#SayaToleransi


(Tulisan lawas yang ngendon lama di draft. Saya tulis setelah adanya momen2 perusakan tempat ibadah di suatu wilayah di Sumatera lalu saya tambahin setelah adanya tindakan teror pengeboman di jakarta. Lalu saya tambahin lagi setelah maraknya aksi-aksi damai untuk toleransi)

“Semoga topik saya kali ini tidak menjadi sebuah kontroversi karena masalah yang akan saya angkat dalam tulisan kali ini adalah masalah Agama, toleransi dan peristiwa-peristiwa in-toleransi yang belakangan ini banyak sekali terjadi di Indonesia yang katanya adalah negara ber-Agama.” 

Perbedaan sebenarnya adalah sebuah hal yang biasa. Karena perbedaan adalah sebuah mahakarya Tuhan yang memiliki tujuan baik bagi umatnya. Tuhan menciptakan wajah manusia berbeda-beda; Tuhan menciptakan tinggi badan manusia berbeda-beda; warna rambut, warna kulit, bentuk badan, massa tulang, bentuk rahang, bentuk gigi,sidik jari, semuanya Tuhan menciptakannya berbeda-beda. Tuhan juga menciptakan bumi dengan segala bentuk kontur dan kondisi geologi yang berbeda-beda. Tuhan menciptakan ragam bahasa dan ragam budaya melalui kreatifitas manusia yang juga merupakan ciptaan Tuhan. Tuhan menciptakan segala perbedaan itu. Perbedaan yang menjadikannya suatu keindahan dan warna-warni dalam kehidupan..

Tuhan juga menciptakan perbedaan keyakinan, perbedaan cara pandang dan perbedaan cara berpikir pada setiap makluknya. Perbedaan itu adalah sebuah pempelajaran Tuhan untuk mendewasakan manusia; untuk menjadikan manusia sebagai mahkluk ciptaan-Nya -yang paling berakal budi- mampu lebih menghargai, untuk menjadikan manusia mampu meredam emosi; untuk menjadikan manusia mampu bersikap dan bertindak baik dalam perbedaan-perbedaan yang ada.

Tuhan juga menciptakan Agama yang berbeda-beda yang sebenarnya bertujuan untuk menjadikan Umat Tuhan semakin menghargai dibalik perbedaan itu. Namun, tujuan Tuhan meleset akhir-akhir ini karena justru konflik-konflik di dunia akhir-akhir ini adalah seolah-olah bersumber dari perbedaan Agama… Sehingga seakan-akan perbedaan menjadi sesuatu hal yang luar biasa yang harus dibinasakan sehingga menjadi sebuah keseragaman. Keseragaman keyakinan, keseragaman Agama ataupun keseragaman cara berpikir.. Apakah perbedaan harus dijadikan sebuah persamaan sehingga perdamaian dunia dapat terwujud? Apakah keyakinan dan cara pandang yang berbeda pada masing-masing individu harus dengan terpaksa disamakan supaya dunia menjadi tidak terguncang oleh konflik? Apakah warna pelangi yang berbeda-beda juga harus disamakan supaya menjadi lebih damai?

Apakah toleransi dunia sudah mulai memudar?!

Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki 13.466 pulau dari jumlah total 17.508 pulau dengan 9600an pulau yang belum diberi nama dan 6000an pulau yang tidak berpenghuni. Indonesia tercatat memiliki 740 suku bangsa dan etnis, 583 bahasa dan dialek dari 67 bahasa daerah Induk. Selain itu, Indonesia juga memiliki 6 agama yang diakui resmi oleh negara dan apabila ditelusuri masih banyak sekali yang menganut paham dan aliran kepercayaan. Dengan banyaknya suku/etnis, bahasa, ras dan agama tersebut menjadikan Indonesia sebagai negara yang paling kaya akan ragam dan paling majemuk dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia. Kemajemukan Indonesia ini merupakan komoditas besar yang bisa menjadi nilai tambah bagi Indonesia sendiri.

Kemajemukan Indonesia yang sebenarnya bisa menjadi asset dan kebanggaan tersendiri bagi bangsanya akhir-akhir ini justru menjadi boomerang yang telah menohok citra Indonesia. Berbagai konflik-konflik internal antar suku, konflik antar golongan dan bahkan konflik yang mengatasnamakan Agama sering terjadi. Tidak jarang konflik tersebut berujung pada pengerusakan tempat-tempat ibadah, pembantaian suku-suku maupun golongan yang tidak sepaham sehingga dianggapnya musuh. Bahkan semakin banyak pula konflik-konflik tersebut menjadikan perbedaan agama sebagai penyebab adanya perpecahan.

Agama yang semestinya menjadi sentrum integrator kehidupan untuk menghindari manusia dari situasi perpecahan, ternyata malah menjadi pemicu disintegrasi sosial dalam kehidupan yang majemuk. Apabila hal ini kurang disadari dan tidak segera diatasi maka kondisi kehidupan yang ” guyup rukun dan damai ” hanya akan merupakan sebuah utopia, serta pembangunan bangsa dengan pengamalan Pancasila akan mengalami kendala. Kondisi yang paling mengenaskan akhir-akhir ini adalah, terlalu banyak debat-debat politik dan perebutan kekuasaan yang justru bersembunyi dibalik nilai dasar sebuah Agama. Dengan mengatas namakan Agama, pemimpin-pemimpin besar berusaha merebut hati pendukung dengan keAlimannya yang (mungkin sebagian besar) sesungguhnya hanyalah pencitraan. Kondisi miris lainnya adalah banyaknya pemahaman-pemahaman keliru yang dapat memicu konflik yang dimiliki para pengikut Agama. Chauvinisme berlebih serta fanatikisme yang sempit terhadap suatu paham, keyakinan dan pemikiran dalam suatu Agama justru malah menjadi pemicu ketersinggungan yang berujung pada suatu konflik yang (sangat disayangkan) mengatas-namakan Agama.

Kurangnya pemahaman Agama dan Ber-Agama mungkin merupakan salah satu penyebab tumbuhnya Chauvinisme dan Fanatik-isme yang terlalu berlebih akhir-akhir ini. Kondisi ini dapat dilihat dari banyaknya debat kusir, adu komentar dalam sosial media terhadap suatu masalah kecil yang semestinya bukan menyinggung Agama tetapi entah kenapa dianggap menyinggung Agama hingga diakhiri dengan peng-Kafiran secara brutal oleh pihak-pihak yang merasa-Alim terhadap pihak-pihak yang dianggap tidak alim maupun yang dianggap beda keyakinan. Banyak pula web-site maupun akun-akun blog pribadi yang menulis hal-hal berbau Agama dari sudut pandangnya sendiri dengan kalimat-kalimat yang membangkitkan ketersinggungan satu-sama lain hingga berujung pada saling menghina antar keyakinan. Banyak pula politik menunggangi Agama; Banyak pula konflik antar negara yang sesungguhnya murni karena sebuah konflik negara yang kebetulan masing-masing memiliki keyakinan/Agama mayoritas yang berbeda menjadi seolah-olah sebagai konflik Antar Agama. Banyak pula mereka-mereka yang saling menyalahkan negara-negara tertentu sebagai sumber penyebab; Banyak pula mereka-mereka yang saling menyalahkan Agama-agama tertentu yang menjadi sumber penyebab. Banyak pula emosi yang berlebih terjadi dibalik ketidak-pahaman masalah yang dipicu oleh provokator dan dibumbui dengan tindak kekerasan yang berujung pada terjadinya konflik antar Agama. Semua mungkin karena ketidak-pahaman atau mungkin juga karena mereka tidak paham kalau mereka belum paham nilai-nilai Ber-Agama.

Agama tidak mungkin mengajarkan kebencian; Agama tidak mungkin mengajarkan kekerasan; Agama tidak mungkin memberikan himbauan kepada umatnya untuk membenci paham-paham lainnya; Agama tidak mungkin mengajarkan untuk saling menghina; Agama tidak mungkin mengharuskan umatnya untuk hanya bergaul hanya dengan yang memiliki keyakinan sama; Agama tidak mungkin mengajarkan keburukan dan konflik; Agama tidak mungkin mengajarkan in-toleransi dalam perbedaan; Agama tidak mungkin mengajarkan untuk perang melawan pemikiran dan keyakinan berbeda; Agama tidak mungkin memaksakan kehendak; Agama tidak mungkin mengajarkan sebuah tindakan tidak damai. Apabila agama tidak dapat menciptakan perdamaian dalam perbedaan buat apa ber-Agama? 

Agama bukan suatu organisasi multi-level-marketing yang memaksakan kehendak terhadap keyakinannya dengan tujuan menjadikan banyak pengikut; Agama bukanlah suatu universitas yang memaksa semua orang di muka bumi untuk menjadi mahasiswanya, karena mereka boleh saja memilih universitas lainnya yang menurut mereka baik; Agama bukan suatu wadah untuk memfasilitasi kekerasan; Agama bukan suatu organisasi yang mengajarkan bentuk anarkisme; Agama bukanlah rumah dimana semua anggotanya memberikan paham-paham kebencian. Apabila Agama hanyalah sebuah wadah yang penuh kebencian, buat apa memilih ber-Agama? 

Sebagai manusia yang ber-Agama, mari kita tunjukan watak keber-Agamaan kita dalam keberagaman. Setiap Agama mengajarkan kebaikan, maka tunjukanlah kebaikan mu kepada seluruh makhluk tanpa memandang perbedaan Agama; Setiap Agama mengajarkan berdamaian, maka tunjukanlah perdamaian itu dalam pemikiran, perkataan dan perbuatanmu tanpa memandang perbedaan Agama; Setiap Agama mengajarkan cinta kasih, maka tunjukanlah cinta kasihmu pada sesama tanpa memandang perbedaan Agama; Setiap Agama mengajarkan untuk saling menghargai, maka tunjukanlah sikap saling menghargai kepada semua Makhluk di bumi ini tanpa memandang perbedaan.

Tunjukanlah toleransi ber-Agamamu dan tunjukanlah bahwa kamu betul-betul ber-Agama dengan bersikap layaknya manusia yang ber-Agama yang penuh cinta kasih dan perdamaian.

Biarkanlah pelangi memiliki banyak warna karena semakin beragam warna pelangi, maka semakin terpancar keindahannya. Biarkanlah kebun bunga ditumbuhi oleh warna-warni bunga, karena dengan beragam warna akan semakin terpancar keindahan kebun bunga itu.

Salam perdamaian dan toleransi untuk kita semua #sayatoleransi

Advertisements

About tantri

I am nobody who really want to be somebody. Extremely introvert cheerful and easy going girl.. :) Thanks for visiting this blog... ^^

Posted on December 5, 2016, in experince. Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. setujuu banget, tulisannya bagus ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: