Author Archives: Women

Me time: pentingkah?


Me time adalah salah satu kosakata yang aneh menurut saya,. 😀 Anehnya bukan karena bentuk katanya yang cenderung singkat atau arti dari kata me time, tetapi lebih kearah konsep dan pemahaman dari me time yang menurut saya sendiri adalah sebuah keanehan. Saya tiba-tiba ingin menulis sebuah tulisan dengan judul ini gara-garanya baru membaca buku kiriman dan tulisan dari teman saya yang judulnya sama dengan judul tulisan yang akan saya tulis di minggu siang kesorean yang cenderung mendung ini.. : )

Oke.. mari kita browsing-googling or what ever tentang arti kata “ME TIME”. Menurut websitenya koran nasional kompas, “Me-Time” adalah waktu untuk diri sendiri tanpa kehadiran orang lain, sehingga kita bisa beraktivitas sendirian (atau bahkan tidak melakukan apa-apa).

Lalu, mari kita browsing asal mula kata ME TIME dipopulerkan. hhhhhmmmm… setelah saya browsing beberapa menit, saya tidak menemukan jawaban ini. Mungkin ulasan tentang mulai tenarnya kata ME TIME tidak seberapa penting dibandingkan dengan arti kata me time itu sendiri.

Nah.. OK saya setuju bahwa ME TIME adalah suatu waktu dimana seseorang ingin bebas dan melakukan hal-hal yang mereka inginkan, sesuai dengan keinginan mereka dan tidak dibebani oleh tugas-tugas lain yang diperuntukan untuk orang lain. Ya sesuai dengan arti katanya sendiri, ME TIME adalah WAKTU Ke-SAYA-an. Tetapi saya, sebagai wanita kantoran justru merasakan bahwa ME TIME saya terlalu banyak dan malah bekerja di kantor adalah rekreasi menurut saya. Jadi ME TIME adalah kantor saya selain dengan membaca novel atau buku-buku yang sedang ingin saya baca. Jadi anehnya, saya justru merasa bahasan tentang ME TIME adalah sesuatu yang tidak penting. Eitssss… tidak penting menurut saya belum tentu tidak penting menurut yang lainnya, karena setiap orang memiliki kehidupan yang berbeda-beda.

Ok, di dunia ini, tidak melulu wanita adalah seperti saya yang bekerja di kantor dengan suka cita. Banyak sekali wanita yang karena satu dan lain hal (baik terpaksa maupun tidak) memilih untuk menjadi wanita tidak bekerja/ibu rumah tangga full dibandingkan dengan menjadi ibu bekerja. Nah ternyata, wanita yang memilih menjadi ibu rumah tangga jauh lebih besar probabilitas terserang stress dan depresi dibandingkan dengan ibu bekerja. Sarah Damaske, seorang profesor Perburuhan dan Ketenagakerjaan di Pennsylvania State University melakukan penelitian untuk membuktikan hal tersebut. Hasilnya adalah ternyata ibu bekerja lebih bahagia dibandingkan dengan ibu rumah tangga full time. Ibu bekerja (khususnya yang bekerja di bidang yang dia suka) justru akan lebih memiliki banyak hiburan dan kegiatan yang dapat terhindar dari depresi dibandingkan dengan ibu rumah tangga.

Penelitian lainnya yang dilakukan dengan menggunakan teknik survey juga menunjukan hasil yang hampir sama. Menurut survey tersebut, secara rata-rata, ibu rumah tangga (yaitu ibu tak bekerja yang punya anak <18 tahun) mengalami tingkat rasa sedih, stres, marah, serta depresi lebih tinggi dibandingkan perempuan bekerja. Ibu rumah tangga juga kurang bisa menikmati kebahagiaan, serta rendah rasa ingin belajar sesuatu yang menyenangkan. Survey tersebut menunjukan, 41% Ibu rumah tangga merasa cemas, 26% merasa sedih, 50% stres, 19% merasa marah, dan 28% didiagnosa depresi. Sementara, untuk ibu bekerja (paruh waktu maupun kerja penuh waktu dengan usia anak sama), angkanya di bawah itu.

Nah, salah satu upaya untuk menghindari tinggkat stress dan depresi (khusunya bagi ibu rumah tangga) adalah dengan memiliki ME TIME. Jadi, para ibu rumah tangga tersebut dapat terhindar dari jenuh, rasa tidak berguna maupun perasaan-perasaan kesepian yang kalau dibiarkan terus maka akan mengganggu stabilitas mental mereka. Padahal seorang ibu adalah titik pusat dari kebahagiaan dan kedamaian keluarga.

Jadi, kalau kembali ke pratanyaan dalam judul tulisan saya ini, apakah ME TIME penting? jawaban saya PENTING  khususnya bagi orang-orang yang memang sangat membutuhkan. Kalau saya, bekerja di bidang yang saya sukai dan melakukan hal yang saya sukai di bidang pekerjaan saya adalah ME TIME yang menyenangkan buat saya. Taking care keluarga juga menyenangkan buat saya, toh juga semuanya terasa menjadi sangat mudah dan menyenangkan jika kita dapat memanagenya (of course i need jasa cleaning service dan laundry untuk memudahkan hidup saya) . Saya tidak terlalu ideal harus bersih-bersih setiap hari ataupun memasak setiap hari hanya demi mendapatkan citra sebagai istri yang baik.. hehehe… Toh keluarga saya tidak mempermasalahkan itu.. jadi, saya merasa beruntung sekali karena merasa bahwa ME TIME saya adalah hidup menjadi saya seperti sekarang ini… setiap hari adalah ME TIME saya.. 🙂 🙂 🙂

Advertisements

Jarang Menulis


Judul tulisan saya kali ini to the point banget yaa… JARANG MENULIS.. hahaha.. memang saya sudah sangat jarang sekali menulis di blog ini. Terakhir tulisan saya dipublish bulan April dan sekarang sudah bulan Oktober. Jadi sudah sekitar 7-8 bulanan saya sudah tidak menulis di forum penulisan dengan gaya pop-populer di blog. Akibatnya adalah, blog saya terlantar. Akibat lainnya adalah gaya penulisan saya menjadi kaku dan cenderung memilih gaya penulisan yang kaku ilmiah. Akibat lainnya lagi adalah, saya menjadi lebih serius akibat jarang sekali menulis hal-hal yang tidak serius di blog.

Penyebab saya jarang menulis adalah WAKTU.. #sokSibukBanget#. iya, saya tidak punya waktu untuk menulis blog, karena saya bukan seorang fulltime blogger. Selain itu saya juga tidak banyak waktu untuk mencari referensi penulisan maupun ide-ide penulisan populer karena saya harus mencari ide-ide penulisan lainnya yang lebih butuh pemikiran ektra. Jarang menulis berarti juga merupakan akibat dari jarang membaca. Yess saya jarang sekali membaca novel akhir-akhir ini. Intensitasnya tidak lagi sesering dulu yang setiap pagi (sambil nongkrong di toilet) dan malam selalu baca novel, sekarang sudah tidak sereguler dulu. Novel terakhir yang saya baca yaitu novel tentang Kartini dan Les Miselebles (saya baca 2 hari yang lalu) yang sampai sekarang belum juga rampung saya baca. Karena jarang membaca buku-buku bergaya tulisan pop seperti itu, saya menjadi sulit untuk kembali menulis tulisan bergaya populer. Saya juga jarang mengusahakan untuk kembali menulis blog karena semakin sering saya menulis blog semakin sulit saya kembali untuk menulis ke gaya-gaya penulisan ilmiah dan fakta yang memang harus saya rampungkan sebagai bagian dari pekerjaan saya.

Jarang menulis blog bukan berarti saya sama sekali tidak pernah membaca dan bukan berarti juga bahwa saya tidak menulis sama sekali. Saya menulis dan membaca tetapi khusus untuk bidang saya saja. Saya menulis laporan pekerjaan,  menulis paper untuk publish jurnal internasional maupun menyulis penelitian. Sehingga seringnya adalah saya membaca tulisan-tulisan yang bergaya ilmiah dengan topik-topik penelitian saya. Tentu tanpa membaca saya tidak akan bisa menulis. Tanopa menulis maka saya tidak bisa mengasah pengetahuan yang sudah saya dapatkan dari membaca. Jadi, membaca dan menulis adalah salah satu hal penting yang harus dilakukan manusia yang selalu ingin mengasah kecerdasan dan pengetahuannya.

Membaca adalah hal yang penting untuk membuat otak kita bekerja. Menulispun juga demikian. Jadi menurut saya, perlu sekali untuk selalu membaca dan selalu rutin menulis. Kesimpulannya adalah, membaca dan menulis dalah sangat penting. heheheh…

Demikian tulisan saya yang sama sekali gak jelas kali ini dan entah apa latar belakang dan rumusan masalah dari penulisan saya kali ini.. Tapi, semoga ada faedahnya.. :p :p :p Keep writing and reading for those who care with their brain capacity. 

 

Menanam Tulip di daerah tropis (Surabaya)


Tulipa prominence itu nama Latin untuk tanaman yang terkenal di Belanda tetapi sebetulnya adalah berasal dari Asia Tengah, tumbuh liar di kawasan pegunungan Pamir dan pegunungan Hindu Kush dan stepa di Kazakhstan. Bunga ini adalah bunga nasional negara Iran dan Turki. Saya tidak akan membahas sejarah tentang Tulip, tapi kalau kalian tertarik dengan sejarahnya, silahkan googling sendiri atau buka link ini. 

Kali ini saya ingin berbagi tentang bagaimana cara menanam Tulip di negara tropis yaitu di tempat tinggal saya Surabaya. Berbekal dari beberapa artikel tutorial menanam tulis dari beberapa bloger yang linknya saya sertakan di sini, di sini dan disini.  Berbekal juga tentunya sekantong bibit tulip yang saya dapatkan dari teman saya yang baru pulang dari study di Belanda (Thanks Mbak Ottik yang sudah dengan senang hati membawakan bibit bunga tulip langsung dari Belanda 🙂 🙂 🙂 ) sayapun belajar menaman tulip. Oh iya, bibit bunga tulip dan bibit bunga-bunga 4 musim lainnya memang dijual bebas di Belanda. Sama seperti di Indonesia yang menjual bibit-bibit tomat, sayur mayur maupun tanaman tropis lainnya. Saya titip teman saya yaitu seharga 7.5 euro per pack yang terdiri dari kurang-lebih 20 biji tulip.

Terdapat beberapa tahapan dalam menanam tulip dan proses penanamannya berbeda dengan proses penanaman tanaman tropis biasanya. Saya pernah menanam markisa (ehh bukan saya sih.. tapi suami saya..heheh) tanpa dirawat dengan telaten dan cukup disiram dengan rutin saja tanaman itu dapat tumbuh dengan suburnya dan rimbunnya. Begitu juga ketika saya mencoba menanam kurma, jeruk maupun tanaman-tanaman lainnya. Hingga ditanam saja bibitnya, rutin disiram maka merekapun akan tumbuh dengan bahagianya. Berbeda dengan tanaman Tulip, tanaman ini mempunyai proses penanaman yang lebih ribet dan butuh penangan ekstra apabila dibandingkan dengan tanaman lainnya. yaa karena menanam tanaman bule di negara panas jadi seolah-olah kita tidak bisa langsung memaksa si bule yang tinggal di Indonesia itu untuk makan nasi setiap hari. Tentu butuh adaptasi dan perawatan ekstra supaya mereka betah di Indonesia.

Nah, berikut ini adalah proses bagaimana cara saya menanam tulip dari awal hingga berbunga.

Tahap Cooling treatment (pendinginan)

Cooling treatment adalah suatu tahapan yang dilakukan dimana tujuannya adalah menyesuaikan suhu tubuh bibit tulip supaya hampir sama dengan suhu kondisi di negara asalnya. Proses pendinginan ini memakan waktu 2-3 bulan dengan cara memasukkan bibit-bibit tulip tersebut kedalam lemari pendingin dalam keadaan kering. Tahap ini adalah tahap yang paling menentukan perkemabngan tulip selanjutnya. Anggap saja kalau sedang hamil ya tahapan ini adalah trismerter pertama yang paling riskan.

Bibit tulip bentuknya hampir mirip bawang merah tetapi ukurannya lebih besar. Memiliki warna kulit coklat tua yang hampir mirip seperti bawang bombay. Beberapa artikel yang saya baca menyatakan waktu cooltreatment yang bervariasi antara 11 minggu hingga 14 minggu dan bahkan ada yang hingga 19 minggu. Saya mencoba untuk melakukan cold treatment selama 2.5 bulan. Biji-biji tulip tersebut saya masukkan kedalam kotak terbuka dimana pada bagian bawahnya saya alasi dengan kertas yang dapat menyerap lembab. Beberapa artikel menyarankan untuk menggunakan wadah telur dengan bahan kertas dan bukan plastik.

Setelah cold treatment pertama selesai, kemudian saya lakukan cold treatment ke-dua yaitu dengan memasukkan bibit-bibit tulip tersebut kedalam air. Proses ini membutuh waktu kurang lebih 2 minggu hingga tumbuh tunas kurang lebih 2 cm.

20170226_073942.jpg

Proses cold treatment di dalam air setelah melewati masa cold treatment kering selama kurang lebih 2-3 bulan.

 Tahap Penanaman 

Tahap penanaman dilakukan setelah bibit tulip yang direndam didalam air dan ditaruh dilemari es tumbuh hingga kurang lebih 2 cm (sayangnya, saya tidak punya foto ini). Penanaman dilakukan pada media tanah yaitu campuran pupuk kompos dan tanah tanam biasa. Komposisi jumlah tanah dan pupuk kompos, saya tidak tahu pasti dan baik seperti apa. Tetapi yang saya lakukan adalah mencampur pupuk kompos dan tanah dengan komposisi 1:2. 1 untuk pupuk kompos dan 2 untuk tanah media tanam. Setelah dilakukan pemindahan tanaman ke media tanam, biarkan tunas-tunas tulip tersebut di dalam lemari es.

20170226_073952.jpg 20170222_172733.jpg

Tunas tulip yang telah dipindahkan di dalam media tanam.

Tanah perawatan

Setelah tunas-tunas tulip tumbuh dan meninggi di dalam lemari es selama kurang lebih 1-2 minggu (atau ketika tinggi tunas tulis sudah mencapai lebih dari 5 cm), keluarkan tunas-tunas tersebut dari dalam lemari es. Pada saat masih berada di dalam lemari es, pastikan tunas-tunas tulip tersebut mendapatkan asupan air sehingga tidak kering karena terlalu dingin. Penyiraman tulip dilakukan pada area pinggir tunas dan sebisa mungkin tunas tulip tidak langsung terkena air. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari tumbuhnya jamur dan tunas membusuk akibat jamur.

Tunas dikeluarkan dari lemari es tetapi dirawat dalam suhu ruang dan tidak terkena cahaya matahari langsung. Untuk memenuhi kegiatan fotosintesa tanaman tulip, lakukan penjemuran pada tunas tulis dipagi hari sebelum jam 8. Masukan kembali tanaman tulis kedalam ruangan untuk menghindari tanaman tulip terkena sinar matahari langsung. Tulip akan bertahan hidup pada suhu yang adem, tidak panas dan tidak lembab. Setelah kurang lebih 1 bulan masa perawatan dengan total masa penanaman tulip 5 bulan, bunga tulip berbunga dengan cantik.

IMG-20170225-WA0013.jpeg 20170226_074011.jpg

Tunas tulip yang diletakkan di dalam ruangan (kiri); Tunas tulip yang dijemur di pagi hari.

20170313_171433 (1).jpg

Bunga tulip yang berhasil berbunga di Surabaya.

Dari beberapa bulan proses penanaman tulip yang saya lakukan, terdapat beberapa hal yang saya simpulkan dari proses penanaman tulip tersebut yaitu:

  1. Keberhasilan dari penanaman tulip adalah dipengaruhi oleh masa cold treatment.
  2. Dari beberapa bongkah tulip yang saya tanam, hanya beberapa yang berhasil tumbuh dengan baik. Pertumbuhan tunas tulip pada masing-masing bongkah bibit tulip juga berbeda-beda. Rata-rata yang tumbuh tunas paling awal, pertumbuhan selanjutnya justru lebih lambat. Tanaman yang berhasil berbunga adalah tunas yang muncul pada periode kedua (kurang lebih 1-1.5 minggu dari proses pen-tunasan). Tunas tulip yang baru tumbuh lebih dari 2 minggu mengalami pertumbuhan yang sangat lambat dan cenderung kerdil.
  3. 1 bongkah tulip dapat menghasilkan 1-3 tunas tulip.
  4. Proses fotosintesa sangat penting jadi proses penjemuran tanaman tulip di pagi hari adalah sangat penting. Tunas yang rutin dilakukan proses penjemuran di pagi hari akan tumbuh lebih hijau dan baik dibandingkan dengan yang tetap dibiarkan di dalam ruangan tanpa dijemur.
  5. Tanaman tulip yang diletakkan di dalam ruang ber-AC (AC tidak hidup sepanjang hari) justru akan mengalami kekeringan dan lemas serta pertumbuhannya tidak baik dibandingkan dengan suhu ruang. Hal tersebut disebabkan oleh perbedaan suhu ruang ber-AC dengan suhu normal Surabaya terlampau jauh sehingga menjadikan tulip tidak tahan dengan perbedaan suhu.
  6. Jangan sekali-kali membiarkan tanah tulip terjemur di bawah sinar matahari langsung karena akan langsung membuat tanaman tulip mati lemas.

Sekian… 🙂

#SayaToleransi


(Tulisan lawas yang ngendon lama di draft. Saya tulis setelah adanya momen2 perusakan tempat ibadah di suatu wilayah di Sumatera lalu saya tambahin setelah adanya tindakan teror pengeboman di jakarta. Lalu saya tambahin lagi setelah maraknya aksi-aksi damai untuk toleransi)

“Semoga topik saya kali ini tidak menjadi sebuah kontroversi karena masalah yang akan saya angkat dalam tulisan kali ini adalah masalah Agama, toleransi dan peristiwa-peristiwa in-toleransi yang belakangan ini banyak sekali terjadi di Indonesia yang katanya adalah negara ber-Agama.” 

Perbedaan sebenarnya adalah sebuah hal yang biasa. Karena perbedaan adalah sebuah mahakarya Tuhan yang memiliki tujuan baik bagi umatnya. Tuhan menciptakan wajah manusia berbeda-beda; Tuhan menciptakan tinggi badan manusia berbeda-beda; warna rambut, warna kulit, bentuk badan, massa tulang, bentuk rahang, bentuk gigi,sidik jari, semuanya Tuhan menciptakannya berbeda-beda. Tuhan juga menciptakan bumi dengan segala bentuk kontur dan kondisi geologi yang berbeda-beda. Tuhan menciptakan ragam bahasa dan ragam budaya melalui kreatifitas manusia yang juga merupakan ciptaan Tuhan. Tuhan menciptakan segala perbedaan itu. Perbedaan yang menjadikannya suatu keindahan dan warna-warni dalam kehidupan..

Tuhan juga menciptakan perbedaan keyakinan, perbedaan cara pandang dan perbedaan cara berpikir pada setiap makluknya. Perbedaan itu adalah sebuah pempelajaran Tuhan untuk mendewasakan manusia; untuk menjadikan manusia sebagai mahkluk ciptaan-Nya -yang paling berakal budi- mampu lebih menghargai, untuk menjadikan manusia mampu meredam emosi; untuk menjadikan manusia mampu bersikap dan bertindak baik dalam perbedaan-perbedaan yang ada.

Tuhan juga menciptakan Agama yang berbeda-beda yang sebenarnya bertujuan untuk menjadikan Umat Tuhan semakin menghargai dibalik perbedaan itu. Namun, tujuan Tuhan meleset akhir-akhir ini karena justru konflik-konflik di dunia akhir-akhir ini adalah seolah-olah bersumber dari perbedaan Agama… Sehingga seakan-akan perbedaan menjadi sesuatu hal yang luar biasa yang harus dibinasakan sehingga menjadi sebuah keseragaman. Keseragaman keyakinan, keseragaman Agama ataupun keseragaman cara berpikir.. Apakah perbedaan harus dijadikan sebuah persamaan sehingga perdamaian dunia dapat terwujud? Apakah keyakinan dan cara pandang yang berbeda pada masing-masing individu harus dengan terpaksa disamakan supaya dunia menjadi tidak terguncang oleh konflik? Apakah warna pelangi yang berbeda-beda juga harus disamakan supaya menjadi lebih damai?

Apakah toleransi dunia sudah mulai memudar?!

Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki 13.466 pulau dari jumlah total 17.508 pulau dengan 9600an pulau yang belum diberi nama dan 6000an pulau yang tidak berpenghuni. Indonesia tercatat memiliki 740 suku bangsa dan etnis, 583 bahasa dan dialek dari 67 bahasa daerah Induk. Selain itu, Indonesia juga memiliki 6 agama yang diakui resmi oleh negara dan apabila ditelusuri masih banyak sekali yang menganut paham dan aliran kepercayaan. Dengan banyaknya suku/etnis, bahasa, ras dan agama tersebut menjadikan Indonesia sebagai negara yang paling kaya akan ragam dan paling majemuk dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia. Kemajemukan Indonesia ini merupakan komoditas besar yang bisa menjadi nilai tambah bagi Indonesia sendiri.

Kemajemukan Indonesia yang sebenarnya bisa menjadi asset dan kebanggaan tersendiri bagi bangsanya akhir-akhir ini justru menjadi boomerang yang telah menohok citra Indonesia. Berbagai konflik-konflik internal antar suku, konflik antar golongan dan bahkan konflik yang mengatasnamakan Agama sering terjadi. Tidak jarang konflik tersebut berujung pada pengerusakan tempat-tempat ibadah, pembantaian suku-suku maupun golongan yang tidak sepaham sehingga dianggapnya musuh. Bahkan semakin banyak pula konflik-konflik tersebut menjadikan perbedaan agama sebagai penyebab adanya perpecahan.

Agama yang semestinya menjadi sentrum integrator kehidupan untuk menghindari manusia dari situasi perpecahan, ternyata malah menjadi pemicu disintegrasi sosial dalam kehidupan yang majemuk. Apabila hal ini kurang disadari dan tidak segera diatasi maka kondisi kehidupan yang ” guyup rukun dan damai ” hanya akan merupakan sebuah utopia, serta pembangunan bangsa dengan pengamalan Pancasila akan mengalami kendala. Kondisi yang paling mengenaskan akhir-akhir ini adalah, terlalu banyak debat-debat politik dan perebutan kekuasaan yang justru bersembunyi dibalik nilai dasar sebuah Agama. Dengan mengatas namakan Agama, pemimpin-pemimpin besar berusaha merebut hati pendukung dengan keAlimannya yang (mungkin sebagian besar) sesungguhnya hanyalah pencitraan. Kondisi miris lainnya adalah banyaknya pemahaman-pemahaman keliru yang dapat memicu konflik yang dimiliki para pengikut Agama. Chauvinisme berlebih serta fanatikisme yang sempit terhadap suatu paham, keyakinan dan pemikiran dalam suatu Agama justru malah menjadi pemicu ketersinggungan yang berujung pada suatu konflik yang (sangat disayangkan) mengatas-namakan Agama.

Kurangnya pemahaman Agama dan Ber-Agama mungkin merupakan salah satu penyebab tumbuhnya Chauvinisme dan Fanatik-isme yang terlalu berlebih akhir-akhir ini. Kondisi ini dapat dilihat dari banyaknya debat kusir, adu komentar dalam sosial media terhadap suatu masalah kecil yang semestinya bukan menyinggung Agama tetapi entah kenapa dianggap menyinggung Agama hingga diakhiri dengan peng-Kafiran secara brutal oleh pihak-pihak yang merasa-Alim terhadap pihak-pihak yang dianggap tidak alim maupun yang dianggap beda keyakinan. Banyak pula web-site maupun akun-akun blog pribadi yang menulis hal-hal berbau Agama dari sudut pandangnya sendiri dengan kalimat-kalimat yang membangkitkan ketersinggungan satu-sama lain hingga berujung pada saling menghina antar keyakinan. Banyak pula politik menunggangi Agama; Banyak pula konflik antar negara yang sesungguhnya murni karena sebuah konflik negara yang kebetulan masing-masing memiliki keyakinan/Agama mayoritas yang berbeda menjadi seolah-olah sebagai konflik Antar Agama. Banyak pula mereka-mereka yang saling menyalahkan negara-negara tertentu sebagai sumber penyebab; Banyak pula mereka-mereka yang saling menyalahkan Agama-agama tertentu yang menjadi sumber penyebab. Banyak pula emosi yang berlebih terjadi dibalik ketidak-pahaman masalah yang dipicu oleh provokator dan dibumbui dengan tindak kekerasan yang berujung pada terjadinya konflik antar Agama. Semua mungkin karena ketidak-pahaman atau mungkin juga karena mereka tidak paham kalau mereka belum paham nilai-nilai Ber-Agama.

Agama tidak mungkin mengajarkan kebencian; Agama tidak mungkin mengajarkan kekerasan; Agama tidak mungkin memberikan himbauan kepada umatnya untuk membenci paham-paham lainnya; Agama tidak mungkin mengajarkan untuk saling menghina; Agama tidak mungkin mengharuskan umatnya untuk hanya bergaul hanya dengan yang memiliki keyakinan sama; Agama tidak mungkin mengajarkan keburukan dan konflik; Agama tidak mungkin mengajarkan in-toleransi dalam perbedaan; Agama tidak mungkin mengajarkan untuk perang melawan pemikiran dan keyakinan berbeda; Agama tidak mungkin memaksakan kehendak; Agama tidak mungkin mengajarkan sebuah tindakan tidak damai. Apabila agama tidak dapat menciptakan perdamaian dalam perbedaan buat apa ber-Agama? 

Agama bukan suatu organisasi multi-level-marketing yang memaksakan kehendak terhadap keyakinannya dengan tujuan menjadikan banyak pengikut; Agama bukanlah suatu universitas yang memaksa semua orang di muka bumi untuk menjadi mahasiswanya, karena mereka boleh saja memilih universitas lainnya yang menurut mereka baik; Agama bukan suatu wadah untuk memfasilitasi kekerasan; Agama bukan suatu organisasi yang mengajarkan bentuk anarkisme; Agama bukanlah rumah dimana semua anggotanya memberikan paham-paham kebencian. Apabila Agama hanyalah sebuah wadah yang penuh kebencian, buat apa memilih ber-Agama? 

Sebagai manusia yang ber-Agama, mari kita tunjukan watak keber-Agamaan kita dalam keberagaman. Setiap Agama mengajarkan kebaikan, maka tunjukanlah kebaikan mu kepada seluruh makhluk tanpa memandang perbedaan Agama; Setiap Agama mengajarkan berdamaian, maka tunjukanlah perdamaian itu dalam pemikiran, perkataan dan perbuatanmu tanpa memandang perbedaan Agama; Setiap Agama mengajarkan cinta kasih, maka tunjukanlah cinta kasihmu pada sesama tanpa memandang perbedaan Agama; Setiap Agama mengajarkan untuk saling menghargai, maka tunjukanlah sikap saling menghargai kepada semua Makhluk di bumi ini tanpa memandang perbedaan.

Tunjukanlah toleransi ber-Agamamu dan tunjukanlah bahwa kamu betul-betul ber-Agama dengan bersikap layaknya manusia yang ber-Agama yang penuh cinta kasih dan perdamaian.

Biarkanlah pelangi memiliki banyak warna karena semakin beragam warna pelangi, maka semakin terpancar keindahannya. Biarkanlah kebun bunga ditumbuhi oleh warna-warni bunga, karena dengan beragam warna akan semakin terpancar keindahan kebun bunga itu.

Salam perdamaian dan toleransi untuk kita semua #sayatoleransi

REVITASILASI BENOA: ANTARA PERUSAKAN ALAM, PERUSAKAN BUDAYA DAN KESERAKAHAN?


Saya menemukan tulisan ini yang sebenarnya adalah tugas visitasi dan aktualisasi pada saat saya diklat prajabatan tahun lalu (dan sepertinya pernah juga menjadi topik tulisan di mana ya saya lupa). Pada saat itu tema visitasi yang saya angkat adalah tentang Revitalisasi Bali atau bahasa kerennya adalah reklamasi di Benoa Bali. Latar belakang kenapa tiba-tiba saya teringat dengan topik ini dan lalu mencari materi-materi tulisan iseng di folder labtop saya adalah karena pembahasan di group WA yang saya ikuti kebetulan adalah tentang wacana ini. Selain itu beberapa waktu lalu, saya ditawari oleh rekan sekantor dan kebetulan sebidang dengan saya untuk ikut bergabung di dalam group perencana pembangunan reklamasi di Teluk Benoa Bali. Kebetulan memang bidang reklamasi adalah bidang di laboratorium kampus saya. Karena saya adalah salah satu orang yang bagaimanapun kondisinya tetap menolak revitalisasi Bali, lebih tepatnya saya menolak terekploitasinya Bali secara besar-besaran di bidang pariwisata yang kebarat-baratan dan merusak kondisi asli dan alam Bali, sehingga saya enggan untuk menerima tawaran tersebut. Saya meng-copy paste hasil tulisan saya berikut ini.

PEMBAHASAN MASALAH

Latar belakang (Hasil visitasi)

Reklamasi Tanjung Benoa menjadi pembicaraan hangat belakangan ini. Setelah suksesnya pembangunan jalan tol sisi laut Nusa-dua “Bali Mandara”, pemerintah Bali seolah ingin lebih mengembangkan sayapnya di sector pembangunan infrastruktur Bali kedepan yang mengatasnamakan kemajuan ekonomi di sector pariwisata. Namun, penolakan-penolakan di lapisan masyarakat local Bali terus bermunculan akhir-akhir ini. Mereka beranggapan bahwa reklamasi yang digaungkan oleh pemerintah Bali dapat menyebabkan dampak buruk antara lain abrasi, banjir, kerusakan konservasi mangrove sisi pantai dan lain sebagainya. Selain itu, reklamasi yang akan dilakukan ini dianggap malah hanya akan menguntungkan pihak tertentu saja dan malah justru merugikan warga local. Namun,ada beberapa kalangan setuju dengan adanya reklamasi ini yang dianggap dapat menyaingi reklamasi Sentosa Island, Singapore. Pro dan kontra terus bermunculan untuk terlaksananya pembangunan ini.

Rencana Reklamasi ini dilatar belakangi oleh Pulau Pudut yang belakangan nyaris tenggelam akibat perubahan alam. Kondisi ini meresahkan warga Desa Tanjung Benoa karena sejumlah alasan. Kekawatiran utama adalah adanya gelombang besar yang kemungkinan akan langsung menerjang pesisir barat Tanjung Benoa tidak akan bisa dihalangi lagi oleh pulau Pudut. Jika Pulau Pudut bisa dikembalikan lagi keberadaanya melalui reklamasi, maka harapan warga Tanjung Benoa adalah selain terhindar dari bencana alam berupa gelombang besar atau tsunami, di lahan Pulau Pudut juga bisa dibangunnya sejumlah fasilitas seperti sekolah, puskesmas dan konservasi penyu. Mereka pada dasarnya menyetujui reklamasi asalkan material reklamasi tidak diambil dengan cara pengerukan di laut sekitarnya, melainkan didatangkan dari luar wilayah tersebut. Tetapi oleh pemerintah Bali, pembangunan ini diserahkan kepada perusahaan pembangunan nasional. Pembangunan justru mengarah kepada mega proyek dan pembangunan besar-besaran layaknya pembangunan sentosa island di Singapore dengan dibangunnya pelbagai fasilitas rekreasi berskala internasional terdapat di dalamnya. Hal inilah yang menimbulkan keresahan masyarakat sekitar.

Selain kondisi tersebut diatas, kemudian dikeluarkannya Peraturan Presiden Nomor 51 Tahun 2014 terkait perubahan terhadap peruntukan ruang sebagian kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil yang merupakan bagian dari Kawasan Teluk Benoa, Bali. Perpres yang merupakan revisi dari Perpres No. 45/2011 tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Sarbagita (Denpasar, Badung, Gianyar dan Tabanan), menyebutkan perubahan sebagian status zona kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil di Kawasan Teluk Benoa, serta arahan umum pemanfaatan ruang kawasan tersebut. Perubahan peraturan tersebut justru seolah-olah mematahkan semangat konservasi mangrove pesisir pantai yang didengungkan dan diresmikan satu tahun sebelumnya. Sehingga perubahan Peraturan Presiden ini malah menimbulkan kecurigaan di kalangan masyarakat.

Sebelumnya, gubernur Bali berpendapat bahwa reklamasi yang akan dilakukan di Tanjung Benoa justru merupakan suatu usaha untuk masa depan Bali. Dengan adanya reklamasi ini, menurutnya, akan menambah luas area Bali khususnya Bali Selatan sehingga berbanding lurus dengan peningkatan lapangan pekerjaan khususnya di sector pariwisata. Selain itu, area reklamasi ini digadang-gadang menjadi destinasi wisata baru bagi masyarakat dunia sehingga terjadi peningkatan pendapatan daerah di bidang pariwisata. Gubernur berpendapat bahwa dengan adanya pengembangan wilayah dengan reklamasi ini, sector ekonomi Bali akan semakin meningkat untuk kedepannya. Namun iming-iming kebangkitan ekonomi pada sector pariwisata oleh Gubernur Bali ini tidak serta merta membuat rakyat setuju dengan rencana pembangunan ini. Penolakan justru semakin gencar terjadi.

Beberapa pro dan kontra tentang reklamasi ini membuat kita teringat kembali dengan reklamasi yang juga pernah dilakukan di kawasan Benoa beberapa tahun silam. Reklamasi semacam ini pernah dilakukan untuk perluasan Pulau Serangan (tahun 1995-1998) dari luas wilayah 111 hektar menjadi 481 hektar. Berdasarkan beberapa kajian dan study lapangan, reklamasi Pulau Serangan memiliki beberapa dampak negatif yang perlu dijadikan pertimbangan dan pembelajaran untuk pelaksanaan reklamasi berikutnya. Beberapa dampak negative yang terjadi menurut Tim Kajian bidang Ilmiah dan Litbang Divisi I BE SMFE Unud adalah : 1) Kerusakan terumbu karang yang disebabkan oleh hilangnya mata pencaharian penduduk yang semula merupakan nelayan. Perubahan profesi ini disebabkan oleh hilangnya ekosistem ikan di wilayah pesisir akibat dampak reklamasi; 2) Adanya endapan lumpur yang merupakan dampak dari adanya pengerukan di beberapa kawasan untuk material reklamasi. Endapan lumpur ini menyebabkan pendangkalan dasar laut; 3.Terjadinya perubahan arus laut, yang mengakibatkan pengikisan di satu sisi dan munculnya daratan baru di tempat lain. Hasil pantauan SKPPLH di Sanur,pantai yang rata-rata mengalami erosi satu meter per 10 tahun, kini tidak memerlukan waktu setahun untuk mengalami erosi lebih dari tujuh meter.

Beberapa dampak negative yang tersebut di atas seharusnya menjadi bahan pertimbangan pemerintahan untuk melakukan pembangunan reklamasi berikutnya. Selain itu, hasil penelitian Puslit Geoteknologi LIPI tahun 2010 menunjukkan bahwa wilayah Bali Selatan, khususnya sekitar Teluk Benoa seperti Serangan, Benoa, Bualu, Tanjung Benoa, merupakan daerah likuifaksi atau daerah rawan amblesan. Apabila reklamasi dilanjutkan, kondisi ini akan membahayakan wilayah sekitar Benoa apalagi bila terjadi gempa besar nantinya. Apalagi luas area reklamasi yang tidak sedikit yaitu ±800 Ha. Bahkan, seorang aktivis lingkungan berpendapat “reklamasi ini akan hanya menguntungkan pihak investor karena lebih banyak hal komersial dari pada aksi penyelamatan lingkungan yang di sebenarnya diinginkan rakyat Bali”.

 Reaksi masyarakat Bali (Hasil visitasi)

Berbagai reaksi masyarakat bermunculan, ada yang mendukung dan banyak juga yang menolak. Sebagian besar masyarakat khususnya masyarakat asli Bali yang merasakan sendiri dampak negative dari adanya reklamasi (yang kini di ganti nama menjadi Revitalisasi, walau inti dan maknanya sama) menolak keras rencana revitalisasi tersebut. Beberapa reaksi penolakan masyarakat membentuk suatu komunitas. Komunitas-komunitas ini tersebar di sembilan desa di Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan dan melakukan berbagai kegiatan.

 Sebelumnya, penolakan muncul dari Desa Tanjung Benoa, Kelan, Sanur, Suwung, dan Sukawati. Penolakan itu dikoordinir para pemuda. Di Desa Kelan, di sebelah Bandara Ngurah Rai, misal, muncul baliho di pinggir jalan. Tulisannya,” Desa Kelan Menolak Reklamasi. Melawan atau Tenggelam.” Di Suwung, baliho serupa di pinggir Jalan By Pass Ngurah Rai. “Jangan Tenggelamkan Kami Bapak Presiden SBY. Bali Tolak Reklamasi Batalkan Perpres No. 51/2014.” Tak beda di Sukawati, Gianyar, berjarak 20 km dari Teluk Benoa.

 Permasalahan yang diangkat (Perasaan dan kesan)

Reklamasi ini tidak hanya mempertimbangkan kondisi lingkungan masa kini dan masa depan. Terlepas dari permasalahan lingkungan yang berkaitan dengan hal-hal teknis,pembangunan ini juga harus mempertimbangan hal-hal yang berkenaan dengan kehidupan social budaya masyarakat Bali kedepannya. Dengan adanya reklamasi ini, sector pariwisata tumbuh hingga membuka 200.000 lapangan pekerjaan baru. Dengan kondisi tersebut, lalu muncul beberapa pertanyaan:

  1. Apakah lapangan pekerjaan baru ini justru akan membahagiakan Bali kedepannya?
  2. Apakah Bali sudah siap dengan persaingan pariwisata yang meningkat terlalu drastis dalam kurun waktu singkat?
  3. Apakah pembangunan pariwisata saja yang harus dikedepankan untuk kemajuan Bali kedepan, bagaimana dengan sector lainnya?
  4. Apakah Bali perlu adanya reklamasi?
  5. Apakah reklamasi ini justru akan menyejahterakan masyarakat local? Atau malah menyejahterakan investor luar?
  6. Apakah Bali akan semakin terjual oleh asing apabila pembangunan hanya diutamakan pada sector pariwisata saja?
  7. Apakah perasaan cinta tanah air dan bangsa dapat tercermin hanya dari eksploitasi besar-besaran dan menjual nama Bali atas nama pariwisata, tetapi nyatanya malah merusak Bali?

Terlepas dari permasalahan lingkungan, secara social- budaya, kondisi Bali sudah semakin krisis. Pembangunan Bali yang terkonsentrasi hanya di sector Pariwisata saja membuat Bali seolah-olah sulit bernafas. Berkembangnya sector pariwisata menjadikan semakin banyaknya wisatawan dengan berbagai budaya masuk ke Bali. Budaya masuk tanpa terfilter dengan baik. Bali yang dulunya menjadi Paradise island ataupun island of God dan island of thousand temple kini justru menjadi pulau bebas yang menjadi daerah tujuan penyebaran obat-obatan terlarang, pulau free sex ataupun sebutan-hebutan hina lainnya. Sehingga dapat dikatakan bahwa Pulau Bali semakin kehilangan taksunya, semakin memudar kecantikannya. Apakah reklamasi akan mengembalikan taksu Bali kedepan, atau malah menghancurkan Bali???!

 Dampak yang terjadi (Perasaan dan kesan)

Tujuan dari revitalisasi Bali memang terlihat sangat mulia yaitu: menyejahterakan masyarakat dengan membuka lapangan pekerjaan dari sektor pariwisata. Tetapi dilihat dari pembahasan sebelumnya bahwa ternyata dampak negative juga akan terjadi. Beberapa dampak negative tersebut sudah mulai terasa setelah tahun 90an dimana kondisi perekonomian Bali mulai ditopang sebagian besar atau hampir semuanya dari bidang pariwisata. Beberapa dampak kecil yang dapat dilihat oleh masyarakat Bali yang tinggal di dalam maupun diluar Bali adalah:

Dampak social masyarakat

  • Mindset masyarakat Bali bahwa sector ekonomi hanya di bidang pariwisata
  • Mindset masyarakat Bali bahwa wisatawan asing lebih layak dihormati dibandingkan orang Indonesia sendiri.
  • Mindset masyarakat Bali untuk lebih melayani wisatawan asing (yang dianggap lebih memiliki kemampuan finansial tinggi) dibandingkan wisatawan local.
  • Banyaknya aset-aset Bali yang dimiliki oleh warga asing.
  • Banyaknya hotel-hotel mewah di sepanjang pantai yang dimiliki oleh orang asing tetapi mengatas-namakan warna local.
  • Munculnya banyak sekali tempat-tempat hiburan malam di kawasan tertentu yang menjadikannya sebagai tempat mengkonsumsi minuman keras dan mengkonsumsi narkoba.

Dampak lingkungan

  • Pembangunan yang tidak terkendali menjadikan banyak area hijau di betonkan/ dibangun fasilitas-fasilitas wisata.
  • Kemacetan parah dijalan-jalan menuju kawasan wisata.
  1. Nilai-Nilai Nasionalisme dan komentar
  • Rencana revitasilasi di Bali yang memunculkan beberapa pendapat serta pro dan kontra menjadikan penulis ingin sedikit menggali permasalahan tersebut dalam sebuah nilai-nilai Nasionalime.
  • Rencana revitalisasi yang akan dilakukan tersebut masih belum mencerminkan nilai Nasionalisme kemanusiaan yaitu tentang saling menghormati dan tidak diskriminatif. (Mindset masyarakat Bali bahwa wisatawan asing lebih layak dihormati dibandingkan orang Indonesia sendiri)
  • Rencana revitalisasi yang akan dilakukan tersebut masih belum mencerminkan nilai Nasionalisme Ketuhanan yaitu nilai Religius (Munculnya banyak sekali tempat-tempat hiburan malam di kawasan tertentu yang menjadikannya sebagai tempat mengkonsumsi minuman keras dan mengkonsumsi narkoba). Kondisi ini dapat menyebabkan masyarakat local terpapar oleh nilai-nilai Barat negative yeng cenderung jauh dari nilai Nasionalisme ketuhanan.
  • Rencana revitalisasi yang akan dilakukan tersebut masih belum mencerminkan nilai Nasionalisme Kemanusiaan yaitu saling menghormati, tidak diskriminasi dan humanis.(Banyaknya hotel-hotel mewah di sepanjang pantai yang dimiliki oleh orang asing tetapi mengatas-namakan warna local)
  • Rencana revitalisasi yang akan dilakukan tersebut masih belum mencerminkan nilai Nasionalisme persatuan yaitu cinta tanah air dan mengutamakan kepentingan public (
  • Rencana revitalisasi yang akan dilakukan tersebut masih belum mencerminkan nilai Kerakyatan yaitu Musyawarah mufakat karena rencana pembangunan ini tidak melalui persetujuan masyarakat Bali dan tidak melalui pengambilan aspirasi seluruh masyarakat Bali.
  • Rencana revitalisasi yang akan dilakukan tersebut masih belum mencerminkan nilai Keadilan yaitu Tidak serakah. Keserakahan pemegang wewenang dan pemegang keputusan untuk melakukan pembangunan yang terlalu besar-besaran padahal masyarakat belum siap akan dampak yang nantinya terjadi.