#SayaToleransi


(Tulisan lawas yang ngendon lama di draft. Saya tulis setelah adanya momen2 perusakan tempat ibadah di suatu wilayah di Sumatera lalu saya tambahin setelah adanya tindakan teror pengeboman di jakarta. Lalu saya tambahin lagi setelah maraknya aksi-aksi damai untuk toleransi)

“Semoga topik saya kali ini tidak menjadi sebuah kontroversi karena masalah yang akan saya angkat dalam tulisan kali ini adalah masalah Agama, toleransi dan peristiwa-peristiwa in-toleransi yang belakangan ini banyak sekali terjadi di Indonesia yang katanya adalah negara ber-Agama.” 

Perbedaan sebenarnya adalah sebuah hal yang biasa. Karena perbedaan adalah sebuah mahakarya Tuhan yang memiliki tujuan baik bagi umatnya. Tuhan menciptakan wajah manusia berbeda-beda; Tuhan menciptakan tinggi badan manusia berbeda-beda; warna rambut, warna kulit, bentuk badan, massa tulang, bentuk rahang, bentuk gigi,sidik jari, semuanya Tuhan menciptakannya berbeda-beda. Tuhan juga menciptakan bumi dengan segala bentuk kontur dan kondisi geologi yang berbeda-beda. Tuhan menciptakan ragam bahasa dan ragam budaya melalui kreatifitas manusia yang juga merupakan ciptaan Tuhan. Tuhan menciptakan segala perbedaan itu. Perbedaan yang menjadikannya suatu keindahan dan warna-warni dalam kehidupan..

Tuhan juga menciptakan perbedaan keyakinan, perbedaan cara pandang dan perbedaan cara berpikir pada setiap makluknya. Perbedaan itu adalah sebuah pempelajaran Tuhan untuk mendewasakan manusia; untuk menjadikan manusia sebagai mahkluk ciptaan-Nya -yang paling berakal budi- mampu lebih menghargai, untuk menjadikan manusia mampu meredam emosi; untuk menjadikan manusia mampu bersikap dan bertindak baik dalam perbedaan-perbedaan yang ada.

Tuhan juga menciptakan Agama yang berbeda-beda yang sebenarnya bertujuan untuk menjadikan Umat Tuhan semakin menghargai dibalik perbedaan itu. Namun, tujuan Tuhan meleset akhir-akhir ini karena justru konflik-konflik di dunia akhir-akhir ini adalah seolah-olah bersumber dari perbedaan Agama… Sehingga seakan-akan perbedaan menjadi sesuatu hal yang luar biasa yang harus dibinasakan sehingga menjadi sebuah keseragaman. Keseragaman keyakinan, keseragaman Agama ataupun keseragaman cara berpikir.. Apakah perbedaan harus dijadikan sebuah persamaan sehingga perdamaian dunia dapat terwujud? Apakah keyakinan dan cara pandang yang berbeda pada masing-masing individu harus dengan terpaksa disamakan supaya dunia menjadi tidak terguncang oleh konflik? Apakah warna pelangi yang berbeda-beda juga harus disamakan supaya menjadi lebih damai?

Apakah toleransi dunia sudah mulai memudar?!

Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki 13.466 pulau dari jumlah total 17.508 pulau dengan 9600an pulau yang belum diberi nama dan 6000an pulau yang tidak berpenghuni. Indonesia tercatat memiliki 740 suku bangsa dan etnis, 583 bahasa dan dialek dari 67 bahasa daerah Induk. Selain itu, Indonesia juga memiliki 6 agama yang diakui resmi oleh negara dan apabila ditelusuri masih banyak sekali yang menganut paham dan aliran kepercayaan. Dengan banyaknya suku/etnis, bahasa, ras dan agama tersebut menjadikan Indonesia sebagai negara yang paling kaya akan ragam dan paling majemuk dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia. Kemajemukan Indonesia ini merupakan komoditas besar yang bisa menjadi nilai tambah bagi Indonesia sendiri.

Kemajemukan Indonesia yang sebenarnya bisa menjadi asset dan kebanggaan tersendiri bagi bangsanya akhir-akhir ini justru menjadi boomerang yang telah menohok citra Indonesia. Berbagai konflik-konflik internal antar suku, konflik antar golongan dan bahkan konflik yang mengatasnamakan Agama sering terjadi. Tidak jarang konflik tersebut berujung pada pengerusakan tempat-tempat ibadah, pembantaian suku-suku maupun golongan yang tidak sepaham sehingga dianggapnya musuh. Bahkan semakin banyak pula konflik-konflik tersebut menjadikan perbedaan agama sebagai penyebab adanya perpecahan.

Agama yang semestinya menjadi sentrum integrator kehidupan untuk menghindari manusia dari situasi perpecahan, ternyata malah menjadi pemicu disintegrasi sosial dalam kehidupan yang majemuk. Apabila hal ini kurang disadari dan tidak segera diatasi maka kondisi kehidupan yang ” guyup rukun dan damai ” hanya akan merupakan sebuah utopia, serta pembangunan bangsa dengan pengamalan Pancasila akan mengalami kendala. Kondisi yang paling mengenaskan akhir-akhir ini adalah, terlalu banyak debat-debat politik dan perebutan kekuasaan yang justru bersembunyi dibalik nilai dasar sebuah Agama. Dengan mengatas namakan Agama, pemimpin-pemimpin besar berusaha merebut hati pendukung dengan keAlimannya yang (mungkin sebagian besar) sesungguhnya hanyalah pencitraan. Kondisi miris lainnya adalah banyaknya pemahaman-pemahaman keliru yang dapat memicu konflik yang dimiliki para pengikut Agama. Chauvinisme berlebih serta fanatikisme yang sempit terhadap suatu paham, keyakinan dan pemikiran dalam suatu Agama justru malah menjadi pemicu ketersinggungan yang berujung pada suatu konflik yang (sangat disayangkan) mengatas-namakan Agama.

Kurangnya pemahaman Agama dan Ber-Agama mungkin merupakan salah satu penyebab tumbuhnya Chauvinisme dan Fanatik-isme yang terlalu berlebih akhir-akhir ini. Kondisi ini dapat dilihat dari banyaknya debat kusir, adu komentar dalam sosial media terhadap suatu masalah kecil yang semestinya bukan menyinggung Agama tetapi entah kenapa dianggap menyinggung Agama hingga diakhiri dengan peng-Kafiran secara brutal oleh pihak-pihak yang merasa-Alim terhadap pihak-pihak yang dianggap tidak alim maupun yang dianggap beda keyakinan. Banyak pula web-site maupun akun-akun blog pribadi yang menulis hal-hal berbau Agama dari sudut pandangnya sendiri dengan kalimat-kalimat yang membangkitkan ketersinggungan satu-sama lain hingga berujung pada saling menghina antar keyakinan. Banyak pula politik menunggangi Agama; Banyak pula konflik antar negara yang sesungguhnya murni karena sebuah konflik negara yang kebetulan masing-masing memiliki keyakinan/Agama mayoritas yang berbeda menjadi seolah-olah sebagai konflik Antar Agama. Banyak pula mereka-mereka yang saling menyalahkan negara-negara tertentu sebagai sumber penyebab; Banyak pula mereka-mereka yang saling menyalahkan Agama-agama tertentu yang menjadi sumber penyebab. Banyak pula emosi yang berlebih terjadi dibalik ketidak-pahaman masalah yang dipicu oleh provokator dan dibumbui dengan tindak kekerasan yang berujung pada terjadinya konflik antar Agama. Semua mungkin karena ketidak-pahaman atau mungkin juga karena mereka tidak paham kalau mereka belum paham nilai-nilai Ber-Agama.

Agama tidak mungkin mengajarkan kebencian; Agama tidak mungkin mengajarkan kekerasan; Agama tidak mungkin memberikan himbauan kepada umatnya untuk membenci paham-paham lainnya; Agama tidak mungkin mengajarkan untuk saling menghina; Agama tidak mungkin mengharuskan umatnya untuk hanya bergaul hanya dengan yang memiliki keyakinan sama; Agama tidak mungkin mengajarkan keburukan dan konflik; Agama tidak mungkin mengajarkan in-toleransi dalam perbedaan; Agama tidak mungkin mengajarkan untuk perang melawan pemikiran dan keyakinan berbeda; Agama tidak mungkin memaksakan kehendak; Agama tidak mungkin mengajarkan sebuah tindakan tidak damai. Apabila agama tidak dapat menciptakan perdamaian dalam perbedaan buat apa ber-Agama? 

Agama bukan suatu organisasi multi-level-marketing yang memaksakan kehendak terhadap keyakinannya dengan tujuan menjadikan banyak pengikut; Agama bukanlah suatu universitas yang memaksa semua orang di muka bumi untuk menjadi mahasiswanya, karena mereka boleh saja memilih universitas lainnya yang menurut mereka baik; Agama bukan suatu wadah untuk memfasilitasi kekerasan; Agama bukan suatu organisasi yang mengajarkan bentuk anarkisme; Agama bukanlah rumah dimana semua anggotanya memberikan paham-paham kebencian. Apabila Agama hanyalah sebuah wadah yang penuh kebencian, buat apa memilih ber-Agama? 

Sebagai manusia yang ber-Agama, mari kita tunjukan watak keber-Agamaan kita dalam keberagaman. Setiap Agama mengajarkan kebaikan, maka tunjukanlah kebaikan mu kepada seluruh makhluk tanpa memandang perbedaan Agama; Setiap Agama mengajarkan berdamaian, maka tunjukanlah perdamaian itu dalam pemikiran, perkataan dan perbuatanmu tanpa memandang perbedaan Agama; Setiap Agama mengajarkan cinta kasih, maka tunjukanlah cinta kasihmu pada sesama tanpa memandang perbedaan Agama; Setiap Agama mengajarkan untuk saling menghargai, maka tunjukanlah sikap saling menghargai kepada semua Makhluk di bumi ini tanpa memandang perbedaan.

Tunjukanlah toleransi ber-Agamamu dan tunjukanlah bahwa kamu betul-betul ber-Agama dengan bersikap layaknya manusia yang ber-Agama yang penuh cinta kasih dan perdamaian.

Biarkanlah pelangi memiliki banyak warna karena semakin beragam warna pelangi, maka semakin terpancar keindahannya. Biarkanlah kebun bunga ditumbuhi oleh warna-warni bunga, karena dengan beragam warna akan semakin terpancar keindahan kebun bunga itu.

Salam perdamaian dan toleransi untuk kita semua #sayatoleransi

REVITASILASI BENOA: ANTARA PERUSAKAN ALAM, PERUSAKAN BUDAYA DAN KESERAKAHAN?


Saya menemukan tulisan ini yang sebenarnya adalah tugas visitasi dan aktualisasi pada saat saya diklat prajabatan tahun lalu (dan sepertinya pernah juga menjadi topik tulisan di mana ya saya lupa). Pada saat itu tema visitasi yang saya angkat adalah tentang Revitalisasi Bali atau bahasa kerennya adalah reklamasi di Benoa Bali. Latar belakang kenapa tiba-tiba saya teringat dengan topik ini dan lalu mencari materi-materi tulisan iseng di folder labtop saya adalah karena pembahasan di group WA yang saya ikuti kebetulan adalah tentang wacana ini. Selain itu beberapa waktu lalu, saya ditawari oleh rekan sekantor dan kebetulan sebidang dengan saya untuk ikut bergabung di dalam group perencana pembangunan reklamasi di Teluk Benoa Bali. Kebetulan memang bidang reklamasi adalah bidang di laboratorium kampus saya. Karena saya adalah salah satu orang yang bagaimanapun kondisinya tetap menolak revitalisasi Bali, lebih tepatnya saya menolak terekploitasinya Bali secara besar-besaran di bidang pariwisata yang kebarat-baratan dan merusak kondisi asli dan alam Bali, sehingga saya enggan untuk menerima tawaran tersebut. Saya meng-copy paste hasil tulisan saya berikut ini.

PEMBAHASAN MASALAH

Latar belakang (Hasil visitasi)

Reklamasi Tanjung Benoa menjadi pembicaraan hangat belakangan ini. Setelah suksesnya pembangunan jalan tol sisi laut Nusa-dua “Bali Mandara”, pemerintah Bali seolah ingin lebih mengembangkan sayapnya di sector pembangunan infrastruktur Bali kedepan yang mengatasnamakan kemajuan ekonomi di sector pariwisata. Namun, penolakan-penolakan di lapisan masyarakat local Bali terus bermunculan akhir-akhir ini. Mereka beranggapan bahwa reklamasi yang digaungkan oleh pemerintah Bali dapat menyebabkan dampak buruk antara lain abrasi, banjir, kerusakan konservasi mangrove sisi pantai dan lain sebagainya. Selain itu, reklamasi yang akan dilakukan ini dianggap malah hanya akan menguntungkan pihak tertentu saja dan malah justru merugikan warga local. Namun,ada beberapa kalangan setuju dengan adanya reklamasi ini yang dianggap dapat menyaingi reklamasi Sentosa Island, Singapore. Pro dan kontra terus bermunculan untuk terlaksananya pembangunan ini.

Rencana Reklamasi ini dilatar belakangi oleh Pulau Pudut yang belakangan nyaris tenggelam akibat perubahan alam. Kondisi ini meresahkan warga Desa Tanjung Benoa karena sejumlah alasan. Kekawatiran utama adalah adanya gelombang besar yang kemungkinan akan langsung menerjang pesisir barat Tanjung Benoa tidak akan bisa dihalangi lagi oleh pulau Pudut. Jika Pulau Pudut bisa dikembalikan lagi keberadaanya melalui reklamasi, maka harapan warga Tanjung Benoa adalah selain terhindar dari bencana alam berupa gelombang besar atau tsunami, di lahan Pulau Pudut juga bisa dibangunnya sejumlah fasilitas seperti sekolah, puskesmas dan konservasi penyu. Mereka pada dasarnya menyetujui reklamasi asalkan material reklamasi tidak diambil dengan cara pengerukan di laut sekitarnya, melainkan didatangkan dari luar wilayah tersebut. Tetapi oleh pemerintah Bali, pembangunan ini diserahkan kepada perusahaan pembangunan nasional. Pembangunan justru mengarah kepada mega proyek dan pembangunan besar-besaran layaknya pembangunan sentosa island di Singapore dengan dibangunnya pelbagai fasilitas rekreasi berskala internasional terdapat di dalamnya. Hal inilah yang menimbulkan keresahan masyarakat sekitar.

Selain kondisi tersebut diatas, kemudian dikeluarkannya Peraturan Presiden Nomor 51 Tahun 2014 terkait perubahan terhadap peruntukan ruang sebagian kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil yang merupakan bagian dari Kawasan Teluk Benoa, Bali. Perpres yang merupakan revisi dari Perpres No. 45/2011 tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Sarbagita (Denpasar, Badung, Gianyar dan Tabanan), menyebutkan perubahan sebagian status zona kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil di Kawasan Teluk Benoa, serta arahan umum pemanfaatan ruang kawasan tersebut. Perubahan peraturan tersebut justru seolah-olah mematahkan semangat konservasi mangrove pesisir pantai yang didengungkan dan diresmikan satu tahun sebelumnya. Sehingga perubahan Peraturan Presiden ini malah menimbulkan kecurigaan di kalangan masyarakat.

Sebelumnya, gubernur Bali berpendapat bahwa reklamasi yang akan dilakukan di Tanjung Benoa justru merupakan suatu usaha untuk masa depan Bali. Dengan adanya reklamasi ini, menurutnya, akan menambah luas area Bali khususnya Bali Selatan sehingga berbanding lurus dengan peningkatan lapangan pekerjaan khususnya di sector pariwisata. Selain itu, area reklamasi ini digadang-gadang menjadi destinasi wisata baru bagi masyarakat dunia sehingga terjadi peningkatan pendapatan daerah di bidang pariwisata. Gubernur berpendapat bahwa dengan adanya pengembangan wilayah dengan reklamasi ini, sector ekonomi Bali akan semakin meningkat untuk kedepannya. Namun iming-iming kebangkitan ekonomi pada sector pariwisata oleh Gubernur Bali ini tidak serta merta membuat rakyat setuju dengan rencana pembangunan ini. Penolakan justru semakin gencar terjadi.

Beberapa pro dan kontra tentang reklamasi ini membuat kita teringat kembali dengan reklamasi yang juga pernah dilakukan di kawasan Benoa beberapa tahun silam. Reklamasi semacam ini pernah dilakukan untuk perluasan Pulau Serangan (tahun 1995-1998) dari luas wilayah 111 hektar menjadi 481 hektar. Berdasarkan beberapa kajian dan study lapangan, reklamasi Pulau Serangan memiliki beberapa dampak negatif yang perlu dijadikan pertimbangan dan pembelajaran untuk pelaksanaan reklamasi berikutnya. Beberapa dampak negative yang terjadi menurut Tim Kajian bidang Ilmiah dan Litbang Divisi I BE SMFE Unud adalah : 1) Kerusakan terumbu karang yang disebabkan oleh hilangnya mata pencaharian penduduk yang semula merupakan nelayan. Perubahan profesi ini disebabkan oleh hilangnya ekosistem ikan di wilayah pesisir akibat dampak reklamasi; 2) Adanya endapan lumpur yang merupakan dampak dari adanya pengerukan di beberapa kawasan untuk material reklamasi. Endapan lumpur ini menyebabkan pendangkalan dasar laut; 3.Terjadinya perubahan arus laut, yang mengakibatkan pengikisan di satu sisi dan munculnya daratan baru di tempat lain. Hasil pantauan SKPPLH di Sanur,pantai yang rata-rata mengalami erosi satu meter per 10 tahun, kini tidak memerlukan waktu setahun untuk mengalami erosi lebih dari tujuh meter.

Beberapa dampak negative yang tersebut di atas seharusnya menjadi bahan pertimbangan pemerintahan untuk melakukan pembangunan reklamasi berikutnya. Selain itu, hasil penelitian Puslit Geoteknologi LIPI tahun 2010 menunjukkan bahwa wilayah Bali Selatan, khususnya sekitar Teluk Benoa seperti Serangan, Benoa, Bualu, Tanjung Benoa, merupakan daerah likuifaksi atau daerah rawan amblesan. Apabila reklamasi dilanjutkan, kondisi ini akan membahayakan wilayah sekitar Benoa apalagi bila terjadi gempa besar nantinya. Apalagi luas area reklamasi yang tidak sedikit yaitu ±800 Ha. Bahkan, seorang aktivis lingkungan berpendapat “reklamasi ini akan hanya menguntungkan pihak investor karena lebih banyak hal komersial dari pada aksi penyelamatan lingkungan yang di sebenarnya diinginkan rakyat Bali”.

 Reaksi masyarakat Bali (Hasil visitasi)

Berbagai reaksi masyarakat bermunculan, ada yang mendukung dan banyak juga yang menolak. Sebagian besar masyarakat khususnya masyarakat asli Bali yang merasakan sendiri dampak negative dari adanya reklamasi (yang kini di ganti nama menjadi Revitalisasi, walau inti dan maknanya sama) menolak keras rencana revitalisasi tersebut. Beberapa reaksi penolakan masyarakat membentuk suatu komunitas. Komunitas-komunitas ini tersebar di sembilan desa di Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan dan melakukan berbagai kegiatan.

 Sebelumnya, penolakan muncul dari Desa Tanjung Benoa, Kelan, Sanur, Suwung, dan Sukawati. Penolakan itu dikoordinir para pemuda. Di Desa Kelan, di sebelah Bandara Ngurah Rai, misal, muncul baliho di pinggir jalan. Tulisannya,” Desa Kelan Menolak Reklamasi. Melawan atau Tenggelam.” Di Suwung, baliho serupa di pinggir Jalan By Pass Ngurah Rai. “Jangan Tenggelamkan Kami Bapak Presiden SBY. Bali Tolak Reklamasi Batalkan Perpres No. 51/2014.” Tak beda di Sukawati, Gianyar, berjarak 20 km dari Teluk Benoa.

 Permasalahan yang diangkat (Perasaan dan kesan)

Reklamasi ini tidak hanya mempertimbangkan kondisi lingkungan masa kini dan masa depan. Terlepas dari permasalahan lingkungan yang berkaitan dengan hal-hal teknis,pembangunan ini juga harus mempertimbangan hal-hal yang berkenaan dengan kehidupan social budaya masyarakat Bali kedepannya. Dengan adanya reklamasi ini, sector pariwisata tumbuh hingga membuka 200.000 lapangan pekerjaan baru. Dengan kondisi tersebut, lalu muncul beberapa pertanyaan:

  1. Apakah lapangan pekerjaan baru ini justru akan membahagiakan Bali kedepannya?
  2. Apakah Bali sudah siap dengan persaingan pariwisata yang meningkat terlalu drastis dalam kurun waktu singkat?
  3. Apakah pembangunan pariwisata saja yang harus dikedepankan untuk kemajuan Bali kedepan, bagaimana dengan sector lainnya?
  4. Apakah Bali perlu adanya reklamasi?
  5. Apakah reklamasi ini justru akan menyejahterakan masyarakat local? Atau malah menyejahterakan investor luar?
  6. Apakah Bali akan semakin terjual oleh asing apabila pembangunan hanya diutamakan pada sector pariwisata saja?
  7. Apakah perasaan cinta tanah air dan bangsa dapat tercermin hanya dari eksploitasi besar-besaran dan menjual nama Bali atas nama pariwisata, tetapi nyatanya malah merusak Bali?

Terlepas dari permasalahan lingkungan, secara social- budaya, kondisi Bali sudah semakin krisis. Pembangunan Bali yang terkonsentrasi hanya di sector Pariwisata saja membuat Bali seolah-olah sulit bernafas. Berkembangnya sector pariwisata menjadikan semakin banyaknya wisatawan dengan berbagai budaya masuk ke Bali. Budaya masuk tanpa terfilter dengan baik. Bali yang dulunya menjadi Paradise island ataupun island of God dan island of thousand temple kini justru menjadi pulau bebas yang menjadi daerah tujuan penyebaran obat-obatan terlarang, pulau free sex ataupun sebutan-hebutan hina lainnya. Sehingga dapat dikatakan bahwa Pulau Bali semakin kehilangan taksunya, semakin memudar kecantikannya. Apakah reklamasi akan mengembalikan taksu Bali kedepan, atau malah menghancurkan Bali???!

 Dampak yang terjadi (Perasaan dan kesan)

Tujuan dari revitalisasi Bali memang terlihat sangat mulia yaitu: menyejahterakan masyarakat dengan membuka lapangan pekerjaan dari sektor pariwisata. Tetapi dilihat dari pembahasan sebelumnya bahwa ternyata dampak negative juga akan terjadi. Beberapa dampak negative tersebut sudah mulai terasa setelah tahun 90an dimana kondisi perekonomian Bali mulai ditopang sebagian besar atau hampir semuanya dari bidang pariwisata. Beberapa dampak kecil yang dapat dilihat oleh masyarakat Bali yang tinggal di dalam maupun diluar Bali adalah:

Dampak social masyarakat

  • Mindset masyarakat Bali bahwa sector ekonomi hanya di bidang pariwisata
  • Mindset masyarakat Bali bahwa wisatawan asing lebih layak dihormati dibandingkan orang Indonesia sendiri.
  • Mindset masyarakat Bali untuk lebih melayani wisatawan asing (yang dianggap lebih memiliki kemampuan finansial tinggi) dibandingkan wisatawan local.
  • Banyaknya aset-aset Bali yang dimiliki oleh warga asing.
  • Banyaknya hotel-hotel mewah di sepanjang pantai yang dimiliki oleh orang asing tetapi mengatas-namakan warna local.
  • Munculnya banyak sekali tempat-tempat hiburan malam di kawasan tertentu yang menjadikannya sebagai tempat mengkonsumsi minuman keras dan mengkonsumsi narkoba.

Dampak lingkungan

  • Pembangunan yang tidak terkendali menjadikan banyak area hijau di betonkan/ dibangun fasilitas-fasilitas wisata.
  • Kemacetan parah dijalan-jalan menuju kawasan wisata.
  1. Nilai-Nilai Nasionalisme dan komentar
  • Rencana revitasilasi di Bali yang memunculkan beberapa pendapat serta pro dan kontra menjadikan penulis ingin sedikit menggali permasalahan tersebut dalam sebuah nilai-nilai Nasionalime.
  • Rencana revitalisasi yang akan dilakukan tersebut masih belum mencerminkan nilai Nasionalisme kemanusiaan yaitu tentang saling menghormati dan tidak diskriminatif. (Mindset masyarakat Bali bahwa wisatawan asing lebih layak dihormati dibandingkan orang Indonesia sendiri)
  • Rencana revitalisasi yang akan dilakukan tersebut masih belum mencerminkan nilai Nasionalisme Ketuhanan yaitu nilai Religius (Munculnya banyak sekali tempat-tempat hiburan malam di kawasan tertentu yang menjadikannya sebagai tempat mengkonsumsi minuman keras dan mengkonsumsi narkoba). Kondisi ini dapat menyebabkan masyarakat local terpapar oleh nilai-nilai Barat negative yeng cenderung jauh dari nilai Nasionalisme ketuhanan.
  • Rencana revitalisasi yang akan dilakukan tersebut masih belum mencerminkan nilai Nasionalisme Kemanusiaan yaitu saling menghormati, tidak diskriminasi dan humanis.(Banyaknya hotel-hotel mewah di sepanjang pantai yang dimiliki oleh orang asing tetapi mengatas-namakan warna local)
  • Rencana revitalisasi yang akan dilakukan tersebut masih belum mencerminkan nilai Nasionalisme persatuan yaitu cinta tanah air dan mengutamakan kepentingan public (
  • Rencana revitalisasi yang akan dilakukan tersebut masih belum mencerminkan nilai Kerakyatan yaitu Musyawarah mufakat karena rencana pembangunan ini tidak melalui persetujuan masyarakat Bali dan tidak melalui pengambilan aspirasi seluruh masyarakat Bali.
  • Rencana revitalisasi yang akan dilakukan tersebut masih belum mencerminkan nilai Keadilan yaitu Tidak serakah. Keserakahan pemegang wewenang dan pemegang keputusan untuk melakukan pembangunan yang terlalu besar-besaran padahal masyarakat belum siap akan dampak yang nantinya terjadi.

Limbah plastik dan kantong belanja


Tau khan gerakan pemerintah yang berupaya untuk mengurangi konsumsi masyarakat dengan mentidak gratiskan plastik belanja? Tau juga khan upaya pemerintah untuk “menjual” plastik kantong belanja yang semula gratis menjadi seharga Rp.200? apa? ada yang belum tau? wooow… Saya aja tau gerakan itu masak sih situ ndak tau?! Ndak tau atau pura-pura ndak tau sih? hehehe..

Beberapa hari yang lalu, ketika gerakan tersebut di atas baru dicanangkan, saya kebetulan berbelanja ke toko Informa di mall dekat kantor. Bodohnya saya lupa banget membawa kantong belanja karena niat awalnya memang hanya makan siang dan sight seeing siang saja di mall itu. Ketika saya menuju kasir untuk membayar, lalu mbak di kasir bertanya “Sudah bawa kantong belanja?” Otomatis saya jawab belum. Berniat untuk tidak menggunakan plastik dan memang sedang lupa untuk membawa plastik saya berniat untuk membawa saja belanjaan saya tanpa kantong belanja. Toh mudah juga dibawa dan toh ada pegangan atau semacam cantolan untuk membantu membawa. Tetapi tiba-tiba saja seorang teman saya yang kebetulan juga sama-sama belanja dengan saya bilang begini “Udah ahh ribet, beli kresek aja. Harga Rp.200 juga”. Well, luruhlah sudah niat awal saya untuk ikut gerakan pemerintah dengan tidak menggunakan kresek. hehehe.

Memang sih uang Rp.200 tidak ada artinya dibandingkan dengan harga barang belanjaan sehingga sebagian orang (lebih tepatnya orang yang mungkin kurang sadar) lebih memilih untuk mengeluarkan Rp.200 dibandingkan dengan membawa kantong belanja sendiri. Bahkan ada banyak kalangan yang pesimis dengan tingkat keberhasilan gerakan ini dan menyayangkan dengan harga “jual” kresek belanja yang sangat murah sehingga efek jeranya tidak akan kelihatan. Tetapi taukah anda, harga Rp.200 apabila dibandingkan dengan dampak yang terjadi pada lingkungan dan bumi kita ini justru akan memprihatinkan pada beberapa tahun yang akan datang. Tahukan anda bahwa plastik belanja yang anda gunakan yang nantinya akan dibuang itu akan berdampak sangat buruk terhadap lingkungan? Mungkin masih banyak yang tidak tau alasan kenapa sih pemerintah melakukan gerakan tersebut atau mungkin masih banyak yang belum sadar akan bahaya lingkungan yang disebabkan oleh limbah plastik. Berdasarkan data comot sana sini saya berusaha untuk mengulas tentang sampah plastik.

Perkembangan plastik di dunia

Plastik baru secara luas dikembangkan dan digunakan sejak abad ke-20. Namun  penggunaannya berkembang secara luar biasa dari hanya beberapa ratus ton pada tahun 1930-an, menjadi 150 juta ton/tahun pada tahun 1990-an dan 220 juta ton/tahun pada tahun 2005 Plastik menjadi primadona karena beberapa sifatnya yang istimewa yakni, mudah dibentuk sesuai dengan kebutuhan; bobotnya ringan sehingga bisa menghemat biaya transportasi; tahan lama; aman dari kontaminasi kimia, air dan dampaknya; aman sebagai kemasan barang maupun makanan; dan tahan terhadap cuaca dan suhu yang berubah; dan yang lebih penting lagi adalah harganya murah.

Fenomena booming sampah plastik telah menjadi momok yang menakutkan di setiap belahan bumi. Tidak saja di negara-negara berkembang tetapi juga di negara-negara maju seperti Amerika, Inggris, dan Jepang. Saat ini penggunaan material plastik di negara-negara Eropa Barat mencapai 60kg/orang/tahun, di Amerika Serikat mencapai 80kg/orang/tahun, sementara di India hanya 2kg/orang/tahun.

Menurut laporan Environmental Protection Agency (EPA) US, di Amerika saja, produksi sampah plastik meningkat dari kurang dari satu persen pada tahun 1960 menjadi 12 persen atau sekitar 30 juta ton pada 2008 dari jumlah total produksi sampah domestik negara ini. Kategori sampah plastik yang terbesar berasal dari kemasan dan wadah seperti; botol minuman, tutup botol, botol sampo dan lainnya. Jenis sampah plastik juga ditemukan pada jenis barang plastik yang penggunaanya bertahan lama seperti pada peralatan perlengkapan dan perabotan, dan barang plastik yang penggunaannya tidak bertahan lama seperti, diaper, kantong plastik, cangkir sekali pakai, perkakas, dan perlengkapan medis.

Sementara itu, Inggris memproduksi sedikitnya 3 juta ton sampah plastik setiap tahun. Sebanyak 56 persen dari jumlah tersebut berasal dari kemasan, dan 75 persen (dari persentase kemasan) berasal dari sampah rumah tangga. Sampah kantong plastik yang dihasilkan oleh Kota Jakarta saja dalam sehari mencapai 1.000 ton. Sampai saat ini belum ada pengelolaan khusus sampah plastik di tingkat kota. Namun pemulung memiliki peran yang sangat penting dalam mata rantai daur ulang sampah plastik yang dilakukan secara informal

Perkembangan Plastik di Indonesia

Di Indonesia, menurut data statistik persampahan domestik Indonesia, jenis sampah plastik menduduki peringkat kedua sebesar 5.4 juta ton per tahun atau 14 persen dari total produksi sampah. Dengan demikian, plastik telah mampu menggeser sampah jenis kertas yang tadinya di peringkat kedua menjadi peringkat ketiga dengan jumlah 3.6 juta ton per tahun atau 9 persen dari jumlah total produksi sampah.

Sementara berdasarkan data dari Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Jakarta, tumpukan sampah di wilayah DKI Jakarta mencapai lebih dari 6.000 ton per hari dan sekitar 13 persen dari jumlah tersebut berupa sampah plastik. Dari seluruh sampah yang ada, 57 persen ditemukan di pantai berupa sampah plastik. Sebanyak 46 ribu sampah plastik mengapung di setiap mil persegi samudera bahkan kedalaman sampah plastik di Samudera Pasifik sudah mencapai hampir 100 meter.

Dampak sampah plastik

“Berdasarkan data statistik persampahan domestik Indonesia, jumlah sampah plastik tersebut merupakan 14 persen dari total produksi sampah di Indonesia,” kata Ketua Umum “Indonesia Solid Waste Association” (InSWA), Sri Bebassari.

Konsumsi berlebih terhadap plastik, pun mengakibatkan jumlah sampah plastik yang besar. Karena bukan berasal dari senyawa biologis, plastik memiliki sifat sulit terdegradasi (non-biodegradable). Plastik diperkirakan membutuhkan waktu 100 hingga 500 tahun hingga dapat terdekomposisi (terurai) dengan sempurna. Sampah kantong plastik dapat mencemari tanah, air, laut, bahkan udara.

Kantong plastik terbuat dari penyulingan gas dan minyak yang disebut ethylene. Minyak, gas dan batu bara mentah adalah sumber daya alam yang tak dapat diperbarui. Semakin banyak penggunaan palstik berarti semakin cepat menghabiskan sumber daya alam tersebut. Fakta tentang bahan pembuat plastik, (umumnya polimer polivinil) terbuat dari polychlorinated biphenyl (PCB) yang mempunyai struktur mirip DDT. Serta kantong plastik yang sulit untuk diurai oleh tanah hingga membutuhkan waktu antara 100 hingga 500 tahun. Akan memberikan akibat antara lain:

  • Tercemarnya tanah, air tanah dan makhluk bawah tanah.
  • Racun-racun dari partikel plastik yang masuk ke dalam tanah akan membunuh hewan-hewan pengurai di dalam tanah seperti cacing.
  • PCB yang tidak dapat terurai meskipun termakan oleh binatang maupun tanaman akan menjadi racun berantai sesuai urutan rantai makanan.
  • Kantong plastik akan mengganggu jalur air yang teresap ke dalam tanah.
  • Menurunkan kesuburan tanah karena plastik juga menghalangi sirkulasi udara di dalam tanah dan ruang gerak makhluk bawah tanah yang mampu meyuburkan tanah.
  • Kantong plastik yang sukar diurai, mempunyai umur panjang, dan ringan akan mudah diterbangkan angin hingga ke laut sekalipun.
  • Hewan-hewan dapat terjerat dalam tumpukan plastik.
  • Hewan-hewan laut seperti lumba-lumba, penyu laut, dan anjing laut menganggap kantong-kantong plastik tersebut makanan dan akhirnya mati karena tidak dapat mencernanya.
  • Ketika hewan mati, kantong plastik yang berada di dalam tubuhnya tetap tidak akan hancur menjadi bangkai dan dapat meracuni hewan lainnya.
  • Pembuangan sampah plastik sembarangan di sungai-sungai akan mengakibatkan pendangkalan sungai dan penyumbatan aliran sungai yang menyebabkan banjir.

Beberapa fakta yang berkaitan dengan sampah plastik dan lingkungan:

  • Kantong plastik sisa telah banyak ditemukan di kerongkongan anak elang laut di Pulau Midway, Lautan Pacific
  • Sekitar 80% sampah dilautan berasal dari daratan, dan hampir 90% adalah plastik.
  • Dalam bulan Juni 2006 program lingkungan PBB memperkirakan dalam setiap mil persegi terdapat  46,000 sampah plastik mengambang di lautan.
  • Setiap tahun, plastik telah ’membunuh’ hingga 1 juta burung laut, 100.000 mamalia laut dan ikan-ikan yang tak terhitung jumlahnya.
  • banyak penyu di kepulauan seribu yang mati karena memakan plastik yang dikira ubur-ubur, makanan yang disukainya.

Setelah tahu dampak buruk limbah sampak plastik, setelah tahu banyak makluk hidup yang terkena dampak negatif limbah sampah dan setelah tahu dimana posisi Indonesia yang menjadi salah satu penyumbang sampah plastik terbesar di dunia, lalu hal kecil apa yang bisa kita lakukan untuk membantu lingkungan dan bumi dari bahaya sampah plastik??!!

Mari kita bawa kantong belanja sendiri, mari kita mengurangi konsumsi penggunaan plastik dari sekarang. Saya sudah memulainya sedikit demi sedikit, bagaimana dengan anda?! Yukk mulai dari sekarang, bantu lingkungan dan bumi kita agar terhindar dari bahaya pencemaran lingkungan.

Referensi : http://inswa.or.id/

Aktif dan kritis


Suatu pagi saya mendengar percakapan seorang ibu dengan anaknya. Si anak bertanya macam-macam ke ibunya lalu si ibu menjawab sekenanya. Si anak bertanya lagi lalu kembali lagi si ibu menjawab dengan seadanya. Si anak bertanya terus dan terus lalu berujung pada si ibu marah kepada anaknya dan mengatakan “jangan bawel-bawel, ibu lagi sibuk”. Hingga akhirnya si anak terdiam dengan mungkin menatap ibunya kecewa bercampur takut. Takut dimarahi kalau terus berbicara atau malah takut dimarahi karena sering bertanya.

Lain cerita, suatu siang dipusat perbelanjaan saya kembali lagi mendengar obrolan seorang ibu muda dengan bocah yang mungkin anaknya. Kebetulan si wanita muda dan si bocah itu berjalan sembari ngobrol tepat di belakang saya sehingga saya dengan jelas mendengar obrolan ibu dan anak tersebut. Awalnya hanya obrolan-obrolan ringan dimana si anak heboh bertanya sedangkan ibunya menanggapi dengan sekenanya hingga suatu saat si anak merengek kepada ibunya untuk meminta sesuatu sambil berceloteh bertanya ini itu. Mungkin anak itu lelah dan bosan diajak berkeliling oleh ibunya di pusat perbelanjaan. Mungkin juga memang itu adalah jam tidur siang si anak sehingga jelas saja tengah hari itu si anak merengek karena kelelahan. Tetapi entah kenapa si ibu tiba-tiba berkata “Sudah..sudah jangan ribut kamu, ibu jewer dan pukul loh kamu kalau ribut terus” lalu dengan tiba-tiba si anak menjawab “ibu tak keplak (pukul dalam bahasa jawa) juga loo” karena mencontoh perkataan ibunya.

flashback ke beberapa tahun lalu ketika saya masih di Belgia. Saya duduk di stasiun kereta sambil menunggu kedatangan teman dari kota lain. Di sebelah saya duduk seorang ibu muda dengan 2 orang anaknya yang masih usia kira-kira di bawah 10 tahun. Dengan menggunakan bahasa Belanda si bocah berceloteh tentang kereta api, tentang stasiun dan bertanya ini-itu kepada ibunya. Sedangkan adiknya sibuk memakan waffle coklat di tangannya sambil berceloteh sambil bertanya ini itu kepada kakak dan ibunya. Sang ibu dengan senyum manisnya, dengan sabar menjawab satu persatu pertanyaan anaknya. Menjawab dengan jawaban sesungguhnya tentang kereta api. Menjawab dengan sesungguhnya dan tidak sekenanya tentang nama-nama kereta api, jumlah gerbongnya dan banyak sekali penjelasan-penjelasan untuk anak nya tentang kereta api.

Di lain tempat, ketika saya mengajak serta teman-teman di Belgia beserta adik-adik dan keponakannya yang masih usia sekolah mengunjungi musium geologi di Oostende salah satu kota di Belgia. Dengan semangatnya anak-anak kecil di sana mendengarkan cerita guide tentang kondisi geologi dan beberapa kasus-kasus geologi yang terjadi di dunia. Dengan aktif dan kritisnya mereka bertanya tentang kejadian letusan gunung Krakatau dan Tambora di Indonesia yang ketika itu saya sendiri tidak seberapa paham. Dengan semangatnya mereka bertanya tentang pergerakan lempeng. Dengan sabar dan tersenyum pula para guide geologi tersebut menjelaskan satu persatu dengan gaya bahasa yang mudah dan menarik untuk dipahami anak-anak.

dari 4 paragraf di atas, 2 paragraf adalah kisah anak-anak di Indonesia dan 2 paragraf analah kisah anak-anak di salah satu negara di Benua Eropa. Mereka sama saja adalah bocah-bocah yang aktif dan kritis karena anak memang terlahir dengan penuh tanda tanya. Sehingga sudah sewajarnya anak-anak di segala belahan bumi manapun tumbuh menjadi anak yang cerewet, aktif dan kritis dengan keingin tahuan yang besar. Bedanya adalah, bagaimana lingkungan terdekat yaitu orang tuanya menanggapi keaktifan dan kekritisan anak dengan cara yang positif. Biarlah anak-anak bertanya macam-macam karena itu pertanda bahwa otak anak-anak sedang berkembang. Biarkan anak-anak bertanya macam-macam karena mereka memang tidak tau dan sedang ingin tahu. Jawablah pertanyaan-pertanyaan mereka dengan jawaban yang sesungguhnya tetapi dengan cara yang mudah dipahami anak-anak. Jangan marahi mereka dan jangan batasi keingin tahuan mereka dan jangan jadikan mereka takut untuk bertanya.

Karena sesuatu tercipta dari keingin tahuan. Karena suatu maha karya tercipta karena keaktifan untuk ingin tahu. Karena keingin tahuan yang positif dan kritis dari anak-anak Indonesia adalah kecerdasan yang akan membawa Indonesia lebih baik lagi di masa yang akan depan.

Membaca


Hasil gambar untuk reading a book

Suatu hari di penghujung tahun 2015, saya didatangi oleh petugas survey entah dari lembaga mana. Lelaki muda tersebut menanyakan satu pertanyaan yaitu “Berapa buku yang sudah anda baca di tahun 2015?” Saya pun tidak langsung menjawab karena tentunya perlu waktu beberapa saat untuk menghitung berapa buku yang sudah saya baca di tahun ini. Mungkin jeda saya berpikir dan menjawab membuat sipenanya menyimpulkan sesuatu yang buruk tentang saya yaitu saya salah satu diantara orang muda Indonesia yang tidak gemar membaca. Akhirnya sipenanya menjelaskan maksud dan tujuan mengadakan survey gemar membaca kepada masyarakat muda Indonesia. Beberapa nasehat-nasehat supaya saya gemar membacapun dilontarkan oleh si pemuda itu. Sayapun hanya mengiyakan pernyataan dan nasehat si lelaki muda itu tanpa membantah pernyataannya. Sembari mendengarkan nasehat-nasehat dan obrolan si lelaki muda itu, tiba-tiba munculah pertanyaan di benak saya “Sebegitu parahkah tingkat ketidak gemaran membaca muda-mudi bahkan anak-anak Indonesia?”. Don’t count me in kedalam rumpun muda-muda Indonesia yang tidak gemar membaca. Saya salah satu orang yang gila novel, gila baca berita dan gila membaca apa saja!!! YESSS SAYAA BERKATA JUJUR!! Hingga sayapun heran, kenapa kok jumlah orang yang tidak gemar membaca sebegitu banyaknya sehingga menjamurnya gerakan-gerakan yang bertujuan membuat orang-orang khususnya anak-anak gemar membaca. Berikut saduran berita hasil survey-survey tentang rendahnya minat membaca warga muda dan anak-anak Indonesia.

“Sebanyak 10 persen masyarakat Indonesia yang umurnya di bawah 10 tahun gemar membaca, dan 90 persen penduduk gemar nonton televisi dan tidak suka membaca. Artinya minat baca masyarakat Indonesia sangat rendah,” kata Kepala Kantor Perpustakaan Nasional RI Sri Sularsih dalam acara Safari Gerakan Nasional Gemar Membaca di Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu. Minat baca anak di Indonesia sangat rendah. Berdasarkan data UNESCO, persentase minat baca anak Indonesia sebesar 0,01 persen. Artinya, dari 10.000 anak bangsa, hanya satu saja yang memiliki minat baca. Hal ini disampaikan oleh Anggota Komisi X DPR RI, Yayuk Basuki, dalam kunjungan di Kendal, Senin (25/5/2015). Menurut Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat H.R Agung Laksono, prosentase minat baca masyarakat Indonesia hanya sebesar 0,01 persen. Artinya dalam 10.000 orang hanya 1 orang saja yang memiliki minat baca.Di negara lain, Amerika misalnya, dalam satu tahun rata-rata warganya membaca 20 – 50 buku per tahun dan Jepang 20 – 30 buku per tahun, sementara di Indonesia hanya berkisar antara nol sampai satu buku per tahun,” ungkap Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (RI) Sri Sularsih, Selasa (12/5), di sela-sela Pengukuhan Pengurus Daerah Gerakan Permasyarakatan Minat Baca (PD-GPMB) Sulsel Periode 2015 – 2019 dirangkaikan Talkshow Minat Baca, di Makassar. Secara persentase, masyarakat Indonesia hanya 17 persen yang gemar membaca, sementara sebagian besar lebih memilih jadi penonton televisi (hingga 91,68 persen).

Dengan hasil-hasil survey tentang minat baca yang sangat rendah itulah maka banyak sekali kegiatan-kegiatan amal yang dilakukan demi meningkatkan minat baca anak-anak di Indonesia.

Tetapi, seperti postingan saya sebelumnya, lagi-lagi saya menganggap bahwa rendahnya minat anak-anak dan orang di Indonesia dalam hal membaca salah satunya disebabkan oleh tidak adanya contoh yang baik yang diperoleh dari lingkungan sekitar. Mungkin orang tuanya atau keluarganya juga bukan tipe orang yang gemar membaca?! Mungkin juga orang-orang yang membuat gerakan gemar membaca tidak memberi contoh kepada orang-orang sekitarnya dengan rajin membaca?! Mungkin juga para orang tua memaksakan anaknya supaya gemar membaca tetapi orang tuanya tersebut malah asik nonton sinetron, telenovela ataupun film India?! Jadi, bagaimana anak-anak jadi gemar membaca kalau lingkungannya tidak memberi contoh yang baik tentang pentingnya membaca!!!

Saya kembali lagi ke pertanyaan yang terlontar pada paragraft pertama “Berapa buku yang sudah anda baca di tahun 2015?”. Saya tidak bisa menjawab karena saya tidak tau jawabannya. Terlalu banyak novel yang saya beli dan baca setiap tahunnya. Terlalu banyak buku arkeologi dan sejarah kota yang saya beli dan baca setiap tahunnya karena entah kenapa saya suka buku-buku sejarah. Terlalu banyak bacaan tentang kegunung-apian dan kegempaan yang saya download dan baca setiap tahunnya karena entah kenapa saya suka topik-topik itu. Buku-buku dan bacaan-bacaan tersebut diluar bidang pekerjaan saya. Saya juga diharuskan membaca beberapa paper dan jurnal untuk penelitian ataupun bahan seminar serta bacaan-bacaan serius saya diluar bacaan santai di aplikasi HP saya. Saya juga suka baca berita gosip artis-artis dan mengikuti kasus pembunuhan Mirna dengan racun sianida yang kesemuanya saya baca dari aplikasi berita di HP saya. Sehingga membaca bagi saya adalah suatu kebiasaan seperti halnya rutinitas makan dan minum.

Kenapa saya bisa sebegitu doyannya membaca? Mungkin karena lingkungan saya yang secara tidak langsung mendidik saya sejak kecil tentang kebiasaan membaca. Ayah saya adalah pecinta buku, koleksi bukunya sebanyak 3 lemari dengan lebar masing-masing 2 meteran dan tinggi kurang lebih 2 meteran. Sejak kecil saya dibelikan ayah saya koleksi buku ensiklopedia versi lengkap tentang dunia hewan dan tumbuhan. Sejak kecil juga saya sering melihat ayah saya dan juga ibu saya membaca dirumah maupun dimana saja kalau sedang senggang. Ketika masih kecil ayah saya sering mengajak anak-anaknya untuk bermain dipantai, sembari menjaga anak-anaknya bermain pasir pantai, ayah saya pasti duduk dibawah tempat rindang untuk membaca. Kadang juga kalau saya bosan bermain pasir pantai maka saya mengerjakan PR atau ikutan membaca disana. Jadi saya menyimpulkan bahwa kegemaran saya membaca merupakan salah satu hasil pen-contohan saya dari orang tua saya. Kegemaran membacapun menjadikan saya gemar untuk menulis serta menganalisa sesuatu.

untuk menjadikan anak-anak dan muda-muda Indonesia gemar membaca memang butuh waktu, tetapi ayok kita mulai dari yang kecil-kecil dulu, mulai dari memberi contoh pada orang-orang disekitar kita atau anak-anak kita yang masih kecil-kecil. Membacalah bersama mereka.. Membacalah didepan mereka.. Jangan paksa mereka, tetapi berikan mereka contoh yang baik dari apa yang kita lakukan dirumah.. Membacalah..

” A house without Books is like a room wothout windows”