih di Belgia. Saya duduk di stasiun kereta sambil menunggu kedatangan teman dari kota lain. Di sebelah saya duduk seorang ibu muda dengan 2 orang anaknya yang masih usia kira-kira di bawah 10 tahun. Dengan menggunakan bahasa Belanda si bocah berceloteh tentang kereta api, tentang stasiun dan bertanya ini-itu kepada ibunya. Sedangkan adiknya sibuk memakan waffle coklat di tangannya sambil berceloteh sambil bertanya ini itu kepada kakak dan ibunya. Sang ibu dengan senyum manisnya, dengan sabar menjawab satu persatu pertanyaan anaknya. Menjawab dengan jawaban sesungguhnya tentang kereta api. Menjawab dengan sesungguhnya dan tidak sekenanya tentang nama-nama kereta api, jumlah gerbongnya dan banyak sekali penjelasan-penjelasan untuk anak nya tentang kereta api.

Di lain tempat, ketika saya mengajak serta teman-teman di Belgia beserta adik-adik dan keponakannya yang masih usia sekolah mengunjungi musium geologi di Oostende salah satu kota di Belgia. Dengan semangatnya anak-anak kecil di sana mendengarkan cerita guide tentang kondisi geologi dan beberapa kasus-kasus geologi yang terjadi di dunia. Dengan aktif dan kritisnya mereka bertanya tentang kejadian letusan gunung Krakatau dan Tambora di Indonesia yang ketika itu saya sendiri tidak seberapa paham. Dengan semangatnya mereka bertanya tentang pergerakan lempeng. Dengan sabar dan tersenyum pula para guide geologi tersebut menjelaskan satu persatu dengan gaya bahasa yang mudah dan menarik untuk dipahami anak-anak.

dari 4 paragraf di atas, 2 paragraf adalah kisah anak-anak di Indonesia dan 2 paragraf analah kisah anak-anak di salah satu negara di Benua Eropa. Mereka sama saja adalah bocah-bocah yang aktif dan kritis karena anak memang terlahir dengan penuh tanda tanya. Sehingga sudah sewajarnya anak-anak di segala belahan bumi manapun tumbuh menjadi anak yang cerewet, aktif dan kritis dengan keingin tahuan yang besar. Bedanya adalah, bagaimana lingkungan terdekat yaitu orang tuanya menanggapi keaktifan dan kekritisan anak dengan cara yang positif. Biarlah anak-anak bertanya macam-macam karena itu pertanda bahwa otak anak-anak sedang berkembang. Biarkan anak-anak bertanya macam-macam karena mereka memang tidak tau dan sedang ingin tahu. Jawablah pertanyaan-pertanyaan mereka dengan jawaban yang sesungguhnya tetapi dengan cara yang mudah dipahami anak-anak. Jangan marahi mereka dan jangan batasi keingin tahuan mereka dan jangan jadikan mereka takut untuk bertanya.

Karena sesuatu tercipta dari keingin tahuan. Karena suatu maha karya tercipta karena keaktifan untuk ingin tahu. Karena keingin tahuan yang positif dan kritis dari anak-anak Indonesia adalah kecerdasan yang akan membawa Indonesia lebih baik lagi di masa yang akan depan.

About tantri

I am nobody who really want to be somebody. Extremely introvert cheerful and easy going girl.. :) Thanks for visiting this blog... ^^

Posted on February 9, 2016, in experince. Bookmark the permalink. 10 Comments.

  1. iaa, kalau di sana mereka sabar banget ya ngadepin sejuta satu pertanyaan kritis anak2 nya yaa..
    Btw Tantri, ini yang barengan waktu itu kita di Belanda bukan ya?haha.. rasanya pernah koment deh, tp lupa apa bener Tantri ini apa bukan ya?hehe..

  2. Sistem pendidikan di Indonesia (Dan Asia) emang memaksa anak untuk selalu mendengarkan tanpa boleh bertanya. Konon itu sebabnya orang Asia jarang yang dapat Nobel tapi rajin langganan juara olimpiade fisika atau olimpiade lain yang pakai rumus hapalan. Minim inovasi, bisanya disuapin terus.

  3. Wah jd berkaca sm diri sendiri nii.. sy termasuk tipikal ibu2 Indonesia atau Belgia yaaaa……

  4. Super sekali bu Tantri kita yang satu ini…:)

  5. Benar juga yach? kalau anak bawel karena orang tua males ngejawab yang ada anaknya diomelin dibilang bawel. Ketika anaknya diam nga tau mau menanya apa yang ada orangtuanya bingung hehehe.. ada2 aja yach. ternyata efeknya lumayan besar juga untuk anak-anak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: