Membaca


Hasil gambar untuk reading a book

Suatu hari di penghujung tahun 2015, saya didatangi oleh petugas survey entah dari lembaga mana. Lelaki muda tersebut menanyakan satu pertanyaan yaitu “Berapa buku yang sudah anda baca di tahun 2015?” Saya pun tidak langsung menjawab karena tentunya perlu waktu beberapa saat untuk menghitung berapa buku yang sudah saya baca di tahun ini. Mungkin jeda saya berpikir dan menjawab membuat sipenanya menyimpulkan sesuatu yang buruk tentang saya yaitu saya salah satu diantara orang muda Indonesia yang tidak gemar membaca. Akhirnya sipenanya menjelaskan maksud dan tujuan mengadakan survey gemar membaca kepada masyarakat muda Indonesia. Beberapa nasehat-nasehat supaya saya gemar membacapun dilontarkan oleh si pemuda itu. Sayapun hanya mengiyakan pernyataan dan nasehat si lelaki muda itu tanpa membantah pernyataannya. Sembari mendengarkan nasehat-nasehat dan obrolan si lelaki muda itu, tiba-tiba munculah pertanyaan di benak saya “Sebegitu parahkah tingkat ketidak gemaran membaca muda-mudi bahkan anak-anak Indonesia?”. Don’t count me in kedalam rumpun muda-muda Indonesia yang tidak gemar membaca. Saya salah satu orang yang gila novel, gila baca berita dan gila membaca apa saja!!! YESSS SAYAA BERKATA JUJUR!! Hingga sayapun heran, kenapa kok jumlah orang yang tidak gemar membaca sebegitu banyaknya sehingga menjamurnya gerakan-gerakan yang bertujuan membuat orang-orang khususnya anak-anak gemar membaca. Berikut saduran berita hasil survey-survey tentang rendahnya minat membaca warga muda dan anak-anak Indonesia.

“Sebanyak 10 persen masyarakat Indonesia yang umurnya di bawah 10 tahun gemar membaca, dan 90 persen penduduk gemar nonton televisi dan tidak suka membaca. Artinya minat baca masyarakat Indonesia sangat rendah,” kata Kepala Kantor Perpustakaan Nasional RI Sri Sularsih dalam acara Safari Gerakan Nasional Gemar Membaca di Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu. Minat baca anak di Indonesia sangat rendah. Berdasarkan data UNESCO, persentase minat baca anak Indonesia sebesar 0,01 persen. Artinya, dari 10.000 anak bangsa, hanya satu saja yang memiliki minat baca. Hal ini disampaikan oleh Anggota Komisi X DPR RI, Yayuk Basuki, dalam kunjungan di Kendal, Senin (25/5/2015). Menurut Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat H.R Agung Laksono, prosentase minat baca masyarakat Indonesia hanya sebesar 0,01 persen. Artinya dalam 10.000 orang hanya 1 orang saja yang memiliki minat baca.Di negara lain, Amerika misalnya, dalam satu tahun rata-rata warganya membaca 20 – 50 buku per tahun dan Jepang 20 – 30 buku per tahun, sementara di Indonesia hanya berkisar antara nol sampai satu buku per tahun,” ungkap Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (RI) Sri Sularsih, Selasa (12/5), di sela-sela Pengukuhan Pengurus Daerah Gerakan Permasyarakatan Minat Baca (PD-GPMB) Sulsel Periode 2015 – 2019 dirangkaikan Talkshow Minat Baca, di Makassar. Secara persentase, masyarakat Indonesia hanya 17 persen yang gemar membaca, sementara sebagian besar lebih memilih jadi penonton televisi (hingga 91,68 persen).

Dengan hasil-hasil survey tentang minat baca yang sangat rendah itulah maka banyak sekali kegiatan-kegiatan amal yang dilakukan demi meningkatkan minat baca anak-anak di Indonesia.

Tetapi, seperti postingan saya sebelumnya, lagi-lagi saya menganggap bahwa rendahnya minat anak-anak dan orang di Indonesia dalam hal membaca salah satunya disebabkan oleh tidak adanya contoh yang baik yang diperoleh dari lingkungan sekitar. Mungkin orang tuanya atau keluarganya juga bukan tipe orang yang gemar membaca?! Mungkin juga orang-orang yang membuat gerakan gemar membaca tidak memberi contoh kepada orang-orang sekitarnya dengan rajin membaca?! Mungkin juga para orang tua memaksakan anaknya supaya gemar membaca tetapi orang tuanya tersebut malah asik nonton sinetron, telenovela ataupun film India?! Jadi, bagaimana anak-anak jadi gemar membaca kalau lingkungannya tidak memberi contoh yang baik tentang pentingnya membaca!!!

Saya kembali lagi ke pertanyaan yang terlontar pada paragraft pertama “Berapa buku yang sudah anda baca di tahun 2015?”. Saya tidak bisa menjawab karena saya tidak tau jawabannya. Terlalu banyak novel yang saya beli dan baca setiap tahunnya. Terlalu banyak buku arkeologi dan sejarah kota yang saya beli dan baca setiap tahunnya karena entah kenapa saya suka buku-buku sejarah. Terlalu banyak bacaan tentang kegunung-apian dan kegempaan yang saya download dan baca setiap tahunnya karena entah kenapa saya suka topik-topik itu. Buku-buku dan bacaan-bacaan tersebut diluar bidang pekerjaan saya. Saya juga diharuskan membaca beberapa paper dan jurnal untuk penelitian ataupun bahan seminar serta bacaan-bacaan serius saya diluar bacaan santai di aplikasi HP saya. Saya juga suka baca berita gosip artis-artis dan mengikuti kasus pembunuhan Mirna dengan racun sianida yang kesemuanya saya baca dari aplikasi berita di HP saya. Sehingga membaca bagi saya adalah suatu kebiasaan seperti halnya rutinitas makan dan minum.

Kenapa saya bisa sebegitu doyannya membaca? Mungkin karena lingkungan saya yang secara tidak langsung mendidik saya sejak kecil tentang kebiasaan membaca. Ayah saya adalah pecinta buku, koleksi bukunya sebanyak 3 lemari dengan lebar masing-masing 2 meteran dan tinggi kurang lebih 2 meteran. Sejak kecil saya dibelikan ayah saya koleksi buku ensiklopedia versi lengkap tentang dunia hewan dan tumbuhan. Sejak kecil juga saya sering melihat ayah saya dan juga ibu saya membaca dirumah maupun dimana saja kalau sedang senggang. Ketika masih kecil ayah saya sering mengajak anak-anaknya untuk bermain dipantai, sembari menjaga anak-anaknya bermain pasir pantai, ayah saya pasti duduk dibawah tempat rindang untuk membaca. Kadang juga kalau saya bosan bermain pasir pantai maka saya mengerjakan PR atau ikutan membaca disana. Jadi saya menyimpulkan bahwa kegemaran saya membaca merupakan salah satu hasil pen-contohan saya dari orang tua saya. Kegemaran membacapun menjadikan saya gemar untuk menulis serta menganalisa sesuatu.

untuk menjadikan anak-anak dan muda-muda Indonesia gemar membaca memang butuh waktu, tetapi ayok kita mulai dari yang kecil-kecil dulu, mulai dari memberi contoh pada orang-orang disekitar kita atau anak-anak kita yang masih kecil-kecil. Membacalah bersama mereka.. Membacalah didepan mereka.. Jangan paksa mereka, tetapi berikan mereka contoh yang baik dari apa yang kita lakukan dirumah.. Membacalah..

” A house without Books is like a room wothout windows”

About tantri

I am nobody who really want to be somebody. Extremely introvert cheerful and easy going girl.. :) Thanks for visiting this blog... ^^

Posted on February 2, 2016, in experince. Bookmark the permalink. 4 Comments.

  1. Siap. Wah pesannya dalem nih mba, TFS ya mba.. jadi evaluasi diri nih, musti lebih banyak kasih contoh ke anak2 nih kyknya ..

  2. dan nambahin jumlah bacaan dalam setahun pasti masuk dalam resolusi saya, tiap tahunnya. dan biasanya lebih suka kalo pegang fisiknya (buku).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: